Friday, March 12, 2010

Mirah Amiria Arismunandar,Istri Adhyaksa Dault


Mengurusi Mobil dan Rumah Pintar

Menjadi seorang istri menteri memang menimbulkan rasa suka dan duka tersendiri bagi Mirah. Namun, ada pancaran kebahagiaan ketika Mirah selaku istri dari Adhyaksa Dault, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) mampu mengulurkan tangannya bagi kaum papa yang membutuhkan. Kegiatan itulah yang kini tengah dilakukan Mirah. Aksi dan kepedulian sosial yang dimilikinya diterapkan dalam beberapa kegiatan, baik kegiatan di SIKIB (Solidaritas Istri-istri Kabinet Indonesia Bersatu) maupun kegiatan sosial yang bersifat pribadi.

Hari Rabu (5/9) sore, rumah sang Menpora Kabinet Indonesia Bersatu ini tampak sangat luas. Sebuah lapangan futsal berada tepat di tengah-tengah halaman rumah. Tak hanya itu saja, sebuah mushola yang berukuran cukup besar juga menghiasi halaman rumah. Di belakang rumah, masih ada lahan kosong yang juga dilengkapi dengan sebuah lapangan badminton. Sarana olahraga memang tak pernah ketinggalan menjadi pelengkap di dalam rumah menteri yang mengurusi dunia olahraga tanah air ini. Setelah menunggu beberapa lama di dalam rumahnya, sosok wanita anggun berjilbab keluar dari salah satu pintu kamar. Dengan sedikit tergesa-gesa, wanita berkulit putih itu lantas menghampiri Realita. Tanpa berbasa-basi, wanita bernama Mirah Amiria Arismunandar ini pun langsung memulai perbincangan santai mengenai kegiatannya diluar kegiatan pokoknya mendampingi sang suami.

Kepedulian sosial Mirah sendiri memang telah tertanam sejak ia masih remaja. “Dari dulu, saya suka melakukan kegiatan sosial,” aku Mirah. Aksi sosialnya memang diterapkan di salah satu organisasi kepemudaan. Salah satu organisasi yang pernah ia masuki adalah Salimah, sebuah perkumpulan wanita muslimah di Jakarta. Di organisasi tersebut, Mirah kerap ikut terlibat dalam berbagai acara sosial, baik sebagai peserta maupun panitianya. Sejak itulah, ia sudah mulai terbiasa dalam membantu sesama yang masih membutuhkan pertolongan. Mulai dari pengajian untuk anak-anak dan ibu-ibu maupun bantuan materi bagi anak-anak yatim piatu, sudah pernah dilakoninya. Kini setelah menjadi istri dari seorang menteri, jiwa sosial yang dimilikinya dapat tersalurkan melalui organisasi SIKIB, yakni suatu organisasi yang beranggotakan istri-istri menteri kabinet bersatu.

Di SIKIB, para istri menteri biasanya merencanakan beberapa kegiatan yang sifatnya sosial bagi masyarakat kurang mampu dan warga yang menjadi korban bencana. Melalui SIKIB pula, Mirah menemukan tempat yang sangat cocok untuk menyalurkan kepedulian sosial yang dimilikinya. Salah satu realisasinya adalah dengan membuat mobil pintar dan rumah pintar. “Saya mengurusi mobil pintar dan rumah pintar,” ungkap Mirah. Mobil dan rumah pintar sendiri merupakan sebuah proyek SIKIB yang meminjamkan ribuan buku bacaan kepada warga kurang mampu secara gratis. Mirah dipercaya untuk bertanggungjawab sepenuhnya mengurusi proyek tersebut.

Mengadakan Pengajian Bulanan. Mirah terjun langsung untuk mengurusi segala macam keperluan rumah dan mobil pintar. “Saya yang mengurusi langsung pembelian buku-bukunya, keperluan rumah, dan mobilnya juga,” tutur Mirah yang sempat keguguran beberapa kali ini. Tak pelak, kegiatan di SIKIB tersebut cukup menyita waktu ibu dua anak ini. Meski demikian, ia tetap saja merasa bertanggungjawab dan getol mengurusi rumah dan mobil pintar. Untuk mobil pintar sendiri, uang yang dihabiskan sekitar Rp 30 juta di luar biaya pembelian kendaraan. Baginya, melalui rumah dan mobil pintar tersebut, diharapkan minat baca dari warga akan semakin meningkat. Terlebih lagi, warga tak perlu merogoh koceknya hanya untuk membaca koleksi buku-buku yang ada di rumah dan mobil pintar.

Selain giat di SIKIB, Mirah juga ternyata memiliki kegiatan sosial pribadi yang kerap diadakan di rumah. Kegiatan tersebut berupa pengajian yang diadakan secara rutin sebulan sekali. Pengajian itu diikuti oleh sebagian warga yang tinggal di sekitar rumahnya, dan juga warga kurang mampu. “Saya menyediakan segala macam keperluan untuk pengajian,” ungkap wanita kelahiran 28 Maret 1968 ini. Tak hanya itu saja, sumbangan berupa uang juga kerap diberikan oleh Mirah beserta sang suami kepada para anggota pengajian. “Biasanya setiap hari Selasa sebulan sekali, pengajiannya diadakan,” ujarnya. Dalam pengajian itu, Mirah mengundang seorang Ustadz atau Ustadzah untuk memberikan ceramah.

