Monday, June 21, 2010

Anton Medan, Mantan Napi dan Pemilik Pondok Pesantren At-Taibin, Cibinong, Bogor

Tersadar Setelah Lolos dari Kematian Akibat Enam Kali Tertembak

Mungkin tak ada yang menyangka seorang mantan napi dapat berubah 180 derajat menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Tapi itulah yang kini terjadi pada pria keturunan Tionghoa, Anton Medan. Saat ini, ia telah menjadi pimpinan sebuah pondok pesantren dan juga Balai Latihan Kerja (BLK) bagi para mantan napi. Lalu seperti apa perubahan yang dimaksud? Dan apa saja yang telah dilakukannya untuk masyarakat sekitar?

Istriku, aku selalu bertanya

Mengapa kejahatan musti dilahirkan

Sementara aku sendiri tidak menyukai kejahatan

Istriku, seandainya bau masakan tetangga tidak tercium oleh hidung anakku… Dia tidak merengek, menangis, meminta opor ayam

Istriku, aku tidak pernah menangis dipukuli karena mencuri ayam

Yang kutangisi adalah hilangnya senyum anak kita karena tak bisa mencicipi rasa opor ayam…

Penggalan puisi tersebut menggambarkan masa lalu seorang mantan napi yang kini telah bertaubat dan menjadi seorang pemilik Pondok Pesantren At-Taibin, Cibinong, Bogor. Puisi itu memang sengaja dibuat oleh Anton Medan yang ditujukan untuk sang istri tercinta. “Saya membuatnya di penjara Nusakambangan,” ungkap Anton singkat. Puisi yang merupakan ungkapan hatinya tersebut ternyata membuat sebuah perubahan besar dalam kehidupan Anton Medan. Dari dukungan sang istri pulalah, puisi sederhana itu mampu ditorehkan Anton dari balik jeruji besi.

Selasa (18/9) siang itu udara di pinggiran kota Jakarta terasa panas. Meski begitu, suasana bulan Ramadhan juga sangat terasa di daerah Cibinong, Bogor. Terlebih lagi di salah satu ujung jalan setapak di daerah tersebut. Tembok tinggi menjulang nampak membentengi sebuah bangunan besar yang berada di antara pemukiman warga kampung Pondok Rajeg. Sebuah tulisan berukuran besar terukir dengan jelas di permukaan dinding tembok tersebut. Ucapan selamat datang dalam bahasa Inggris itu menyambut kedatangan Realita pada hari keenam di bulan Ramadhan tersebut. Saat memasuki lingkungan pondok pesantren, suasana sejuk dan nyaman pun langsung terasa. Berbagai tulisan arab dan bahasa Inggris menghiasi tiap sudut bangunan pesantren.

Bila di luar lingkungan pesantren, udara terasa panas maka berbeda halnya dengan di dalam lingkungan bangunan pesantren. Udaranya cukup sejuk lantaran beberapa sudut dihiasi dengan berbagai macam tanaman rindang. Tak pelak, teriknya sinar matahari tak mampu membuat suhu di dalam lingkungan pesantren menjadi panas. Bangunan pesantren yang baru diketahui bernama At-Taibin itu memang tak jauh berbeda dengan bangunan sekolah pada umumnya. Pesantren At-Taibin sendiri dibangun berkat hasil kerja keras Anton Medan bersama para mantan napi lainnya. “Dananya berasal dari hasil penjualan barang-barang buatan mantan napi di BLK (Balai Latihan Kerja, red),” tutur Anton panjang lebar. Dana yang dihabiskan untuk mendirikan bangunan pesantren sekitar Rp 6 miliar, sebuah angka yang cukup menakjubkan mengingat jumlah tersebut merupakan hasil kerja keras para mantan napi yang dibina oleh Anton Medan.

