Monday, March 22, 2010

Rahmi Adi Putra Tahir, Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia


Mendirikan Yayasan Kanker, Setelah Anak Bungsunya Menderita Kanker

Sempat memiliki anak yang menderita penyakit kanker, membuat mata hatinya terbuka untuk lebih berbuat banyak terhadap para korban kanker di tanah air. Dengan berbekal pengalaman itulah, Rahmi bersama rekan-rekannya mendirikan Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Melalui yayasan tersebut, Rahmi mampu menyalurkan tenaga dan pikirannya untuk membantu para penderita kanker khususnya dari golongan kurang mampu. Lalu seperti apa kegiatannya di yayasan?

Beberapa orang terlihat tengah duduk di bangku panjang yang berada di lobi utama Rumah Sakit Kanker Dharmais. Beberapa orang lainnya sedang berdiri di depan loket. Hari Senin (22/10) itu rumah sakit memang sedikit lebih ramai ketimbang hari biasa. Tak heran memang, mengingat hari itu adalah hari pertama kegiatan perkantoran dimulai kembali setelah libur Idul Fitri 1428 H berlalu. Di antara loket-loket yang berada di lantai 1 Rumah Sakit Dharmais, terdapat sebuah ruangan yang berukuran tidak begitu besar. Di ruangan itulah, sebuah yayasan berkantor. Dari dalam ruangan itu pulalah berbagai bantuan dana bagi para penderita kanker disalurkan.

Di dalam ruangan, beberapa orang yang sebagian besar merupakan ibu-ibu tengah asyik mengobrol di sebuah meja bundar. Mereka nampak serius membicarakan sesuatu hal yang dirasa penting. Meski serius, ibu-ibu tersebut juga sesekali tersenyum tatkala ada bahan pembicaraan yang sedikit menggelitik. Di antara wanita-wanita itu, terdapat seorang wanita yang terlihat lebih menonjol ketimbang lainnya. Ia juga terlihat dihormati oleh orang-orang sekelilingnya. Dialah Rahmi Adi Putra Tahir, wanita yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) dan sekaligus merupakan pendiri dari yayasan tersebut.

Didikan Kasih Sayang Orang Tua. Rahmi (panggilan akrabnya, red), nampak anggun mengenakan pakaian yang cukup simpel namun justru menonjolkan sifat kewanitaannya tersebut. Senyum lebar tersungging di bibirnya saat menerima kedatangan Realita. Dengan ramah, ia pun mempersilahkan Realita untuk duduk di kursi sederhana yang berada di sudut ruangan. Rahmi sangat antusias menceritakan kegiatan sosialnya di beberapa yayasan termasuk Yayasan Onkologi Anak Indonesia. Suaranya yang lembut namun tegas, memulai perbincangan santai pada tengah hari bolong itu.

Mungkin tak banyak orang yang mengenal sosok Rahmi Tahir. Hanya beberapa kalangan tertentu yang mengenal sosok dan aksi sosialnya di beberapa yayasan. Namun demikian, bila berbicara mengenai kegiatan sosial, maka deretan kegiatan telah mampu mewakili namanya. Rahmi merupakan anak keempat dari lima bersaudara pasangan (alm.) Gunawan dan (almh.) Sundari Gunawan. Sang ayah berprofesi sebagai seorang perwira polisi dengan pangkat terakhir Komisaris Besar Polisi. Kedua orangtuanya mendidik Rahmi beserta keempat saudara kandung lainnya dengan penuh kasih sayang dan disiplin yang tinggi. “Masa kecil saya adalah masa yang paling berbahagia,” kenang Rahmi sembari tersenyum simpul. Rahmi sendiri lahir di kota Magelang pada 16 Agustus 1956.

