Wednesday, June 9, 2010

Ibrahim Gidrach Zakir, Editor Surat Kabar The Point

Sempat Berada di Ambang Kematian Ketika Kanker Bersarang di Tubuhnya

Tak diduga, penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya merupakan tipe kanker ganas. Bila dibiarkan dua bulan lagi, pastilah maut akan menjemput dirinya. Namun, berkat mukjizat Allah, nyawa Ibrahim Zakir masih dapat terselamatkan. Kesembuhan pun diraih melalui ketabahan dan tawakal yang dilakukannya. Lalu bagaimana cara mantan aktivis ini menghadapi penyakit yang hampir merenggut nyawanya tersebut?


Sebagian besar helai rambutnya telah mulai memutih. Meski begitu, ia tetap masih tampak semangat jiwa mudanya. Sosoknya tak lagi memperlihatkan fisik yang beberapa tahun lalu sempat mengidap penyakit ganas. Langkah kakinya pun sudah menggambarkan kemantapan untuk kembali meniti karir di dunia jurnalistik. Tak hanya itu saja, pribadinya kini jauh berubah ketimbang di masa lampau. Ibrahim Zakir menjadi sosok manusia yang lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Berbeda dengan masa mudanya yang dikenal sebagai anak muda ‘nakal’ yang kerap mencoba sesuatu hal baru.

Salah satu yang menjadi titik balik bagi pria yang kerap dipanggil Bram ini adalah penyakit kanker yang pernah diidapnya beberapa waktu lalu. Tak tanggung-tanggung, penyakit tersebut merupakan penyakit ganas yang nyaris membuat nyawanya terenggut. Namun, kenyataan berkata lain. Ia mampu diselamatkan oleh tangan-tangan Allah yang memberikan kesempatan hidup kedua bagi dirinya. Barulah ia menyadari bahwa mukjizat telah datang kepadanya. Sehingga Bram mampu mendapatkan kesembuhan atas penyakit kanker yang dideritanya.

Si Anak ‘Nakal’. Ditemui di kantornya pada Rabu (19/12) di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Bram lantas berbagi kisah mengenai pengalamannya bertarung melawan penyakit kanker yang bersarang di tubuhnya. Di dalam ruangannya yang tidak begitu besar, Bram langsung memecahkan keheningan dengan mulai menceritakan pengalaman yang dianggapnya sebagai sebuah mukjizat dari Sang Pencipta.

Bram terlahir di Jakarta pada 31 Mei 1951 dengan nama lengkap Ibrahim Gidrach Zakir. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kedua orang tuanya bernama (Alm.) M. Anwar Zakir dan Ratna Susilowati (85). Sang ayah merupakan seorang dokter yang sempat menjadi tentara di masa lampau. Sedangkan ibundanya adalah seorang guru piano. Meski dididik dengan disiplin yang cukup tinggi, tidak menghalangi Bram menjadi sosok anak ‘nakal’ yang kerap mencoba suatu hal baru. Bahkan, di masa mudanya Bram kerap berkelahi dengan anak-anak seumurannya. “Dulu saya suka berkelahi,” kenang Bram sembari tersenyum. Sang ayah pun sempat bingung dengan sifat anaknya tersebut. Bahkan Anwar Zakir tak tahu bagaimana mengubah kenakalan anak laki-lakinya itu.

Di waktu mudanya, Bram kerap berpindah-pindah tempat tinggal. Pasalnya, sang ayah yang kala itu masih berdinas di TNI Angkatan Udara harus berpindah tempat tugas. Tak pelak, Bram pun harus mengikuti kepindahan sang ayah tersebut. Meski berpindah tempat tinggal, Bram tetaplah menjadi sosok anak ‘nakal’ yang kerap menimbulkan kericuhan bila tengah berkelahi dengan anak lainnya. “Saya hanya sebatas berkelahi saja nakalnya,” aku Bram. Di masa mudanya, ia juga dikenal sebagai pemuda yang sangat menyukai musik. Tak heran, ia kerap bermain band dengan teman-teman sebayanya. Salah seorang teman satu bandnya adalah Bambang Tri, salah satu anak Soeharto, mantan penguasa orde baru.