Saat ini, untuk menjalankan roda kehidupan pesantren dan BLK, Anton mendapatkan penghasilan dari beberapa bisnis yang dikelolanya. Salah satunya adalah bisnis yang memberdayakan para mantan napi sebagai karyawannya. “BLK sendiri sudah banyak berdiri di berbagai daerah seperti Medan, Makasar, dan Kalimantan,” ungkap Anton. Dari hasil barang-barang buatan para mantan napi tersebut, Anton dapat meraup untung yang kemudian dipergunakan untuk biaya operasional kegiatan pesantren dan menggaji para mantan napi tersebut.

Di dalam lingkungan pesantren, ada sebuah bangunan unik yang berada di dalam lingkungan pesantren At-Taibin tersebut. Bangunan itu adalah sebuah masjid besar yang berbentuk seperti bangunan khas negeri China. Masjid yang diberi nama Masjid Jami Tan Hok Liang itu memang merupakan hasil dari ide sang pemilik pesantren. Dialah Anton Medan, mantan napi yang kini berubah wujud menjadi seorang ulama sekaligus pemilik pondok pesantren terpadu At-Taibin di daerah Cibinong, Bogor. Di rumahnya yang sederhana dan terletak tepat di belakang pesantren, Anton bersedia membagi kisahnya yang penuh dengan hidayah dari sang pencipta, hingga mampu berubah menjadi sosok pria yang bersahaja dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Berawal dari Membunuh. Anton Medan terlahir dengan nama asli Tan Hok Liang dari pasangan (alm.) Tan Kim Tiek alias Usman dan Aminah (78). Anton merupakan anak pertama dari sebuah keluarga besar. “Saya memiliki 17 saudara kandung,” aku Anton. Tak heran, Anton harus ikut membantu menghidupi keluarga dengan mencari pekerjaan. Beban yang begitu berat memang berada di pundak Anton kala itu. Anton yang lahir di Tebing Tinggi pada 10 Oktober 1957 ini kemudian memutuskan untuk bekerja di kota Medan, Sumatera Utara.

Latar belakang pendidikan Anton yang rendah membuatnya hanya bekerja sebagai buruh serabutan di salah satu toko di Medan. Meski demikian, kala itu ia patut bersyukur karena ia mampu memperoleh sumber penghasilan untuk membiayai adik-adiknya. Secara rutin, Anton selalu pulang ke rumah orang tuanya sembari membawa bahan makanan pokok dan uang penghasilan setiap dua minggu sekali. Namun, suatu saat, ketika ia ingin membawa beberapa bahan pokok dan uang hasil bekerja ke rumahnya di Tebing Tinggi, sempat dicuri oleh beberapa orang pelaku. “Waktu itu saya membela diri,” aku Anton. Namun, sang pelaku tak mau mengakui perbuatannya tersebut. Tak pelak, hal tersebut membuat geram Anton. “Saya mengambil golok tukang es dan membacok orang itu,” kenang Anton. Alhasil, si pelaku pencurian pun tewas seketika.

Berawal dari perbuatan membunuh itulah, Anton seakan-akan terjerembab dalam sebuah dunia yang penuh dengan perbuatan kejahatan. Akibat dari perbuatannya tersebut, Anton harus merasakan dinginnya hotel prodeo selama empat tahun. Di dalam penjara pula, ia kemudian berkenalan dengan tindakan kejahatan yang sangat beragam. Alhasil, Anton perlahan-lahan makin tenggelam di dalam dunia hitam kejahatan.

