Friday, June 25, 2010

Sandiaga S. Uno, Direktur Utama Saratoga Capital

Figur Ibu Dijadikannya Sebagai Motivasi dalam Menggapai Kesuksesan

Mendapatkan banyak pelajaran dari sang ibu, membuat Sandiaga Uno mampu meraih kesuksesan dalam hidup dan karirnya. Tak pelak, satu persatu kesuksesan yang diraihnya selalu dipersembahkan untuk keluarga, terutama ibunda tercinta. Baginya, dengan memberikan kebahagiaan sekecil apa pun sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang anak. Lalu bagaimana peran ibu bagi kesuksesan ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini?

Memiliki seorang ibu yang merupakan pakar etika mungkin menjadikan sebuah keuntungan bagi seorang Sandiaga Uno. Ia tak perlu belajar di sekolah pengembangan diri untuk belajar banyak mengenai etika dalam berperilaku. Pelajaran di dalam rumah pun sudah merupakan sebuah bekal yang berharga bagi dirinya. Terlebih lagi sang ibu telah memberikan contoh langsung di dalam keluarga. Itulah yang dirasakan oleh Sandi (panggilan akrabnya, red). Berkat pelajaran hidup yang didapatnya dari sang ibunda tercinta, Sandi memiliki bekal dalam menjalani hidup dan karirnya saat ini. Tak pelak, kesuksesan yang diraihnya kini berkat peran besar dari sang Ibu dan niat awalnya untuk membahagiakan ibunda tercinta.

Pria bernama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno ini merupakan anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Ir. Razif Halik Uno dan Mien Uno. Ia lahir di Rumbai, Riau pada 28 Juni 1969. Sandi lahir di daerah Riau karena sang ayah kala itu tengah bekerja di perusahaan Caltex di daerah tersebut. Selama kurun waktu 10 tahun, sang ayah bekerja di perusahaan asing itu. Sandi kecil dididik dalam lingkungan keluarga yang mengajarkan sisi keagamaan dan kedisiplinan yang kuat. Salah satu yang ditonjolkan di dalam keluarganya adalah kesopanan dan etika yang sangat dijunjung tinggi, terlebih lagi dari sang ibu, Mien Uno. Alhasil, Sandi menjadi sosok pria yang selalu mengedepankan sisi keperibadian yang baik.

Semasa kecil, Sandi memang mengaku bahwa ia lebih dekat dengan sosok Ibu. “Saya sih sebenarnya dekat dengan keduanya (ayah dan ibu, red),” aku Sandi singkat. “Tapi secara fisik, mungkin saya lebih dekat dengan ibu karena ayah lebih sibuk bekerja,” lanjutnya. Selama kedekatan dengan sang ibu itulah, Sandi banyak mengambil pelajaran berharga dalam hidup. Apalagi, ibunya dikenal sebagai sosok ibu pendidik yang kerap memberikan nasehat bermakna. Hal tersebut tak hanya dirasakan oleh Sandi saja. Kakaknya, yakni Indra Cahya Uno (42) juga diakui Sandi, merasakan hal yang sama. Tak hanya itu saja, kedua orang tuanya juga sangat memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan anak-anaknya.

Meski begitu, ayah dan ibunya tak pernah mengekang keinginan dari kedua anaknya. Sehingga mereka lebih bebas memilih dunia yang mereka sukai. Termasuk salah satunya terjadi pada Sandi. Ketertarikan Sandi di dunia bisnis, memang sangat didukung oleh kedua orang tuanya. Diakui Sandi, ayah dan ibunya lebih banyak mengarahkan kepada sesuatu yang menurut mereka akan berdampak positif. “Kalau waktu sekolah, dengan memberikan prestasi di sekolah itu sudah membuat ibu senang,” kenang Sandi.

Peran Ibu. Setelah sang ayah tak lagi bekerja di daerah Riau, keluarga kecil itu lantas pindah ke ibukota. Sekitar tahun 1970-an, Sandi pindah meneruskan sekolah ke Jakarta bersama anggota keluarga lainnya. Sandi kecil mengenyam pendidikan di SD PSKD. Setelah itu, ia melanjutkan ke SMP Negeri di Jakarta dan sebuah SMA Swasta Katolik di kota yang sama. Sandi kemudian melanjutkan pendidikannya di luar negeri tepatnya di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat dan lulus tahun 1990. Meski terdapat jarak antara dirinya dan sang ibu, Sandi tetap berhubungan baik dengan kedua orang tuanya.

Setelah lulus, ia tak lantas kembali ke tanah air karena langsung melanjutkan pendidikan dengan mengambil Master of Business Administration di The George Washington University, Washington di negeri Paman Sam. Sandi kembali ke tanah air dan memulai karirnya di beberapa perusahaan, di antaranya adalah Summa Group, Seapower Asia Investment Limited (Singapura), MP Holding Limited Group (Singapura), dan NTI Resources Limited (Kanada).

Bagi Sandi, peran seorang ibu benar-benar diakuinya sangat besar ketika ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan sendiri dan memulai peruntungannya di dunia bisnis. “Peran ibu paling nyata ketika saya memulai usaha sendiri,” aku Sandi. Ibunya, yakni Mien Uno yang merupakan pakar kepribadian diakui Sandi memiliki banyak relasi yang luas. Tak pelak, banyak saran yang diberikan oleh sang ibu yang membantu perjalanan karir Sandi. Selain itu, ia juga merasa dengan mengukir prestasi di dunia bisnis, maka akan membahagiakan ibunda tercintanya.

