Thursday, June 10, 2010

Tina Agustina, Perjuangan Seorang Ibu demi Kesembuhan Anaknya yang Menderita Celebral Palcy

Setelah tujuh tahun menunggu kehadiran buah hati, akhirnya Tina Agustina mendapatkan momongan dari suaminya yang kedua. Sayangnya, sang anak memiliki kelainan dalam pertumbuhannya. Tina pun berusaha menyembuhkan anak semata wayangnya. Perjuangan Tina harus melalui berbagai rintangan. Karena tidak jarang ia harus menerima berbagai penolakan dari berbagai pihak.

Rumah itu tampak sangat sederhana. Meski terletak di salah satu perumahan di pinggiran kota Jakarta, rumah itu tetaplah terlihat sederhana ketimbang rumah-rumah lain. Pasalnya, bila sebagian besar rumah lainnya telah direnovasi dan diperluas, rumah tersebut justru masih saja berbentuk seperti awal dibeli dari pengembangnya. Setiap bagian rumahnya hampir tidak berubah sedikit pun. Rumah yang dibeli beberapa tahun lalu itu, tampak tak menonjol dibandingkan rumah lain di perumahan tersebut di daerah Cimanggis, Depok. Kesederhanaannya pun terlihat dari warna cat yang sedikit memudar dari warna aslinya.

Tak hanya itu, ketika masuk ke dalam rumah, ternyata luas rumah tersebut tidaklah luas seperti perkiraan sebelumnya bila dilihat dari luar rumah. Ketika Realita masuk ke rumah tersebut, seorang wanita sedang duduk di atas karpet. Wanita itu tengah berada di samping seorang bayi yang tengah berbaring di atas kasur. Sesekali, wanita tersebut memperbaiki cara tidur sang anak. Tanpa kenal lelah, wanita yang diketahui bernama Tina Agustina itu selalu setia berada di samping anaknya yang pada tanggal 22 Juni 2007 kemarin genap berumur lima tahun. Muhammad Rizki-nama sang anak, memang terlahir memiliki suatu kelainan yang membuat perkembangannya terganggu. Pada usia itu, seharusnya Muhammad Rizki sudah bisa berjalan. Namun sepasang kaki Rizki, ternyata tidak mampu menopang berat badannya.

“Kedua kakinya kaku, jadi nggak bisa berdiri dan berjalan,” ungkap Tina. Akibatnya, Rizky hanya mampu terbaring tanpa mampu berjalan atau berlarian di luar rumah. Karena kelainannya pula, tubuh Rizky juga seringkali mengalami kejang tanpa sebab. Tak heran, Tina harus selalu memperbaiki cara tidur Rizky setiap kali tubuh Rizky menggeliat ketika sedang berbaring. Itu dilakukannya karena Tina takut tubuh Rizky terkilir. Kondisi Rizky saat ini terbilang lebih membaik ketimbang saat awal divonis dokter. “Dulu, dia sering kejang-kejang sambil muntah-muntah dan buang air besar,” aku Tina.

Kondisi Rizky tersebut terkadang merepotkan bila mereka sedang dalam perjalanan. Meski begitu, Tina tidak merasa malu dengan kondisi Rizky. Tina selalu mengajak Rizky berjalan-jalan dengan menggunakan kereta bayi di sekitar rumahnya agar Rizky tidak merasa bosan selalu di dalam rumah.

Firasat Saat Melahirkan. Rizky divonis dokter menderita kelainan yang disebut dengan celebral palcy, suatu penyakit yang mengakibatkan penderitanya mengalami keterbelakangan atau kemunduran mental. “Rizky divonis dokter waktu masih berumur dua tahun,” kenang Tina. Kala itu, Tina justru tidak terkejut dengan vonis dokter tersebut. Pasalnya, ia telah memiliki firasat sebelum melahirkan Rizky. Firasat dalam bentuk mimpi tersebut diterimanya saat sedang hamil. “Saya mimpi mendapatkan bayi yang hanya punya satu sepatu atau kehilangan sebelah sepatu,” kenang wanita kelahiran 11 Agustus 1966 ini.