Buka Puasa 1000 Anak Yatim. Bila bulan suci tiba, maka ada beberapa kegiatan yang rutin dilakukan. Sudah pasti tentunya adalah acara berbuka puasa dengan anak-anak yatim di rumah. “Tahun kemarin saya mengundang 1000 anak yatim untuk berbuka puasa bersama,” kenang keponakan Wismoyo Arismunandar ini. “Rumah sampai menjadi penuh dijejali dengan anak-anak yang menunggu berbuka puasa,” lanjutnya. Meski begitu, ia tetap merasa bahagia mampu memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh warga kurang mampu. Soal biaya, tak ada jumlah nominal pasti yang selalu ia anggarkan. “Nggak tentu lah,” ujar Mirah tanpa menyebutkan jumlahnya.

Apa yang telah dilakukan oleh Mirah saat ini, tentu membuat kedua orang tuanya, yakni (alm.) Artono Arismunandar dan (almh.) Mariana berbangga hati. Tak ketinggalan sang suami, Adhyaksa Dault yang tentu senang melihat apa yang telah dilakukan oleh Mirah kini. Tak hanya itu saja, kedua anaknya, Umar Adi Putra Adhyaksa (11) dan Fakhira Maryam Putri Adhyaksa (7) akan merasa senang memiliki ibu sekaligus contoh baik yang dapat ditiru mereka. Mirah pun mendidik kedua anaknya dengan memberikan contoh baik kepada mereka. Tak hanya itu saja, ia juga mendidik dengan mengajarkan komunikasi dua arah antara orang tua kepada anaknya. “Komunikasi dua arah itu penting,” ujarnya sembari menutup pembicaraan. Fajar


Side Bar 1…

Berencana Mendirikan Pesantren Bersama Sang Suami

Ada satu rencana yang ingin direalisasikan oleh Mirah bersama sang suami. Rencana tersebut adalah mendirikan sebuah pesantren bagi anak-anak kurang mampu. Kini, Mirah tengah mempersiapkan segala macam persiapan untuk mendirikan pesantren. Salah satunya adalah dengan mencari lahan untuk mendirikan bangunan pesantren. “Kami sudah menemukan lahannya, di kawasan Puncak, Bogor,” ungkap Mirah. Di dalam pesantren tersebut, Mirah berencana akan membangun sebuah institusi pendidikan yang mampu mendidik para siswanya dengan baik. Menurut Mirah, sekolah-sekolah yang sudah ada saat ini masih memiliki kekurangan di beberapa sisi. Tak pelak, dengan mencontoh kekurangan yang dimiliki sekolah saat ini, Mirah berencana akan membenahi kekurangan tersebut agar mampu menjadi sekolah atau pesantren yang dapat menciptakan lulusan yang berkualitas.

Tak ada tenggat waktu yang pasti dalam memujudkan rencana pembangunan pesantren. Meski demikian, Mirah akan terus berusaha untuk memenuhi segala macam bentuk persiapan agar pesantren tersebut dapat didirikan dalam waktu dekat ini. Wanita yang sempat mengenyam pendidikan kedokteran gigi ini juga kerap mendapatkan halangan dalam mempersiapkan pembangunan pesantren. Salah satunya adalah kesibukan dari sang suami sebagai menteri. Meski begitu, hal tersebut diakui Mirah hanya sebagai duka menjadi seorang istri menteri. Duka yang selalu ditanggapi dengan kesenangan dalam berbagi terhadap sesama. Fajar


Side Bar 2…

Adhyaksa Dault:

Istri saya nggak pernah meminta perhiasan, dia selalu meminta uang untuk kegiatan sosialnya”

Berbicara tentang sosok sang istri, Adhyaksa memang sangatlah bangga memiliki Mirah sebagai istri sekaligus ibu dari kedua anaknya. Pasalnya, banyak kegiatan sosial yang kerap Mirah lakukan sehingga membuat bangga Adhyaksa. “Itu yang membuat kita barokah,” ujar Adhyaksa singkat. Tak pelak, Adhyaksa selalu mendukung apapun kegiatan sosial yang akan dilakukan oleh sang istri. Karena menurutnya, kegiatan tersebut dapat memberikan banyak manfaat bagi orang banyak khususnya warga yang membutuhkan. “Istri saya sering gugup kalau berbicara dengan orang,” ujar pria berkumis ini.

Selain itu, sifat Mirah yang sangat membuat Adhyaksa berbangga hati adalah sifat kepedulian sosialnya yang tak pernah berhenti. “Istri saya nggak pernah meminta perhiasan, dia selalu meminta uang untuk kegiatan sosialnya,” tutur Adhyaksa yang menikahi Mirah pada tahun 1994 ini. Tanpa pikir panjang, Adhyaksa segera memenuhi permintaan sang istri. “Semoga terus menjadi barokah,” harap Adhyaksa sembari tersenyum. Fajar


No comments: