Wednesday, June 9, 2010

Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Banten

Mengalami Berbagai Kemudahan Saat Berada di Tanah Suci

Bagi umat Islam, mengunjungi Tanah Suci merupakan suatu hal yang sangat membahagiakan. Tak terkecuali bagi wanita yang menjadi pemimpin di Propinsi Banten ini. Selain kebahagiaan yang tidak terkira, Ratu Atut Chosiyah juga memperoleh pengalaman religi yang tak mampu dilupakannya. Salah satunya ketika ia mampu terbebas dari kerumunan jemaah haji lainnya, dan mencium Hajar Aswad dan Ka'bah dengan mudah. Lalu bagaimana perjalanan hidup wanita pertama yang menduduki jabatan sebagai Gubernur ini?

Sabtu (26/4) siang, sinar matahari terasa terik menerpa kota Serang. Peluh keringat mengiringi kedatangan Realita ke ibukota propinsi Banten tersebut. Propinsi Banten memang sangat istimewa. Pasalnya, selain karena daerah Banten merupakan pintu gerbang segala macam lalu lintas perdagangan pulau Jawa dengan Sumatera, tapi Banten juga memiliki sosok wanita yang patut dibanggakan. Wanita itulah yang kini menjadi gubernur Banten. Rumah besar yang terletak tak jauh dari pusat kota Serang menjadi kediaman Atut (panggilan akrabnya, red). Pepohonan dan halaman yang rindang menghiasi rumah berukuran luas itu.

Suasana langsung berubah menjadi sejuk sesaat setelah memasuki halaman rumah Atut. Tak heran memang, mengingat banyaknya pepohonan yang tumbuh di pekarangan rumah. Tanaman-tanaman penghias juga terlihat di beberapa sudut halaman, menambah kesan asri dari kediaman penguasa propinsi Banten tersebut. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Atut keluar dari sebuah pintu kamar dan langsung menghampiri Realita. Senyum yang khas nampak dari wajah Atut. Paduan warna antara kerudung dan baju yang dikenakannya terlihat serasi. Tak ayal, Atut sangat anggun pada siang hari itu. Riasan di wajahnya menambah kesan keibuan sekaligus kecantikan yang sudah terpancar dari sosok Atut. Kendati menunjukkan keanggunannya sebagai seorang wanita, Atut tetaplah menjadi sosok pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan. Hal tersebut tergambar jelas pada tatap matanya yang tajam dan ucapannya yang lembut namun lantang saat menyapa Realita. Sembari duduk di sebuah sofa di ruang keluarga, Atut berbagi cerita mengenai perjalanan hidup dan pengalaman religi yang sempat menghampiri hidupnya.

Perempuan Asli Banten. Atut merupakan wanita asli Serang, Banten. Ia lahir di daerah Ciomas, Banten pada tanggal 16 Mei 1962. Atut terlahir sebagai anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Prof. Dr. H. Tb. Hasan Sochib dan Hj. Waisah. Sang ayah selain dikenal sebagai seorang pengusaha di bidang kosntruksi, juga dikenal sebagai seorang pendekar asli Banten yang ahli dalam pencak silat. Tak heran, didikan disiplin terutama dalam hal ibadah sangat kental dalam lingkungan keluarga. Tak hanya itu saja, kedua orang tuanya juga sangat memberikan perhatian besar terhadap pendidikan semua anak-anaknya.

Atut menghabiskan masa kanak-kanaknya di berbagai daerah. “Orang tua saya ingin anak-anaknya lebih mandiri,” aku Atut. Atut kecil bersekolah di SD Negeri Gumulung di kampung kelahirannya. Setelah menamatkan pendidikan SD-nya, kedua orang tuanya memutuskan untuk menyekolahkan Atut di SMP Negeri 11, Bandung, Jawa Barat. Alhasil, Atut pindah ke Bandung sekitar tahun 1974. “Saya di Bandung sudah kost sendiri,” ujar Atut dengan bangganya. “Kata orang tua saya, supaya pintar makanya disekolahkan di Bandung,” lanjutnya. Kedua orang tua Atut memang menerapkan salah satu hadits nabi yang mengatakan bahwa 'Tuntutlah ilmu sampai negeri Cina'. Selepas menyelesaikan pendidikan SMP pada tahun 1977, Atut kemudian melanjutkan pendidikannya di SMA 12 Bandung. Setelah menamatkan sekolahnya, Atut sempat mengenyam pendidikan D3 di salah satu universitas swasta di Bandung. Barulah setelah kenyang dengan pendidikan D3 akuntansi perbankan pada tahun 1984, Atut lantas mencoba untuk merintis bisnis di kota Bandung. Setelah itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sarjananya di Universitas Borobudur, Jakarta yang kini dipermasalahkan oleh salah satu mantan calon gubernur pilkada Banten 2007. Tepat tahun 2005, ia berhasil meraih gelar sarjana ekonomi dari kampus tersebut.

