Tuesday, April 20, 2010

Kisah Bayi yang Lahir dari Rahim Ibu Seorang Perawan di Sulsel

Memiliki Tatto Bertuliskan Lafadz Allah, Muhammad dan Nama Malaikat di Kulit Tubuhnya

Bayi lahir tanpa ayah alias lahir dari hubungan di luar nikah mungkin bukan berita luar biasa. Tapi jika bayi lahir tanpa adanya persetubuhan pria dan wanita pastilah terdengar aneh dan tidak masuk akal. Kejadian itulah yang kini terjadi di daerah Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Tak hanya itu saja keanehan yang dimiliki bayi tersebut, pasalnya si bayi juga memiliki tatto bertuliskan lafadz Allah dan Muhammad serta nama malaikat di kulit beberapa bagian tubuhnya sejak lahir. Lalu, bagaimana cerita sebenarnya yang sempat menghebohkan warga Sulawesi Selatan ini?

Cuaca panas terik menyambut kedatangan Realita di kota Makassar (11/12). Tiga jam perjalanan harus ditempuh dari Kota Makassar untuk mencapai Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Suasana pegunungan di sepanjang pesisir pantai menemani perjalanan Realita. Sesampainya di Barru, suasana jauh berbeda dengan suasana kota besar pada umumnya. Hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang di sepanjang jalan di daerah tersebut. Tidak sulit menanyakan kepada salah satu warga tentang keberadaan bayi yang lahir dengan tatto bertuliskan lafadz Allah, Muhammad, dan nama malaikat di kulitnya itu. Kelahiran bayi ‘ajaib’ tersebut memang cukup menghebohkan warga Kabupaten yang berjarak 112 KM dari kota Makassar tersebut. Bahkan hampir sebagian besar warga di Sulawesi Selatan telah mengetahui mengenai keberadaan bayi ‘ajaib’ itu.

Tinggal di Pulau Terpencil. Beberapa hari sebelumnya, Kabupaten Barru memang kerap dikunjungi oleh warga luar yang hendak melihat secara langsung mengenai keberadaan bayi ‘ajaib’ itu. Bahkan, nelayan-nelayan di sepanjang pinggir pantai mendapat ‘rezeki’ dengan banyaknya pengunjung yang menyewa perahu untuk dapat mencapai pulau Panikian, tempat si bayi ‘ajaib’ berada. Sekitar setengah jam perjalanan harus ditempuh untuk menyeberang dengan menggunakan perahu nelayan ke pulau tersebut. Pulau Panikian terlihat dari kejauhan. Pulau itu hanya ditempati oleh beberapa keluarga saja. Hanya ada sekitar enam keluarga yang tinggal di pulau yang berukuran tidak begitu besar tersebut. Mata pencaharian mereka sebagian besar adalah nelayan dengan penghasilan yang tidak tentu.

Sesampainya di Pulau Panikian, suasana nampak sepi. Hanya ada segelintir pria terlihat tengah sibuk memperbaiki perahu sederhana yang mereka miliki. Beberapa anak kecil juga nampak tengah asyik bermain di pantai. Kehidupan warga di Pulau Panikian memang terlihat sangat bersahaja. Meski tidak dialiri listrik, mereka tetap mampu menyalakan lampu melalui mesin diesel yang dimanfaatkan oleh warga secara bersama-sama. Rumah-rumah panggung menghiasi pemandangan di pulau tersebut. Pepohonan tinggi besar juga menjadi penghuni di Pulau Panikian. Meski terkesan terpencil, roda kehidupan warganya masih dapat berputar dengan baik. Seminggu sekali, warga menyeberang ke kota untuk berbelanja bahan makanan. Rutinitas itu biasa dilakukan bila air laut tidak pasang. Namun, bila ombak sudah tinggi dan tak mampu diseberangi oleh perahu sederhana yang mereka miliki, para warga ini tidak memaksakan berbelanja bahan makanan dan lebih memilih mengandalkan hasil tangkapan melaut sebagai makanan sehari-hari.

Tanpa Berhubungan Intim. Begitulah sekelumit keseharian warga Pulau Panikian. Termasuk salah satunya adalah sebuah keluarga yang sempat menjadi sorotan karena kelahiran si bayi ‘ajaib’. Sebutan ajaib memang melekat pada bayi yang lahir pada 25 November 2007 lalu. Pasalnya, sang ibu, wanita cantik bernama Kasmira (19) mengaku belum pernah berhubungan intim dengan seorang lelaki apalagi menikah. Pengakuan itulah yang membuat sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan terperangah. Tak hanya itu saja, beberapa buah tulisan layaknya tatto terlihat di kulit si bayi. Di telapak tangan kanan, lafadz Allah dalam bahasa Arab tertulis dengan jelas. Di telapak tangan kirinya, tertulis lafadz Muhammad. Masih dalam lafadz Arab, di lengan kanannya tertulis Muhammad Ali, di pundak kanan tertulis nama malaikat Jibril, sedangkan di pundak kirinya malaikat Mikail. Selain itu, di telapak kaki kanan tertulis malaikat Israil dan di telapak kaki kirinya tertulis malaikat Israfil. Di bagian perutnya juga tergambar sebuah gambar yang menyerupai sebuah bintang. Di bagian kening kepala si bayi juga tertulis garis vertikal sebanyak 3 buah yang hampir mirip dengan huruf Alif yang sejajar. Keanehan-keanehan itulah yang membuat kelahiran sang bayi sangat menghebohkan warga sekitar.

Berbagai keanehan dan keajaiban yang dimiliki bayi yang kemudian diberi nama Muhammad Ali ini memang mengundang pro dan kontra. Ada sebagian warga yang mempercayai kebenaran tatto dan pengakuan dari Kasmira. Sebagian lainnya menganggap pengakuan tersebut sebagai sebuah kebohongan belaka. Meski demikian, tetap saja kelahiran Muhammad Ali menjadi sebuah sensasi tersendiri di Sulawesi Selatan. Keberadaan sang bayi tersebut memang berawal dari pengakuan Kasmira yang mengatakan bahwa ia tak pernah melakukan hubungan intim dengan pria. Kasmira sendiri lahir di Wamena pada 4 April 1988. Ia merupakan anak pasangan Ba’du (52) dan Siti Rajab (48). Kasmira adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ia bukanlah gadis yang pandai bergaul. Sehari-hari ia hanya membantu pekerjaan sang ibu. Bahkan untuk pergi menyeberang dan pergi ke kota saja jarang dilakukannya. Kasmira dikenal sebagai anak gadis pendiam dan lugu. Bila gadis seumurannya tengah asyik-asyiknya berjalan di mal, maka berbeda halnya dengan Kasmira. Tak sekalipun, ia berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan tempat keramaian lainnya.

Gadis Pendiam. Kasmira hanyalah seorang gadis tamatan SD Inpres Kerongkong, Sulawesi Selatan. “Saya nggak mau melanjutkan lagi,” ungkapnya kepada Realita. Kemampuan keluarganya yang sederhana memang tak memungkinkan bagi Kasmira melanjutkan sekolahnya. Alhasil, ia hanya mampu bersekolah di Sekolah Dasar (SD) saja. Selepas tamat SD, Kasmira hanya berdiam diri di rumah. Ia kerap membantu ibunya dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Kedua orang tuanya memang sempat tinggal di Wamena, kota kelahiran Kasmira sejak tahun 1987. Di kota bagian timur Indonesia itu, Ba’du bekerja sebagai seorang pedagang. Tepat 10 tahun kemudian, ketika Kasmira masih berumur 5 tahun, mereka memutuskan untuk kembali ke Barru dan tinggal di Pulau Panikian. Pasalnya, keluarga Ba’du memang sangat mencintai tanah kelahirannya tersebut walaupun daerah tersebut merupakan daerah terpencil.

Selama di Wamena, Ba’du mengadopsi seorang laki-laki bernama Tajuddin (36). Tajuddin merupakan seorang anak perantauan yang juga berasal dari Kabupaten Barru. Sejak tahun 1994, Tajuddin menjadi anggota baru dalam keluarga Ba’du. Ketika Ba’du bersama keluarga lainnya memutuskan untuk pindah ke Pulau Panikian, Tajuddin pun diajaknya serta.

Kasmira kecil tumbuh dan besar sebagaimana anak-anak lain pada umumnya. Yang membedakan hanyalah sifatnya yang pendiam dan tidak mudah bergaul dengan warga sekitar. Ia dikenal sebagai gadis yang lebih banyak menutup diri. Setelah beranjak dewasa, ia bahkan tidak memiliki teman laki-laki. Meski hanya lulusan SD, Kasmira sangat pandai mengaji. Tak heran memang, mengingat sang ibunda merupakan seorang guru mengaji di Pulau Panikian. “Saya mengajar ngaji anak-anak di sekitar sini,” aku Siti Rajab sembari terbata-bata bercampuraduk dengan bahasa Bugis. Didikan kedua orang tua Kasmira memang sangatlah disiplin. Keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang taat beragama. Setiap anggota keluarga tak pernah ketinggalan melakukan ibadah dan ajaran Islam lainnya. “Kita selalu diajarkan untuk rajin shalat dan mengaji,” ungkap Kasmira. Siti Rajab memang membuka tempat pengajian di rumahnya. Pengajian tersebut dikhususkan untuk anak-anak. Walaupun anak-anaknya tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, namun kedua orang tuanya sangat menanamkan didikan agama yang kuat. Tak heran, ketika Kasmira menginjak umur belasan tahun, ia mulai memakai jilbab untuk menutupi auratnya. Kesehariannya, ia juga selalu memakai jilbab. Jikalau ada laki-laki yang bertamu ke rumahnya, pastilah Kasmira akan langsung masuk ke dalam kamar dan tak mau keluar karena sifatnya yang pemalu.