Tak hanya itu, Tina juga kerap merasakan sesuatu yang menandakan bahwa ia akan melahirkan bayi yang memiliki kelainan atau cacat. Dalam proses melahirkan pun, Tina mengalami banyak gangguan. Firasat tersebut ternyata menjadi sebuah kenyataan. Anak semata wayangnya terbukti memiliki kelainan atau cacat meski hal itu baru diketahui setelah menginjak usia dua tahun. Setelah beberapa saat hadir di dunia, Rizky juga sempat mengalami aspeksia berat. Sehingga pihak rumah sakit memutuskan untuk memasukkannya ke dalam inkubator. “Saya bingung dengan semuanya ini. Karena perkembangan Rizki sebelum berumur dua tahun, normal saja,” aku wanita yang menikah dengan suami keduanya pada tahun 2000 ini.

Saat usia Rizky menjelang dua tahun, ia seringkali mengalami kejang-kejang. Kondisi tersebut membuat Tina dan suaminya, Dendi Ganda khawatir. Setelah memeriksakan kondisi Rizky ke dokter, barulah diketahui bahwa Rizky mengidap cerebral palcy.

Ditolak Yayasan. Tina dan sang suami bukanlah tidak berusaha menyembuhkan kelainan Rizky. Mereka sudah mencoba berbagai macam pengobatan. Baik pengobatan modern maupun pengobatan alternatif. Akan tetapi, berbagai pengobatan tersebut tak membuahkan hasil. Tak ada perkembangan berarti yang didapat Tina dan Dendi. Mereka justru mendapatkan perlakuan kurang adil dari beberapa yayasan.

Pengalaman menyakitkan sempat dialami Tina ketika memasukkan Rizky ke salah satu yayasan yang khusus untuk merawat anak-anak dengan kelainan seperti anaknya. Namun, biaya tinggi yang disyaratkan pihak yayasan tak mampu dipenuhi Tina. “Waktu itu pihak yayasan meminta dana Rp 1,5 juta per bulan untuk perawatan,” kenang anak kedua dari empat bersaudara ini.

Namun, kala itu Tina hanya memiliki uang sekitar Rp 700 ribu. Sebagai seorang pedagang sayur, ia tidak memiliki banyak uang. Demikian juga dengan suaminya yang hanya seorang pekerja proyek, mereka tidak punya uang lebih untuk membiayai pengobatan anak sematawayang mereka.

Sedangkan pihak yayasan mewajibkan Tina melunasi langsung uang pembayaran sebelum memasukkan Rizky. “Meski saya berjanji akan melunasinya di akhir bulan, tetap saja ditolak” aku Tina. Akibatnya, Tina tidak dapat memasukkan Rizky ke yayasan. Ia juga sangat menyayangkan perlakuan pihak yayasan yang dianggapnya sebagai perlakuan tidak adil.

Perlakuan serupa juga pernah ia alami ketika berusaha mendatangi berbagai pengobatan alternatif. Diakui Tina, pengobatan alternatif yang diharapnya akan memberikan perlakuan berbeda dibandingkan dengan rumah sakit atau yayasan, ternyata tidak ada bedanya. “Pengobatan alternatif yang saya datangi ternyata membeda-bedakan golongan pasiennya berdasarkan kemampuan pasien,” tutur Tina dengan raut wajah kekecewaan.

Saat ini, Tina hanya memberikan obat-obatan yang dianjurkan oleh dokternya. Obat-obatan tersebut dikonsumsi agar kejang-kejang yang dialami Rizky berkurang. Dan, lantaran tidak memiliki uang lagi, Rizky terpaksa dirawat di rumah dengan uang dan obat-obatan seadanya.

Ingin Dirikan Yayasan. Usaha yang dilakukan Tina dan suami ternyata sangat menguras biaya. Meski dulu Tina dan suami memiliki cukup uang untuk memperoleh pengobatan, dengan banyaknya pengobatan yang disambangi Tina mengakibatkan keluarga itu mulai kehabisan uang. Akhirnya, mereka terpaksa menjual perabotan rumahnya untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkan. Uang puluhan juta pun telah ia habiskan untuk mengusahakan berbagai pengobatan bagi sang anak.

Cobaan pun tak berhenti sampai di situ. Tina yang memiliki kios sayur di pasar Induk Kramat Jati pun sempat ditipu oleh rekan bisnisnya sendiri. Akibatnya, Tina menderita kerugian cukup besar. “Rugi sampai jutaan lah,” ungkap Tina tanpa menyebutkan nominal pastinya. Hal tersebut semakin membuat kondisi keuangan Tina dan Dendi terpuruk. Sang suami, Dendi yang bekerja di proyek, juga hanya mampu mengandalkan uang hasil proyek yang biasanya dibagikan setelah proyek tersebut tuntas dikerjakan. “Biasanya setahun sekali baru ada pemasukan,” aku mantan guru les piano ini.