Pada saat Rahmi menginjak umur enam tahun, kota Magelang ditinggalkannya dan pindah ke Jakarta seiring dengan kepindahan tugas dari sang ayah. Masa-masa sekolah pun dijalaninya di ibukota. Rahmi mengenyam pendidikan di SD Negeri di Blok D, Jakarta Selatan. Selepasnya menamatkan pendidikan sekolah dasar, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 13, Jakarta. Rahmi lalu kembali meneruskan sekolahnya di SMA 6, Bulungan, Jakarta Selatan. Pada tahun 1975, Rahmi memutuskan untuk meneruskan ke bangku kuliah di Fakultas Pertamanan Universitas Trisakti. Namun, pendidikan sarjananya tersebut tidak diselesaikannya. Ia justru mengambil pendidikan sekretaris di salah satu institusi pendidikan di Jakarta Pusat. “Saya hanya beberapa bulan saja kuliah di Trisakti,” kenang Rahmi tanpa memberikan alasannya.

Anak Bungsu Menderita Leukimia. Setelah dua tahun menyelesaikan pendidikan sekretarisnya, Rahmi lalu mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut. Salah satu bank asing di Jakarta menjadi kantornya tempat bekerja. Sekitar dua tahun lamanya, ia bekerja di bank asing tersebut. Di tempat itu pulalah, Rahmi bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, yakni Adi Putra Tahir (54). Tepat pada tahun 1981, Rahmi kemudian memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menerima pinangan Adi Putra Tahir setelah tiga tahun menjalani masa berpacaran. Dari pernikahannya tersebut, Rahmi memiliki tiga buah hati, yakni Cita Tahir (25), Arifin Tahir (24), dan Saprita Tahir (18). Kini, anak pertamanya tengah mengenyam pendidikan S2 di Inggris. Hal yang sama juga akan dilakukan oleh Arifin Tahir yang saat ini mempersiapkan pendidikan S2-nya.

Setelah menikah dengan Adi Putra Tahir, Rahmi lalu memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan lebih berkonsentrasi untuk mendidik ketiga anak-anaknya. “Saya langsung menjadi ibu rumah tangga,” ujar Rahmi. Seiring perjalanan waktu pernikahannya, ada satu pengalaman pahit yang harus dilaluinya. “Anak bungsu saya terkena kanker darah,” aku Rahmi. Saat pertama kali mengetahui penyakit leukimia yang diidap anaknya tersebut, perasaan kalut menyelimuti diri Rahmi. Ia seakan tak percaya dengan penyakit yang mungkin dapat merenggut nyawa anak bungsunya yang kala itu masih berumur sembilan bulan. Meski begitu, Rahmi lantas mencari berbagai macam pengobatan untuk dapat menyembuhkan kanker yang bersarang di tubuh Saprita.

Negeri kincir angin, Belanda pun menjadi tujuan pengobatannya. “Di sana kan pengobatannya cukup canggih,” ungkap Rahmi. Saprita langsung dibawa ke Amsterdam untuk menjalani pengobatan. Selama kurun waktu empat bulan, anaknya mendapatkan pengobatan intensif di kota tersebut. Beruntung, penyakit kanker Saprita berangsur-angsur sembuh. Alhasil, Rahmi dan suami pun memutuskan untuk membawa pulang ke tanah air dengan perasaan yang sedikit lega. “Di sana (Amsterdam, red) dilakukan kemoterapi,” kenang wanita asli Magelang ini. Setelah beberapa bulan kembali ke Jakarta, Saprita akhirnya dapat sembuh dari kanker yang sempat menggerogoti tubuhnya. Ucapan syukur pun terucap dari Rahmi sekeluarga. Kini Saprita sudah sembuh dan tengah mengenyam bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Atmajaya, Jakarta.