Mimpi Bertemu Kakek Tua. Jauh sebelum kelahiran Muhammad Ali, Kasmira sempat bermimpi yang cukup aneh. Tepat di malam Jum’at, Kasmira bermimpi bertemu dengan seorang kakek tua. Di mimpi tersebut, sang kakek berkata akan menitipkan sesuatu kepada Kasmira. “Tapi saya nggak tahu dia mau menitipkan apa,” aku Kasmira. Setelah itu, sebuah cahaya terang langsung masuk ke dalam perutnya. Kasmira tidak berpikir aneh tentang mimpi tersebut. Menurutnya, itu hanyalah mimpi biasa dan bukanlah sebuah pertanda penting dalam hidupnya. Pada saat mengandung pun, ia tak menyadari bahwa di dalam perutnya berkembang sosok janin laki-laki yang nantinya akan lahir ke bumi. Apalagi perutnya juga tidak terlihat membesar. “Saya tidak sadar bahwa saya hamil, karena saya masih rutin haid,” tuturnya dengan logat Bugis. Selang beberapa bulan kemudian, tepat pada tanggal 25 November pagi hari barulah ia tersadar bahwa selama ini ia tengah mengandung. Karena pada pagi hari yang cerah itulah keluar sosok bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Kelahiran bayi itu sangat membuat Kasmira dan sang ibu yang kala itu menyaksikan peristiwa itu terkejut. “Saya sempat tidak percaya bahwa saya melahirkan bayi,” ungkap Kasmira. Sebelum melahirkan, perutnya memang terasa mulas. Awalnya, ia menganggap sebagai sakit perut biasa.

Namun apa mau dikata, kelahiran bayi ternyata benar-benar terjadi. Padahal diakui Kasmira, ia tak pernah melakukan hubungan intim dengan seorang laki-laki. Selain itu, bayi yang terlahir tersebut juga memiliki keanehan dengan banyaknya tatto berbagai tulisan di beberapa bagian tubuhnya. Peristiwa itu pun membuat heboh warga sekitar. Mereka ingin membuktikan kebenaran berita yang beredar dengan mendatangi rumah Kasmira. Selain mimpi bertemu kakek, Kasmira tak pernah lagi bermimpi aneh ataupun mengalami kejadian unik lainnya.

Pada hari ketujuh setelah Muhammad Ali lahir, tulisan di beberapa bagian tubuhnya mulai memudar. Kasmira dan anggota keluarga lainnya pun merasa kebingungan dengan mulai menghilangnya tulisan di kulit sang bayi. Tepat di hari kesembilan, semua tulisan yang ada di bagian tubuh bayi menghilang secara total. Hal tersebut kembali membuat gempar warga sekitar. Mereka beranggapan bahwa Kasmira dan keluarganya telah berbohong dan sengaja membuat tulisan di kulit sang bayi. Akan tetapi, tuduhan tersebut tentu saja disangkal Kasmira. Dengan wajah lugunya, ia mengaku tidak mengetahui mengenai memudarnya tulisan yang berada di kulit sang bayi. “Itu kehendak Allah, tapi yang pasti tulisan itu sudah ada sejak lahir,” ungkapnya tegas. Tuduhan berbohong dan menipu warga, dianggap Kasmira sebagai angin lalu. Baginya, keyakinan bahwa ia masih gadis dan tulisan di kulit anaknya itu adalah benar adanya. Sejak saat itu pula, Kasmira memutuskan untuk mengubah nama anaknya dengan nama Zainal Bachri. “Saya lebih suka dengan nama itu,” jelasnya singkat.

Walaupun Kasmira mengaku bahwa ia pada awalnya tidak percaya dengan apa yang dialaminya, tapi ia merasakan sendiri kejadian tersebut. Kini, setelah tulisan-tulisan di kulit anaknya memudar dan menghilang, ia akan terus merawatnya. “Saya akan mendidiknya sampai besar,” ujarnya singkat. Namun bila nantinya Muhammad Ali akan bertanya mengenai keberadaan sang ayah kandungnya, pastilah Kasmira akan merasa kebingungan dengan jawaban yang dilontarkannya nanti. Meski anak tersebut lahir tanpa diduga, rasa kasih sayang tak pernah berhenti mengalir dari Kasmira kepada putera semata wayangnya itu. Walaupun belum terbiasa mengasuh anak, Kasmira mulai belajar dari ibunya.

Meski kini Kasmira masih berumur 19 tahun, ia tetap berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi bayi yang lahir dari rahimnya tersebut. Baginya, anaknya itu merupakan titipan Allah yang memang sudah seharusnya dirawat dan dibesarkan dengan baik. Walaupun proses terjadinya sang bayi tidaklah sebagaimana mestinya. “Saya akan merawat bayi ini karena dia adalah anak kandung saya,” ujarnya sembari menggendong Muhammad Ali dengan penuh rasa kasih sayang.

Sementara itu saat Realita mengobrol dengan warga di kepulauan itu, Realita sempat mendapat kabar, bahwa lahirnya Muhammad Ali, adalah berkat hubungan gelap Kasmira dengan kakak angkatnya Tajuddin yang meski sudah menikah dan punya anak masih tinggal serumah. Kabar lainya menyebutkan, Kasmira yang berwajah cantik itu dihamili oleh pejabat Pemda setempat, maklum pulau tempat tinggal Kasmira kerap dijadikan lokasi memancing para pejabat.

Setelag dikonfirmasi hal tersebut, Kasmira tetap berikukuh, bahwa ia tidak pernah berhubungan intim dengan siapapun.Fajar

Side Bar 1…

Siti Rajab, Ibunda Kasmira

Menjadi Percaya Setelah Melihat Sendiri Proses Persalinan Kasmira

Seperti halnya Kasmira yang tidak menyadari kehamilan dirinya, sang ibu juga merasakan hal serupa. Bahkan ia sempat tak percaya ketika di pagi hari pada 25 November silam, Kasmira merasakan mulas di perutnya. “Waktu itu dikiranya hanya sakit perut biasa,” kenang Siti Rajab (48). Namun tak disangka, yang keluar adalah seorang anak bayi. Proses kelahiran cucunya pun bukanlah bertempat di rumah sakit atau puskesmas, melainkan di rumahnya sendiri. Tak ada bidan dan dokter yang membantu persalinan sang anak. Kala itu di rumah hanya ada Siti Rajab dan Kasmira. Suami sekaligus ayah Kasmira tengah berada di laut untuk menangkap ikan.

Anehnya, pada saat proses persalinan tak ada darah yang keluar, sehingga membuat keduanya tak percaya dengan apa yang dilihat. Terlebih lagi setelah melihat kulit sang bayi yang dipenuhi dengan berbagai tulisan lafadz Allah, Muhammad, dan nama malaikat yang menjadi pertanda kebesaran sang Pencipta. Meski kehadiran anggota baru dalam keluarga tersebut tidak diharapkan, keduanya merasakan kebahagiaan karena telah dititipkan seorang anak dari Allah. Kabar pun lantas menyebar dari mulut ke mulut dengan cepatnya. Bahkan sampai di daerah seberang. Alhasil, banyak warga yang berbondong-bondong datang ingin melihat kebenaran berita tersebut. Di matanya, Kasmira memang merupakan anak pendiam ketimbang anak-anak lainnya. Kasmira juga tak pernah mengutarakan niatnya menikah kepada dirinya. “Ada beberapa laki-laki yang mendekati dia tapi dianya memang tidak mau menikah,” tutur Rajab. Meski begitu, diakui Rajab, Kasmira sangat menyukai anak-anak kecil. Ia juga dikenal dekat dengan anak-anak kecil di lingkungan rumahnya. Berdasarkan sepengetahuan Rajab, anak keduanya tersebut tak pernah berpacaran dengan seorang lelaki. Bahkan diakuinya, bertemu dengan laki-laki pun sangat jarang dilakukannya. Tak pelak, ia sangat terkejut ketika melihat anaknya melahirkan anak bayi. Fajar

Side Bar 2…

dr. Anugerah, Dokter di RSUD Barru, Sulawesi Selatan

Terkadang ada beberapa tanda lahir yang dapat hilang, dan ada yang dapat bertahan lama hingga si anak tumbuh besar”

Dari sisi medis, pengakuan Kasmira memang tidaklah masuk akal. Hal tersebut diakui Anugerah, dokter yang sempat menangani Kasmira saat dirawat di rumah sakit. Terlebih lagi Kasmira telah menjalani proses melahirkan dengan normal. “Sulit memeriksa keperawanan wanita bila telah melahirkan,” ungkap dokter wanita berjilbab ini. Berdasarkan medis pula, tak akan mungkin bila seorang perempuan dapat hamil tanpa melakukan hubungan intim dengan laki-laki. “Perempuan harus dibuahi oleh laki-laki, barulah terjadi kehamilan,” ujar Anugerah.

Untuk memeriksa kebenaran orang tua dari Muhammad Ali, perlu diadakan pemeriksaan DNA. Kasmira sendiri sempat dirawat di RSUD Barru selama seminggu. Kala itu, kesehatan Kasmira menurun drastis selepas melahirkan anaknya. “Dia memiliki anemia,” ungkap dr Anugerah. Dari hasil pemeriksaan tersebut, Kasmira juga diyakini menjalani persalinan normal sebagaimana perempuan pada umumnya. Sehingga Anugerah meyakini bahwa tidak mungkin Kasmira dapat hamil tanpa berhubungan intim dengan laki-laki.