Merokok Memicu Kanker. Setelah berpindah-pindah daerah tempat tinggal, Bram beserta keluarga lantas pindah ke Jakarta ketika ia menginjak kelas 2 SMA di SMA I Budi Utomo. Pada saat SMA itulah, ketertarikan Bram terhadap dunia politik muncul. Ketertarikan tersebut membuatnya memutuskan untuk mengambil kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI). Tak hanya itu saja, Bram juga memiliki hobi menulis. Hobi menulisnya tersebut membawa Bram terjun di dunia jurnalistik. Selain itu, Bram juga dikenal sebagai seorang aktivis kampus yang getol mengkritisi kepemimpinan orde baru kala itu. Selepas meraih gelar Sarjana di program studi Ilmu Politik, Bram lantas menjadi seorang jurnalis di beberapa media cetak, seperti surat kabar Sinar Harapan, Majalah Editor, dan majalah Mutiara. Selain menjadi seorang jurnalis, Bram juga dikenal sebagai seorang pengamat politik dari RIDEP Institute.

Hitungan tahun telah ia jalani sebagai seorang jurnalis. “Saya mencoba untuk berbisnis,” aku Bram. Meski sempat menjalankan bisnis di luar dunia jurnalistik, ia mengaku tak betah dengan apa yang dilakoninya tersebut. “Ya saya balik lagi ke dunia jurnalistik,” kenang Bram. Karirnya memang terbilang cukup lancar tanpa hambatan. Hal tersebut karena hasil kerja kerasnya dalam membangun karir sejak awal. Akan tetapi, pola hidupnya yang tidak teratur akibat dari pekerjaan membuat sebuah petaka besar dalam hidupnya. “Pola hidup saya yang memicu saya terkena kanker limfoma,” ujarnya. Terlebih lagi, kebiasaan merokoknya yang sangat menggila. Bram dapat menghabiskan 3-4 bungkus rokok dalam sehari.

Lebih lanjut dikatakan Bram, selama hampir lima tahun ia juga menjalani puasa Nabi Daud ketika divonis mengidap kanker kala itu. “Buka puasanya kadang-kadang nggak terkontrol,” ungkap Bram yang dulunya adalah aktivis kampus ini. Bahkan ia hanya memakan gorengan untuk buka puasa. Selebihnya ia hanya minum dan merokok.

Kebiasaan itulah yang menjadi salah satu pemicu munculnya kanker kelenjar getah bening di dalam tubuhnya. Awalnya, Bram merasa terkejut dengan apa yang diidapnya tersebut. Apalagi, sel kanker yang ada di dalam tubuhnya termasuk jenis yang sangat agresif. “Sel kanker yang ada di dalam tubuh saya termasuk dalam non Hodgkin, yang sangat agresif,” tutur Bram. Keagresifannya tersebut tergambar jelas dari masa berkembangnya sel kanker di dalam tubuhnya. Gejala yang dirasakan Bram untuk pertama kali adalah timbulnya pembesaran atau pembengkakan di rahangnya pada bulan Februari 2004, yang merupakan salah satu tempat kelenjar getah bening berada. “Awalnya seperti kesemutan,” ujarnya singkat. Setelah merasakan seperti kesemutan, rahang tepat di bawah pipi sebelah kanannya membesar. Setelah merasakan ada yang aneh di dalam tubuhnya, Bram pun lantas memeriksakan kesehatannya ke dokter. Barulah pada bulan Mei 2004, ia mengetahui bahwa ia mengidap sebuah penyakit kanker yang menyerang kelenjar getah bening. Lebih kaget lagi, setelah mengetahui bahwa stadiumnya sudah mencapai 3B.

Ikhlas Dijemput Maut. Saat itu, yang dapat dilakukan Bram hanyalah berserah diri. Apalagi dokter sempat memvonis usianya tak akan panjang lagi. “Bila dibiarkan dalam dua bulan ke depan, Anda pasti akan mati,” ujar Bram menirukan omongan sang dokter kala itu. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung mencari pengobatan baik secara medis dari rumah sakit maupun dari pengobatan alternatif lainnya. “Saya diobati dengan cara dikemoterapi,” aku Bram. Setiap 21 hari sekali sejak bulan Juni 2004 hingga bulan April 2004, Bram secara rutin melakukan pengobatan melalui kemoterapi.

Tak hanya itu saja, selain berusaha melalui pengobatan, Bram juga melakukan berbagai cara dengan lebih mendekatkan diri kepada Aang Pencipta. Usaha Bram tidak sia-sia, perubahan drastis pun dialaminya setelah berserah diri kepada Allah SWT. Bahkan ia kerap menangis di saat menunaikan ibadah shalat. “Nggak tahu kenapa, saya selau menangis ketika shalat,” kenang Bram.

Meski berada di ambang kematian, Bram tidak merasakan adanya ketakutan dalam dirinya. Ia percaya bahwa hidup dan mati adalah sebuah takdir dari-Nya. Kala itu, bila ia memang ditakdirkan untuk menghadapi kematian akibat penyakit kanker limfoma yang ganas maka memang sudah menjadi kehendak Illahi. Namun, Bram berusaha untuk bersikap bijak dan sabar dalam menghadapi cobaan penyakitnya tersebut. Ia tetap berusaha untuk sembuh dari kanker limfoma yang diidapnya. Meski sangatlah sulit untuk dapat sembuh karena stadium 3B pada penyakitnya, ia tetap optimis dapat sembuh dan terhindar dari kematian yang kala itu tengah dekat dengan dirinya.

Belakangan Bram baru mengetahui, ia juga memiliki riwayat keluarga yang pernah mengidap penyakit kanker. Salah satunya adalah sang ayah, yakni (Alm.) Muhammad Anwar Zakir yang menderita penyakit leukemia. Tak hanya sang ayah saja, kedua adik perempuan ayahnya juga memiliki penyakit kanker. “Dua adik perempuan ayah saya punya kanker, yang satu kanker payudara dan satunya lagi punya kanker rahim,” aku Bram. “Ayahnya ayah saya alias kakek saya juga pernah kena kanker usus,” imbuhnya. Meski demikian, diakui Bram biasanya penyakit kanker yang diturunkan dari orang tua laki-laki akan langsung diturunkan ke anak perempuan dan bukan anak laki-laki seperti dirinya.

Entah dapat disebut dengan beruntung atau justru merupakan pertolongan dari Sang Maha Kuasa, akhirnya Bram dapat sembuh juga dari penyakitnya itu. Bila penderita kanker limfoma pada umumnya harus merasakan beberapa kali diobati melalui kemoterapi baru mendapatkan perkembangan positif pada kesehatannya, maka Bram justru mendapatkannya lebih cepat. Hanya setelah tiga kali dikemoterapi, kondisi kesehatannya menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan. “Pembengkakannya mulai mengecil setelah dikemoterapi sekali saja,” aku Bram. Berbeda dengan penderita lainnya yang harus menjalani kemoterapi sebanyak 3 atau 4 kali hanya untuk menampakkan perkembangan positif pada pembengkakannya.

Setelah menyelesaikan segala macam bentuk pengobatan, seperti kemoterapi sebanyak 8 kali, akhirnya Bram dapat sembuh dari penyakit yang dideritanya tersebut. Meski ia harus mengembalikan fisiknya selama 9 bulan pasca sakit. “Itu bagaikan mukjizat bagi saya,” ujarnya sembari tersenyum. Perubahan pun terjadi setelah Bram mendapatkan kesembuhan. Ia kini lebih menghargai kesehatan. Kebiasaan merokok pun ditinggalkannya. Bram juga lebih menjaga pola hidup dan pola makannya sehari-hari. Ia tersadar bahwa penyakit yang dideritanya tersebut sangat menguras kocek pribadinya. “Bayangkan saja setiap kali pengobatan melalui kemoterapi itu biayanya Rp 22 juta,” ujarnya sembari tersenyum miris. Bahkan untuk membayar pengobatannya tersebut, ia juga harus menguras tabungan anak-anaknya. “Sakit itu ternyata mahal,” ungkapnya tegas.

Dalam kehidupan rumah tangganya, Bram memiliki tiga anak, yakni Anissa Zakir (27), Amalia Rahmani Zakir (16) dan Arif Rahbani Zakir (13). Anak sulungnya merupakan hasil pernikahan pertamanya yang gagal di tengah jalan dan bercerai pada tahun 1981. Gagal pada pernikahan pertama, Bram lantas menikah kembali pada tahun 1990 dengan Dewi Meilani (48) dan membuahkan dua buah hati.