Mendirikan Yayasan. Pengalaman itulah yang kini menjadi motivasi terbesar bagi Rahmi untuk mendirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Baginya, memiliki anak pengidap kanker memberikan banyak pengalaman berharga. Ia juga dapat merasakan betapa sulitnya menerima kenyataan memiliki anak pengidap kanker yang sewaktu-waktu dapat meninggalkan dirinya. Atas dasar itulah, ia bersama delapan rekan lainnya secara bersama-sama mendirikan sebuah yayasan yang bertujuan untuk membantu para penderita kanker khususnya anak-anak kurang mampu. “Yayasan ini juga sebagai rasa terima kasih saya karena anak saya dapat sembuh,” tutur Rahmi yang mengaku kurang bisa memasak ini.

Melalui YOAI, Rahmi mampu menyalurkan pemikiran dan tenaganya untuk membantu keluarga kurang mampu yang tak sanggup membiayai anaknya yang menderita kanker. Berbagai kegiatan telah dilakukan Rahmi bersama rekan-rekannya di YOAI. Salah satunya adalah bantuan dana bagi anak pengidap kanker yang berasal dari keluarga kurang mampu. “Sampai saat ini, sudah hampir 400-an anak yang sudah dibantu dari segi biaya,” aku wanita yang masih terlihat awet muda ini. Untuk masing-masing anak penderita kanker, biasanya dapat menghabiskan biaya sekitar Rp 40 juta selama sekitar dua tahun pengobatan kanker. Jumlah yang sangat tinggi bila harus dibayar oleh warga kurang mampu.

Anak-anak penderita kanker yang berasal dari keluarga kurang mampu, dapat dengan mudah mengajukan bantuan dengan memenuhi beberapa persyaratan. “Yang pasti, mereka harus memiliki keterangan dari dokter dan keterangan kurang mampu dari wilayahnya,” tutur Rahmi. Bantuan dana ini sudah dilakukan sejak tahun 2002 dan telah membantu sekitar 400-an anak penderita kanker di seluruh Indonesia.

Tak hanya bantuan dana, YOAI juga memiliki berbagai kegiatan lainnya seperti penyuluhan kepada kelompok-kelompok masyarakat, dan pemberian konseling bagi anak-anak penderita kanker. “Jika anak sakit, maka seluruh anggota keluarga dapat ‘sakit’,” ujar Rahmi. Tentunya sakit yang dimaksud adalah sisi psikologis dari anggota keluarga lainnya yang juga merasakan sakit yang diderita oleh si anak. Menurut Rahmi, YOAI juga memberikan perhatian terhadap sisi psikologis penderita dan anggota keluarga lainnya. Hal itu jugalah yang sempat dirasakan Rahmi pada saat mengetahui anak bungsunya menderita kanker.

Kegiatan lainnya adalah pemberian konseling kepada penderita dan keluarga melalui program ‘Family Supporting Group’, membantu mendirikan fasilitas penanggulangan kanker di beberapa rumah sakit, dan juga menjalin hubungan dengan beberapa lembaga atau yayasan sosial lainnya dalam memberikan banyak manfaat bagi penderita kanker dan keluarganya. Rahmi juga mengembangkan program ‘Survival Club’ sebagai perkumpulan anak-anak yang mampu sembuh dari penyakit kanker yang dideritanya. “Mereka sekarang diikutsertakan di dalam yayasan setelah sembuh,” ujar Rahmi. YOAI sendiri didirikan pada 24 Mei 1993 oleh Rahmi beserta rekan-rekan lainnya yang memiliki visi dan misi sama terhadap penanggulangan kanker. Untuk membiayai kegiatan operasional yayasan, YOAI memperolehnya dari beberapa perusahaan yang menjadi sponsornya. “Sudah banyak perusahaan yang menjadi sponsor kami,” ungkap wanita yang memiliki hobi membaca dan menonton film ini. Meski mendapatkan donasi dari beberapa perusahaan donatur, Rahmi tetap dapat mempertanggungjawabkan kondisi keuangan yayasan. Terkadang, ia juga mengeluarkan kocek pribadinya untuk membiayai kegiatan yayasan, meski diakuinya tidak seberapa.