Ditolak Orang Tua. Selepas keluar dari penjara, Anton lalu kembali pulang ke rumah orang tuanya di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Harapan untuk dapat diterima kembali oleh kedua orang tuanya ternyata hanya impian belaka. Sebaliknya, kedua orang tua Anton merasa malu dengan perbuatan pembunuhan yang dilakukan Anton. “Mereka tak mau menerima saya kembali,” kenang Anton sembari meringis. Sikap penolakan dari kedua orang tuanya tersebut membuat perasaan Anton amat sedih. Tak ada lagi rumah yang menjadi tempat berlindung bagi dirinya. Tak ada pula kedua orang tua yang menjadi pembimbingnya di rumah. “Akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke Jakarta,” ungkap Anton. Di ibukota, tak ada pekerjaan yang layak bagi dirinya mengingat pendidikannya yang tak lulus SR (Sekolah Rakyat). Akhirnya, Anton bergelut dengan dunia kejahatan dengan menjadi seorang perampok dan penjudi kelas kakap. Entah sudah berapa toko emas yang sudah digasaknya. Yang pasti, nama Anton Medan sendiri sudah sangat dikenal sebagai seorang penjahat ternama di masyarakat. Pihak berwajib pun sudah sangat gerah dengan segala tindak tanduk Anton.

Keluar masuk penjara sudah ia lakoni setelah menjadi seorang penjahat. Mulai dari LP Cipinang, Nusakambangan, hingga Sukamiskin, Bandung sudah pernah ia rasakan sebagai akibat dari perbuatannya. Namun, tetap saja ia tidak jera dengan kejahatan yang ia lakoni. Sebaliknya, justru semakin banyak kejahatan yang dilakukannya. Berjudi pun sudah menjadi hobinya sehari-hari.

Mualaf Sejak 1992. Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan Anton ternyata mencapai titik baliknya. Salah satu pendorong yang membuat Anton berubah adalah kehadiran sang istri yang selalu memotivasi Anton untuk segera melakukan taubat. Tak pelak, Anton pun mulai merenungkan nasibnya dan mencari kebenaran yang hakiki. Salah satunya adalah dengan mencari sang pencipta yang selalu menyelamatkan dirinya dari enam peluru yang sempat menembus tubuhnya. Tepat di tahun 1992, Anton secara resmi mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melewati masa lalu kelam yang dianggapnya sebagai masa pencarian sosok yang dinamakan Tuhan. Baginya, hukuman total kurungan penjara selama 18 tahun 7 bulan sudahlah cukup. “Saya bersyukur saya bisa masuk penjara,” ungkap Anton. Berkat pengalaman di penjara itulah, Anton mendapatkan pelajaran berharga tentang arti hidup. Ia menganggap bahwa dunia merupakan sebuah penjara yang lebih besar ketimbang LP (Lembaga Pemasyarakatan).

Proses taubat yang dilakukan Anton ternyata bukanlah datang tiba-tiba. Ia juga mengaku tidak mendapatkan beberapa kejadian yang menghadirkan hidayah bagi dirinya. “Agama itu tidak datang sendiri, tapi kita yang harus mencarinya sebagai pedoman hidup,” tutur Anton. Dalam masa pencariannya itulah, ia dapat menemukan hidayah dari Allah. Namun, disaat mengucapkan dua kalimat syahadat, ada semacam keraguan yang dirasakannya. “Waktu itu saya sempat ragu apa saya bisa menjadi orang yang bermanfaat,” ujarnya. Akhirnya, keraguan itu tidak terbukti. Pasalnya, ia mampu memberikan segudang manfaat baik untuk masyarakat sekitar maupun para mantan napi yang nasibnya sama dengan Anton tempo dulu. Tahun 1993, Anton memutuskan untuk pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Disanalah, ia memohon ampun atas segala macam perbuatannya di masa lampau. Nama Anton Medan kemudian diubahnya menjadi Haji Ramdhan Effendi. Ia berharap dengan mengubah nama, dapat berdampak positif terhadap image barunya yang kini lebih bersahaja. Setahun kemudian, rutinitas melakukan ceramah mulai dilakoninya terutama dari LP ke LP untuk memberikan pencerahan kepada para napi.

Cobaan tak hanya berhenti sampai di situ saja. Ketika masa reformasi terjadi, nama Anton Medan sempat dikaitkan dengan berbagai tindakan kerusuhan yang kala itu terjadi di ibukota. Meski demikian, tuduhan tersebut tidak terbukti. “Tahun 1998, saya sempat diculik dan dibacok oleh orang tak dikenal,” kenang Anton. Kala itu, sebagai pria keturunan Tionghoa, Anton memang sempat menjadi bulan-bulanan masyarakat. Meski begitu, ia mampu melewati semuanya dan menapaki kehidupan yang lebih baik lagi.

Dari sisi kehidupan pribadi pun, Anton mulai merangkai kembali dengan tatapan optimis di masa depan. Bila ketika masih bergumul dengan dunia kejahatan, Anton memiliki lima orang istri, maka kini ia hanya memiliki seorang istri yang sangat dicintainya. “Saya menceraikan istri-istri saya,” aku Anton. Rissa Habsari (25) telah diperistrinya sejak 3 tahun yang lalu. Meski pernikahannya sudah berlangsung cukup lama, kehadiran anak ternyata tak kunjung tiba. Keduanya memang memiliki perbedaan usia yang cukup jauh, namun tidak menjadi halangan untuk membangun keluarga yang sakinah. Hubungan Anton dengan ketujuh anaknya, hasil pernikahan dengan istri-istri sebelumnya pun masih tetap terjalin dengan baik. Ketujuh anaknya (dua anak sulungnya kembar, red), yakni Siti Noviyanti (27), Harley Davidson (27), Siti Maesaroh (25), Hardi Dian Effendi (23), Tri Anggi Anggraini (22) , M Arifin (21), dan Delly (19) tetap selalu berkunjung ke rumah sang ayah. Terlebih lagi bila hari Lebaran tiba, mereka kerap berkumpul bersama. Bahkan mantan-mantan istrinya juga sering mengunjungi rumahnya yang terletak tepat di belakang pesantren At-Taibin. Keluarga, pesantren, dan para mantan napi diakuinya memiliki prioritas utama dalam hidupnya yang kini semakin cerah. Fajar

Siapkan Makam Diri Sendiri Sebagai Peringatan

Bila berkunjung ke Pondok Pesantren At-Taibin di daerah Cibinong, Bogor, mungkin semua orang pengunjung akan terheran-heran dengan keberadaan sebuah makam kosong yang terletak tepat di samping Masjid Tan Hok Liang. Liang lahat tersebut memang masih kosong. “Makam itu hanya simbolik saja, sebagai peringatan bagi kita semua,” tutur Anton. “Mati adalah suatu kepastian, dan hidup adalah perjuangan,” lanjutnya.

Ayah 7 anak ini juga berharap bila nanti maut menjemputnya, maka ia berharap dapat dijemput maut di rumahnya. “Saya berharap dapat meninggal dan dimakamkan di sini,” ujar Anton sembari menunjuk makam kosong yang telah disiapkan. Dengan melihat ke makam, Anton juga merasa selalu diingatkan oleh sang pencipta agar selalu dekat kepada-Nya. Tak hanya bagi dirinya sendiri, makam tersebut dibuat agar setiap pengunjung dan para santri selalu ingat terhadap kematian. “Saya siap untuk mati,” ujarnya singkat.

Makam kosong itu sengaja dibuat oleh Anton. Bahkan sebelum bangunan pesantren dibangun, makam tersebut sudah selesai dibuat. Barulah selang dua minggu kemudian, bangunan pesantren mulai dibangun. Makam yang dibuat di sebelah Masjid, diakui Anton, memiliki tujuan tertentu. “Nuansa berdoanya supaya lebih afdhol,” ungkap pria setengah baya ini. Fajar

2 comments:

Ibnu Alin said...

Maha benar Allah dengan segalah firmanya

Kundrat Kanda said...

dulu sekitar tahun 89, dia mesanternin 3 anaknya di pesantren cipari, mereka tinggal di rumah saya di Garut(david, novi n saroh) ada kontak sosmed mereka gak ya..?. makasih