Tuesday, March 9, 2010

Ir. Dra. Giwo Rubianto Wiyogo, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Ingin Dirikan Sekolah Anak-Anak Terlantar Setelah Tidak Lagi Menjabat Ketua KPAI

Setiapkali ada masalah yang menimpa anak-anak, wanita ini selalu muncul menjadi seorang penengah. Sebagai seorang ketua dari organisasi yang memberikan perlindungan terhadap anak-anak, sudah sepatutnyalah Giwo tampil untuk merangkul anak-anak yang tertimpa masalah. Lalu seperti apa sebenarnya sosok wanita yang mengawali karir dari dunia modeling ini?

Hari Minggu (10/6) pagi, cuaca Jakarta tampak cerah. Sinar mentari jatuh dengan lembutnya menyapa warga ibukota yang sebagian besar tengah menikmati hari libur. Jalanan di kota yang berumur 480 tahun pada 22 Juni ini pun terlihat sepi ketimbang hari-hari biasa. Sehingga cukup nyaman untuk menempuh perjalanan di sepanjang jalan ibukota. Pada hari itu, Realita hendak menyambangi kediaman Giwo Rubianto Wiyogo, seorang wanita yang menjadi motor penggerak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Di salah satu perumahan mewah di Selatan Jakarta, Giwo tinggal bersama dengan suami dan empat anaknya.

Rumah besar itu terlihat sangat mewah. Luas halaman rumah tersebut cukup luas, namun tetap saja terlihat agak sempit setelah dipenuhi dengan beberapa kendaraan beroda empat yang terparkir rapi di depan rumah. Jarum jam menunjukkan pukul 10.26 pagi menjelang siang. Realita memang tiba di rumah Giwo terlalu awal dari janji yang telah disetujui sebelumnya yakni pukul 11.00 siang. Alhasil, Realita pun harus menunggu hingga waktu yang telah ditentukan. Meski begitu, hal tersebut menandakan bahwa Giwo adalah sosok orang yang sangat menghargai waktu dan menepati janjinya. Seiring dengan jarum jam yang berputar menuju angka 11, Realita pun menunggu di ruangan tamu di dalam rumah Giwo. Di dalam ruangan tersebut, berbagai macam ‘kura-kura’ menghiasi setiap sudut ruangan.

Jangan pernah mengira kura-kura itu masih hidup dan berkeliaran di tiap sudut ruangan. Kura-kura yang berada di dalam ruangan rumah Giwo hanyalah hiasan semata yang berbentuk kura-kura. Giwo memang dikenal sebagai penyuka hewan yang memiliki tempurung tersebut. Setelah cukup lama mengamati berbagai hiasan dan pajangan yang berbentuk kura-kura, sosok wanita berkulit putih kemudian masuk ke ruang tamu. Dengan pakaian yang terlihat modis, Giwo lalu menyapa Realita dengan cukup ramah. Ia pun kemudian menceritakan bagaimana perjalanan hidup dan karirnya hingga mampu memimpin KPAI.

Masa Kanak-Kanak. Giwo terlahir dengan nama asli Sri Wuryaningsih dari pasangan H. R. Wirjatmo dan Hj. Tahjaningsih. Giwo menikmati masa kecilnya dengan cukup banyak kebahagiaan yang menghampiri dirinya. Ia memang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya dulu adalah seorang mantan polisi yang sempat menjadi direktur utama Damri dan PPD. Sedangkan sang ibu banyak aktif di berbagai organisasi sosial. Sehingga, untuk urusan materi, Giwo termasuk anak yang cukup beruntung. “Masa kecil saya sangat bahagia,” kenang Giwo. Tak ayal, ketika Giwo melihat kondisi anak-anak yang sempat mengalami kekerasan atau kurang menyenangkan, ia menjadi sangat tersentuh hatinya. Hal tersebut menimbulkan rasa kekhawatiran dari dirinya sendiri dan mendorongnya untuk berkecimpung di dunia anak-anak melalui KPAI. Ia berharap dengan menjadi seorang ketua KPAI, maka ia akan dapat berbuat banyak bagi anak-anak yang kurang beruntung.

Meski lahir di Bandung, Giwo ternyata mengalami masa kecil dan remajanya di Jakarta. “Saya cuma lahir di Bandung, karena dulu nenek saya bidan,” aku Giwo. Giwo kecil dikenal sebagai anak perempuan yang sangat aktif di berbagai kegiatan, termasuk di sekolahnya yakni dengan menjadi anggota OSIS. Tak heran, saat ini keaktifannya dalam berorganisasi masih terlihat dari beberapa organisasi yang diikutinya selain menjabat sebagai Ketua KPAI. Giwo mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasarnya di Regina Pacis. Setelah itu, ia kemudian melanjutkan ke SMPN 12, Jakarta. Masa-masa SMU juga ia habiskan di Jakarta, tepatnya di SMUN 70, Bulungan. “Saya dulu sering ikut berorganisasi di sekolah dan kampus,” aku Giwo yang memiliki 10 anak asuh ini.

Aktif Berorganisasi. Giwo remaja termasuk anak perempuan yang pintar dan dikenal memiliki paras yang cantik. Tak heran, ia sempat terjun di dunia modeling dengan bermodalkan kecantikan wajahnya. Meski demikian, jiwanya lebih memilih untuk terjun di dunia anak-anak dan organisasi ketimbang harus menekuni dunia modeling. Di masa remajanya, selain ia aktif di dunia modeling, Giwo juga tak melupakan pendidikannya. Terbukti, ia melanjutkan pendidikannya dengan mengambil gelar Sarjana Pendidikan FPTK IKIP Jakarta (sekarang UNJ, red). Di kampus, Giwo juga aktif di kelembagaan senat mahasiswa dan kegiatan sosial kemahasiswaan lainnya. “Di dalam hidup, kita tidak hanya mengejar materi saja,” ungkap Giwo sembari berfilosofi. Tak hanya itu saja, Giwo juga mengambil pendidikan sarjana lainnya di universitas berbeda. Ia juga mengambil jurusan arsitektur lansekap Universitas Trisakti dan lulus tahun 1989.

Tidak merasa puas dengan pendidikan sarjananya, Giwo kemudian melanjutkan pendidikan pasca sarjananya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan mengambil jurusan Manajemen Pendidikan. “Kini saya sedang menyelesaikan tesis,” aku Giwo yang masa kecilnya dekat dengan sang ayah ini. Pendidikan bagi perempuan satu ini memang menempati posisi yang cukup penting selain keluarga dan kegiatannya di organisasi.

Sebelum berkecimpung di berbagai organisasi dan KPAI, Giwo memang lebih dikenal sebagai model di beberapa majalah. Namun, selepas meninggalkan dunia modeling, ia kemudian banting stir menjadi seorang pengusaha properti untuk meneruskan usaha sang ayah. Bersama sang suami yang dinikahinya pada tahun 1984, ia kemudian mendirikan sebuah grup perusahaan properti yang diberi nama PT Bumisatu Group. Sejak didirikan, grup perusahaan properti yang membangun banyak proyek ini berkembang pesat. “Sekarang sudah memiliki 500-an orang karyawan,” ujar anak kedua dari 4 bersaudara ini.

Perubahan Setelah Sakit. Perjalanan hidup Giwo ternyata tidak selamanya berjalan mulus. Ia sempat sakit yang cukup lama pada tahun 1992. Giwo menderita sakit tyfus yang kemudian menyebar dan membuat ia menderita penyakit liver dan hepatitis A. Kondisi kesehatannya pun semakin memburuk dan melemah seiring dengan makin parah penyakit yang dideritanya. “Saya butuh waktu hampir satu tahun untuk recovery,” kenang Putri Ayu tahun 1981 ini. Dari cobaan penyakit itulah, ia kemudian menyadari bahwa dalam hidupnya, ia tidak boleh melulu mengejar kekayaan materi ataupun hanya mengejar karir sebagai pengusaha properti saja. Ia sadar bahwa masih banyak hal penting lainnya yang harus dikejar di dalam hidup, termasuk salah satunya adalah dalam kehidupan sosial dan memikirkan kehidupan orang banyak.

Giwo kemudian memutuskan untuk membagi kehidupan karirnya sebagai pengusaha dan wanita yang juga aktif di dalam organisasi sosial. Kali pertama ia berkecimpung di dalam organisasi IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) sejak awal tahun 1990-an. Tak hanya perusahaan propertinya saja yang mengalami peningkatan, tapi kegiatan keorganisasian di IWAPI juga mengalami peningkatan seiring dengan dijabatnya Ketua IWAPI DPD DKI Jakarta periode 1994-1997. Ia juga sempat merasakan jabatan sebagai bendahara umum DPP IWAPI, dan Ketua Bidang Ekonomi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Kini, Giwo masih menjabat sebagai Ketua Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) dan Ketua Harian DPP ISIKKI-IHEA (Ikatan Sarjana Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia). Sedangkan untuk grup perusahaannya, saat ini Giwo membawahi 6 anak perusahaan dari grup perusahaan PT Bumisatu bersama sang suami.

Ketika masih aktif di IWAPI, Giwo kemudian ditawari untuk mengisi jabatan KPAI yang kala itu baru terbentuk. “Saya juga didorong banyak pihak untuk mencalonkan diri sebagai ketua KPAI,” ungkap pemilik Majelis Ta’lim Bumi Sakinnah ini. Berkat keinginan untuk lebih banyak membantu anak-anak dan juga dorongan dari banyak pihak, Giwo pun terpilih sebagai ketua KPAI berdasarkan Keppres No 95/M tahun 2004. Awalnya, Giwo memang merasa ragu terhadap kemampuannya yang berlatarbelakang sebagai pengusaha. Namun berkat pembelajaran dan didorong dengan keinginan yang kuat, Giwo pun akhirnya mengambil kesempatan tersebut. Setelah tiga tahun menjabat sebagai ketua, Giwo kemudian memutuskan untuk tidak mencalonkan diri kembali sebagai ketua pada tahun ini. “Banyak sih yang mendorong saya untuk mencalonkan diri lagi, tapi menurut saya sudah cukup,” tutur Giwo. Meski begitu, Giwo mengaku bahwa ia sendiri belum merasa puas dengan kinerja kepemimpinannya. Tapi, dengan melihat beberapa kasus yang ia tangani, Giwo berharap dapat memberikan suatu perubahan yang cukup baik dalam KPAI.

Memprioritaskan Keluarga. Meski disibukkan dengan berbagai macam kegiatan di luar rumah, Giwo tetap saja masih dapat meluangkan waktu bagi keluarga. Bahkan tak jarang, Giwo selalu mengantar jemput salah satu anaknya yang masih kecil. “Dulu sih saya sering jemput sekolah, tapi sekarang sedikit susah karena sibuk,” ungkap Giwo. Meski demikian, Giwo masih dapat meluangkan waktunya setiap hari Sabtu dan Minggu untuk berkumpul bersama suami dan keempat anaknya. “Biasanya sih kita suka jalan ke mal buat belanja,” ujar Giwo.

Pernikahan Giwo bersama sang suami, Ir Rubianto Wiyogo telah diberikan karunia empat anak laki-laki, yakni Ato Wurianto (22), Agi Wibianto (19), Adito Wirbianto (10), dan Ardi Amandianto (8). Memiliki empat anak laki-laki memang diakui banyak wanita sangat merepotkan. Tapi tidak bagi Giwo. Ia justru menyukai dan menikmati menjadi seorang ibu dari empat anak laki-laki. Bahkan salah satu anaknya, Adito kerap mengomentari pekerjaan sang ibu dengan berbagai hal. “Dia pernah komentar tentang temannya yang juga sempat mengalami kejadian kekerasan di rumah,” ungkap Giwo. Tak hanya itu saja, Adito juga terkadang mengomentari sibuknya pekerjaan Giwo yang seringkali menjadi penengah dalam suatu perselisihan mengenai anak.

