Monday, June 21, 2010

Yukumoko, Desainer Batik

Setelah Puluhan Tahun Menjadi Biseks, Hidayah Itu Datang Lewat Perenungan

Berpuluh-puluh tahun memiliki kebiasaan seksual di luar batas normal, memang menyisakan rasa berdosa dari pria bertubuh gempal ini. Namun, atas dasar niat dan petunjuk dari Allah, akhirnya Yukumoko kembali ke jalan yang benar. Ia memutuskan untuk meninggalkan segala macam bentuk perilaku seks menyimpang. Lalu seperti apa perjalanan pria yang sebelumnya berprofesi sebagai bankir ini?

Sebuah pameran batik nusantara beberapa waktu lalu diadakan di Jakarta. Berbagai pengrajin dan desainer batik mempertontonkan hasil karya seninya tersebut. Tidak terkecuali bagi Yukumoko, desainer batik asal Makassar ini. Namanya memang hampir mirip dengan nama warga negara Jepang. Namun, Yukumoko ternyata merupakan pria asli Indonesia. Nama Yukumoko dipilih sebagai nama brand bagi produk-produk kain batiknya. Nama tersebut diambil dari nama kesayangannya di waktu kecil, yakni Yuku. Di salah satu sudut, Yuku memamerkan berbagai hasil desain kain batiknya. Beberapa pengunjung nampak menghampiri stand milik Yuku yang tidak begitu besar. Meski tidak begitu besar, penataan stand sangatlah menarik. Berbagai pakaian batik baik untuk pria maupun wanita dipajangnya tepat di depan stand. Beberapa produk kain lainnya juga ia pamerkan berada tepat di bawah payung yang ia pasang di sebelah stand miliknya.

Pengalaman Pahit. Seorang pria bertubuh subur tengah duduk di atas karpet di dalam stand miliknya. Ia nampak ramah menyambut beberapa pengunjung yang berdatangan ke stand sederhananya. Dialah Yukumoko, seorang desainer batik yang kini tengah menapaki kesuksesan karirnya. Meski kini Yuku terbilang cukup sukses memulai karirnya sebagai seorang desainer batik, masa lalunya terbilang cukup menarik. Pasalnya, masa lalu dianggap Yuku sebagai masa pembelajaran bagi dirinya. Di sela-sela kesibukannya menjaga stand dan menjual produk-produk batiknya, Yuku bersedia menceritakan tentang masa lalu kelamnya kepada Realita.

Yuku sendiri terlahir dengan nama Muhammad Yauri Yusuf Helmy Abdul Auf. Yuku merupakan nama panggilan sayang dari kedua orang tuanya, pasangan H. Abo Muhammad Bimangkal dan Hj. Boki Chadijah. Sang ayah berprofesi sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintah. Sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Yuku di waktu kecil memang cukup menggemaskan. Tubuhnya yang gempal dan kulit putihnya pasti akan membuat gemas semua orang dewasa yang melihatnya. Namun, keluguan dan kegemasan yang nampak dari wajah Yukulah yang justru membawa pengalaman pahit bagi dirinya. Kejadian tersebut berawal ketika Yuku masih berusia 8 tahun. “Waktu itu saya suka bermain di luar rumah,” kenang Yuku. Bersama dengan teman-temannya, Yuku ikut bermain di bengkel mobil yang letaknya tak jauh dari rumahnya di Makassar, Sulawesi Selatan. Melihat wajah Yuku yang lugu dan menggemaskan, salah satu pegawai ternyata memiliki hasrat tersendiri.

Salah satu pegawai bengkel tersebut kemudian mengajak Yuku untuk masuk ke dalam salah satu ruangan di dalam bengkel. “Dari situlah saya mengalami pelecehan seksual,” ungkap Yuku. Pegawai bengkel tersebut menyuruh Yuku untuk memegang alat vitalnya. Kejadian itulah yang menjadi awal malapetaka dalam kehidupan Yuku. “Sampai saat ini, saya masih ingat dengan kejadian itu,” aku pria yang kini berstatus duda ini. Kejadian tersebut juga menimbulkan rasa trauma tersendiri bagi Yuku. Ditambah lagi dengan kurangnya kedekatan hubungan antara Yuku dengan sang ayah. Tak pelak, kepribadian Yuku kemudian berubah. Terlebih lagi sejak Yuku telah melewati masa akhil baliqnya ketika remaja. “Waktu itu, saya lebih menyukai sesama jenis,” ungkap pria kelahiran 25 September 1952 ini.