Bagi Tina sendiri, cobaan ternyata tak hanya menghampiri pernikahannya dengan suaminya yang kedua saat ini. Pernikahan Tina dengan suami yang pertama harus luluh lantah di tengah perjalanan akibat tidak kunjung datangnya si buah hati. Akhirnya, pernikahan pertamanya tersebut harus kandas pada awal tahun 2000. Di tahun yang sama pula, Tina bertemu dengan Dendi yang kemudian menjadi suami keduanya. Kehadiran buah bati baru terwujud setelah usia dua tahun pernikahan keduanya berjalan bersama Dendi.

Kini, Tina berharap anaknya dapat memperolah pengobatan atau terapi yang dapat membuat kondisi anaknya membaik. Diakui Tina, ia sangat miris melihat kondisi anaknya tidak seperti anak-anak seumurannya yang dapat bermain dan belajar sesuka hati. Pengalaman buruk Tina ketika mendatangi yayasan dan pengobatan alternatif juga membuat ia memiliki cita-cita sendiri. “Saya sebenarnya ingin mendirikan yayasan untuk anak-anak yang memiliki kelainan cerebral palcy,” harap wanita yang sempat tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur ini.

Namun, harapannya itu akan sia-sia karena ketiadaan biaya dan dorongan dari pihak lain. Saat ini, yang dilakukan Tina hanyalah selalu mendampingi Rizky di rumahnya di pinggiran Jakarta, tanpa sekali pun memutus aliran doa yang dipanjatkannya untuk anak kesayangannya tersebut. Fajar

Side Bar 1……

dr. Setyo Handryastuti, SpA.

(Dokter Spesialis Neurologi Anak RSCM)

Cerebral palsy Dapat Disembuhkan dengan Terapi

Cerebral palsy atau palsi serebral merupakan gangguan motorik dan gangguan postur tubuh, yang dapat disertai gerakan-gerakan di luar kemauan. Hal ini disebabkan karena adanya kerusakan otak akibat perkembangan otak belum sempurna. “Sifatnya tidak progresif, bukan juga suatu keadaan yang bersifat regresi atau kemunduran,” ujar Setyo Handryastuti. Jadi kelainan ini bersifat statis.

Diakui Setyo, gangguan dapat disebabkan oleh bermacam-macam hal. Gangguan dapat terjadi pada saat ibu sedang hamil (mulai dari minggu keempat setelah pembuahan), saat persalinan, atau setelah lahir terutama sampai usia dua tahun. Oleh karena itu ibu yang sedang hamil harus menjaga proses kehamilannya. Ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol, atau obat-obatan terlarang sangat rentan terhadap gangguan yang dapat menyebabkan cerebral palsy ini.

Bisa juga karena infeksi virus atau parasit,” lanjut Setyo Handryastuti. Infeksi virus memang dapat mengganggu perkembangan otak dan menyebabkan cerebral palsy. Sedangkan di masa persalinan, biasanya yang menyebabkan cerebral palsy adalah adanya gangguan yang terjadi di saat bersalin, seperti keracunan air ketuban atau asfikisia.

Penderita cerebral palsy dapat disembuhkan melalui proses terapi. “Dapat sembuh atau tidaknya, tergantung dari berat ringannya cerebral palsy yang diderita,” ungkap Setyo. Bila termasuk ringan dan mulai terapi pada usia dini kemungkinan sembuh lebih besar. Terutama dengan fisioterapi dan terapi-terapi lainnya, kemungkinan besar penderita bisa sembuh seperti anak normal lainnya.

Sedangkan yang termasuk dalam kondisi cerebral palsy berat, sangat sulit disembuhkan secara total. Proses penyembuhannya juga tidak tergantung obat. Seperti diakui Setyo, obat hanya digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala jika ditemukan kekakuan otot.

Bila gejalanya seperti keterbelakangan mental, menurut Setyo, ini disebabkan adanya penyakit yang menyertai cerebral palsy. “Biasanya sih cerebral palsy sering disertai penyakit penyerta,” aku Setyo. Contohnya, gangguan pendengaran, penglihatan, epilepsi dan gangguan perilaku. Meski begitu, cerebral palsy bukanlah penyakit atau kelainan keterbelakangan mental. Cerebral Palsy murni hanya terganggu dalam gerakan motorik dan postur tubuhnya saja. Penderita cerebral palsy murni tanpa disertai dengan penyakit yang menyertainya, dapat bersekolah di sekolah umum. “Mereka memiliki kecerdasan seperti orang normal lainnya,” ujar Setyo.

