Thursday, March 25, 2010

H. Puspo Wardoyo, Pemilik Restoran Wong Solo (penyelanggara Poligami Award)

Berasal dari Keluarga Penganut Poligami

Dalam keluarga besarnya, ternyata tidak hanya Puspo Wardoyo saja yang melakukan poligami. Selain sang ayah, kakak, dan adik Puspo juga ada yang melakukan poligami. Mengapa mereka memilih untuk hidup berpoligami?

Sebuah papan nama berwarna putih dan kuning terpampang di pinggir jalan Panjang, Kedoya, Jakarta Barat. Tidak jauh dari posisi papan nama tersebut, tampak sebuah lahan cukup luas yang dijadikan sebagai lahan parkir dari sebuah restoran. Tempat makan itulah yang merupakan usaha Puspo Wardoyo. Restoran ayam bakar Wong Solo telah berdiri di daerah Kedoya sejak setahun silam.

Sukses membawa restoran Wong Solo memang mengangkat nama Puspo Wardoyo sebagai seorang pengusaha yang tangguh. Puluhan cabang telah ia dirikan di berbagai daerah. Tidak hanya cabang Wong Solo yang jumlahnya lebih dari satu, isteri Puspo pun lebih dari satu orang. Status suami yang beristri lebih dari satu itulah yang kini membuat Puspo dikenal sebagai Bapak Poligami Indonesia.

Sebagai seorang pengusaha yang sukses, Puspo Wardoyo memang telah menjadi seorang public figur. Terlebih lagi, ia merupakan sosok orang yang paling disorot media beberapa waktu terakhir ini karena isu poligami yang ia kedepankan setiap kali tampil di depan publik. Isu poligami sendiri memang menjadi bahan omongan di masyarakat, setelah tokoh agama sekaligus penceramah kenamaan, Aa Gym yang memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Meski tidak memiliki hubungan keluarga dengan Aa Gym, isu poligami tentu saja tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan sosok Puspo Wardoyo.

Pemilik lebih dari 30 outlet Wong Solo ini juga dikenal sebagai penganut poligami yang memiliki empat istri. Reaksi pro dan kontra pun bermunculan di masyarakat pasca dipublikasikannya Puspo beserta keempat istrinya tersebut. Poligami pun semakin menjadi isu terhangat setelah pemilik Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Aa Gym juga melakukan hal yang sama dengan Puspo. Tak pelak, Puspo pun menjadi sosok orang yang menjadi sorotan masyarakat beberapa waktu terakhir ini.

Ingin Meniru Arjuna. “Ayah saya ingin anak-anaknya menjadi pegawai negeri,” ujar Puspo. Meskipun begitu, cita-cita dari Puspo sendiri bukanlah menjadi seorang pegawai negeri. Ia justru ingin menjadi seorang Arjuna, salah satu tokoh pewayangan. “Ketika masih kecil saya ingin menjadi pria seperti Arjuna, tokoh pewayangan yang menang dalam setiap pertempuran dan beristri lebih dari satu,” tutur anak ketiga dari 8 bersaudara itu. Nyatanya berkata lain, Puspo justru sempat menjadi guru kesenian sebuah Sekolah Menengah Umum (SMU) Perguruan Wahidin Bagan Siapiapi.

Setelah sempat diberikan wejangan dari sang ayah, Puspo meninggalkan karirnya sebagai pegawai negeri dan memutuskan untuk mendirikan warung lesehan kaki lima yang menyajikan menu ayam goreng sejak tahun 1986 di kota kelahirannya Surakarta. Dengan modal Rp 700.000 dari 3 ekor sehari bisa meningkat, kemudian setelah dua tahun menjadi 7 ekor, dan 3 tahun kemudian bertambah menjadi 2 menu, begitu seterusnya. Bahkan Puspo pun mampu melebarkan sayapnya ke seberang pulau, tepatnya di kota Medan.

Akan tetapi, sebelum ia mampu menancapkan Wong Solo di kota Medan tersebut, terlebih dahulu, Puspo mengumpulkan modal dengan kembali menekuni profesi sebagai guru di Perguruan Wahidin Bagan Siapiapi, Riau. “Kembali menjadi guru, saya terpaksa lakukan untuk mengumpulkan modal,” tutur pengusaha yang memiliki 1.200 karyawan ini. Di tanah Riau ini, Puspo menyunting Rini Purwani, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, rekan seprofesinya mengajar. Dengan modal yang telah ia kumpulkan tersebut, dan keinginan yang tinggi, ia bersama istrinya dan seorang anaknya yang masih kecil hijrah ke Medan.

Dibantu Istri Mencari Calon Istri. Sejak merintis Wong Solo di daerah penghasil Bika Ambon tersebut, Puspo meraih kesuksesan dengan menu ayam bakar. Selang beberapa waktu kemudian, Puspo meraih sukses di tanah rantau itu. Ayam bakarnya laris manis dan banyak digemari masyarakat Medan. Pada 1993, ia membuka cabang pertama di Medan dan kemudian membuka restoran ketiga di Medan. Sejak 1997, Wong Solo mulai ekspansi ke luar Medan dan terus berkembang dan membuka cabangnya di berbagai kota di pelosok tanah air.

Saat sukses mampu diraihnya bersama label Wong Solo, Puspo pun merasa tidak cukup dengan hanya memiliki istri satu orang saja. “Poligami itu adalah hak dan kebutuhan perempuan,” ujar Bapak dari 11 anak ini. Tak heran, ia pun memutuskan untuk menikah kembali dengan perempuan yang tak lain adalah salah satu karyawan Wong Solo. Tahun 1996, Puspo pun memutuskan untuk menikah dengan istri keduanya, Supiyanti. “Isteri kedua saya adalah mantan karyawan saya sendiri,” aku Puspo.

Tak hanya sampai di situ saja, setahun kemudian Puspo kemudian menikah kembali dengan seorang perempuan bernama Anissa Nasution yang juga merupakan mantan karyawan Wong Solo. “Istri ketiga saya seorang sarjana, juga mantan karyawan Wong Solo,” ujar franchisor Wong Solo ini. “Menikahinya merupakan penghargaan kepadanya sebagai karyawan yang baik,” lanjutnya.

Iklankan Istri Keempat. Uniknya, dalam mencari calon isteri keempat, Puspo mengaku sempat memasang iklan di sebuah surat kabar yang terbit di Semarang. “Untuk mendapatkan istri keempat, saya pasang iklan di sebuah surat kabar yang terbit di Semarang untuk mencari seorang sekretaris pribadi buat saya,” aku Puspo. Alhasil, sekitar 400 pelamar berdatangan ke rumah makan Wong Solo di Semarang.

Bukan tanpa syarat, Puspo justru memiliki kriteria sendiri dalam memilih calon istri-istrinya. Baginya, perempuan yang cocok untuk menjadi pendamping pria yang akan menginjak usia 50 ini haruslah memiliki akhlak yang baik. “Harus sarjana, berjilbab, akhlaknya baik,” tutur Puspo menyebutkan satu persatu kriteria untuk menjadi pendamping hidupnya tersebut. Bahkan untuk memilih istri keempat, Intan Ratih, ia bersama istri keduanyalah yang memilih calon istri keempat yang nantinya akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Puspo Wardoyo.

Awalnya calon istri keempat tersebut dijadikan sebagai sekretaris pribadi Puspo. Puspo beralasan dengan menjadikan calon istri keempat tersebut sebagai sekretaris pribadi terlebih dahulu, Puspo akan bisa lebih dekat mengenal perempuan tersebut. Akhirnya pada tahun 1999, Puspo menikahi Intan Ratih dan menjadikannya sebagai istri keempat.

Keluarga Penganut Poligami. Di dalam keluarga besarnya, ternyata tidak hanya Puspo saja yang memiliki istri lebih dari satu. “Adik dan kakak saya juga poligami,” aku Puspo. Selain adik dan kakaknya, sang ayah, Wardoyo juga ternyata memiliki istri lebih dari satu. “Ayah saya punya istri dua,” ujar Puspo. “Kalau adik dan kakak saya ada yang 2, 3 dan 4 istri,” lanjutnya. Meski sebagian besar anggota keluarganya juga menerapkan poligami, Puspo tidak mau disebut sebagai penganut poligami yang diturunkan dari sang ayah. “Sebenarnya semua laki-laki itu memiliki bakat untuk berpoligami,” kilah pria yang berniat untuk menambah jumlah anaknya ini.

Keempat istri Puspo memang tidak tinggal di dalam satu rumah sekaligus. Masing-masing istrinya tinggal terpisah. Istri pertama dan kedua menetap di Medan. Sedangkan istri ketiganya tinggal di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Istri ‘bontot’nya juga tinggal di daerah tangerang, tepatnya di Puri Bintaro. Para istri ini mendapat limpahan materi dari sang suami yang sangat berkecukupan. Sebagai seorang pengusaha yang cukup sukses, pendapatan Puspo memang terbilang cukup besar untuk menghidupi keempat isteri dan kesebelas anaknya. Keempat istrinya seperti yang diakui Puspo, tidak terlibat dalam bisnis restoran. Mereka hanya sekadar mengawasi standar bumbu masakan. Fajar

Side bar 1

Supiyanti, Istri Kedua Puspo Wardoyo-Penerima Poligami Award

Sejak Awal Menerima Dipersunting Sebagai Istri Kedua

Sebagai salah seorang istri Puspo, Supiyanti memang cukup tegar dalam menghadapi kenyataan bahwa sang suami memiliki istri lebih dari satu. “Awalnya, saya tidak menerima poligami,” kenang Supiyanti. Diakuinya pula, ia sempat menangis selama beberapa lama sebelum akhirnya bisa menerima keputusan sang suami untuk berpoligami. Supiyanti beralasan bahwa ia memang sejak awal menerima disunting sebagai istri kedua dan sudah seharusnya menerima keadaan sang suami.