Tinggal cukup lama di kota kembang, juga menjadi salah satu titik awal kesuksesan wanita berkerudung ini. Berawal dari usaha kecil-kecilan sebagai supplier alat tulis dan kontraktor, Atut mulai merintis usahanya. Bahkan usahanya dari waktu ke waktu semakin berkembang pesat di bidang perdagangan dan kontraktor sebagaimana bidang yang digeluti oleh ayahnya. Entah karena darah bisnis yang ditularkan dari sang ayah, Atut kemudian berubah menjadi seorang pengusaha sukses. Kesuksesannya itulah yang membawa Atut menduduki sejumlah jabatan prestisius, di antaranya adalah Ketua Kamar Dagang dan Industri Daerah (KADINDA) Propinsi Banten, Ketua Asosiasi Distributor Indonesia (ARDIN) Propinsi Banten dan aneka organisasi lain.

Pengusaha yang Menjadi Gubernur. Setelah sukses dengan karir di bidang bisnisnya, Atut sebagai puteri Banten merasa terpanggil untuk membangun Propinsi Banten, yang terbentuk pada pertengahan tahun 2001, dengan terlibat langsung sebagai pemegang kebijakan dalam pemerintahan. Ia terjun ke dunia birokrasi dengan mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Banten periode 2002–2007. Dalam pemilihan di DPRD Banten, Ratu Atut bersama calon Gubernur Djoko Munandar terpilih untuk memimpin Propinsi Banten. Pada tanggal 11 Januari 2002, Atut resmi menduduki jabatan Wakil Gubernur Banten. Dan pada awal tahun 2006, ia dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Banten. Saat hendak menjabat Pelaksana Tugas Gubernur Banten, kehadiran Atut menimbulkan pro dan kontra. Sebagian masyarakat menolak kehadiran sosok perempuan dalam pucuk pimpinan dan berperan sebagai imam bagi masyarakatnya. Namun sebagian lainnya menyetujui kepemimpinan seorang perempuan di satu daerah. Tidak terukur betapa pedihnya perasaan Atut saat sebagian masyarakat menolak dirinya. Kendati begitu, sebagian masyarakat lainnya yang mendukung, akhirnya membuat ia semakin termotivasi untuk memberikan suatu yang terbaik bagi rakyat Banten.

Sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Banten, Atut lantas mempersiapkan penyelenggaraan Pilkada Banten pada tahun 2006. Atut pun kembali merasa terpanggil untuk mencalonkan diri sebagai gubernur dan berpasangan dengan Muhammad Masduki sebagai calon wakil Gubernur. Bak gayung bersambut, dalam pilkada yang diadakan pada akhir 2006, Atut mampu meraih kemenangan dan menyingkirkan calon-calon lainnya. “Rasa syukur saya panjatkan setelah mampu menduduki jabatan gubernur,” ungkap kebahagiaan Atut. “Saya menganggap jabatan ini sebagai amanah dan ujian,” lanjutnya singkat. Setelah menjabat sebagai gubernur Banten, Atut menerapkan berbagai macam program yang bertujuan untuk mengembangkan propinsi Banten secara keseluruhan.

Di samping menggenjot roda perkonomian Banten, Ratu Atut juga sangat memperhatikan pembangunan sektor pedesaan. Beberapa program sektor pedesaan seperti program padat karya dalam bentuk pembangunan jalan lingkungan dan program penyediaan fasilitas air bersih dan sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) untuk meningkatkan kesehatan masyarakat; program Bantuan Keuangan (fresh money) yang diberikan kepada seluruh desa di Propinsi Banten; program Listrik Desa (Lisdes); serta program bantuan keterampilan dan peningkatan usaha mikro serta usaha kecil di pedesaan.
Di bidang kesehatan, Atut telah mencanangkan program “Banten Sehat 2008”.
Program ini diharapkan nantinya akan mampu menciptakan masyarakat Banten untuk hidup dalam lingkungan yang sehat baik itu secara fisik maupun sehat secara sosial kemasyarakatan.