Aktif di Empat Yayasan. Tak hanya aktif di YOAI, Rahmi ternyata memiliki kegiatan di beberapa yayasan lainnya, seperti Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta yang didirikan pada tahun 2004, yakni sebuah yayasan yang bergerak dalam penanggulangan kanker payudara di tanah air. “Saya bertanggung jawab seputar dana di yayasan itu,” aku Rahmi. Ia juga bertanggungjawab sebagai bendahara di Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia Sudhaprana (YAPNAS) yang didirikan pada tahun 1989 atas kerja sama dengan dokter-dokter di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. “Anak kedua saya juga penderita asma, sehingga saya ikut terlibat di yayasan anak asma Indonesia,” aku Rahmi. Selain menjadi sukarelawan di tiga yayasan non profit tersebut, Rahmi juga aktif di sebuah organisasi yang bertujuan untuk melestarikan produk kain kebanggaan Indonesia. “Saya bertanggungjawab juga di bidang program di Perkumpulan Rumah Pesona Kain,” tambahnya lagi.

Di Perkumpulan Rumah Pesona Kain, Rahmi bersama rekan-rekannya bertekad untuk memperkenalkan kain tradisional Indonesia di dunia internasional dan melestarikannya sebagai budaya Indonesia. “Kain Indonesia itu tidak hanya batik saja, masih ada kain tenun lainnya,” tutur Rahmi sembari menjelaskan. “Itu berawal dari hobi,” imbuhnya. Melalui Perkumpulan Rumah Pesona Kain, Rahmi kerap mengadakan kegiatan seminar untuk membangun awareness kepada masyarakat tentang kain-kain tradisional Indonesia. Meski aktif di beberapa organisasi, Rahmi mengaku bahwa ia lebih banyak memberikan perhatian di YOAI, karena menurutnya jabatan ketua sekaligus salah satu pendiri memberikannya tanggung jawab yang lebih besar untuk mencanangkan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Di luar kegiatan yayasan pun, Rahmi memang memiliki kegiatan sosial yang lebih bersifat pribadi. “Kalau kegiatan sosial lainnya pastilah dilakukan,” ujar Rahmi tanpa menjelaskan lebih lanjut. Dengan banyak berkecimpung di beberapa yayasan itulah, Rahmi mendapatkan kepuasan batin yang tak terkira karena mampu mengulurkan tangannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Fajar

Side Bar 1…

Aktif Dalam Kegiatan Sosial karena Dorongan Sang Suami

Getolnya aktivitas sosial Rahmi Tahir di beberapa yayasan sosial ternyata tidak terlepas dari dorongan sang suami. Setelah menikah dengan Adi Putra Tahir, pengusaha nasional sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri), Rahmi memang memutuskan untuk tidak bekerja lagi. “Suami saya lebih mendorong saya untuk aktif di kegiatan sosial ketimbang bekerja,” aku Rahmi. Diakui Rahmi, sang suami beralasan aktif di kegiatan sosial lebih memberikan banyak waktu luang untuk mengurusi keluarga daripada bekerja di perusahaan. Tak pelak, sederet yayasan pun digelutinya. Bahkan meski kini Rahmi disibukkan dengan berbagai aktivitas sosial yang menyita waktunya, keluarga terutama sang suami justru mendukung. Terlebih lagi, kegiatan yang dilakukannya memberikan banyak manfaat bagi masyarakat banyak terutama masyarakat kurang mampu dan tentu saja memberikan dampak positif.

Rahmi sendiri sudah aktif di yayasan jauh sebelum menikah dengan sang suami. “Saya dulu pernah ikut serta di Lions Club sekitar tahun 1980-an,” kenang Rahmi yang di waktu kecilnya lebih dekat dengan ibundanya ini. Sejak itulah, timbul ketertarikan terhadap aktivitas sosial. Mulai dari mendirikan Yayasan Anak Asma Indonesia Sudhaprana pada tahun 1989, hingga Perkumpulan Rumah Pesona Kain Indonesia. Dengan tersitanya waktu di yayasan, Rahmi justru mengaku tak ada kesulitan dalam membagi waktu antara kegiatan sosial dengan kegiatan keluarga. “Masih banyak waktu untuk keluarga,” ungkapnya singkat.

Bagi Rahmi, keluarga tetap memegang prioritas yang lebih tinggi ketimbang kegiatan di yayasan. Meski begitu, diakuinya, selama ia aktif di kegiatan sosial tak pernah berbenturan dengan kegiatan keluarga. Pasalnya, kegiatan sosial di yayasan masih bersifat fleksibel dan mampu menyesuaikan dengan kegiatan lainnya di luar yayasan. Tak heran, sang suami turut mendukung apa yang kini dilakukan oleh Rahmi. Fajar

Side Bar 2…

Turut Membantu Merenovasi Lima Rumah Sakit di Jakarta

Tak hanya membantu para pasien penderita kanker, ternyata Rahmi bersama YOAI juga memberikan perhatian lebih kepada beberapa rumah sakit di Jakarta. “Kita ikut merenovasi ruangan-ruangan yang diperlukan dalam rangka perawatan anak-anak penderita kanker,” tutur wanita anggun ini. Saat ini, ada lima rumah sakit yang sudah dibantu oleh YOAI, diantaranya adalah Rumah Sakit Kanker Dharmais, RSCM, RS Fatmawati, RSAB Harapan Kita, dan RSPAD Gatot Subroto.

Di rumah sakit Fatmawati, YOAI telah merenovasi ruangan ‘One Day Care’ pada tahun 2002. Setahun kemudian, YOAI merenovasi tujuh ruang rawat di RSCM dan dua ruang ‘One Day Care’ di rumah sakit yang sama. “Kita juga merenovasi lantai 4 RS Dharmais,” aku Rahmi. Dana yang digunakan diakuinya berasal dari para donatur yang telah menyumbangkan sejumlah dana untuk digunakan YOAI. “Semuanya bertujuan agar para penderita kanker dapat dirawat di fasilitas yang memadai dan bertaraf internasional tapi terjangkau,” harap Rahmi.

Selain kegiatan yang telah disebutkan, YOAI juga selalu merayakan Hari Kanker Anak Internasional setiap 15 Februari dengan melakukan berbagai kegiatan bagi anak-anak penderita kanker. “Setiap bulan, kita selalu menyebarkan informasi ke puskesmas-puskemas,” ujarnya. Rahmi berharap dengan melakukan sederetan kegiatan itu, dapat efektif membantu masyarakat untuk menanggulangi masalah kanker di Indonesia. Fajar

Side Bar 3…

Bercita-cita Mendirikan Rumah Sakit Khusus Kanker Anak-anak

Ada satu cita-cita yang ingin dicapai Rahmi beserta rekan-rekannya di YOAI. “Kami ingin memiliki satu rumah sakit yang khusus merawat anak-anak penderita kanker,” harap Rahmi. Ia berharap rumah sakit tersebut memiliki fasilitas dan peralatan yang memadai dan bertaraf internasional bagi anak-anak penderita kanker. Tak hanya itu saja, rumah sakit itu haruslah terjangkau oleh masyarakat kurang mampu. Dengan begitu, ia berharap tak ada lagi pasien penderita kanker yang tidak terobati hanya karena ketiadaan biaya yang dimiliki oleh keluarga pasien.

Melalui rumah sakit itu pula, Rahmi berharap mampu memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyingkirkan persepsi kanker di masyarakat. “Sekarang ini banyak yang menilai bahwa penyakit kanker itu adalah penyakit kutukan atau penyakit turunan,” ungkap Rahmi. “Kita mau menghapus stigma itu,” lanjutnya singkat. Bahkan terkadang, vonis kanker dinilai kurang serius oleh pihak keluarga pasien. Oleh karena itu, Rahmi bertekad untuk menghilangkan persepsi-persepi yang salah tentang kanker. Fajar


No comments: