Thursday, March 25, 2010

Dita Indah Sari, Aktivis Buruh

Gigih Memperjuangkan Hak-Hak Buruh, Kini Diprediksi Sebagai Calon Pemimpin Masa Depan

Sempat dijebloskan ke dalam bui, tak membuat dirinya jera dalam memperjuangkan hak-hak wong cilik, terutama kaum buruh. Sebaliknya, ia justru tambah getol menyuarakan keinginan kaum buruh dan masyarakat miskin lainnya. Dita juga ingin mematahkan ketidakadilan yang kerap terjadi di tanah air. Lalu, bagaimana perjalanan hidup dan karir wanita yang sempat disebut sebagai tokoh komunis ini?

Wanita bernama lengkap Dita Indah Sari ini terlahir dari pasangan (Alm.) Adjidar Ascha dan (Almh.) Magdalena Willy Frederika Fernandus. Dita lahir di kota Medan pada 30 Desember 1972. Ia merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Ternyata jiwa aktivis yang dimiliki Dita berasal dari sang ayah. Ayahnya merupakan seorang aktivis dan menjadi anggota DPRD Dati II Medan dari partai Golkar untuk masa periode 1974-1978. Sang ayah juga berprofesi sebagai seorang pegawai negeri sipil di salah satu BUMN di kota Medan sekaligus aktif di keorganisasian partai berlogo pohon beringin tersebut.

Dita bersekolah di SD dan SMP Harapan, Medan. Setelah menamatkan SMP, kedua orang tuanya pindah ke Jakarta. Tak pelak, Dita pun harus melanjutkan pendidikannya di ibukota. Ia bersekolah di SMA PSKD I, Jakarta. Setamatnya SMA, Dita lantas melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1991. Ketertarikannya di bidang hukum, membuatnya memutuskan untuk mengambil jurusan hukum di kampus tersebut. Selama berkuliah itulah, ia berkenalan dengan dunia organisasi kemahasiswaan. Dari kampus pulalah, Dita menemukan jiwa aktivisnya dengan bergaul bersama aktivis kampus lainnya.

Sekitar tahun 1992, Dita tergabung dalam sebuah organisasi bernama Forum Belajar Bebas di lingkungan kampus. Di dalam komunitas tersebut, Dita banyak mengenal berbagai pergerakan dari mahasiswa lainnya. “Di dalam kelompok itu, kami melakukan kajian terhadap sejarah Indonesia dan masalah demokrasi di Indonesia,” kenang wanita yang memiliki hobi menyanyi ini.

Dita kemudian terjun langsung di lapangan. “Saya bergaul dengan banyak buruh dan melihat langsung kondisi mereka sebenarnya,” tutur Dita. Dengan melihat langsung itulah, ia dapat mengetahui dengan pasti bagaimana permasalahan para buruh sesungguhnya. Bulan Oktober tahun 1994, Dita kemudian mendirikan Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) untuk mengakomodir keinginan buruh seluruh daerah di tanah air. Kala itu, Dita diangkat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Beberapa bulan kemudian tepatnya pada Februari 1995, Dita diangkat menjadi Ketua Umum PPBI. PPBI adalah satu-satunya organisasi buruh yang pada masa itu melakukan demonstrasi menuntut kenaikan upah, penghidupan yang layak bagi kaum buruh dan penggulingan Soeharto.

Masuk Penjara. Oleh karena berbagai aksi yang kerap dilancarkan Dita bersama organisasi yang dipimpinnya, ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Dita dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada tahun 1997. Ia sempat dipenjara di LP Wanita Malang dan LP Wanita Tangerang pada periode tahun 1997-1998. Dita kemudian dibebaskan setelah mendapat amnesti dari Presiden Habibie. Meski sempat dijebloskan dalam penjara, semangat perjuangan Dita tak lantas berhenti begitu saja. Sebaliknya, ia justru semakin gencar memperjuangkan hak-hak wong cilik, terutama kaum buruh. Bahkan pada tahun 1999, ia kembali mendirikan sebuah organisasi yang juga memperjuangkan hak kaum buruh. Organisasi tersebut diberi nama Front Nasional Perjuangan Buruh Nasional Indonesia, yang merupakan penggabungan antara PPBI dengan serikat-serikat buruh lokal seperti PPBS Surabaya, dan SBI Bandung. Dita terpilih sebagai ketuanya.