Selain itu program ini juga akan membimbing masyarakat untuk selalu berperilaku sehat. Sementara di bidang lingkungan hidup, Atut mendorong terciptanya lingkungan yang sehat. Salah satu program nyata telah diluncurkan Pemprov Banten yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup yaitu program ”Super Kasih” (Surat Penyataan Kali Bersih). Program ini menyertakan dan mengajak para pengusaha untuk ikut menjaga kebersihan kali Cisadane dan Ciliwung.

Kemudahan di Tanah Suci. Perjalanan sosok Atut dalam hidupnya ternyata tak melulu hanya bersifat duniawi saja. Dari sisi reiligi, Atut termasuk sosok yang selalu menaati ajaran Islam dalam kehidupannya. “Didikan orang tua memang mengajarkan untuk selalu taat beragama dan menunaikan ibadah,” ungkap Atut. Pengalaman religi pun sempat hinggap dalam perjalanan hidupnya. Cerita bermula pada tahun 1999, Atut hendak menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Suasana di kota Makkah sangatlah dipenuhi dengan ribuan jamaah haji. Kala itu, Atut memiliki keinginan untuk mencium Hajar Aswad. Namun, ia sangat terkejut ketika melihat banyaknya kerumunan orang yang berada tepat di depan Hajar Aswad. Atut sempat mengurungkan niatnya setelah melihat para jamaah haji yang berpostur tinggi besar. Kendati demikian, ia lantas berdoa dengan niat yang tulus ingin mencium Hajar Aswad. Dengan tekad yang bulat dan disertai dengan doa, tiba-tiba kerumunan orang yang berada di depannya menyingkir tanpa sebab dan memberi ruang bagi dirinya untuk mendekati Hajar Aswad.

Sembari terkejut dengan apa yang terjadi, Atut seakan-akan telah diberikan petunjuk dan kemudahan untuk mencium Hajar Aswad. Ia pun berusaha mendekatinya tanpa ada suatu halangan yang berarti. Kerumunan orang yang berada di sekelilingnya seolah-olah tidak mengganggu langkah kaki Atut untuk mendekati Hajar Aswad. Setelah berada di depan Hajar Aswad itulah, ia langsung menciumnya. Sejurus kemudian, ia merasa ada kedekatan antara dirinya dengan Sang Pencipta. Saat itulah, Atut merasakan kebesaran Allah saat bibirnya mencium Hajar Aswad. Pada saat itu pula, lantunan doa demi mengharapkan suatu yang terbaik bagi dirinya dan keluarga keluar dari mulutnya. Selain itu, ia juga menginginkan perubahan besar yang positif bagi rakyat Indonesia khususnya masyarakat Banten.

Atut juga mengalami kejadian unik saat ingin memegang pintu Multajam. Hal serupa seperti di depan Hajar Aswad juga terjadi pula ketika ia ingin memegang pintu Multajam. Selain di Makkah, Atut juga mendapatkan kemudahan di Madinah. Saat itu, ia hendak melaksanakan shalat. Akan tetapi, ribuan jamaah haji terlihat memadati sebagian besar lahan untuk melaksanakan shalat. Saat itulah, ia kembali berdoa dan memohon kemudahan kepada sang Khalik. “Akhirnya, ada lahan kecil yang langsung kosong secara tiba-tiba untuk tempat saya shalat,” kenang wanita yang memiliki hobi berolahraga ini. “Bagi saya itu merupakan pengalaman saya yang paling membahagiakan,” lanjutnya. Kejadian-kejadian itulah yang mengubah sosok Atut menjadi sosok wanita yang menutupi aurat dengan memakai kerudung. Selain itu, ia juga merasakan adanya kenikmatan setelah mengunjungi rumah Allah di Tanah Suci.