Hari-hari terus dijalani Giwo dengan membagi waktunya untuk anak-anak, keluarga, dan karir sebagai pengusaha. Ia pun tak mau pensiun secepatnya dari rutinitas tersebut. Baginya, kebahagiaan anak-anak menjadi salah satu bagian dari tujuan hidupnya di dunia ini. Fajar


Side Bar 1

Belajar Mengenai Hidup dari Kura-kura

Kura-kura mungkin untuk sebagian orang hanya merupakan hewan biasa saja. Namun, beda halnya bagi Giwo. Ia justru mendapatkan banyak pelajaran dari hewan yang hanya mampu berjalan lambat tersebut. “Biar lambat asalkan selamat,” ungkap Giwo mengomentari kura-kura. Prinsip itulah yang kini selalu dipegang oleh wanita berkulit putih ini.

Baginya, meskipun kura-kura hanya mampu berjalan lambat ketimbang hewan lainnya, binatang itu justru memiliki kelebihan lainnya. “Kura-kura itu kan cerdik,” ujarnya singkat. Ia ingat pernah mendengar suatu cerita mengenai perlombaan lari antara binatang kura-kura dan kelinci. Semua orang pasti akan mengira kelincilah yang akan menjadi pemenangnya. Namun penilaian tersebut ternyata salah besar. Justru kura-kuralah yang menjadi pemenang dalam perlombaan lari itu. “Jadi, kura-kura itu ternyata melakukan lari estafet untuk mengalahkan kelinci yang sombong,” tutur Giwo. Dari perlombaan itulah, terbukti bahwa kura-kura cukup cerdik dengan menerapkan lari estafet agar mampu bersaing dengan kelinci yang arogan.

Alhasil, Giwo dapat menarik pelajaran bahwa tidak selamanya kura-kura yang lamban akan kalah begitu saja dengan kelinci yang mampu melompat dan berlari kencang. Justru dengan strategi dan kecerdikannya yang tepat, kura-kura mampu mengalahkan kelinci. Giwo lalu menerapkan prinsip yang dipegang kura-kura dalam kehidupannya. “Meski lambat, tapi memiliki tujuan yang pasti dan mampu menang,” tutur Giwo. Giwo sendiri mengoleksi kura-kura sejak tahun 1992. Kala itu, ibu mertuanya membawakan oleh-oleh hewan kura-kura dari Meksiko. Sejak saat itulah ia menyukai binatang yang memiliki tempurung tersebut.

Tak hanya mengambil pelajaran dari kura-kura, ternyata kesukaannya terhadap hewan bertempurung ini juga dibuktikan dengan banyaknya koleksi binatang kura-kura yang dikumpulkannya sejak beberapa tahun yang lalu. Segala macam barang-barang berbentuk hewan kura-kura dikoleksinya dan disimpan di rumahnya. Bahkan hewan kura-kura berukuran besar yang diawetkan menjadi penyambut tamu yang datang ke rumah Giwo. Asbak rokok, dan berbagai macam hiasan lainnya juga banyak yang berbentuk kura-kura. Selain itu, Giwo juga memelihara hewan kura-kura yang masih hidup di kolam yang berada di belakang rumahnya. Hingga saat ini, ratusan koleksi berbagai macam barang berbentuk kura-kura telah dikumpulkannya. Hal yang cukup mengejutkan adalah rencananya yang akan membuat sebuah museum kura-kura untuk menampung berbagai macam benda berbentuk kura-kura miliknya. Namun, rencana tersebut baru hanya angan-angan semata yang masih belum dapat direalisasikannya dalam waktu dekat. Fajar

Side Bar 2

Giwo’, Panggilan Sayang dari Ayahanda

Memang banyak orang yang bertanya kenapa wanita yang memiliki nama asli Sri Wuryaningsih ini kerap dipanggil Giwo dalam kehidupannya sehari-hari. Ada cerita menarik di balik nama panggilannya tersebut. Orang pertama yang memanggilnya dengan panggilan Giwo adalah ayahnya sendiri. Sang ayah, Wirjatmo pertama kali memanggil anak keduanya itu dengan nama Giwo ketika masih kanak-kanak. “Dulu Bapak yang suka manggil dengan nama itu,” aku Giwo.

Awalnya, sang ayah memanggil dengan nama panggilan Wu atau Wo, yang berasal dari Wuryaningsih dan memiliki arti sebagai nama kesayangan gadis jawa. Lama kelamaan nama itu kemudian berubah menjadi Giwo dan menjadi panggilan sayang dari sang ayah dan seluruh anggota keluarga. Lucunya, panggilan tersebut kemudian berlanjut setelah Giwo memasuki masa-masa sekolah. “Teman-teman sekolah saya juga ikut-ikutan memanggil saya Giwo,” kenang Giwo. Bahkan setelah ia menjadi seorang model pun, tetap saja dipanggil dengan nama Giwo. Tak hanya itu saja, Giwo juga ternyata diambil dari nama istri Gatotkaca, yakni Pergiwo Pergiwati. Ia pun berharap dapat mencontoh sifat baik istri Gatotkaca tersebut dengan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

Alhasil, semua orang lebih mengenal sosok wanita tangguh ini dengan nama Giwo, ketimbang nama asli yang sebenarnya. Dengan namanya itu pula, Giwo mendapatkan banyak sekali kesempatan dalam berbagai organisasi dan mampu memperoleh jabatan sebagai Ketua KPAI dengan menggunakan nama Giwo. Entah karena adanya hoki atau keberuntungan dari nama Giwo tersebut atau bukan, tapi yang pasti masyarakat dan orang-orang di sekitarnya kini lebih mengenal wanita ini sebagai Giwo, sebuah nama dari sosok wanita yang berusaha untuk melindungi anak-anak dari segala macam bentuk tindakan kekerasan dan perselisihan orang tua. Fajar

Side Bar 3

Tidak Ingin Mencalonkan Kembali Sebagai Ketua KPAI

Tanggal 20 Juni 2007 lalu, Giwo tidak lagi mencalonkan diri sebagai ketua KPAI. Kurun waktu selama tiga tahun telah ia jalani di organisasi tersebut. Kini, sudah tiba bagi dirinya untuk mengalihkan jabatannya kepada orang lain yang nantinya akan terpilih. Sebenarnya, Giwo bisa saja mencalonkan kembali untuk menjadi ketua KPAI. Namun, ia memutuskan untuk tidak mengambil kesempatan tersebut. “Saya sudah cukup menjadi ketua KPAI,” tegas Giwo. Rencananya, setelah keluar dari KPAI ia akan lebih banyak aktif sebagai pemerhati anak-anak. Giwo juga akan selalu mengawasi kinerja KPAI dari luar, agar tidak melenceng dari kebijakan-kebijakan yang telah ditanamkan dahulu. “Yang penting, saya sudah meletakkan pondasi untuk diteruskan oleh yang lain,” ungkap penengah dalam kasus Tommy-Tata ini.

Keputusan Giwo untuk tak lagi menjabat sebagai ketua KPAI memang disesalkan oleh banyak pihak. Salah satunya adalah anak-anak yang sempat dibantu oleh Giwo. “Ibu kenapa nggak mencalonkan lagi,” ujar Giwo sembari menirukan omongan anak-anak tersebut. Mendengar ungkapan kehilangan dari anak-anak itu, Giwo memang merasakan kesedihan yang amat dalam. Meski begitu, itu adalah risiko dari keputusan yang telah ia ambil.

Setelah keluar dari KPAI, Giwo juga berencana akan lebih banyak aktif di berbagai aktivitas sosial. Termasuk salah satunya adalah mendirikan sekolah untuk anak-anak terlantar. “Sekolah ini bebas biaya dan bernuansa islami,” aku Giwo tanpa merinci biaya yang telah dikeluarkannya. Sekolah yang berdiri di daerah Purwakarta ini sebenarnya sudah dibangun berbagai fasilitas, seperti gedung dan masjid. Selain untuk sosial, Giwo juga memiliki target untuk menyelesaikan pendidikan S2-nya yang kini hanya menyisakan tesis saja. Target untuk keluarga juga tidak ia lupakan, yakni dengan banyak meluangkan waktu bersama keluarga serta melihat keempat anaknya tumbuh dan meraih kesuksesan. Fajar

Biodata

Nama : Ir. Dra. Sri Wuryaningsih (Giwo Rubianti Wiyogo)

Tempat/tanggal lahir : Bandung, 8 Mei 1962

Agama : Islam

Suami : Ir. Rubianto Wiyogo

Anak :

Ato Wurianto (22)

Agi Wibianto (19)

Adito Wirbianto (10)