Bagi Bram, penyakit kanker limfoma yang pernah dideritanya dijadikan sebagai sebuah pelajaran dalam hidup. Kini, ia lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta dan mengubah segala macam kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kambuhnya kanker limfoma. Fajar

Side Bar 1…

Mendirikan Paguyuban ‘Masyarakat Peduli Limfoma’ Sebagai Rasa Syukur Atas Kesembuhannya

Rasa syukur atas kesembuhan yang dicapai Bram diwujudkannya dengan menggalang komunitas masyarakat yang pernah mengidap kanker limfoma melalui sebuah paguyuban. Menurut Bram, masyarakat umum masih belum mengetahui dengan jelas tentang kanker limfoma. Tak heran, ia beserta rekan-rekan lainnya yang mempunyai pengalaman tentang penyakit kanker limfoma memutuskan untuk membentuk sebuah paguyuban bernama ‘Masyarakat Peduli Limfoma’ pada tahun 2005, tepat setelah ia sembuh dari penyakitnya.

Melalui paguyuban ini, Bram mengajak masyarakat lainnya untuk waspada terhadap berbagai jenis kanker terutama kanker limfoma yang termasuk ganas. “Jadi kita harus lebih waspada jika ada pembengkakan di daerah-daerah tubuh yang ada kelenjar getah beningnya seperti rahang, pangkal lengan, dan pangkal paha,” tutur pria yang memiliki hobi bermusik ini. “Kami berusaha untuk memberikan informasi dan akses yang lebih cepat tentang kanker getah bening ini,” lanjutnya.

Menurut Bram, pola hidup masyarakat saat ini sangat rentan akan datangnya berbagai penyakit kanker. “Kanker limfoma di atas stadium 2, lebih berisiko,” ungkap Bram. Sehingga banyak penderita yang kurang tanggap dengan kemunculan penyakit kanker limfoma ini. Padahal untuk jenis non Hodgkin (sangat agresif), termasuk ganas dan dalam tempo 6 bulan akan menimbulkan kematian. “Bila diketahui lebih awal, maka akan lebih cepat disembuhkan,” ujar Bram. Namun, sayangnya paguyuban yang dibentuk secara bersama-sama ini diakui Bram, sedang vakum. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya kesibukan dari masing-masing anggota dan pengurus paguyuban. Sehingga, ia berharap kegiatan paguyuban ‘Masyarakat Peduli Limfoma’ akan terus berjalan dan lebih banyak memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengetahuan kanker limfoma. Fajar

Side Bar 2…

Prof. Dr. dr. A. Harryanto Reksodiputro, Ahli Penyakit Dalam

Bila dibiarkan, dalam waktu enam bulan, si penderita akan meninggal”

Penyakit kanker limfoma terbagi menjadi dua macam, yakni Hodgkin dan non Hodgkin. Keduanya berbeda satu sama lain. “Non Hodgkin lebih ganas daripada Hodgkin,” ujar Harry singkat. Dalam waktu tempo sekitar 4 atau 6 bulan, penderita limfoma yang tidak diobati dipastikan akan menemui ajalnya. Pasalnya, sel kanker non Hodgkin sangat cepat menyebar ke dalam tubuh penderita. Puncaknya, si penderita akan meninggal. Berbeda halnya dengan Hodgkin yang lebih lambat menyebar. Meskipun non Hodgkin lebih ganas, ia dapat diobati bila diketahui lebih awal. Sedangkan Hodgkin sulit untuk diobati. Keduanya mempunyai gejala yang mirip dan perbedaannya didasarkan pada hasil pemeriksaan biopsy ’jaringan tumornya’. “Biasanya gejala awalnya adalah pembengkakan pada daerah-daerah kelenjar getah bening,” tutur Harry.

Kanker limfoma non Hodgkin disebabkan adanya mutasi berbagai gen dalam satu sel. Akibatnya, sel tersebut terus menerus tumbuh tanpa henti dalam tempo waktu yang cukup singkat. Penderita dapat meninggal dunia bila dibiarkan dan tanpa diobati. “Bila dibiarkan, maka hanya dalam waktu 6 bulan si penderita akan meninggal,” tutur Harry yang juga pemilik Klinik Amanda, Jakarta ini. Meski begitu, diakui Harry sampai saat ini masih belum diketahui penyebabnya secara pasti. “Semua orang bisa terkena penyakit kanker ini,” ujarnya singkat. Anak-anak hingga orang tua pun dapat dengan mudah terinfeksi kanker limfoma. Namun, fakta menyebutkan bahwa lebih banyak penderita berjenis kelamin laki-laki ketimbang perempuan yang menjadi penderitanya. Diduga pola hidup manusia yang tidak teratur dapat menjadi pemicu munculnya kanker limfoma. “Salah satunya merokok,” ujar Harry. Selain itu, faktor yang juga berpengaruh adalah penurunan daya tahan tubuh dari seseorang.