Alhasil, Atut pun merasakan ketagihan berkunjung ke Tanah Suci. “Saya selalu merencanakan pergi Umrah setiap tahun,” aku Atut. Ia telah menunaikan Umrah pada tahun 2006 dan 2007. Sedangkan untuk tahun 2008, bulan Mei dipilihnya sebagai waktu yang tepat untuk kembali menunaikan ibadah Umrah. Menurutnya, banyak perubahan yang dialami setelah ia pergi ke Tanah Suci. Terutama dalam hal keperibadiannya. Atut kini menjadi lebih sabar dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Apalagi saat harus berbagi waktu dan perhatian antara karir sebagai Gubernur, istri dari Hikmat Tomet-seorang pengusaha, dan ibu dari Andika Hazrumi, Andriana Aprillia, dan Ananda Trianh Salichan.

Dalam membagi waktu antara karir dan keluarga, Atut merasakan tak ada kesulitan yang berarti. Hari libur selalu diluangkan bersama keluarga. Begitu juga dengan mendidik ketiga anaknya. Ia lebih banyak membebaskan pilihan bagi anak-anaknya selama pilihan itu bermanfaat bagi masa depan mereka masing-masing. Didikan agama, dan memberikan perhatian terhadap pendidikan juga menjadi prioritas utama Atut dalam keluarga, sebagaimana kedua orang tuanya mendidik Atut sejak kanak-kanak. Fajar, Gilbert

Side Bar 1...

Dugaan 'Ijazah Palsu', Dianggapnya Sebagai Cobaan

Terpilihnya Atut sebagai seorang gubernur dari sebuah propinsi baru memang cukup mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, ia merupakan wanita pertama yang mampu menjabat pimpinan tertinggi di satu daerah tersebut. Atut percaya bahwa dalam perjalanan hidupnya, akan selalu ada cobaan yang menghampiri. Salah satunya adalah dugaan ijazah palsu terhadap dirinya. “Itu saya anggap sebagai cobaan dan konsekuensi saya dalam menjabat Gubernur,” tutur Atut. “Itu merupakan ujian bagi saya agar saya memiliki kewaspadaan terhadap segala macam hal,” lanjutnya.

Bagi Atut, dugaan bahwa dirinya telah memalsukan ijazah juga dianggap sebagai cambuk agar ia selalu meningkatkan kinerja di pemerintahan. “Hikmahnya ya saya harus lebih memperbaiki diri,” ujar Atut sembari tersenyum. Fajar

Side Bar 2...

Menghilangkan Kejenuhan dengan Menyanyi

Saat musim kampanye pilkada gubernur Banten pada tahun 2006, Atut memang kerap terlihat menyanyi di atas panggung. Hal itu dilakukannya bukan hanya untuk menarik perhatian masyarakat saja. Tapi ada suatu kesenangan sendiri yang dirasakan Atut saat bersenandung. “Saya memang memiliki hobi menyanyi,” ungkap Atut. Meski tidak secara khusus belajar menyanyi, Atut mengaku bahwa ia seringkali mendengarkan lagu dari penyanyi-penyanyi terkenal baik dalam maupun luar negeri.

Saya memang banyak mendengarkan lagu, sekalian saya juga belajar menyanyi,” tutur ibu tiga anak ini. Sejak remaja, Atut memang menyukai dunia musik. Ia banyak mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan para penyanyi dalam negeri. “Namun saya tidak pernah belajar menyanyi,” lirih ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Propinsi Banten ini. Meski demikian, di saat remaja, Atut justru sempat belajar menari tarian tradisional. Melestarikan budaya sendiri, adalah salah satu alasannya untuk belajar menari. Kendati begitu, ia tidak sampai menekuni dunia tari, karena Atut lebih memilih untuk meneruskan pendidikan dan terjun di berbagai organisasi.

Keberanian Atut melantunkan lagu di depan khalayak ramai ternyata diakuinya karena dorongan dari berbagai pihak. “Banyak yang bilang saya bisa menyanyi, dan masyarakat waktu itu (kampanye, red) meminta saya menyanyi, ya saya beranikan diri untuk menyanyi,” kenang Atut sambil tertawa lebar. Bahkan di rumah, kadang-kadang Atut ber-karaokean bersama keluarga. Momen itu juga digunakan sebagai ajang berkumpul dalam keluarga. Di dunia musik sendiri, tak ada sosok penyanyi khusus yang diidolakan Atut. “Hampir semua penyanyi dalam negeri yang saya suka,” ujar Atut yang sempat menendangkan lagu untuk Realita. Menurutnya, dengan memiliki jiwa seni bila dikaitkan dengan tugasnya di pemerintahan Banten, dapat berdampak positif. Salah satunya adalah dapat menghilangkan kejenuhan. “Saya jadi tidak kaku dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Meski menyukai dunia menyanyi, Atut sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengeluarkan album musik sendiri. Hanya salah satu anak lelakinya yang menyukai dunia musik dan sudah mengeluarkan album sendiri dengan band yang dibentuk anaknya tersebut. “Belum saatnya punya album sendiri, harus banyak belajarlah,” tutur Atut sembari tersenyum simpul. Fajar