Supiyanti sendiri dinikahi oleh Puspo tahun 1996. ketika itu Supiyanti baru berusia 26 tahun. Awalnya, pasangan tersebut menikah tanpa sepengetahuan istri pertama. Rini, istri pertama Puspo baru mengetahui bahwa suaminya tersebut telah menikah lagi setelah enam bulan kemudian. Puspo mengaku bahwa istri pertamanya itu sempat menangis tatkala mengetahui bahwa Puspo telah menikah lagi dengan perempuan lain. Meski begitu, Rini akhirnya berlapang dada dan menerima keputusan suami yang sangat dicintainya tersebut. Bahkan, Rini menemani suami dan madunya itu mencatatkan perkawinannya ke kantor urusan agama (KUA).

Ketika Puspo menjalankan poligami dengan keempat istrinya, memang bukanlah tanpa halangan. Saat Puspo mencoba melamar calon istri ketiganya, Anissa Nasution, ia malah sempat ditolak mentah-mentah oleh calon mertua. Kala itu, orang tua Anissa tidak rela anak perempuannya tersebut dijadikan istri ketiga. Puspo pun melapor ke Rini mengenai hal tersebut. Tak dinyana, Rini justru mendampinginya untuk melamar Anissa kembali. Walhasil, lamaran itu diterima. Berkat kegigihan dan kesungguhan Puspo, orang tua Anissa akhirnya luluh dengan lamaran Puspo. Meski memiliki empat istri, Puspo mengaku bahwa ia telah berusaha untuk selalu berbuat adil. “Mas Puspo sudah berbuat adil,” ujar Supiyanti. Ia mengaku bahwa dari segi materi dan perhatian, Puspo memang telah berbuat adil. “Masing-masing istri dan keluarganya dikasih satu rumah dan satu mobil,” aku wanita berjilbab ini.

Tidak hanya adil dalam hal materi, Supiyanti juga mengaku bahwa Puspo adil dalam pembagian waktu atau jadwal kunjungan. Adapun menurut Supiyanti jadwal kunjungan untuk keempat istri Puspo telah diatur sedemikian rupa sehingga masing-masing istri dan anak-anaknya mendapatkan perhatian dan waktu yang sama. Untuk pembagian waktu terhadap keempat istrinya, Puspo memiliki jadwal yang diatur dengan adil. Setiap orang istri memiliki jatah seminggu. Tak pelak, rutinitas Jakarta-Medan sudah menjadi menunya tiap bulan. Fajar

Sidebar 2…

Salah Seorang Istri Puspo Mengundurkan Diri

Meski Puspo Wardoyo dan keempat istrinya mengaku kalau mereka bisa hidup secara tentram dan damai, namun tak jarang ada saja rintangan yang harus mereka hadapi. Sebut saja sorotan negatif dari berbagai pihak yang tidak setuju dengan prinsip poligami yang dijalankan Puspo. Dr. Siti Musdah Mulia, Sekjen ICRP (Indonesia Conference on Religion and Peace) misalnya, mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW selama 28 tahun melakukan monogami. Tiga tahun setelah istri pertamanya, Khadijah meninggal, ia baru menikahi Saudah-seorang janda tua yang berumur 65 tahun. Satu-satunya istri Nabi yang dinikahi masih muda dan perawan adalah istri ketiganya yaitu Siti Aisyah. Sedangkan istri keempatnya yang bernama Hafsah juga seorang janda tua. “Bandingkan dengan Puspo yang menikahi empat orang istri yang masih perawan, muda, dan cantik,” ujar Musdah.

Selain sorotan miring, Puspo juga harus menghadapi rintangan manakala salah satu istrinya ada yang menggugat cerai. Salah satu istri Puspo yang menggugat cerai itu mengaku kalau dirinya tidak tahan dengan poligami yang dijalani oleh Puspo. Namun Puspo menghadapi semua itu dengan tenang. “Dia cuma mengundurkan diri saja,” ujar Puspo tanpa mau menyebutkan nama sang istri yang menggugat cerai dirinya.