Berkat semangatnya dalam memperjuangkan hak-hak kaum buruh, Dita sempat menerima berbagai penghargaan dari beberapa institusi. Salah satunya yang paling berkesan adalah penghargaan Ramon Magsaysay Award pada tahun 2001. Dita juga dikenal sebagai salah satu perempuan pejuang hak asasi manusia. Tak heran, ia mendapatkan penghargaan tersebut. Dita juga sempat mendapatkan penghargaan Reebok Human Rights Award pada Februari 2002. Namun ia menolak menerima penghargaan tersebut karena ia beranggapan bahwa perusahaan sepatu tersebut tidak berpihak kepada kepentingan buruh. Saat ini Dita juga tercatat sebagai salah seorang pendiri sebuah lembaga penelitian, yaitu Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), serta Senjata Kartini sebuah LSM yang bergerak di bidang perempuan.

Menjelang Pemilu 2004 lalu, Dita lantas mendirikan Partai Persatuan Oposisi Rakyat (POPOR). Ia dipercaya untuk memimpin partai yang merupakan gabungan dari berbagai organisasi sektoral tersebut. Sayangnya, POPOR tidak memenuhi verifikasi Departeman Kehakiman HAM untuk ikut dalam Pemilu. Hal itu tidak menghalangi langkah Dita di bidang politik. Pada bulan Maret 2005, ia terpilih sebagai Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Pemimpin Masa Depan. Kini dalam rangka menyambut Pemilu tahun 2009 nanti, Dita mendirikan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas). Awal tahun ini, Dita bersama empat tokoh lainnya diajukan sebagai calon presiden alternatif yang diajukan oleh Papernas. “Papernas ini partai baru, kongresnya saja baru diadakan awal tahun 2007,” ungkap Dita. Diakuinya Papernas merupakan partai politik bersama dan didirikan oleh berbagai kelompok tidak hanya PRD saja. Salah satu hasil dari hasil kongresnya adalah dengan mengajukan beberapa nama calon presiden alternatif pada Pemilu 2009 mendatang. Mereka adalah Kwik Kian Gie, Sukardi Rinakit, Rizal Ramli, Hasyim Wahid dan tentu saja Dita sendiri. Menurut Dita, kelima calon presiden alternatif tersebut dipilih berdasarkan kriteria dari para pengurus partai yang telah dibuat sebelumnya.

Awal keterlibatan Dita dalam setiap pergerakan kaum muda, memang hanya berdasarkan atas rasa keingintahuan dari dalam dirinya yang begitu besar. Namun, lama kelamaan kondisi di lingkungan sekitar yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, membuat dirinya berbuat lebih banyak bagi kepentingan umum. Terlebih lagi setelah ia mengetahui banyaknya ketidakadilan yang menimpa para buruh di tanah air. Salah satu yang disorotinya adalah perlakuan perusahaan terhadap para tenaga kerjanya. Ditambah lagi dengan prinsip hidup yang selalu dipegang teguh Dita. “Sebaik-baiknya hidup adalah berguna bagi orang lain,” ungkap Dita sembari berfilosofi. Hal itulah yang menjadi motivasi Dita untuk membantu para buruh mendapatkan hak-haknya. Untuk mengakomodir keinginan masyarakat wong cilik terutama kaum buruh, maka Dita bersama para aktivis lainnya pun mendirikan partai politik. “Partai politik bisa mengartikulasikan kepentingan banyak sektor tidak hanya buruh saja,” tuturnya.