Selama ini, yang sudah dilakukan pihak rumah sakit adalah sebatas pemeriksaan golongan darah. Muhammad Ali memiliki golongan darah AB sedangkan golongan darah Kasmira adalah B. “Ada kecocokan dari segi golongan darah, tapi golongan darah bukanlah sebuah kepastian karena itu bisa saja merupakan suatu kebetulan,” tutur Anugerah menjelaskan. Meski dari segi medis, pengakuan Kasmira tak mungkin benar. Pada kenyataannya, Kasmira tetap saja mengaku bahwa ia benar-benar tidak melakukan hubungan intim sama sekali dengan pria lain. Sedangkan mengenai tatto yang dimiliki bayinya, Anugerah tidak dapat memastikan kebenaran dari tulisan tersebut. Pasalnya, tulisan yang tertera di kulit sang bayi dapat berasal dari apa pun. “Terkadang ada beberapa tanda lahir yang dapat hilang, dan ada yang dapat bertahan lama hingga si anak tumbuh besar,” ungkapnya sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 3…

AKP Amiruddin, SH., Kasatreskrim Polres Barru

Melakukan Penyelidikan Kebenaran Pengakuan Kasmira

Pengakuan Kasmira memang sempat menggemparkan daerah Sulawesi Selatan. Tak hanya itu saja, banyaknya warga yang mengunjungi Pulau Panikian juga membuat kondisi menjadi tak terkendali. Tak pelak, pihak kepolisian mengambil tindakan pengamanan terhadap Kasmira dan keluarganya termasuk sang bayi. “Kita hanya mengawasi warga yang berdatangan ke rumah Kasmira dan mengamankan keadaan,” AKP Amiruddin, SH., Kasatreskrim Polres Barru

Tak hanya itu saja, pihak Polres Barru juga sempat melakukan interogasi terhadap Kasmira dan anggota keluarga lainnya tentang kebenaran pengakuan Kasmira yang tak pernah melakukan hubungan intim sebelum melahirkan. Meski demikian, Kasmira tetap mengaku tak pernah berhubungan intim pada saat ditanyai oleh pihak kepolisian.

Amiruddin mengaku bahwa kejadian ini merupakan pertama kalinya di Kabupaten Barru. “Belum pernah ada kejadian heboh lainnya sebelum ini,” ungkap Amiruddin sembari tersenyum. “Masa sih zaman sekarang masih ada hal-hal seperti itu,” lanjutnya sambil tidak percaya. Rencananya, pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan DNA untuk membuktikan pengakuan Kasmira. Kasus ini juga diakui Amiruddin bukanlah kasus biasa. Kalaupun pengakuan Kasmira tidak benar, menurutnya, tetap saja kasus ini bukanlah kasus penipuan. “Siapa yang ditipu, karena orang-orang yang berdatangan karena keinginannya sendiri dan bukan karena ajakan dari si ibunya (Kasmira, red),” tutur Amiruddin. Tindakan polisi pun diakuinya karena untuk mengamankan kondisi sang bayi yang masih lemah.

Pihak kepolisian curiga bahwa Kasmira dihamili oleh seseorang. Namun, karena hal tersebut merupakan aib, mereka tidak mau berterus terang mengenai kebenarannya. Namun kecurigaan polisi tersebut tetaplah sia-sia. Pasalnya Kasmira beserta anggota keluarganya yang lain tetap mengaku seperti sebelumnya. Mereka tidak sedikitpun mengubah pengakuan. “Secara logika, kejadian itu tak mungkin terjadi,” ujar Amiruddin. Fajar

Side Bar 4…

Ustadz Rafiuddin, Kepala Yayasan Unwanul Khairiyah, Depok

Ini merupakan pertanda akhir zaman”

Seorang manusia itu pada dasarnya dilahirkan karena adanya hubungan intim antara pria dan wanita. Hubungan intim yang sah antara seorang laki-laki dan perempuan dan menghasilkan anak sebagai buah cinta mereka merupakan ketetapan Allah SWT. Dengan munculnya pengakuan bahwa seseorang melahirkan tanpa berhubungan intim dengan pria atau wanita berarti orang itu sudah menyalahi ketetapan Allah SWT dan hal tersebut melenceng dari ajaran yang telah ditetapkan. Sehingga perlu diteliti asal usulnya lebih lanjut. Dalam Al-Qur’an dan Hadist, ada empat ketetapan Allah yang sudah ditentukan diantaranya adalah:

  1. Manusia tidak ada ayah dan ibu itu hanya terjadi pada Nabi Adam.

  2. Ada ayah tetapi tidak ada ibu itu hanya terjadi kepada Siti Hawa yang diambil dari tulang rusuk lelaki.

  3. Ada ibu tidak ada ayah itu hanya terjadi pada Nabi Isa yaitu ketika Mariam melahirkan Nabi Isa.

  4. Wajib ada ayah dan ibu itu terjadi pada zaman setelah Nabi Adam dan Siti Hawa hingga sekarang.

Saat seseorang mengalami kejadian aneh seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya dan mengaku masih perawan kemudian dia melahirkan seorang anak dan di dalam tubuh anak itu terdapat tanda-tanda yang bertuliskan Arab, itu merupakan suatu ujian atau petunjuk bahwa telah datang akhir zaman dimana kita dihadapkan pada suatu jalan dan kita harus memilih jalan mana yang akan kita tempuh, ke kirikah atau ke kanan? Semakin taatkah kita kepada Allah atau semakin kufurkah kita terhadap Allah SWT? Ketika zaman Nabi Muhammad SAW, Allah telah memberitahukan kepada Rasul bahwa akan datang akhir zaman dan muncul berbagai tanda-tanda yang menurut manusia sangat di luar akal sehat. Tanda-tanda itu seperti, banyaknya aliran sesat dan banyaknya kejadian-kejadian aneh yang ada di muka bumi. Heny

Friday, April 9, 2010

Jefri Al-Buchori, Ustadz dan Penceramah

Bertobat Total Setelah Allah Menayangkan Semua Perbuatan Maksiatnya di Mekkah

Tidak akan ada yang menyangka kalau Ustadz Jefri Al-Buchori di masa mudanya adalah seorang junky atau pemakai obat-obatan terlarang. Mungkin juga, tak banyak orang yang menduga bahwa penceramah tampan ini dulunya kerap melakukan perbuatan maksiat. Tapi kini Jefri adalah seorang ustadz yang getol memberikan dakwah. Bagaimana sebetulnya perjalanan seorang Ustadz Jefri hingga mendapatkan titik balik dalam hidupnya untuk bertobat total dari semua perbuatan maksiatnya di masa lalu, termasuk meninggalkan Narkoba?

Sabtu (24/3) siang lalu, cuaca Jakarta terasa panas. Hal ini wajar, sebab musim kemarau telah menjelang. Meski cuaca terasa panas, ketika Realita hendak bertemu Uje, panggilan akrab Ustadz Jefri di daerah Cibubur, cuaca justru lebih sejuk. Terlebih lagi, setelah berada di tempat syuting ceramah Ustadz Jefri. Suasana yang sejuk makin terasa teduh setelah mendengarkan ceramah Ustadz Jefri yang kala itu terdengar cukup keras. Puluhan jemaah yang sebagian besar mengenakan pakaian berwarna putih tampak serius mendengarkan ceramah Ustadz Jefri. Sesekali terdengar gelak tawa dari para jemaah yang kebanyakan ibu-ibu itu setelah mendengar lelucon yang terlontar dari depan mimbar. Jefri memang tengah memberikan ceramah kepada puluhan jemaah untuk disiarkan di salah satu televisi swasta tanah air.

Setelah menuntaskan ceramahnya selama hampir dua jam, Jefri masih terlihat gembira meski sudah berjam-jam memberikan dakwah kepada para jemaah, Ia tidak terlihat lelah setelah ceramah. Jefri masih memperlihatkan senyumnya kepada para jemaah yang akan meninggalkan tempat. Ketika Realita berusaha untuk menghampirinya, Jefri masih saja tampak ramah menyambut kedatangan wartawan. Ia juga mempersilahkan wartawan untuk duduk dan langsung bercengkerama. Meski sempat terhenti ngobrol karena kedua anaknya menghampiri Jefri, obrolan akhirnya berlanjut kembali. Dari percakapan di waktu sore itulah, Jefri bersedia mengulas mengenai perjalanan hidup dan karirnya hingga ia mendapatkan kesuksesan sebagai penceramah seperti sekarang ini.

Terjerat Narkoba. Jefri kini ternyata bukanlah Jefri yang dulu. Di masa mudanya, Jefri hanyalah seorang pemuda yang banyak melakukan perbuatan maksiat. Meski sempat mengenyam pendidikan di pesantren, itu bukan jaminan untuk membuat kepribadian dan sikap Jefri menjadi lebih baik. Pendidikan agama yang kuat dari orang tua menjadi asupannya sehari-hari. Pada usia sembilan tahun, Jefri sudah dapat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Didikan orang tuanya memang sangat kental dalam membentuk kepribadian seorang Jefri.

Namun sebaliknya, selepas pendidikan di pesantren, Jefri malah menemukan kebebasannya sebagai anak muda yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Pada saat itulah, Jefri masuk ke dalam dunia kelam, dunia yang dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan dosa. Selama bertahun-tahun, Jefri bergaul dengan berbagai macam obat-obatan terlarang. Tidak ada lagi benteng agama yang didapatnya dari pesantren. Yang ada hanyalah keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru dan menggoda. Ditambah lagi perasaan frustasi yang ia rasakan dalam hidupnya. Semuanya bercampuraduk menjadi satu dan menjelma sebagai motivasi bagi dirinya untuk lebih terjerambab di dunia yang kelam.

Awal mula Jefri masuk ke dalam jeratan Narkoba saat ia terjun di dunia entertainment. Kala itu, Jefri diperkenalkan dengan dunia artis di mana segala macam godaan berseliweran. Dari situlah, Jefri mengenal benda haram yang disebut Narkoba itu. Sekitar tahun 1991, Jefri memang mulai ikut terlibat di dalam dunia entertainment. Dari dunia itu pula, ia mampu meraih lembaran-lembaran uang dengan mudahnya. Kondisi ini mengakibatkan pribadi Jefri semakin tertantang untuk mencoba hal-hal baru. “Namanya juga masih muda,” ujar Jefri sembari tersenyum.

Saya pakai Narkoba karena saya ingin mati akibat frustasi dalam hidup,” imbuhnya. Gaya hidup Jefri yang dulunya hanya berkutat di dalam pesantren, setelah terjun di dunia entertainment, berubah 180 derajat. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di diskotek dan bar. Minuman-minuman beralkohol pun telah diakrabinya selama beberapa tahun. Seiring berjalannya waktu, Jefri semakin terpuruk dengan kondisi tersebut. Ia semakin sulit untuk lepas dari dunia yang kelam itu.

Uang bayaran dari hasil menjadi penari latar dan fashion show kala itu, kerap digunakan untuk membeli Narkoba. Tak heran, uangnya tak pernah tersisa. Jefri juga pernah mencicipi dunia akting dengan turut berperan di beberapa sinetron. Di antaranya adalah Sayap-sayap Patah, Opera Tiga zaman, dan Kerinduan. Terjunnya Jefri di dunia akting ternyata tidak serta merta disetujui oleh kedua orangtuanya, H. Ismail dan Hj. Tatu Mulyana. Kedua orang tuanya yang memiliki latar belakang agama yang kuat membuat Jefri terhambat dalam menekuni karirnya. Pasalnya, kehidupan artis yang tak bisa lepas dari dunia malam membuat kedua orang tuanya tidak menyetujuinya.

Dari waktu ke waktu, Jefri semakin tenggelam dengan obat-obatan terlarang yang dikonsumsinya. Ia semakin frustasi, akibatnya ia makin gemar mengkonsumsi shabu-shabu. Dari dalam dirinya pun sudah tak ada lagi kemauan untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar. Namun, ketika sang ayah meninggal pada tahun 1992, Jefri semakin terpuruk dalam dunia Narkoba. Ia merasa sudah tak bisa lepas lagi dari jeratan obat-obatan terlarang.

Kehidupannya pun semakin tidak terkendali dan berantakan, termasuk studinya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Konsekuensinya, ia harus menyandang predikat drop out (DO) dari kampusnya. Ia kemudian dikeluarkan oleh pihak kampus, karena tidak pernah membayar uang kuliah. Uang dari orang tua yang seharusnya digunakan untuk biaya kuliah, sudah ia gunakan semuanya untuk membeli serbuk haram tersebut.

Ketergantungannya pada Narkoba mengakibatkan ia beberapa kali mengalami over dosis (OD) meski tidak sampai berakibat fatal. Dunia Jefri semakin gelap seakan-akan tak ada lagi harapan. Tidak ada lagi cita-cita yang mungkin bisa tercapai. Yang ada hanyalah kehancuran yang semakin lama makin jauh terperosok.


Mendapatkan Titik Balik. Ternyata Jefri tidak terus menerus terkekang dalam dunia Narkoba. Jefri percaya ia telah diberikan suatu hidayah agar mampu berubah dan kembali ke jalan yang benar. Perubahan itulah yang kini mengubah nasib Jefri yang sebelumnya hitam kelam. Perubahan itu pula yang menjadikan Jefri sebagai ustadz muda yang kerap wira-wiri di layar televisi.

Namun, yang terpenting dari segalanya, Jefri mampu mengubah jalan hidupnya yang sempat berbelok dari jalur yang seharusnya ia jalani. Jefri baru merasakan mendapat hidyah setelah ia sempat mengalami kejadian-kejadian yang sulit untuk dijelaskan secara logika. “Saya sempat bermimpi yang aneh,” ujar Jefri. Di dalam mimpinya tersebut, Jefri melihat jenazahnya sedang disiksa oleh malaikat akibat dari segala macam perbuatan maksiat yang telah ia perbuat. Tak hanya itu, ia juga sempat melihat banyak kehancuran di dunia ini setelah kiamat datang. Di dalam mimpinya, ia juga diperlihatkan banyak cahaya putih. Sementara Jefri berjalan di tengah-tengah kuburan.

Terasa banget kok saat disiksa,” imbuhnya. Selain itu, motivasi dari keluarga, menjadi latar belakang Jefri untuk berubah. Salah satu orang yang paling berjasa dalam proses perubahan hidupnya itu tidak lain adalah ibunya, Hj. Tatu Mulyana. Sebagai seorang ustadzah, Tatu tak pernah berhenti untuk memberikan nasihat kepada anak lelakinya itu. Namun, seperti yang diakui Jefri, perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kemauan yang timbul dari dalam dirinya.

Selama bertahun-tahun Jefri bergelut dengan dunia kelam, Jefri merasakan adanya kelelahan di dalam dirinya. “Saya sudah lelah hidup di dunia seperti itu,” ujar pria kelahiran Jakarta, 12 April 1973. Diakuinya pula, ia memang bertekad untuk berhenti dari dunia yang menghancukan kehidupannya tersebut dan berusaha untuk kembali ke jalur yang benar. “Ibaratnya seorang bayi yang tidak selalu akan menjadi bayi,” ujarnya sedikit berfilsafat.

Berkat keinginan yang kuat yang hadir di dalam dirinya tersebut, Jefri lambat laun mampu keluar dari lingkaran setan. “Saya ibarat segelas air ditambah terus airnya hingga tumpah. Itulah perbuatan maksiat yang sudah saya lakukan,” ujar Jefri. Sehingga kala itu Jefri sudah tidak kuat lagi untuk tetap melakukan perbuatan maksiat. Perlahan-lahan, ia kembali sadar akan artinya hidup yang dijalaninya. Keputusan pun telah diambilnya. Ia akan melakukan taubat sebelum kejadian di dalam mimpinya tidak terjadi di kehidupan nyata.

Sebagai salah satu langkah untuk membersihkan diri dari segala dosa, ia memutuskan untuk pergi umrah ke tanah suci. Di Mekkah itulah, ia mencurahkan segala isi hatinya tentang perbuatan-perbuatan dosa yang pernah ia lakukan. Di tanah suci, Jefri tak segan-segan menangis sembari menyesali segala perbuatan yang ia telah lakukan selama masa mudanya. “Setelah menangis, saya merasa lega,” kenang pria yang pernah berlatih tari bersama Adtya Gumay, seorang penata koreografi ini. Di tanah suci itu pula, ia mengalami suatu kejadian yang membuatnya bertaubat atas segala perbuatan yang telah ia perbuat.

Kini, perubahan dalam dirinya telah menampakkan hasil. Jefri telah lahir kembali menjadi manusia yang lebih bermakna. Dengan ceramah-ceramahnya yang menarik, Jefri semakin laris manis muncul di layar kaca. Tak hanya itu, ia juga disibukkan dengan jadwal ceramah yang tak pernah berhenti. Jefri menjadi penyebar agama padahal sebelumnya ia justru menjadi perusak agama. Dengan masa lalunya yang kelam, ia kini mendapatkan pelajaran yang berharga, pelajaran yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sosok pejuang agama.

Membangun Keluarga. Seiring dengan perjalanan karirnya yang cukup sukses, kehidupan keluarganya pun semakin membaik dan harmonis. Memiliki istri yang anggun dan menawan, adalah salah satunya. Bahkan Pipik selalu menemani Jefri semenjak Jefri masih terlibat obat-obatan terlarang. Pernikahannya yang sudah belasan tahun telah menghadirkan manusia-manusia baru di dalam hidupnya. Dari penikahannya dengan Pipik, Jefri memperoleh dua orang anak. Adiba Khanza Az-Zafira (7) dan Abidzas Al Ghifari (6). Keduanya selalu mengisi hari-hari Jefri bersama keluarga. Dari keduanya pula, Jefri menemukan perannya sebagai seorang ayah.

Meski disibukkan dengan kegiatan dakwah dan syuting beberapa acara televisi, Jefri masih masih meluangkan waktu bersama keluarga. Untuk kedua anaknya tersebut, Jefri lebih banyak membebaskan keinginan mereka. Ia juga memiliki jurus ampuh untuk mendidik anak. “Anak-anak itu selalu mengikuti apa yang dicontohnya,” ujar Jefri yang beberapa waktu lalu meluncurkan situs Ujecentre ini.

Dengan begitu, Jefri hanya berusaha untuk memberikan contoh baik di depan kedua anaknya tersebut. Soal cita-cita kedua anaknya, ia telah dibebaskan sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Tidak ada waktu pasti yang sengaja ia luangkan bersama istri dan kedua anaknya. Meski begitu, ia masih dapat meluangkan waktu bagi kedua buah hatinya itu. Salah satunya adalah dengan bermain bersama.

Tempat bermain favorit adalah di Timezone,” ujar Pipik, istri Jefri. Di dalam rumah, Jefri bahkan menyempatkan diri untuk dapat bermain playstation bersama kedua anaknya itu. Bermain futsal juga menjadi salah satu acara favorit keluarga. Jefri memang lebih dikenal dengan keluarganya yang harmonis. Kini, Jefri telah banyak berubah sebagai akibat dari masa lalunya yang dijadikan sebagai masa pembelajaran. “Saya tidak pernah menempatkan masa lalu saya sebagai kesalahan tepi sebagai masa pembelajaran,” ungkap Jefri dengan mantapnya. Fajar

Side Bar 1………

Menyatakan Tobat dengan Membenturkan Kepala di Ka’bah

Jefri memang mengakui bahwa banyak perbuatan maksiat telah ia akrabi sejak ia menginjak masa muda. Namun, ia dapat berubah dan bertaubat atas segala perbuatannya di masa lampau setelah ia diberikan hidayah untuk berubah. “Saya sudah lelah dengan perbuatan maksiat,” ungkap Jefri. Berkat hidayah itulah, Ia mampu membangkitkan keinginannya untuk berubah menjadi orang baik.

Salah satu hidayah yang pernah dialaminya adalah ketika ia menjalani umrah di Tanah Suci. “Waktu itu, saya mengunjungi makam Rasulullah,” kenang Jefri. Pada saat mengunjungi makam Rasulullah itulah, Jefri merasakan ada sesuatu yang menarik lehernya. “Saya ditarik kayak magnet,” tambahnya. Tiba-tiba, Jefri melihat semua perbuatan yang pernah ia lakukan di masa lampau. Perbuatan-perbuatan dosa itu secara gamblang diperlihatkan kepada dirinya. Tak ayal, Jefri merasakan penyesalan yang begitu dalam. Air mata pun jatuh deras tiada henti bersama penyesalan yang keluar dari dalam dirinya. Baginya, kejadian tersebut menjadi suatu hidayah bagi dirinya agar dapat berubah dan tidak mengulangi perbuatan dosa berikutnya.

Tak hanya itu, rasa penyesalan Jefri juga diungkapkannya di depan Ka’bah. Di depan rumah Allah itulah, Jefri membentur-benturkan kepalanya ke dinding Ka’bah. Di tempat suci itu pula, ia berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Saya membentur-benturkan kepala ke dinding Ka’bah berkali-kali,” ujar Jefri. Di depan Kabah pula, ia meminta kepada Allah. “Ya Allah, kalau saya bermanfaat untuk agama ini, sembuhkan saya. Tapi kalau sepulang dari sini, saya berbuat maksiat lagi, saya hanya minta matikan saya saja,” pintanya.

Permintaan itu diakui Jefri memang pada dasarnya tidak diperbolehkan. Namun, ia tidak memiliki pilihan. “Kalau bicara kapan saya harus mati, banyak waktu saya akan mati,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Rasa penyesalan memang tak pernah berhenti begitu saja. Berkat pergi umrah tersebut, Jefri mengubah sisi buruknya menjadi sisi yang kini menjadi unggulannya. Ia kini menjadi penyebar dakwah yang merupakan perbuatan mulia di hadapan Tuhan. Fajar

Side Bar 2……

Berencana Mendirikan Pesantren untuk Anak Yatim

Ada salah satu rencana mulia yang ingin direalisasikan Jefri. Rencana tersebut merupakan rencana yang bersakala besar. “Saya sedang membangun pesantren,” ungkap Jefri singkat. Dengan sukses yang dapat diraihnya saat ini, mungkin banyak yang menduga bahwa pundi-pundi uang tentu saja menghampiri dirinya. Terlebih lagi, Jefri tidak hanya berperan sebagai penceramah saja, ia juga menekuni karir lain sebagai penyanyi dan bintang iklan.

Ternyata pundi-pundi uang yang dikumpulkannya tidak melulu untuk kebutuhan pribadinya saja, melainkan untuk kepentingan bersama. Salah satunya adalah dengan membangun pesantren di daerah Cikeas, Bogor. Pesantren tersebut rencananya untuk anak-anak kurang mampu dan yatim piatu. Meski begitu, seperti diakui Jefri, ada sisi komersial yang akan dijual melalui pesantren ini. Dengan begitu, dana yang didapat dari sisi komersil tersebut dapat digunakan untuk membiayai keperluan anak-anak kurang mampu yang masuk pesantren. Pasalnya, anak-anak kurang mampu dan yatim piatu tidak akan dipungut biaya dalam menjalani kegiatan belajar di pesantren. “Target kita memang bagaimana mencerdaskan anak-anak bangsa,” ungkap Jefri.

Sekarang ini, pembangunanya belum dilakukan. Rencananya bulan Mei atau Juni mendatang. Peletakan batu pertama akan dilakukan oleh Jefri sendiri. “Lahannya baru saja dipatok-patok,” aku Jefri. Tanah seluas puluhan hektar tersebut akan dibangun pesantren cukup besar. Jefri juga mengaku bahwa ia tengah mengumpulkan biaya untuk mendirikan pesantren yang terletak di Cikeas, Bogor ini. Nama yang akan dipakai untuk pesantren itu pun belum ditentukan dengan pasti.

Saya masih bingung menentukan nama pesantrennya,” ujar Jefri. Meski begitu, ada beberapa nama pesantren yang kemungkinan besar akan dipertimbangkan untuk dipakai. Seperti Pusat Tarbiyah Ma’arij atau Uje Centre. Jefri berharap pembangunannya dapat segera dimulai agar peresmiannya juga dapat dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu lama. Selain akan membangun pesantren, Jefri juga kini tengah merencanakan suatu program dalam rangka membantu orang kurang mampu.

Kita sedang mencari orang-orang cacat untuk diberdayakan,” aku Jefri. Saat ini, baru dua orang cacat yang bergabung dengan program Jefri. Salah satu orang cacat yang telah bergabung, diberdayakan untuk membuat rumah boneka barbie yang nantinya akan dijual ke pasar. Rencananya, Jefri akan mencari sekitar 30 orang cacat untuk mengikuti program tersebut. Fajar

Side Bar 3…..

Pipik Dian Irawati, Istri Ustadz Jefri Al Buchori

Setia Dampingi Jefri dalam Suka dan Duka

Sosoknya yang anggun dan menawan selalu berada di samping Jefri. Kerudung yang dipakainya pun menambah citra wanita muslimah sejati. Senyumnya khas selalu tersungging dari bibirnya ketika menemani sang suami. Adalah Pipik, istri Jefri yang selalu menemaninya ke mana pun Jefri berada. Bahkan ketika Jefri masih bergelut dengan dunia hitam Narkoba, Pipik selalu menjadi sosok wanita penyemangat agar Jefri kembali ke jalan yang benar.

Cintanya yang besar, mendorong Pipik untuk selalu berada di samping Jefri. Ketika masih pacaran dan mengetahui bahwa Jefri seorang pecandu Narkoba, Pipik tetap setia mendampinginya. Bahkan pada tahun 1999, Pipik memantapkan diri untuk menikah dengan Jefri. Hanya dengan bermodalkan honor iklan yang diterima Pipik, mereka nekat melangsungkan pernikahan. Pipik beralasan, dengan jalan itulah, Pipik bisa membantu dan mengarahkan Jefri kembali ke jalan yang benar meski ia sadar harus melalui berbagai hambatan. Salah satunya adalah ketika malam pertama mereka yang hanya diwarnai dengan tingkah laku Jefri yang aneh. Mererka pun melwati malam pertama bersama Narkoba.

Waktu pun berjalan, akhirnya Jefri mendapatkan hidayah untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Jefri pun berusaha untuk mencari pekerjaan. Setelah umrah, Jefri mulai memberikan ceramah-ceramahnya di Masjid. Dari honor ceramahnya itulah, Jefri kemudian kembali merangkai puing-puing kehidupannya yang sempat berantakan. Kini, pasangan Jefri dan Pipik memang dikenal sebagai keluarga yang harmonis. Kedua anaknya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Jefri. “Anak-anak boleh menjadi siapa saja, asalkan tetap menjadi santri,” ujar Jefri penuh harap.

Di mata Pipik, Jefri merupakan suami yang pantas menjadi panutan. “Sosok yang menyenangkan, bisa menjadi teman dan suami di dalam keluarga,” ungkap Pipik yang tengaah hamil tujuh bulan ini. Jefri juga dikenalnya sebagai suami yang disiplin dalam hal agama. “Dia selalu berusaha untuk shalat berjamaah,” tambahnya. Pipik memang sudah jatuh hati pada Jefri sejak petemuan pertama. Karena pribadinya yang mudah bergaul, Pipik langsung merasakan getaran cinta pada Jefri. Fajar

Meike Rose, Peramal Cinta

Mengubah Kutukan Menjadi Kelebihan

Tidak mudah bagi Meike Rose dalam mengambil keputusan untuk menjadi seorang peramal. Meski, ia menyadari sedari kecil telah memiliki ‘bakat’, Meike justru harus mempertimbangkan dengan matang sebelum akhirnya menekuni profesi sebagai seorang peramal. Daun teh dan kartu tarot dijadikannya sebagai media dalam melihat masa depan dari kliennya. Lalu bagaimana perjalanan hidup ibu dua anak ini?

Di saat terik matahari menyengat kota Jakarta siang itu, Meike Rose terlihat anggun dengan busana longgar berwarna putih dipadu dengan celana jeans yang dikenakannya. Make up tipis yang menempel di wajah Meike semakin menambah aura kecantikan wanita keturunan India ini. Senyumnya selalu tersungging di bibirnya yang merah merona.

Meike tak terlihat sebagai seorang peramal dengan gaya berpakaian yang eksentrik. Ia justru menampilkan sosok peramal yang anggun dan elegan melalui penampilannya sehari-hari. Tak ada kain penutup kepala layaknya peramal khas Gipsy yang dikenakannya. Meike justru mengemas sosok peramal dalam dandanan yang begitu mempesona tanpa mengurangi kepercayaan orang terhadap kemampuannya. Seperangkat kartu tarot pun selalu dibawa di dalam tasnya ke manapun ia pergi. Sembari duduk santai di sebuah lobi apartemen di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Meike membuka perbincangannya dengan realita.

Bakat Dari Kecil. “Saya memang mendapatkan ‘bakat’ ini turunan dari orangtua,” aku Meike sembari mengeluarkan satu set kartu tarot dari dalam tasnya. Meike Rose merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia terlahir dari pasangan Kemal Subadha (55) dan Any Setyawati (56). Setelah ‘numpang’ lahir di kota Bogor, Meike lantas berpindah ke Semarang bersama kedua orangtuanya. “Kelebihan ini saya sadari sejak masih kecil,” kenang Meike. Meike kecil mengenyam pendidikan sekolah sejak SD hingga SMA di kota Semarang, Jawa Tengah. Ia bersekolah di SDN Tamansari, SMPN 3, dan SMAN 1, Semarang.

Masa kecil Meike, diakuinya, sebagai masa kecil yang kurang membahagiakan. Pasalnya, kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai di saat Meike masih membutuhkan kasih sayang yang utuh dari figur ayah dan ibu. Tak hanya itu saja, karena bakatnya yang mampu melihat penampakan makhluk halus membuat Meike merasa tidak nyaman. “Saya benar-benar merasa tidak nyaman,” aku Meike mengenang masa kanak-kanaknya.

Saat usianya baru menginjak 3 tahun, Meike menyadari kemampuan istimewanya. Ia mampu melihat sesuatu yang belum tentu dapat dilihat oleh orang lain. Kehadiran makhluk halus, atau pertanda akan datangnya kematian pada seseorang sudah ia peroleh sejak masih balita. “Orang yang akan meninggal itu auranya terlihat berwarna hijau lumut,” aku Meike.

Karena bakat yang dimilikinya itu pula, Meike kecil lebih senang menyendiri ketimbang bergabung dengan teman-temannya untuk bermain. “Dulu, saya sering ngumpet di dalam lemari karena ketakutan,” kenang wanita kelahiran 24 Mei 1974 ini. Meike mengaku bahwa semasa SD hingga SMA, ia termasuk anak yang aneh karena memiliki ‘bakat’ tersebut. Semasa kanak-kanak, Meike akan menangis bila harus melihat ada orang yang akan meninggal di kemudian hari. Ia biasanya sudah tahu terlebih dahulu bila orang yang dilihatnya akan meninggal dalam waktu dekat. “Biasanya ada bisikan atau feeling yang mengatakan ada yang akan meninggal,” ujar Meike.

Saya sempat marah sama Tuhan karena diberikan kelebihan ini,” kenang Meike. Sedari kecil hingga SMA, Meike masih mempertanyakan kelebihannya tersebut. “Kenapa harus saya? Kenapa nggak adik saya atau Om saya saja?” tanyanya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menerus berada dalam pikiran Meike. Ia pun tak pernah menemukan jawabannya. Di satu sisi, Meike mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain melalui bakatnya itu. Namun, di sisi lain ia merasakan dirinya aneh dan berbeda dengan teman-teman seumurannya. “Tapi saya beruntung, karena di saat saya sedang stres dan marah, saya nggak pernah lari ke hal-hal yang negatif,” aku Meike yang berencana menulis buku ini.

Bakat dan Kutukan. Setelah menamatkan SMA di Semarang, Meike memutuskan untuk melanjutkan ke bangku kuliah di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan, Bandung. Berbeda halnya dengan apa yang dialami semasa sekolah di Semarang, Meike justru tidak lagi menjadi sosok penyendiri. “It’s a curse but it’s a gift (ini kutukan sekaligus bakat),” ujarnya menggambarkan bakat yang dimiliki. Dengan kemampuannya yang mampu melihat sosok makhluk halus dan meramal masa depan, banyak teman-temannya tertarik dengan kemampuan Meike tersebut. “Ini adalah pemberian Tuhan,” ujar Meike singkat. “Apapun kelebihan yang diberikan Tuhan bisa digunakan untuk kebaikan dan keburukan,” lanjutnya menjelaskan.

Lambat laun, Meike mampu menerima bakat yang dimilikinya. Ia percaya bahwa apa yang diberikan kepadanya memiliki alasan tersendiri. Alasan tersebut, diyakini Meike untuk menolong orang lain yang memiliki masalah. Meike memang sempat merasakan penyesalan dengan kelebihan yang dimilikinya. Apalagi, bila penglihatannya menjurus ke bencana yang akan dialami oleh orang yang datang kepada dirinya. Kendati demikian, Meike berusaha sebisa mungkin untuk memberi nasihat positif kepada klien tersebut agar sang klien dapat mengubah sikapnya menjadi lebih baik. “Dengan begitu, si orang tersebut dapat berjalan ke arah yang lebih bak,” ujar wanita yang phobia dengan tempat pemakaman ini. Hal itulah yang kemudian membuat dirinya bahagia karena telah menolong orang lain.

Meike melepas lajang pada usianya yang baru menginjak 20 tahun. Saat itu, kedua orangtuanya memang secara terang-terangan tidak menyetujui hubungan Meike dengan pria bernama Icom yang kini menjadi penebuk drum Marvells Band. “Kita memang menikah sangat muda sekali waktu itu,” kenang wanita berdarah campuran India, Rusia, dan Indonesia ini. Meike menikah tahun 1995. Ia meninggalkan kuliahnya begitu saja, padahal saat itu, Meike tengah menjalani tahun terakhir kuliahnya. Barulah setahun setelah pernikahan, kedua orangtua Meike menyetujui langkah hidup anak sulungnya tersebut.

Meike akhirnya tinggal bersama suami dan mertuanya. Ketika itu, ia mencoba peruntungannya di dunia tarik suara. Meike pernah mengeluarkan empat album rekaman. Ia juga pernah membuat band bernama Dunia Kecil bersama mantan suaminya.

Sekitar tahun 2004, Meike mendapatkan petunjuk melalui mimpinya. Dalam mimpi tersebut, ia pergi ke Jakarta. Berkali-kali mimpi tersebut mendatanginya di hampir setiap malam. Akhirnya Meike yang sebenarnya lebih suka tinggal di kota kecil ini pun memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Sesampainya di stasiun Gambir, Meike sempat ragu apa ia benar-benar mengambil keputusan yang tepat. Namun demikian, Meike akhirnya naik ke dalam taksi dan berputar-putar di seputar ibukota. Tak sengaja, taksi yang dinaikinya melewati Tea Addict Lounge. “Waktu di Semarang, saya sempat membaca soal Tea Addict,” aku penyanyi seangkatan (Almh.) Nike Ardila ini.

Daun Teh dan Kartu Tarot. Entah suatu kebetulan, lounge untuk kalangan menengah atas tersebut tengah mencari seorang peramal yang mampu menggunakan daun teh sebagai media ramalnya. Alhasil, Meike pun melamar lowongan di tempat itu. Beruntung baginya, ia langsung diterima mengisi posisi sebagai peramal. Sayangnya, karena masih pemula, Meike masih mengalami kesulitan mencari klien untuk diramal.

Singkat cerita, Meike bertemu dengan salah satu klien yang kemudian mengajaknya bergabung di sebuah majalah wanita terkemuka. Keberuntungannya berlanjut saat tampil di sebuah acara infotainment di salah satu stasiun televisi swasta. Seiring berjalannya waktu, nama Meike Rose mulai dikenal masyarakat sebagai seorang peramal. Jumlah kliennya pun semakin bertambah banyak.

Ketenaran Meike sebagai seorang peramal ternyata berbanding terbalik dengan kehidupan pribadinya. Setelah 12 tahun membangun rumah tangga dan menghadirkan satu orang anak bernama Muhammad (9), Meike akhirnya memutuskan untuk bercerai dengan suaminya pada tahun 2007. “Saya mengerti bahwa suami saya ingin bercerai dengan saya,” ujar Meike berusaha untuk tegar. Meike tak membutuhkan waktu lama untuk memulai kehidupan rumah tangganya. Ia kembali menikah dengan seorang pria bernama Yahya (30). Dari pernikahan keduanya ini, Meike dianugerahi seorang anak perempuan bernama Izabelle Yahya (1).

Kini, setelah namanya mulai dikenal sebagai peramal cinta, Meike memiliki keinginan terpendam soal profesinya sebagai seorang peramal. “Orang menilai saya meramal itu melangkahi Tuhan,” ujar Meike. “Takdir itu sesuatu yang tidak bisa kita ubah, tapi memang ada sesuatu lainnya yang bisa diubah oleh kita sendiri,” lanjut wanita yang kerap bermeditasi ini.

Untuk menghilangkan pandangan negatif tersebut, Meike hanya menjelaskan bahwa kemampuannya meramal hanyalah wacana terhadap masalah yang dihadapi orang. “Jadi, saya hanya mempengaruhi alam bawah sadar orang itu,” tutur Meike. Ia mencontohkan di negara Amerika, kartu Tarot yang biasa ia gunakan saat ini sudah dijadikan pelajaran dalam ilmu psikologi. “Kartu tarot itu hanya sebagai media untuk menyelesaikan masalah seseorang,” ungkap Meike yang menerapkan tarif sebesar Rp 500 ribu per 15 menit konsultasi ini.

Meski sebagian besar klien Meike yang berasal dari kalangan menengah atas perkotaan sangat terpengaruh setelah mendengarkan saran yang keluar dari mulutnya, ia justru menganggap dirinya hanyalah sebagai perantara dari Tuhan. “Saya hanya menyarankan bahwa ini adalah media, saya sebagai perantara,” ungkap Meike. “Tetap semuanya itu kembali kepada Tuhan,” tegasnya mengakhiri perbincangan. Fajar

Side Bar 1…

Mengetahui Dirinya Akan Bercerai Sebelum Menikah

Jauh sebelum menikah dengan suami pertamanya, Meike dengan menggunakan bakat dan kelebihan yang dimilikinya, sudah mengetahui bahwa ia akan bercerai. “Saya sudah bilang ke suami saya waktu itu, kita akan bercerai nantinya,” aku Meike. Menurutnya hidup adalah pilihan. Ia percaya kala itu bercerai masih termasuk dalam pilihan. Dengan bermodalkan kepercayaan itulah, Meike berusaha sekuat tenaga untuk mengubah sikapnya yang dapat memicu perceraian.

Tapi, Meike menganggap takdir dari Tuhan berkata lain. “Walaupun kita sudah berusaha sebisa mungkin, tapi kalau takdir berkata lain, ya apa mau dikata,” papar Meike yang berencana akan kembali ke dunia tarik suara ini. Alhasil, keduanya sepakat untuk bercerai setelah menjalani 12 tahun pernikahan.

Tak hanya mengetahui akan bercerai di masa mendatang, Meike juga bertemu dengan suami keduanya melalui bakat yang ia miliki. “Sebelum saya bertemu dengan suami saya sekarang, saya sudah diberikan gambaran wajah pria di mimpi saya,” tutur Meike. Akhirnya, ia bertemu dengan seorang pria bernama Yahya yang wajahnya sesuai dengan gambaran di mimpinya. Dengan bermodalkan keyakinan itulah, Meike akhirnya memutuskan untuk menikah kembali. Untuk pernikahannya kali ini, ia tak bisa menjawab apakah nantinya akan bercerai atau tidak. “Yang terpenting adalah berbuatlah yang terbaik sekarang agar mendapatkan yang terbaik di masa depan,” kilah Meike. Fajar

Side Bar 2…

Meramalkan Perjodohan Melalui Daun Teh

Daun teh yang telah dimeditasi oleh Meike akan dengan mudah menunjukkan jodoh atau tidaknya satu pasangan. Awalnya daun teh tersebut dimasukkan ke dalam sebuah cangkir. Kemudian, isi cangkir dan daun tehnya dituangkan ke tatakan cangkir. “Daun teh itu akan berbentuk hati bila memang berjodoh,” ungkap Meike yang pernah membuka konsultasi di Park Lane Hotel, Hongkong ini. Sebaliknya, bila tidak berjodoh, daun teh tersebut akan tetap berbentuk hati namun ada retakan di bagian tengahnya. Kondisi tersebut tak dapat dijelaskan secara logika. “Saya juga tidak tahu bagaimana cara kerja daun tehnya,” ujar Meike tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Soal daun teh, Meike mendapatkan bakat tersebut dari sang nenek yang merupakan keturunan India. “Saya sebentar lagi sudah tidak ada, makanya saya ajarkan kamu tentang daun teh,” ujar Meike menirukan omongan sang nenek kala itu. Saat itu, Meike yang masih remaja ‘terpaksa’ untuk mempelajari teknik meramal dengan menggunakan daun teh. “Waktu itu, padahal saya malas-malasan,” ujar Meike sembari tertawa lebar.

Dalam waktu yang relatif singkat, Meike mampu menguasai teknik meramal dengan menggunakan daun teh. Ternyata, seminggu setelah sang nenek mengajarkan teknik meramal tersebut, ia benar-benar meninggal. “Teknik meramal dengan daun teh itu memang sangat sulit,” aku Meike. Daun teh, seperti yang diyakini oleh Meike memiliki energi yang dapat dimanfaatkan untuk meramal masa depan. Menurutnya, semua benda memiliki energi yang tersembunyi. “Semua benda pun pada dasarnya dapat digunakan untuk meramal,” ujar Meike. Fajar

Biodata

Nama lengkap : Meike Rose

Tempat, tanggal lahir : Bogor, 24 Mei 1974

Nama orangtua : Kemal Subadha dan Any Setyawati

Nama suami : Yahya

Nama Anak : Muhammad (9), dan Izabelle Yahya (1)

Pendidikan

SDN Tamansari, Semarang

SMPN 3, Semarang

SMAN 1, Semarang

Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan (tidak lulus)


Mariana Amiruddin, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan

Berharap Dunia Akan Lebih Baik di Tangan Perempuan

Berawal dari cita-citanya yang ingin memajukan kaum perempuan Indonesia, Mariana Amiruddin pun mulai bergelut menjadi seorang aktivis perempuan. Selain ikut di berbagai aksi, ia juga mencurahkan pemikirannya dalam bentuk tulisan yang kemudian dijadikan beberapa judul buku. Dipilih sebagai pimpinan di Jurnal Perempuan semakin memperluas tanggung jawabnya untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Lalu bagaimana kisah hidup penganut feminisme ini?

Sebuah rumah yang berukuran cukup besar itu nampak ramai. Beberapa orang terlihat tengah berbincang-bincang dengan seriusnya. Sesekali, gelak tawa menjadi selingan di antara obrolan tersebut. Beberapa orang lainnya tengah sibuk di depan komputer. Rumah yang terletak di Kompleks Kejaksaan Agung, Tebet, Jakarta Selatan tersebut telah berubah fungsi menjadi tempat berkumpulnya para aktivis yang sebagian besar adalah perempuan. Di tempat itulah, banyak lahir aktivis perempuan yang kerap menyuarakan aspirasi perempuan modern abad 21. Sejak didirikan paska reformasi, Yayasan Jurnal Perempuan telah banyak menorehkan berbagai aksi demi hadirnya kesetaraan gender.

Kini, seiring dengan bergulirnya waktu, Yayasan Jurnal Perempuan pun berusaha mengantisipasi segala macam masalah yang menimpa kaum perempuan dengan berbagai perubahan sikap. Kendati demikian, sikap para aktivis perempuan tentunya tetap memperjuangkan hak-hak kaum perempuan yang sempat tergilas oleh kepentingan besar.

Langkah Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) tentu tak bisa dilepaskan begitu saja dari sosok pemimpinnya yang kerap berada di barisan terdepan pada setiap kegiatan. Dialah Mariana Amiruddin, perempuan yang sudah ikut terlibat langsung di keorganisasian sejak didirikan Gadis Arivia pada era reformasi lalu. Ditemui di kantor YJP, Mariana nampak sederhana dengan pakaiannya yang santai. Ia tak memperlihatkan sosok pemimpin dalam penampilannya. Namun, terbukti dialah yang menjadi motor penggerak YJP. Sembari duduk santai di sela-sela kesibukannya, Mariana bercerita tentang kisah hidupnya sebagai seorang perempuan mandiri dan kritis.

Mandiri dan Kritis. Sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, Mariana tak lantas tumbuh menjadi anak manja. Sebaliknya, berkat didikan kedua orangtuanya, Amiruddin Saleh (73) dan Ratu Rusniyati (68), Mariana justru tumbuh menjadi anak yang mandiri dan kritis terhadap berbagai hal. Bahkan, saat masih mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), ia sempat mempertanyakan alasan bersekolah. “Dulu, saya tidak suka sekolah dan pernah mencakar guru saya sampai berdarah,” ungkap Mariana. Sang ibu lantas menjelaskan kenapa setiap anak harus bersekolah. Dengan penjelasan panjang lebar, akhirnya Mariana pun menerima alasan tersebut dan kembali ke sekolah.

Semasa kecil, ia dikenal sebagai anak pendiam dan penyendiri. Hobinya menulis sejak kecil, membuat dirinya selalu mencurahkan apa yang ada di pikirannya dalam bentuk tulisan. Alhasil, Mariana tak memiliki banyak teman. Kesehariannya, ia lebih banyak memegang alat tulis dan menorehkan curahan pikiran dan perasaannya dalam bentuk tulisan. “Saya itu dari kecil memang pemikir,” aku Mariana. Dengan pemikirannya tersebut, ia memang bercita-cita menjadi seorang penulis. “Saya hanya punya cita-cita dua, yakni jadi penulis dan aktivis,” kenangnya.

Mariana sendiri lahir di Jakarta pada 14 Maret 1976. Kala itu, ayahnya berkerja sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di sebuah instansi pemerintah. Sedangkan ibunya lebih banyak meluangkan waktu di rumah sebagai ibu rumah tangga. Perpaduan budaya Bengkulu dari sang ayah dan Banten dari ibundanya, menjadi didikan yang diterima Mariana sejak kecil.

Didikan ayah itu nggak pernah membedakan antara perempuan dan laki-laki,” kenang Mariana. Salah satu didikan sang ayah yang paling diingatnya adalah larangan budaya konsumtif terhadap keempat anak perempuannya. “Kita tidak boleh membeli make up atau ke salon, kecuali kita sudah menghasilkan duit sendiri,” aku Mariana. “Kalau kamu perlu bantuan, papa cuma bisa kasih bantuan dalam pendidikan saja, selebihnya tidak,” ujar Mariana menirukan omongan sang ayah. Alhasil, semua anaknya tumbuh menjadi anak yang tak suka menghambur-hamburkan uang hingga sekarang. Setiap belanja pun, anak-anaknya diharuskan belanja barang-barang yang memang dibutuhkan.

Selain itu, ayah selalu mengajarkan setiap anaknya selalu mandiri. “Apa-apa itu harus dikerjakan sendiri,” ungkap wanita yang jarang berdandan ini. Saat duduk di bangku SD, Mariana kerap berpindah tempat tinggal. Karena kepindahan tugas sang ayah, keluarganya lantas pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan, saat usia Mariana baru menginjak 5 tahun. Mariana kecil sempat menempuh pendidikan SD hanya selama 2 tahun. Setelah 2 tahun tinggal di Makassar, Mariana dan keluarga kembali berpindah tempat ke Madiun, Jawa Timur. Di sana, ia melanjutkan SD hingga kelas 5.

Pemikir dan Hobi Menulis. Lagi-lagi, Mariana harus berpindah tempat tinggal dan kembali ke Jakarta di penghujung kelas 6 SD. Setelah menamatkan SD, Mariana melanjutkan ke SMPN 77 Cempaka Putih, Jakarta Pusat dan SMAN 77, Jakarta. Semasa remaja, Mariana suka sekali menulis. “Awalnya saya suka menulis buku diari,” aku Mariana. Lulus SMA sekitar tahun 1994, Mariana memutuskan melanjutkan kuliah di Universitas Jayabaya mengambil bidang studi Hubungan Internasional. Hobi menulis sekaligus pemikir, masih tetap dilakoninya tiap kali ada waktu luang. Tiap coretannya, diakui sebagai hasil pemikirannya tentang hidup dan berbagai pandangannya terhadap berbagai macam masalah.

Setelah lulus sarjana, Mariana memiliki ketertarikan tersendiri terhadap dunia perempuan dan permasalahannya. Ketertarikannya itulah yang membawanya menempuh pendidikan paskasarjana di Universitas Indonesia (UI) program Kajian Wanita. Mendalami kajian tentang wanita semakin membuat dirinya ingin terjun langsung mengatasi segala macam permasalahan perempuan Indonesia. Menurutnya, sudah banyak teori yang ia dapatkan di dunia kampus. Sudah saatnya untuk berbuat secara nyata bagi masyarakat khususnya kaum perempuan. Di kampus itu, ia lantas berkenalan dengan dunia aktivis perempuan yang kemudian membawanya memimpin sebuah organisasi perempuan YJP.

Kali pertama Mariana aktif di YJP, adalah ketika mendapatkan ajakan dari Gadis Arivia, sang pendiri YJP pada tahun 2003. “Waktu itu saya sedang menyelesaikan kuliah paskasarjana Kajian Wanita di UI,” kenang Mariana. Kebetulan, kala itu ia dibimbing oleh Gadis Arivia sebagai dosennya. Ketertarikan Mariana sendiri terhadap dunia perempuan memang sudah lama bersemi dalam semangatnya. Kendati, sempat ditertawakan oleh teman-teman kuliahnya, ia justru semakin terpacu untuk memilih fokus di bidang perempuan dan permasalahannya.

Semangat Mariana mendalami dunia perempuan dan permasalahannya semakin menggebu setelah melihat banyaknya korban perempuan akibat kerusuhan pada periode 1997-1998. Dari sudut pandangnya sebagai perempuan, tentu kejadian tersebut menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri baginya. “Timbul kerinduan dalam diri saya, agar perempuan dapat berprestasi seperti halnya para lelaki,” ungkap Mariana. Terlebih lagi, di bidang-bidang yang membutuhkan intelektual tinggi, yang menurutnya perempuan kerap dilecehkan bila harus bersaing dengan lelaki.

Saat tengah menyelesaikan tugas akhir paskasarjana, Mariana sempat magang di YJP sejak tahun 2002. Barulah, setelah menyelesaikan segala macam urusan dengan kuliah S2-nya di kampus, ia mulai aktif total di keorganisasian YJP. Setelah sekian tahun mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk YJP, pada tahun 2008 lalu, Mariana kemudian terpilih sebagai Direktur Eksekutif YJP secara aklamasi membawahi 22 staff aktifnya. Pemikiran dan perhatiannya yang total terhadap dunia perempuan menambah nilai positif terhadap figurnya di YJP.

Sebagai Direktur Eksekutif YJP, Mariana bertanggung jawab untuk memimpin organisasi agar mampu bertahan menyuarakan aspirasi perempuan Indonesia. “Kita harus tetap menjadi ikon aspirasi perempuan melalui Yayasan Jurnal Perempuan ini dan selalu tanggap terhadap masalah perempuan yang selalu berubah setiap waktu,” tutur Mariana. “Kita ingin memberikan contoh kepada para perempuan dan membawa mereka kepada pencerahan,” lanjutnya dengan yakin.

Kesetaraan Gender. Sebagai pimpinan generasi ketiga setelah Adriana Venny dan Gadis Arivia, Mariana memang dituntut untuk berbuat lebih banyak ketimbang para pendahulunya. “Kalau di era saya, kami lebih menyuarakan pluralisme atau keberagaman, berbeda halnya ketika masih dipimpin Gadis Arivia di era reformasi,” ungkap Mariana. Tak hanya itu saja, ia juga menyoroti bidang pendidikan dan ekonomi yang masih berdampak negatif terhadap kaum perempuan. Terlebih lagi, menurutnya, ekonomi yang masih terkena imbas krisis global, menjadi pukulan terberat bagi buruh pabrik yang kebanyakan perempuan. “Era saya itu lebih kompleks, strateginya harus seperti sirkus,” ujarnya sembari tersenyum.

Ke depannya, Mariana bersama YJP masih memberikan perhatian khusus terhadap kegiatan trafficking perempuan yang masih terjadi. “Angka kematian ibu melahirkan yang masih tinggi,” ujar Mariana. “Kita juga menyoroti kondisi politik nanti paska pemilihan presiden dan dampaknya terhadap perempuan,” lanjutnya menjelaskan. Termasuk segala macam masalah pemilu lalu yang telah banyak merenggut hak pilih para perempuan. “Kalau golput dijadikan partai, maka menjadi pemenang,” canda Mariana. Berbagai diskusi publik pun diadakan Mariana bersama YJP untuk mencari solusi tepat bagi permasalahan yang tengah dihadapi oleh kaum perempuan. Selain diskusi yang menampilkan berbagai pengamat dan para aktivis perempuan, Mariana juga tak segan-segan turun ke jalan dan melakukan aksi mengangkat suatu topik masalah tertentu.

Selain disibukkan dengan kegiatannya di YJP, Mariana tetap tak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Penganut feminisme ini memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya sejak setahun lalu. “Status istri sebenarnya bisa menimbulkan masalah gender,” kilah Mariana sambil enggan menyebutkan nama suaminya ini. “Saya ingin memunculkan nama saya sendiri,” lanjutnya singkat. Baginya, menjalani pernikahan sesuai dengan jalannya sendiri tanpa harus memandang perbedaan antara status suami atau istri.

Yang pasti, Mariana mengaku akan selalu membawa YJP agar selalu berada di jalur yang tepat. Sebagai seorang pemimpin, ia pasti akan melanjutkan program-program yang sudah dirintis oleh para pendahulunya. “Saya ingin dunia ini menjadi lebih baik di tangan para perempuan Indonesia,” harap Mariana. Fajar

Side Bar 1…

Gerakan Perempuan-perempuan Galak

Menurut Mariana, masalah yang kini masih menjadi perhatiannya adalah ketika banyak anggapan negatif yang menghampiri gerakan perempuan. “Masih banyak yang memandang kita negatif,” ujarnya singkat. “Ngapain sih turun ke jalan, mendingan ngurusin keluarga saja, ngurusin rumah,” tutur Mariana menirukan omongan negatif yang selalu terdengar bila mengadakan aksi.

Bahkan, sebagian orang menyebut gerakan perempuan sebagai perkumpulan perempuan galak dan cerewet. Hal tersebut sangat disayangkan Mariana. Pasalnya, apa yang dilakukan dirinya bersama kaum perempuan lain adalah demi kepentingan kaum perempuan yang kerap ditindas zaman. “Itu bisa menjatuhkan mental kita sebagai perempuan,” ujar Mariana.

Kendati selalu dipandang negatif oleh sebagian orang, Mariana tak pernah patah arang untuk selalu menorehkan asa bagi kaum perempuan dengan berbagai aksi, tak hanya aksi turun ke jalan. Mariana mengaku, kegiatan yang dilakukan tak selalu harus turun ke jalan. Seringkali, mereka mengadakan berbagai kegiatan positif yang mengajak perempuan agar lebih banyak aktif dan berprestasi di segala bidang. Fajar

Side Bar 2…

Menulis untuk Kaum Perempuan

Selain memperjuangkan hak-hak perempuan yang kerap tertindas melalui organisasi YJP, Mariana sendiri menempuh cara lain yang sudah menjadi hobinya, yakni menulis. Beberapa karya tulisnya, berupa buku dan kumpulan cerpen selalu ditujukan untuk kemerdekaan hak-hak perempuan. Buku berjudul Perempuan Menolak Tabu dan novel Tuan dan Nona Kosong merupakan hasil karyanya yang lebih banyak berkutat di seputar perempuan.

Wataknya sebagai seorang pemikir dan penulis sudah mulai terlihat ketika Mariana masih duduk di bangku SMP. “Saya orangnya penyendiri waktu masih remaja,” kenang Mariana. Kala remaja, ia kerap memperhatikan perilaku teman-temannya dan langsung mencurahkan hasil pemikiran dan pengamatannya tersebut dalam bentuk tulisan. Kebiasaan tersebut berlanjut semasa SMA dan kuliah. “Setiap hari saya selalu menulis, sudah ritual saya sendiri,” ungkap Mariana.

Rencananya, buku novel terbarunya tentang feminis akan segera diluncurkan pada awal 2010 mendatang. “Soalnya kalau menulis novel itu nggak bisa buru-buru seperti menulis berita,” kilah Mariana. “Saya suka membuat tulisan yang bisa membuat pembacanya ke alam mimpi,” lanjutnya singkat. Kebanyakan dari buku-bukunya pun berakhir dengan cerita yang menggantung bahkan tragedi kematian. “Bila orang mau menghargai kehidupan, maka mereka juga harus menghargai kematian juga,” tutur Mariana.

Menurutnya, dengan membuat tulisan dan buku, maka Mariana berharap dapat memberikan cara pandang baru bagi kaum perempuan Indonesia. “Perempuan Indonesia seringkali terjebak dalam kubangan patrialistik karena sudah membudaya,” ungkap Mariana. Ia mencontohkan kisah Manohara yang akhirnya terjebak dalam pemikiran harus menerima pinangan dari sosok orang yang belum tentu sesuai dengan apa yang diharapkan, karena sebelumnya dibutakan oleh kemapanan yang ditawarkan oleh pria tersebut. Fajar

Biodata

Nama Lengkap : Mariana Amiruddin

Tempat/Tanggal lahir : Jakarta, 14 Maret 1976

Nama Orangtua : Amiruddin Saleh (73) dan Ratu Rusniyah

(63)

Status : Menikah belum memiliki anak

Pendidikan

  • SDN di Makassar, Madiun, dan Jakarta

  • SMPN 77, Jakarta

  • SMAN 77, Jakarta

  • Hubungan Internasional, Universitas Jayabaya, lulus tahun 1998

  • Paska Sarjana Program Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, 2000

Jabatan

Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan (2008-2012)

Aktivis Jurnal Perempuan (2002-sekarang)

Karya

  • Perempuan Menolak Tabu (2005)

  • Novel : Tuan dan Nona Kosong (2006)

  • Beberapa kumpulan cerpen