Puspo pun bercerita salah satu pengalamannya dalam menjalani kehidupan poligami. Kala itu, Puspo tengah berada di kediaman istri kedua, Supiyanti. Hari itu memang menjadi jadwal bagi Puspo untuk berada di kediaman Supiyanti. Awalnya Puspo ingin memadu kasih dengan sang istri, namun Puspo harus gigit jari tatkala keadaan Supiyanti sedang berada dalam kondisi berhalangan (menstruasi, red). Hal tersebut memang cukup mengecewakan Puspo. Terlebih lagi, rasa cinta dan rindu terhadap Supiyanti sudah dipendamnya cukup lama. “Dia (Supiyanti, red) malah menyuruh saya untuk pergi ke rumah istri pertama saya,” kenang Puspo. “Itu sempat membuat saya terharu,” tambahnya.

Diusir Sang Anak. Uniknya, ketika Puspo mendatangi kediaman Rini, istri pertamanya, sang anak justru mempertanyakan alasan Puspo datang ke rumahnya tersebut. “Anak saya marah dan mengusir saya karena waktu itu kan seharusnya jadwal untuk istri kedua saya,” kenang Puspo. Kala itu, memang sudah menjadi jadwal Puspo mengunjungi istri kedua, sehingga sang anak pun protes dengan berubahnya jadwal Puspo secara tiba-tiba. Meskipun begitu, akhirnya sang anak dapat mengerti dengan keadaan sang ayah dan mampu menerima kembali kedatangan sang ayah. Fajar

Side Bar 3:

Puspo Rela Jika Anak Perempuannya Dipoligami

Dalam beberapa kesempatan acara ataupun diskusi, Puspo Wardoyo memang sangat getol menyebarluaskan poligami kepada masyarakat. “Saya ingin menyebarluaskan poligami dan mengubah poligami yang sekarang imagenya jelek,” harap Puspo ke depannya. Tak heran, Puspo seringkali tampil di depan public dengan memberikan pengalaman-pengalaman postif pada saat ia menjalani poligami.

sebagai seorang laki-laki, Puspo memang sangat setuju dengan poligami yang diusungnya. Bahkan ia merelakan jika nantinya salah satu anak perempuannya memiliki suami yang berpoligami sebagaimana Puspo sendiri. “Insya Allah, saya relakan apabila anak saya dipoligamikan,” ujar Puspo. “Laki-laki itu haruslah teruji keberhasilannya dan mampu mengajak ke jalan Allah, saya akan lebih memilih laki-laki seperti itu dibandingkan jejaka yang belum teruji,” tuturnya.

Bagi Puspo, poligami memang menjadi sebuah jalan hidup yang sempurna. “Kita kan meneladani perbuatan Rasulullah,” ujar pria yang memiliki hobi masak ini. Ia pun sangat senang menyambut kabar bahwa Aa Gym memiliki istri kedua. “Da’i kondang saja berani melakukannya, yang artinya penting dan urgent sekaligus dapat menjadi contoh teladan di Indonesia yang mayoritas orang Islam yang selama ini poligami selalu ditentang dan dinilai jelek,” tutur Puspo. Baginya melakukan poligami lebih mulia ketimbang pelacuran yang dilakukan oleh kaum perempuan. Ia juga berpendapat bahwa dengan melakukan poligami, kejenuhan yang biasanya terjadi di antara pasangan suami istri dapat terhindarkan. Fajar


6 comments:

anti poligami said...

yang merasa tidak jenuh dan terhibur ya jelas suami karena istrinya banyak, tidak adil tuh.. enak di laki2

Anonymous said...

patut di contoh bagi pria yg sudah beristri....

Jasa Pembuatan Software said...

Aku setuju banget, piligami tdk lah dilarang, yg penting sesuai syariat.

Anonymous said...

luar biasa opininya : "poligami itu hak dan kebutuhan setiap wanita"
berarti setiap lelaki harusnya berpoligami karena itu berarti menyelamatkan wanita sebanyak mungkin kepada jalan Allah, daripada jadi perawan tua atw dinikahi oleh non-muslim apalagi hingga menjadi pelacur, fenomena para janda yang mencari uang dengan cara ini bisa kita lihat dalam kehidupan sehari2
poligami adalah jalan hidup, hidup poligami !!!

anti poligami said...

Poligami adalah jalan menuju korupsi.

Muhammad Ilham said...

Si musdah bilang Hafsah janda tua? berarti musdah tidak tahu sejarah, Hafsah dan habibah memang janda tapi saat itu usia mereka baru 20 dan 24 tahun, hanya hadijah istri nabi yang dinikahi saat sudah 40 tahun, istri yang lain masih janda muda semua ( dibawah 30 tahun) kecuali Aisyah yang perawan tingting...