Kini, di sela-sela kesibukannya sebagai pengurus Papernas dan PRD, Dita juga berperan sebagai seorang ibu dari Tito Karno Adisuryo (2) hasil pernikahannya dengan Joko Purwanto (31), sesama aktivis PRD sekaligus seorang pegawai di sebuah Lembaga Dokumentasi. “Dulu ketemu dengan suami ya di ruang rapat PRD,” kenang Dita sembari tertawa lebar. Untuk kehidupan pribadinya, Dita memang tidak memiliki karir di luar aktivitasnya sebagai aktivis. Kendati demikian, terkadang ia juga menerima pekerjaan sebagai penulis, dan pembicara di berbagai seminar. Dari berbagai pekerjaan itulah, ia mendapatkan penghasilan, meski diakui Dita jumlahnya tidak seberapa. Selain itu, ia juga ternyata tengah merintis usaha kecil yang memproduksi berbagai kerajinan tangan.

Kini Dita bersama suami dan anak tunggalnya tinggal bersama di sebuah rumah sederhana yang dikontraknya sejak beberapa tahun lalu di bilangan Kalibata. Awalnya, Dita tinggal di daerah Ciputat bersama sanak saudaranya. Namun, tepat setelah menikah, ia lantas pindah mengontrak rumah di daerah Kalibata bersama sang suami. Sedangkan rumahnya di Ciputat digunakan oleh beberapa sanak saudaranya. “Ya Alhamdulillah, rezeki saya selalu dilancarkan oleh Tuhan,” ujarnya.

Selama perjalanan hidup dan karirnya, Dita mengaku bahwa ia tak pernah mengalami kejadian yang disebut dengan mukjizat. Meski begitu, menurut Dita, perjalanan hidupnya memang sangat tidak terduga. “Hidup saya sendiri nggak terduga,” ujar Dita. Hal tidak terduga itu misalnya saat ia mendekam dalam penjara ibunya meninggal karena shock dengan keadaan yang menimpa Dita.

Tentang perjuannya, Dita bertekat bila nantinya ia mendapatkan kursi jabatan di pemerintahan, maka ia berharap dapat tetap memperjuangkan keinginan wong cilik. “Obsesi saya hanya ingin bisa berguna untuk masyarakat banyak melalui jalur politik yang saya tempuh,” harap Dita. Meski ia tidak terlalu berambisi menjadi seorang presiden, Dita tetap saja berusaha untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat wong cilik. Ia ingin agar keadilan dapat terwujud di Indonesia. Fajar

Side Bar 1…

Ibundanya Meninggal Saat Dita di Penjara karena Dituduh Komunis

Dalam menjalankan aksinya, Dita memang kerap mendapatkan hambatan. Salah satunya adalah dituding sebagai penganut dan penyebar aliran komunisme melalui Partai Rakyat Demokratik yang didirikannya bersama para aktivis lainnya. Meski dituduh sebagai penganut sekaligus penyebar aliran komunis, ia tetap bertahan untuk menjadi seorang aktivis yang selalu memperjuangkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat. “Banyak ketidakadilan yang terjadi,” tuturnya.

Tuduhan itulah yang akhirnya menghantarkan dirinya ke dalam bui. “Baru dua bulan saya dipenjara, ibu saya meninggal,” kenang pengidola bung Karno ini. Tak hanya itu, sekeluarnya Dita dari penjara ternyata beberapa saat kemudian sang ayah menyusul dijemput maut karena sakit. “Ayah saya darah rendah, ibu saya darah tinggi,” aku Dita. Karena penyakit darah tingginya, sang ibunda memang sangat shock saat melihat kejadian yang menimpa anak bungsunya tersebut. Hal itulah yang menjadi salah satu pukulan pahit dalam perjalanan hidup Dita. Dita memang dikenal sangat dekat dengan ibunya.

Saya sempat merasa bersalah,” ungkap Dita saat mengingat kepergian ibundanya tersebut. “Kondisi saat itulah yang membuat ibu saya selalu tegang,” lanjutnya. ‘Nelongso’, kata itulah yang ia sebut untuk menggambarkan kondisi hidupnya ketika ditinggal sang ibu. Kendati demikian, kejadian itu dijadikan sebagai salah satu pelajaran dalam hidupnya yang membuat ia terus berusaha untuk memperjuangkan kaum miskin di tanah air. Fajar



1 comment:

Hayen Annazaqla said...

Kangen sma Mbak dita, Mas wiwik, dll salam anak Frabam palembang