Saya ingin menunjukkan prestasi saya di dunia bisnis dan membuat ibu saya bahagia,” tekadnya kala itu saat memulai usaha. Bahkan etika yang diajarkan semasa kanak-kanak oleh ibundanya, kini diterapkan Sandi di dunia bisnis. “Di dalam bisnis itu juga harus ada etika dan norma-normanya,” ujar Sandi singkat. “Makanya saya mau share ke pengusaha-pengusaha muda lainnya untuk menerapkan etika dalam berbisnis,” tandasnya. Fajar

Sidebar:

Membelikan Asbak Tiap ke Luar Negeri Sebagai Tanda Cinta Kepada Sang Ibu

Meski harga asbak rokok tak seberapa, namun bagi ibunda dari Sandiaga Uno, barang kecil tersebut sangatlah berharga. Bagi Sandi, barang itu merupakan tanda sayang bagi ibunda tercintanya. “Ibu saya walaupun nggak merokok tapi beliau suka mengoleksi asbak dari berbagai negara,” tutur Sandi seraya tersenyum. Sang ibu memang dikenal sebagai kolektor asbak sejak beberapa tahun lalu. Asbak-asbak dari berbagai negara selalu dikumpulkannya. “Tiap kali ibu saya ke luar negeri pasti dia membeli asbak untuk oleh-oleh,” ujar Sandi.

Paham dengan kebiasaan ibunya, tiap kali Sandi bepergian ke luar negeri, ia selalu membawakan oleh-oleh berupa asbak. “Saya tahu dengan membawa asbak, akan membuat beliau bahagia,” ujar Sandi. “Tiap kali saya ke luar negeri, saya selalu teringat ibu saya,” imbuhnya. Meski harganya terbilang murah, Sandi akan merasa bahagia bila melihat ibunya bahagia ketika dibelikan asbak kesukaannya. Selain barang, Sandi juga tak luput memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedua orangtuanya terutama ibu.

Ibu saya tuh tidak menuntut macam-macam, yang penting perhatian dan komunikasi terus berjalan,” tutur Sandi. Komunikasi yang dijalaninya dapat melalui SMS dan telepon hampir setiap hari. Bahkan setiap weekend tiba, Sandi selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi kedua orangtuanya agar tali silaturahmi selalu terjalin dengan baik.

Langkah lain yang dilakukan Sandi dalam membahagiakan orang tua khususnya ibu adalah dengan bersama-sama menunaikan ibadah haji dan umrah. Sandi mengaku sudah beberapa kali berangkat ke Tanah Suci bersama keluarga besarnya, termasuk kedua orang tua. Untuk umrah, Sandi berangkat bersama keluarga besar pada tahun 1993, 2000, dan 2006. Sedangkan ibadah haji, Sandi menunaikannya bersama keluarga besar termasuk ibunya pada tahun 1998. Sebagian di antaranya, Sandi yang membayar segala macam biaya pengeluaran sebagai bentuk rasa kasih sayang terhadap ibundanya. “Bagi saya, sosok ibu adalah pedoman dan lentera dalam kehidupan saya,” ujarnya sembari berfilosofi.

Sejauh ini, Sandi merasa bahwa apa yang telah dilakukannya sekarang telah mampu membuat sang ibu merasa bahagia. Terlebih lagi dengan kesuksesannya dalam membangun usaha melalui PT Saratoga Capital yang mampu menjadi perusahaan besar. Tak hanya itu saja, dengan membina keluarga yang baik bersama sang istri, Noor Asiah (32) dan mendidik kedua anaknya, yakni Anneesha Atheera Uno (10) dan Amyra Atheefa Uno (9), sudah merupakan bentuk kesuksesan tersendiri dalam kehidupan pribadi Sandi. Walau disibukkan dengan pekerjaannya yang menyita waktu, Sandi selalu berusaha untuk meluangkan waktu bagi istri dan kedua anaknya.

Dalam karirnya, Sandi saat ini sibuk mengurusi PT Saratoga Capital dan tengah aktif dalam bidang investasi. “Kami sedang berinvestasi di bidang sumber daya alam dan infrastruktur,” aku Sandi. “Kami ingin fokus di bidang infrastruktur,” lanjutnya singkat. Selain mengurusi bisnisnya, Sandi juga disibukkan dengan jabatannya sebagai ketua di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Tahun ini, jabatannya tersebut akan berakhir. Namun bagi Sandi, bila ia dipercaya kembali untuk memegang jabatan tersebut maka ia akan menerimanya dengan baik dan berusaha akan memegang amanat itu. Fajar

8 comments:

Fatah said...

Hi Sandy,
Remember me, Fatah Santosa, 1997, Rothschild Singapore. You were with NTI Resources?

My email: fatahsantosa@hotmail.com, drop me a line. Thanks.

JAYAVO said...

Hebat sekali!

Anonymous said...

Pantes aja kaya karena ibunya juga pengusaha sukses. kalo dari nol berangkatnya batu aku kagum, spt Bill gates, edison, dll.

semua juga bisa kalo KKN mah.

Anonymous said...

duh pake diseleksi seleksi commentnya...mau comment yg bagus yah. he he

Yowan Anggio Pramono said...

ijin re-post yaa

Anonymous said...

Baad

Diardita aja said...

Waduh, hebat banget... Dah pinter, suksess, cakep, berbakti sm ortu .. Saya kurang setuju sm komentar "kesuksessan dr ortu". Semua kesuksessan berasal dari kerja keras, innovative dan jujur.
Keep up your good work! Suksess selalu

M.Taufiq NIQ said...

Menginspirasi....
Terimakasih atas postingnya..
Saya seorang guru SDIT di Surabaya, sedang mencari tokoh muda entreprenur, alhamdulillah dapet..