Kanker limfoma dapat diobati dengan cara mengkonsumsi obat-obatan atau kemoterapi. Akan tetapi, biaya pengobatannya diakui Harry sangatlah mahal. “Sekitar Rp 20 juta untuk sekali pengobatan kemoterapi,” ungkap Harry. Padahal untuk mencapai kesembuhan, si penderita harus beberapa kali melakukan pengobatan kemoterapi ataupun obat-obatan. Menurutnya, obat-obatan itulah yang membuat pengobatan kanker limfoma menjadi sangat mahal. Meskipun si penderita sudah mencapai kesembuhan, ia dapat terkena kanker kembali. “Si penderita bisa terkena kanker limfoma kembali bila ada faktor-faktor yang menjadi pemicunya,” ujar Harry sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 3…

KH. Muhammad Nur Iskandar, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Jakarta

Penyakit Diberikan Allah untuk Menguji Kesabaran

Setiap penyakit itu datangnya dari Allah SWT walau terkadang sebabnya ada juga yang datang dari manusia itu sendiri. Ujian penyakit biasanya diberikan Allah kepada manusia untuk menguji kesabaran para hambanya. Menurut KH. Nur Iskandar, sebagai umat Islam kita harus meyakini bahwa setiap penyakit itu pasti ada obatnya, oleh karena itu berobatlah sesuai dengan kemampuannya. Rasulullah SAW bersabda: "Berobatlah kamu, karena Allah Ta 'ala tidak menaruh sesuatu penyakit melainkan menyediakan obatnya, kecuali satu penyakit, yakni penyakit tua atau meninggal." (HR. Ahmad dan Ash-habussunan).

Berdasarkan sabda Rasulullah tadi maka sangat jelas bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya. Maka apa pun penyakit yang diderita seseorang dan betapa pun beratnya penyakit itu, jika Allah menghendaki sembuh, maka dengan izin Allah penyakitnya akan sembuh. Oleh karena itu, jelas KH Nur Iskandar, meski dokter sudah memvonis tidak ada harapan untuk sembuh, kita harus tetap berikhtiar dengan cara melakukan berbagai usaha atau pengobatan untuk menuju kesembuhan. Jika seseorang sabar menghadapi ujian penyakit maka kesabarannya itu menjadi penghapus dosa, penambah pahala, dan mempertinggi derajatnya di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW juga bersabda: "Tidak satu musibah pun yang menimpa diri seorang muslim, baik berupa kesusahan, penderitaan, kesedihan, dan kedukaan maupun penyakit, bahkan karena sepotong duri yang menusuk anggota badan, kecuali dihapuskan Allah dengan penyakit itu sebagian dari kesalahan-kesalahannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Perbanyak Sedekah. Beberapa hal yang bisa dilakukan oleh seseorang yang diuji dengan penyakit adalah menerimanya dengan ikhlas. “Menyerahkan semuanya hanya kepada Allah SWT dan memperbanyak bacaan seperti Laa haula wa laa quwwata Illa Billaah, itu juga bisa dilakukan,” ujar KH. Nur Iskandar. “Bertaubatlah dan mendekatkan diri kepada Allah. Perbanyak pula sedekah sebagai salah satu cara penolak bala,” tambahnya. Pasalnya, Rasulullah SAW pernah bersabda: "Sedekah itu dapat mencegah tujuh puluh macam penyakit, di antaranya adalah penyakit kusta dan supak (bule)." (HR. Al-Khatib).

Harus diketahui, harta yang kita sedekahkan itulah yang sesungguhnya harta kita di akhirat nanti. Sementara harta yang kita tumpuk-tumpuk di dunia tidak akan dibawa mati dan akan hancur ditelan zaman,” kata KH Nur Iskandar. Kita juga bisa belajar dari kisah Nabi Ayyub A.S yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang menjijikan (borokan) di sekujur tubuh. Namun Nabi Ayyub menjalani semua itu dengan sabar, ikhlas, tabah, berserah diri, dan selalu mendekatkan diri pada Allah. Allah pun kemudian mengangkat derajat Nabi Ayyub dan mencuci semua dosa-dosanya. Fajar

1 comment:

budy mas said...

Saya juga terkena lymfoma non hodgkin
Saya yakin bisa sembuh