Ardi Amandianto (8)

Pendidikan :

Sarjana Pendidikan FPTK IKIP Jakarta tahun 1985

Arsitektur Lansekap Universitas Trisakti tahun 1989

Pasca Sarjana UNJ program S2 jurusan Manajemen Pendidikan

Pengalaman Organisasi:

  1. Ketua Dewan Pimpinan kongres Wanita Indonesia (KOWANI) periode 2004-2009

  2. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2004-2007

  3. Ketua Pelaksana Harian DPP ISIKKI-IHEA (Ikatan Sarjana Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia) 1995-sekarang

  4. Ketua DPD ISIKKI-IHEA DKI Jakarta 1995-sekarang

  5. Ketua Majelis Ta’lim Bumi Sakinnah 1995-sekarang

  6. Ketua Umum Gerakan Wanita Sejahtera 2000-sekarang

  7. Ketua ISWI (Ikatan Sarjana Wanita Indonesia)

  8. Dewan Penasehat Koperasi Wanita Indonesia (KOPWANI) 1999-sekarang

  9. ketua Bidang Ekonomi, Koperasi dan Ketenagakerjaan DPP KOWANI 1999-2004

  10. Bendahara Umum DPP IWAPI 1992-2002

  11. Ketua IWAPI DPD DKI Jakarta 1994-1997

Karir :

Presdir dan Komisaris PT Bumisatu Group; PT. Wisma Bumisatu, PT. Bumisatu Bali, PT. Grya Agung Mandiri Sentosa, PT. Masagi Mandiri, PT. Bumisatu Indah, PT. Waringin Multicipta

Penghargaan :

  • Gelar Putri Ayu tahun 1981

  • The Leader Achieves Development 1995

  • Bintang Pembangunan Wanita Karier, 30 Juni 1995

  • Bintang Citra Wanita Penerus Kartini, 29 Maret 1996

  • Pengusaha Wanita Teladan IWAPI 1997

  • International Development Best Economic Executive Award 1997-1998

  • Wanita Berbusana rapi dan Serasi 1997

  • ASEAN Development Citra Award 2003-2004

5 comments:

Syarif said...

Dear Mas Fajar yang baik,

Mohon dibantu alamat email atau kontak mobile Ibu Giwo. Saya sedang menyusun buku (insya Allah terbit Feb 2011) tentang pendidikan seks yang benar untuk remaja. Buku ini sangat penting untuk perlindungan remaja dari kekerasan seksual.
Cover buku dapat digoogling dengan keyword pendidikan seks.
Terima kasih ya Mas Fajar.
Syarif Niskala
owner pendidikanseks.info
0813.9506.7878

Sholihul Hadi said...

saya mohon di bantu kekerasan anak yang terjdi di pati yang dilakukan oknum POlisi An. Bambang permadi kepada anak saya Hilda fitria ayu desmayanti yang di culik oknum polisi tersebut semenjak 11 september 2011 , mohon dihubingi polres pati

Sholihul Hadi said...

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)
adalah Lembaga Independen yang
kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara yang dibentuk berdasarkan amanat Keppres
77/2003 dan pasal 74 UU No. 23 Tahun 2002 dalam rangka untuk meningkatkan efektivitas
penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia. Lembaga ini bersifat independen, tidak boleh
dipengaruhi oleh siapa dan darimana serta kepentingan apapun, kecuali satu yaitu
“ Demi Kepentingan Terbaik bagi Anak ”
seperti diamanatkan oleh CRC (KHA) 1989.
Visi
dari
KPAI
adalah m
eningkatnya efektifitas penyelenggaraan perlindungan anak demi
terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera

Sholihul Hadi said...

saya mohon di bantu kekerasan anak yang terjdi di pati yang dilakukan oknum POlisi An. Bambang permadi kepada anak saya Hilda fitria ayu desmayanti yang di culik oknum polisi tersebut semenjak 11 september 2011 , mohon dihubingi polres pati

Rahmanindya Defiyandini said...

Mudah mudah saya bisa jadi seksolog sukses seperti dokter boyke! Idola saya dari kecil! Kita sama sama mulai dari RS Abdoel Moeloek ya, Dok! Hehe