Penderita cerebral palsy di Indonesia sendiri terhitung cukup banyak. “Semakin tinggi masalah pada ibu saat hamil dan pada saat persalinan, kemungkinan punya anak cerebral palsy juga semakin besar,” ujar Setyo. “Semakin tinggi angka bayi prematur, maka semakin besar pula penderita cerebral palsy,” lanjutnya. Fajar

Side Bar 2….

Kristanti (Wakil Kepala Wisma Tuna Gandapasigunung)

Banyak pertimbangan sebelum kami terima pasien”

Wisma TunaGanda Pasigunung merupakan salah satu panti atau yayasan yang menampung anak-anak penderita cacat ganda. Di tempat itu banyak anak-anak penderita cacat ganda yang dirawat oleh para pengurus panti. “Kami menampung sekitar 30 anak penderita cacat ganda,” aku Kristanti. Perawatan yang diberikan memang khusus bagi penderita cacat ganda, seperti penderita cacat mental, hydrocephalus, dan tentu saja cerebral palcy.

Tina sendiri sempat membawa anaknya ke Wisma Tuna Ganda agar dapat memperoleh perawatan yang intensif. Namun, seperti yang pernah dituturkan Tina kepada Realita, pihak panti menolak kehadiran anak semata wayang Tina karena kurangnya dana yang dimilikinya. Meski demikian, menurut Kristanti, Wakil Kepala Wisma Tunda Ganda, mereka memang tidak dapat menerima semua pasien yang datang ke panti. Menurutnya, keterbatasan tempat dan perawat yang dimiliki panti membuat pihak panti tak dapat menerima semua pasien yang datang dana meminta perawatan. “Kami memiliki banyak pertimbangan sebelum menerima pasien,” tutur wanita berkerudung ini.

Beberapa pertimbangan, seperti kondisi kesehatan pasien dan kemungkinan sembuh dari pasien tersebut menjadi pertimbangan utama panti. Bila kemungkinan kesembuhan pasien sangat besar maka pihak panti akan menerima pasien meski keluarga pasien berasal dari keluarga kurang mampu. Selain itu, terbatasnya perawat menjadi salah satu pertimbangan dalam menerima pasien. “Kita memiliki 35 perawat,” ungkap Kristanti.

Soal biaya, Kristanti mengaku tidak mewajibkan orang tua pasien untuk membayar biaya perawatan. “Tapi bila orang tua pasien termasuk keluarga mampu, kita akan memungut biaya,” ujar Kristanti. Wisma Tuna Ganda berdiri sejak Maret 1975. Panti ini sengaja didirikan untuk menampung anak-anak penderita cacat ganda. Sejak didirikan, lokasi panti masih tetap di Jalan Raya Bogor Km 28,5, Cimanggis, Jakarta Timur. Bangunannya pun terlihat cukup tua karena telah dibangun sejak puluhan tahun lalu.

Bangunannya sudah pernah direnovasi sih,” ujar Kristanti. Meski begitu, bangunan tersebut tetap menjadi tempat bagi puluhan anak yang dirawat secara khusus. “Kalau anak tersebut sudah sembuh atau keadaannya telah membaik, maka ia diperbolehkan pulang ke rumah,” ujar Kristanti sembari menutup pembicaraan. Fajar

9 comments:

Arifin Aston Graphindo said...

Bismillah.
Bagi Anda, keluarga, saudara, tetangga atau kenalan yang mengalami:
1. Gagal Hamil (keguguran)
2. Sulit Hamil
3. Ibu yang melahirkan anak cacat (Hidrocepalus, Microcepalus, Autis, epilepsy, Cerebral Palsy, hiperaktif, tumbuh kembang bayi terganggu, usus terburai, kelainan jantung, tuli, bisu, bibir sumbing, berat badan rendah)
4. Gangguan Syaraf Mata (katarak, penglihatan kabur, bintik-bintik hitam, kurang focus, buta)
5. Gangguan Syaraf Otak (sering sakit kepala, migrain, tengkuk dan leher kaku, pundak terasa berat, hilang keseimbangan)
6. Gangguan Syarat Gerak (kesemutan, mudah letih, sering radang tenggorokan, lemah lesu, kejang-kejang, stroke, lumpuh, anak belum bisa jalan, tumbuh kembang anak terlambat)

Coba tes darah kalau terinfeksi TORCH, untuk menghemat biaya tes minimalis IgG Toxo, IgG Rubella, IgG CMV biaya sekitar Rp 425.000,- di Sarana Medika atau di laboratorium terdekat.

Jika POSITIF, Coba hubungi: Bpk Prof. Ir. A. Juanda (08121108990) www.spesialis-torch.com . Ini adalah SALAH SATU ikhtiar pengobatan yang dengan izin Alloh sudah banyak yang sembuh. Tolong beritahu saudara yang lain.

“Ya Allah, Rabb sekalian manusia, yang menghilangkan segala petaka, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tak ada yang bisa menyembuhkan kecuali Engkau, sebuah kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Al-Bukhari)

“Tidaklah Allah menurunkan satu penyakit pun melainkan Allah turunkan pula obat baginya. Telah mengetahui orang-orang yang tahu, dan orang yang tidak tahu tidak akan mengetahuinya.” (HR. Al-Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

indra iisnais said...

waaah saya ikut terbawa dengan tulisan ini.. haru rasanya, bagaimana tidak adik kandung saya sendiri juga salah satu penderita Celebral Palsy. ibu saya rutin cari alternativ pengobatan, mulai paling modern, sampai paling tradisionil..... tak ada kata menyerah bagi dia.

indra iisnais said...

waaah saya ikut terbawa dengan tulisan ini.. haru rasanya, bagaimana tidak adik kandung saya sendiri juga salah satu penderita Celebral Palsy. ibu saya rutin cari alternativ pengobatan, mulai paling modern, sampai paling tradisionil..... tak ada kata menyerah bagi dia.

indra iisnais said...

waaah saya ikut terbawa dengan tulisan ini.. haru rasanya, bagaimana tidak adik kandung saya sendiri juga salah satu penderita Celebral Palsy. ibu saya rutin cari alternativ pengobatan, mulai paling modern, sampai paling tradisionil..... tak ada kata menyerah bagi dia.

indra iisnais said...

waaah saya ikut terbawa dengan tulisan ini.. haru rasanya, bagaimana tidak adik kandung saya sendiri juga salah satu penderita Celebral Palsy. ibu saya rutin cari alternativ pengobatan, mulai paling modern, sampai paling tradisionil..... tak ada kata menyerah bagi dia.

indra iisnais said...

waaah saya ikut terbawa dengan tulisan ini.. haru rasanya, bagaimana tidak adik kandung saya sendiri juga salah satu penderita Celebral Palsy. ibu saya rutin cari alternativ pengobatan, mulai paling modern, sampai paling tradisionil..... tak ada kata menyerah bagi dia.

habib hummmaya said...

Dalam kehidupan tidak ada yang tidak mungkin,bagi yg ingin www.habibhummaya.com

Gerdaning said...

Perkenalkan nama saya Gerdaning Tyas J, saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini saya sedang melakukan penelitian untuk mendapatkan gelar Sarjana Strata 1,

maksud dan tujuan saya mengirim email adalah saya ingin melakukan penelitian dengan ibu yang memiliki anak cerebralpasy, judul penelitian saya adalah "Efikasi Ibu dan Stres Pengasuhan pada anak Cerebral palsy"

jika berkenan saya ingin mengirimkan angket yang bertujuan untuk mengukur tingkat efikasi ibu dan stres yang dialami ibu dalam mengasuh anak cerebral palsy.

apakah ibu bersedia mengisikan angket penelitian saya?

terimakasih sebelumnya dan mohon bantuanya.

Gerdaning said...

Perkenalkan nama saya Gerdaning Tyas J, saya adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. saat ini saya sedang melakukan penelitian untuk mendapatkan gelar Sarjana Strata 1,

maksud dan tujuan saya mengirim email adalah saya ingin melakukan penelitian dengan ibu yang memiliki anak cerebralpasy, judul penelitian saya adalah "Efikasi Ibu dan Stres Pengasuhan pada anak Cerebral palsy"

jika berkenan saya ingin mengirimkan angket yang bertujuan untuk mengukur tingkat efikasi ibu dan stres yang dialami ibu dalam mengasuh anak cerebral palsy.

apakah ibu bersedia mengisikan angket penelitian saya?

terimakasih sebelumnya dan mohon bantuanya.