Thursday, March 18, 2010

Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT. Sidomuncul


Depresi Membentuknya Menjadi Seorang Dermawan

Sukses mengantarkan Sidomuncul sebagai salah satu perusahaan jamu terbesar di Indonesia, ternyata tidak membuat Irwan Hidayat lupa diri. Ia justru memiliki kepedulian sosial terhadap nasib masyarakat yang kurang mampu. Melalui perusahaan keluarga yang dibesarkannya itulah, Irwan kerap menjadi orang terdepan dalam memberikan sumbangan kepada wong cilik. Seperti apa bentuk kepedulian sosial ayah dari tiga anak ini?

Jumat (27/7) pagi, suasana di gedung kantor itu tampak wajar. Namun ketika memasuki ruangan kantor, tulisan PT Sidomuncul terlihat sangat menyolok. Dan, suasana kerja yang sangat ramah langsung terasa. Di gedung itulah, sosok pemimpin perusahaan yang patut ditiru ini berkantor. Dialah Irwan Hidayat, Presiden Direktur PT Sidomuncul yang juga generasi ketiga yang mengelolah perusahaan keluarga tersebut.

Setelah menunggu beberapa lama, sosok pria berkacamata itu tiba dan memasuki ruangan. Ia hanya mengenakan kemeja lengan panjang dan terkesan sangat sederhana. Tak ada dasi yang menghiasi lehernya. Lengan kemejanya pun sedikit digulung sehingga terlihat menggantung di pergelangan tangannya. Sosok seorang presiden direktur sekaligus pemilik perusahaan, tidak tampak dari penampilannya yang sederhana. Mungkin orang tak akan mengira kalau pria setengah baya ini adalah pucuk pimpinan dari perusahaan jamu yang memiliki omzet milyaran rupiah. Namun, faktanya dialah orang yang mampu meluncurkan berbagai strategi dalam menjual seabrek produk jamu produksi perusahaannya.

Sembari menebarkan senyum di bibirnya, Irwan kemudian mempersilahkan Realita masuk ke ruangan pribadinya. Sepintas, Irwan memang ramah kepada orang lain, tak terkecuali kepada Realita yang baru pertama kali bertemu dengan Irwan. Keriput di wajahnya sudah jelas-jelas terlihat. Rambut putih alias uban pun tampak di antara rambut hitam yang sudah mulai menipis. Meski demikian, untuk ukuran lelaki dengan usia 50 tahun, Irwan justrumemperlihatkan kondisi tubuh yang sehat. Itu sebabnya, ia masih mampu memimpin perusahaan jamu sebesar Sidomuncul. Suara Irwan langsung memecahkan keheningan dalam ruangan. Ia sangat antusias berbincang-bincang tentang perjalanan hidup dan kegiatan sosial yang kini banyak dilakoninya.

Generasi Ketiga. Irwan Hidayat merupakan salah satu generasi penerus perusahaan jamu PT Sidomuncul. Bisnis jamu Sidomuncul, pertama kali digeluti oleh neneknya pada tahun 1940-an. Sejak pertama kali didirikan, Sidomuncul merupakan usaha keluarga yang dikelolah turun-temurun. Awalnya sang nenek hanya membuat jamu di dalam ruangan yang tidak begitu besar dan dibantu oleh tiga orang pekerja. Irwan sendiri adalah generasi ketiga yang kini masih memegang pucuk pimpinan perusahaan.

Di tangannya pula, Sidomuncul berkembang pesat dari tahun ke tahun. Berbagai strategi ia terapkan dengan untuk meningkatkan penjualan produk jamunya. Salah satu strategi Irwan adalah dengan lebih memberikan perhatian pada promosi produk-produk jamu Sidomuncul. Baginya, jamu yang dipandang sebagai obat tradisional, harus mampu dipromosikan ke berbagaikalangan sehingga tidak selalu dianggap sebagai obat yang ketinggalan zaman.

Irwan Hidayat merupakan anak pertama dari lima bersaudara pasangan Yahya Hidayat (Alm) dan Desy Sulistyo (81). Irwan lahir di kota yang masih kental dengan nuansa budaya Jawa, yakni Yogyakarta pada 23 April 1947. Sebagai anak sulung, Irwan dituntut untuk menjadi panutan dan pembimbing bagi keempat adiknya. Peran Irwan semakin mendominasi dalam keluarga setelah sang ayah meninggal pada tahun 1971. Tepatnya ketika Irwan masih berumur 24 tahun. Sejak itulah, Irwan menjadi anak yang akan mewarisi bisnis keluarga sebagai produsen jamu tradisional. Bersama keempat adiknya, Irwan mengelolah Sidomuncul. “Saya selalu rukun dengan adik-adik saya,” aku Irwan.

Yogyakarta hanya menjadi kota kelahiran Irwan. Pasalnya, pada tahun 1949, pihak keluarga memutuskan untuk pindah ke Semarang dalam rangka mengembangkan bisnis jamu tradisional. Irwan lalu masuk di SD Kristen 2 Ligu, Semarang. Setamat SD, ia kemudian melanjutkan ke SMP Masehi Sidodadi dan SMA Karang Turi di kota yang sama. Setelah menyelesaikan bangku sekolah pada tahun 1965, Irwan memutuskan untuk pindah ke Jakarta. “Awalnya saya mau melanjutkan kuliah,” ujar Irwan. Ia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti. Seperti kebiasaan awal kuliah pada umumnya, setiap mahasiswa baru diharuskan untuk mengikuti masa pengenalan kampus.

Kala itu, Irwan mengaku tidak menyukai kondisi pengenalan kampus yang kerap disebut Mapram atau Ospek tersebut. Irwan langsung memutuskan untuk tidak melanjutkan niat belajarnya dan mengenyam titel sarjana. “Saya tidak suka dengan Mapram karena banyak tindakan kekerasannya,” kenang Irwan. Akhirnya, Irwan pun hanya mampu mengenyam pendidikan sampai SMA.

Sisihkan Rp 5 M Setahun. Meski pendidikannya hanya sampai tingkat SMA, Irwan tetap mampu memimpin perusahaan keluarga dan berkambang pesat hingga sekarang. Dengan segala pengalaman yang didapat dari generasi sebelumnya, Irwan berusaha mengembangkan produk jamu agar tidak dipandang sebelah mata sebagai obat tradisional saja. Setelah memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, Irwan akhirnya memutuskan untuk lebih berkonesentrasi pada bisnis keluarga tersebut.

Strategi promosi yang diterapkan Irwan memang tergolong unik. Pasalnya, Irwan selalu mengambil bintang iklan dan public figure pada momen tertentu yang terjadi di tanah air. “Saya mengambil bintang iklan Mbah Marijan, karena dia dikenal baik dan bersahaja,” ungkap Irwan. Tak hanya Mbah Marijan yang ditarik sebagai bintang iklan Sidomuncul, figur seperti Setiawan Djody, Rheinald Khasali sempat wara-wiri memperkenalkan produk-produk jamu Sidomuncul. Perlahan tapi pasti, dengan strategi promosi yang tepat, kesuksesan pun diraih oleh pria kalem ini.

Kesuksesan yang diraih Irwan bersama Sidomuncul memang tak membuat ia lupa pada nasib sebagian masyarakat Indonesia yang kurang beruntung. Berawal dari ketidaktegaan hatinya melihat orang-orang kurang beruntung tersebut, tangannya pun seringkali memberi sumbangan kepada warga yang kurang beruntung. Berbagai kegiatan amal, baik yang mengatasnamakan Sidomuncul maupun atas nama dirinya, kerap diadakan di berbagai daerah.

Bagi Irwan, tak ada batasan bagi dirinya untuk membantu masyarakat kurang mampu. Termasuk batasan agama atau pun suku. Tak heran, berbagai bantuan kerap diberikan Irwan bagi masyarakat di tempat yang terkena musibah. Alih-alih untuk promosi berbagai produk Sidomuncul, Irwan mengaku tetap melakukan kegiatan sosial semata-mata untuk membantu mereka yang memerlukan pertolongan. Setiap tahun, selalu ada saja kegiatan sosial yang dilakukan Sidomuncul. Sebagian besar kegiatan tersebut merupakan hasil dari idenya sendiri. “Kami nggak ada anggaran khusus yang digunakan untuk kegiatan sosial,” ungkap Irwan yang mengaku selalu menyumbang dengan cinta kasih ini. Meski begitu, dana akan langsung dikucurkan bila ada kegiatan sosial yang sebelumnya tidak direncanakan.

Untuk tahun 2006, Irwan telah mengeluarkan uang sumbangan sekitar Rp 5 miliar. Jumlah pengeluaran tersebut diakui Irwan digunakan untuk berbagai kegiatan sosial dan menyalurkan sumbangan bagi warga yang berhak. Salah satunya adalah untuk warga yang terkena musibah gempa beberapa waktu lalu. “Untuk gempa di Yogya saja, kita sudah mengeluarkan Rp 700 juta,” aku Irwan. Selain itu, untuk mudik gratis yang diadakan setiap tahun, Irwan harus merogoh koceknya sejumlah Rp 2 milyar.

Irwan mengaku telah mengeluarkan jumlah uang yang sangat luar biasa untuk kegiatan sosial. Meski begitu, menurutnya kegiatan sosial yang dilakukan oleh setiap orang haruslah didasari dengan keikhlasan hati. Ia juga mengaku bahwa salah satu kelemahannya adalah jumlah uang yang terbatas meski itu dikeluarkan dari dari hati yang tulus dan ikhlas. Baginya keikhlasan itulah yang sangat sulit untuk dicari.

Tersadar Karena Penyakit. Kepeduliannya terhadap sesama sebetulnya muncul karena didikan orang tua dan neneknya sebagai pendiri Sidomuncul. Meski begitu, ada satu alasan yang membuat Irwan lebih banyak peduli terhadap kemiskinan dan ketidakberdayaan. Alasan tersebut adalah pengalaman yang sempat membuat hidupnya sangat sulit untuk dijalani. “Saya pernah merasakan masa-masa sulit dalam hidup saya,” kenang Irwan yang menganggap harta itu membutakan.