2 comments:

Rampok Ambisius Airin Rachmi Diany said...

Ratu Atut Chosiyah si Dungu di TVOne, Mending Zulkieflimansyah/Marissa
VIVAT JUSTITIA VEREAT MUNDUS!
VIVAT JUSTITIA VEREAT MUNDUS!

Menyaksikan wawancara dungu TV One kepad Ratu Atut Chosiyah atas keluarga besarnya yang masuk semua menjadi anggota legislative menyesakkan nafas kita semua di Banten. Muak, dan mau muntah melihat dengan sangat bangga Atut mengatakan bahwa seluruh rakyat di Banten sangat ingin memilih keluarga mereka semuanya. Mulai dari suaminya yang terkenal suka selingkuh itu Hikmat Tomet termasuk prilaku money politics dia yang di SP 3 oleh POLRI dan juga keluaan minor sama kriminalitas yang dilakukan Andika Hazrumy anak Atut, anak mantu dia yang hamil diluar nikah dari buah percintaan liar dengan Andika Hazrumy, dua orang ibu tiri Atut, adik ipar Atut, sampai dengan tukang pijat Chasan Sochib dari Partai Demokrat bernama Siti Romlah. Ya Allaaaaah…. BLUNDER bagi pemerintahan SBY karena kemabiguannya didalam meemrintah negeri ini. Kasihan Indonesia. Batasan harus diberikan oleh negara sebagai solusi atas prilaku koruptif keluarga mafia rampok Banten ini.

Ine di Malaysia Peminat Film Marissa Haque said...

Pencurian APBD di Banten dalam Pemilukada Tangerang Selatan 2010

"Penyimpangan Rp13,08 miliar, Ratu Atut Chosiyah Dihimbau Belajar ke Tangerang Agar Jangan DIpakai untuk Airin Rachmi Diany Pilkada di Tangsel 2010 Ini"

Sabtu, 26 Juni 2010, 07:58 WIB

Pemerintah Provinsi Banten diminta belajar laporan keuangan ke Kota Tangerang atau Kabupaten Tangerang sehubungan penemuan Badan Pemeriksa Keuangan tentang penyimpangan APBD 2009 sebesar Rp13,08 miliar.

"Saya sangat kecewa dan prihatin laporan hasil pemeriksaan (LHP) ditemukan adanya penyimpangan anggaran," kata Agus R Wisas, salah seorang anggota Komisi IV DPRD Banten, Jumat (25/6/2010).

Ia mengatakan, semestinya Pemprov Banten belajar laporan keuangan ke Kabupaten Tangerang atau Kota Tangerang

Sebab kedua daerah tersebut sudah tiga kali mendapat penghargaan terbaik Wajar Tanpa Pengecualian (WDP) dari BPK.

"Jika Gubernur Banten belajar ke daerah itu, kemungkinan dalam laporan hasil pemeriksaan menjadi lebih baik,"ujarnya.

Kalau Pemprov Banten mau studi banding ke dua daerah itu dan jangan sampai jauh-jauh ke luar daerah.

Selama ini, BPK menilai laporan keuangan APBD Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang sangat baik sehingga perlu belajar kepada mereka.

Pengalaman terburuk bagi Pemprov Banten, atas temuan BPK dalam laporan hasil pemeriksaan diindikasikan terjadi penyimpangan anggaran tahun 2009 sebesar Rp13,08 miliar.

"Saya minta ke depan jangan sampai kasus penyimpangan anggaran terulang lagi," katanya.

Sementara Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah mengatakan pihaknya berjanji akan memperbaiki laporan hasil pemeriksaan BPK dari opini WDP ke Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

"Saya akan berusaha untuk meningkatkan predikat terbaik," katanya.(Fz/At/Kl)