Perilaku Biseks. Setelah menginjak masa remaja, kepribadian Yuku mulai menyimpang dari batas normal. Yuku sendiri mengenyam pendidikan di Makassar sejak SD hingga SMA. Ia bersekolah di SMP dan SMA Katolik. Tak pelak, pendidikan agama Islamnya di sekolah terbilang sangatlah kurang. Meski begitu, kedua orang tuanya justru mendidik agama dengan cukup disiplin. Namun nampaknya didikan agama tersebut tentu bukan merupakan suatu jaminan bagi dirinya untuk tidak berperilaku menyimpang. Setelah lulus SMA, Yuku kemudian memutuskan untuk kuliah perbankan selama setahun. Selain itu, di sela-sela kuliah perbankan, ia juga menyempatkan diri untuk belajar seni, khususnya melukis. Sejak itulah Yuku mulai menyukai dunia kesenian. Selepas menyelesaikan kuliah perbankan, Yuku memutuskan untuk merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan pada tahun 1974. Setahun kemudian, ia menjadi salah satu pegawai Bank Bumi Daya (BBD).

Di sisi lain, kesukaannya terhadap sesama laki-laki ternyata tidak membuat dirinya menjaga jarak dengan kaum hawa. Sebaliknya, ia juga menyukai perempuan sebagaimana ia juga menyukai laki-laki. Tak heran, ia mampu menikah dengan seorang perempuan meski hanya bertahan selama dua tahun, sejak tahun 1982 sampai 1984. Setelah memutuskan bercerai dengan sang istri, kehidupan Yuku mulai mengalami keterpurukan. Kesukaannya terhadap laki-laki semakin menjadi-jadi. “Saya menyukai laki-laki yang lebih tua daripada saya,” aku Yuku tanpa mau menyebutkan nama istri dan sebab musabab perceraiannya. Hubungan dengan perempuan pun masih tetap dijalaninya. “Hubungan seks di luar nikah waktu dulu, seperti kebutuhan wajib buat saya,” ujar pria yang masih memiliki garis kebangsawanan Makassar ini. Bahkan ia mengaku pernah tinggal satu rumah dengan istri orang lain selama 3 tahun. Perbuatan terlarang dan berdosa tersebut dilakukannya dengan sadar.

Diliputi Perasaan Berdosa. Hubungan biseks telah ia jalani selama puluhan tahun hingga suatu ketika, ia merasa sangat berdosa setiap melakukan perbuatan nista tersebut. “Setiap saya selesai melakukan perbuatan itu, saya merasa sangat berdosa,” tutur anak bungsu dari 10 bersaudara ini. Meski tidak ditegur melalui cobaan dan penyakit, Yuku akhirnya menemukan hidayah hanya melalui renungan terhadap dirinya sendiri. Perasaan bersalah dan berdosa dirasakan Yuku hingga menemukan titik penyesalan dari dalam dirinya. Ia pun memutuskan untuk bertaubat dari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satu tahap pertaubatannya adalah dengan menunaikan ibadah haji pada tahun 1993, tepat setahun sesudah proses taubat yang dilakukannya.

Kini, setelah bertaubat, Yuku langsung membangun kembali sisa-sisa hidupnya menatap masa depan. Tahun 1994, Yuku mulai menyukai dan terlibat di dunia seni batik. Ia kemudian memulai bisnisnya dengan menghasilkan batik tulis yang dilukis dari tangan-tangannya. Setahun setelahnya, Yuku pensiun dari Bank Bumi Daya. “Dunia saya bukan di bank, tapi di dunia seni,” kilahnya. Memulai usaha batik, ternyata tak semulus yang diperkirakan. Pada saat awal dimulai, Yuku sempat merasakan keterpurukan dalam hal ekonominya. “Keuangan saya sempat menipis sekali, tapi akhirnya saya mengakui Allah menolong saya,” tutur Yuku. Pada saat keterpurukan berada di sekeliling Yuku, ia justru merasa Allah berada di dekatnya dengan memberikan banyak kemudahan dalam meningkatkan bisnisnya tersebut. Dalam perjalanan waktu, bisnisnya semakin berkembang. Seiring dengan bisnisnya yang berkembang, Yuku memutuskan untuk menetap di Jakarta dan mengembangkan kembali beberapa outletnya di ibukota. “Rumah saya di daerah Radio Dalam, Jakarta, dijadikan satu dengan butik saya,” tutur Yuku. Tak jarang, ia bepergian ke luar negeri untuk memamerkan produk-produk karya seni batiknya. Negara-negara di berbagai benua telah di pijaknya hanya untuk memamerkan produk batik tulis khas Makassarnya.

Di sisi pribadi, sifat biseks yang dimilikinya sudah ia tinggalkan sejak bertaubat. Meski saat ini ia belum membangun keluarga kembali, Yuku masih tetap mampu membantu menyekolahkan beberapa sanak saudaranya. Kini, ia hanya menjalani kesehariannya menciptakan kreasi seni batik Makassar yang mampu diterima pasar. “Saya tidak pernah mengejar keuntungan yang besar,” aku Yuku. Dalam menjual pun, ia menerapkan sikap jujur dan ikhlas sebagai tanda rasa syukur terhadap apa yang dialaminya di masa lampau. “Saya hanya ingin hidup lebih tenang dan tidak diperbudak harta,” ungkap Yuku sembari menutup pembicaraan. Fajar

No comments: