Wednesday, June 23, 2010

Ari Batubara, Presiden Direktur PT Wiraswasta Gemilang Indonesia

Si Anak Bengal yang Mampu Meraih Berbagai Sertifikasi untuk Perusahaannya

Sebagai pengusaha muda, wajah Ari Batubara memang sangatlah familiar. Pasalnya, selain memegang sebuah perusahaan besar, Ari juga menjabat Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI). Berbisnis sekaligus aktif di berbagai organisasi memang sudah menjadi kesibukannya sehari-hari. Baginya, itu sudah menjadi prestasi tersendiri dalam hidupnya. Lalu bagaimana perjalanan karir pria berkacamata ini?

Ditemui di kantornya, di bilangan Sudirman, pria bernama lengkap Juliari Peter Batubara ini cukup disibukkan dengan pekerjaannya sebagai presiden direktur dari sebuah perusahaan penghasil oli kendaraan bermotor. Di sela-sela waktunya, Ari bersedia menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan Realita. Dunia otomotif dan olahraga memang sangat digemari oleh pria muda ini. Terlihat di ruang kerjanya yang sebagian besar dihiasi dengan berbagai miniatur mobil dan motor balap. Apalagi, perusahaan yang dipimpinnya juga bergerak di produk yang memang erat kaitannya dengan dunia otomotif.

Sebagai pemimpin perusahaan pun, berbagai prestasi telah ia toreh dari segi perkembangan perusahaan yang cukup baik. Tak hanya itu saja, jabatan ketua dari beberapa organisasi juga dianggap sebagai prestasi sekaligus amanah yang harus terus dijaganya. Perjalanan hidup Ari memang berjalan seperti air mengalir. Ia tak pernah menganggap hidup sebagai sesuatu yang dijalani dengan sikap yang terlalu melankolis. “Saya bukanlah orang yang sentimentil,” ujar Ari dengan tegas.

Anak Bengal. Ari Batubara terlahir dari pasangan AP Batubara (71) dan MH Tambunan (60), pada 22 Juli 1972. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai anak pertama, Ari memang sengaja dipersiapkan untuk memimpin sebuah perusahaan keluarga. “Tapi saya memimpin perusahaan keluarga karena memang kemauan sendiri,” ungkap Ari singkat. Ari kecil lahir dan dibesarkan di Jakarta. Semasa mudanya, ia dikenal sebagai anak yang aktif di organisasi sekolah. Selain itu, Ari juga ternyata termasuk anak yang nakal dan bengal.

Waktu SMA, saya sering berkelahi dan tawuran,” kenang Ari sembari tertawa lebar. Kebiasaannya tersebut bahkan sempat membawa dirinya ke kantor polisi. “Wajarlah laki-laki suka berantem,” ujar Ari. Kebiasaan berkelahi itu terjadi saat Ari masih duduk di bangku SMP ASISI, Jakarta Selatan dan terus berlanjut ke bangku SMAN 8, Jakarta. Selain kerap berkelahi dan tawuran, Ari juga pernah dipukuli orang. “Dulu kan zamannya memang petantang-petenteng,” ungkap Ari.

Setelah lulus dari SMA pada tahun 1991, Ari lantas memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Ia mengenyam bangku kuliah di Riverside City College dan kembali melanjutkannya di Chapman University, California. Setelah lulus tahun 1997, Ari langsung kembali ke tanah air dan mulai masuk ke perusahaan sang ayah pada tahun 1998. Berbagai perubahan dan pengembangan dilakukan Ari dalam tubuh perusahaan sehingga mampu mengalami kemajuan hingga saat ini.

Merintis dari Bawah. Setelah menamatkan pendidikan di Amerika, tahun 1998, Ari memang langsung ikut dalam perusahaan yang didirikan sang ayah. “Tapi saya mulai dari jenjang bawahlah,” aku Ari. Sebagai anak tertua, ayahnya memang sengaja mempersiapkan Ari untuk meneruskan bisnis keluarga. Keinginan tersebut disambut baik oleh Ari sendiri. “Awalnya saya diajak untuk membesarkan perusahaan keluarga,” ungkap Ketua RW di lingkungan rumahnya ini. Saat pertama kali masuk, ia mengaku hanya digaji sekitar Rp 1 juta. Kendati demikian, Ari banyak belajar tentang penerapan manajemen perusahaan di kehidupan nyata setelah puas menimba ilmu di bangku kuliah.

Barulah sejak tahun 2003, Ari dipercaya sang ayah untuk memimpin perusahaan yang memproduksi pelumas ini. Sebagai perusahaan swasta pertama dan terbesar yang memproduksi pelumas, Ari memang banyak menorehkan prestasi tersendiri dari segi bisnis dan perusahaan. Awal ketika masih dipegang oleh sang ayah, perusahaan tidaklah terlalu ketat dalam pelaksanaan manajemen di dalam tubuh perusahaan. Setelah Ari memegang kendali, barulah ia menerapkan peraturan yang cukup ketat dalam tubuh perusahaan. “Segi profesionalisme dan modern sangat kita jaga dalam perusahaan,” aku Ari. “Tak hanya peralatannya saja yang modern, tapi orang-orangnya juga harus berpikiran modern,” lanjutnya seraya bersemangat.

Memperoleh Banyak Sertifikasi. Sejak ikut bergabung dalam perusahaan pada tahun 1998 hingga saat ini, tingkat penjualan produk pelumasnya diakui Ari cukup meningkat. “Penjualannya meningkat sampai lima kali lipat,” ungkap pria yang suka melukis ini. Tak hanya itu saja, proses produksi yang menggunakan peralatan canggih dirasa Ari sebagai sebuah prestasi yang cukup membanggakan, selain kerap mendapatkan sertifikasi dari berbagai instansi. Produk pelumasnya yakni Pennzoil dan Evalube kini dianggap sebagai sebagai salah satu produk pelumas yang patut diperhitungkan di tengah-tengah maraknya produk pelumas asal luar negeri. Bahkan dari segi produk, Ari memperoleh beberapa sertifikasi, seperti ISO 9002, dan ISO 14001. Dalam proses produksinya, perusahaan juga menerapkan Enterprise Resources Planning (ERP) yang bertujuan untuk mengintegrasikan proses bisnis dari perencanaan produksi, pembelian, manufaktur, inventarisasi, penjualan, distribusi, dan keuangan. Tak hanya itu saja, salah satu produknya juga mampu meraih sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) yang menjadikan perusahaannya sebagai pionir di industri pelumas swasta tanah air. Sekali lagi, PT WGI mampu mempertahankan posisi sebagai perusahaan pelumas swasta pertama dan terbesar di Indonesia. Prestasi itu tak terlepas dari tangan dingin Ari Batubara.

Kendati menyandang nama belakang Batubara dari sang ayah, Ari sama sekali tak menganggapnya sebagai beban. Bila orang lain memandang sebelah mata terhadap keberadaannya di dunia bisnis berkat peran sang ayah, ia justru menantangnya dengan kemampuan yang dimiliki. “Kalau anaknya memiliki kemampuan dan mampu dipercaya, kenapa nggak,” ungkap Ari dengan lantang. Di perusahaan, Ari memang bertugas untuk mengembangkan bisnis dan mengatur sumber daya manusia di dalamnya dengan lebih profesional dan modern. “Ayah saya sebagai figur di kantor yang sangat dihormati,” ujar Ari.

Saya itu businessman, apapun yang saya lakukan harus menguntungkan dong,” ujar Ari dengan tegas. Tak heran, tindak-tanduknya di dunia bisnis selalu diperhitungkan dengan matang agar mampu meraup untung di kemudian hari. Saat ini, Ari sendiri belum merasa sukses dengan apa yang didapat. Masih banyak rencana-rencana ke depan yang ingin dicapai, termasuk memantapkan perusahaan sebagai produsen pelumas swasta terbesar di Indonesia.

Selain menjabat direktur utama di PT Wiraswasta Gemilang Indonesia, Ari juga menyandang jabatan serupa di beberapa perusahaan di berbagai bidang bisnis. Tak hanya itu saja, ia juga aktif di berbagai organisasi. Ari menjabat ketua umum pengurus pusat Ikatan Motor Indonesia (IMI), Ketua Biro Promosi dan Pemasaran KONI Pusat, Ketua Umum Indonesia World Motorsport, Ketua Yayasan Pendidikan Menengah 17 Agustus 1945, dan Dewan Penasehat Masyarakat Pelumas Indonesia. “Dengan banyaknya jabatan di organisasi sekelas Ketua RW pun saya anggap sebagai kebanggaan karena orang lain masih percaya dengan saya,” tutur penyuka segala jenis olahraga ini.

Meski disibukkan dengan aktivitas di beberapa perusahaan dan organisasi, Ari tak menjadikannya sebagai beban pekerjaan. Kehidupan Ari sendiri sudah mendekati kesempurnaan setelah akhir tahun lalu, menikah dengan wanita pujaannya, Grace Claudie Peters (34). Kini, ia mengharapkan kehadiran buah hati untuk menjadikan kehidupan keluarganya semakin sempurna dan bahagia. “Saya ingin cepat punya anak nih,” ujar Ari seraya tersenyum dan berharap. Fajar

Side Bar…

CEO yang Berpikir Sebagai Serdadu

Siapa kira prinsip hidup dan bisnis yang dipegang Ari Batubara hingga mencapai jabatan puncak dalam perusahaan, cukuplah sederhana. Meski begitu, prinsip itulah yang kemudian memberikan motivasi besar bagi dirinya untuk selalu berkembang. “Kita ini harus hidup sebagai serdadu,” ujar Ari. Menurutnya, walaupun sudah menjabat pimpinan, tetaplah harus bersikap sebagai seorang serdadu yang selalu mengerjakan suatu tujuan dengan sebaik mungkin. “Kalau kita mengerjakan dengan sebaik mungkin, maka orang akan memberikan imbalan, tapi tak hanya imbalan saja, kepercayaan juga,” tutur penganut agama Kristen yang taat ini.

Push to the limit,” ungkapnya tentang prinsip yang selalu dipegang teguh. Prinsip tersebut tak terlepas dari didikan kedua orang tuanya di masa kecil. “Kedua orang tua saya menginginkan setiap anaknya untuk menjadi yang terbaik,” aku mantan pengurus OSIS SMAN 8 ini. “Kalau kamu mau jadi businessman, jadilah yang terhebat. Kalau mau jadi maling, jadilah yang terhebat,” ujar Ari sembari menirukan omongan sang ayah di masa kecilnya. Sehingga, apa pun yang dilakukan Ari, haruslah selalu berprestasi. Meski demikian, ia mengaku orang tuanya justru bersikap demokratis. “Orang tua tidak terlalu mengarahkan dan memaksakan kehendak,” aku Ari.

Sehingga apa pun yang kini dilakukan Ari, di perusahaan atau organisasi selalu dilakukan dengan yang terbaik. Ia percaya bila dilakukan dengan sebaik mungkin maka hasilnya juga akan menjadi terbaik bagi dirinya sendiri. Fajar