Masa-masa sulit yang dimaksud adalah pada saat ia menderita berbagai penyakit. “Saya dari kecil memang sakit-sakitan,” aku Irwan. Pada saat Irwan menginjak usia 20 tahun, ia menderita penyakit tipus, sehingga harus dirawat di rumah sakit selama hampir setahun. Berat badannya turun drastis hingga 32 kg dari berat semula, 50-an kiligram. Bahkan sekitar lima bulan setelah keluar rumah sakit, Irwan kemudian kembali menderita penyakit malaria. Tiga bulan kemudian, Irwan divonis dokter menderita radang paru-paru.

Tak hanya itu. Setelah sembuh dari radang paru-paru, ia juga divonis menderita penyakit ginjal, tekanan darah tinggi dan kencing manis. “Saya akhirnya mengalami depresi,” ujarnya singkat. Namun, berkat usahanya yang keras untuk sembuh, Irwan akhirnya pulih dari berbagai penyakit yang dideritanya.

Depresi itulah yang membuatnya phobia terhadap penyakit. Setelah mengetahui bahwa ia sering sakit-sakitan, Irwan kemudian berusaha untuk sembuh. Ia banyak mengikuti kegiatan olahraga dan memutuskan untuk berhenti merokok dan minum minuman keras. Meski begitu, dari sakit itu pula, Irwan mendapatkan hikmah yakni ia tersadar untuk lebih serius menjaga kesehatan. Selain itu, Irwan juga sadar bahwa banyak orang kurang beruntung berada di sekelilingnya yang harus segera dibantu. Sejak saat itulah, Irwan getol memberikan bantuan kepada warga kurang mampu.

Tak hanya mengurusi perusahaan keluarga, Irwan juga tentu meluangkan waktu bersama keluarganya. Dalam pernikahan dengan Shinta Ekoputri Sujarwo (58), mereka telah dianugerhai tiga orang anak. Yakni Maria Reviani Hidayat (31), Mario Arnaz Hidayat (29) dan Marco Jonathan Hidayat (18). Maria dan Mario saat ini membantunya di Sidomuncul bidang keuangan dan distribusi. Kini, Irwan hanya berharap dapat kembali mengembangkan Sidomuncul menuju perusahaan yang lebih besar.

Saya percaya bahwa perusahaan akan berkembang melalui dua cara, rasional dan spiritual,” tutur Irwan. Menurutnya, dari segi rasional, ia menggunakan berbagai strategi bisnis di dalam tubuh perusahaan. Sedangkan spiritual, tentunya dengan melakukan berbagai kegiatan sosial seperti ia lakukan sekarang. Fajar

Side Bar 1….

Menularkan Semangat Pantang Menyerah Lewat Iklan

Sebagai cucu kesayangan dari Ny. Rachmat Sulistio, Irwan kerap mendapatkan perhatian lebih dari pendiri Sidomuncul tersebut. Bahkan untuk logo Sidomuncul, diambil dari foto neneknya bersama Irwan ketika masih kecil. Tak heran bila Irwan mendapatkan tanggung jawab untuk memimpin Sidomuncul sejak tahun 1972.

Tak hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang berlebih dari Sang Nenek, Irwan juga mendapatkan banyak pelajaran berharga. Salah satunya yang selalu diingat dalam menjalankan perusahaan, adalah jangan mudah putus asa dalam menjalani hidup. “Saya selalu ingat kata-kata nenek yang mengajarkan kepada kami untuk pantang putus asa,” ujar Irwan tegas.

Irwan mengaku bahwa dengan memegang prinsip yang diberikan neneknya, ia mampu mengembangkan Sidomuncul hingga menjadi salah satu perusahaan jamu terbesar di tanah air. Prinsip tidak mudah putus asa ini juga digunakan Irwan untuk tema iklan yang beberapa waktu lalu diluncurkan oleh Sidomuncul. “Saya ingin menularkan prinsip pantang putus asa,” ungkap Irwan. Menurutnya, banyak kasus di Indonesia yang menggambarkan keputusasaan masyarakat. “Lihat saja banyak kasus bunuh diri,” ujarnya singkat. Kasus bunuh diri menggambarkan bahwa banyak orang merasa tak mampu lagi melanjutkan hidupnya.

Irwan sendiri secara pribadi membuat kliping tentang berita-berita kasus bunuh diri yang pernah terjadi di berbagai daerah. Ia menyimpulkan bahwa mereka harus diberikan motivasi secara rutin agar tak mudah putus asa. “Mungkin saja orang mau bunuh diri, tapi nggak jadi setelah nonton iklan kami,” harap Irwan. Di dalam iklan produk Kuku Bima tersebut, digambarkan beberapa figur yang tidak mudah putus asa.

Salah satunya adalah Ponirah (55), yang harus menghidupi enam anaknya dari kerjanya sebagai tukang becak. Padahal ia hanya seorang wanita. Melalui iklan itu, Irwan berharap ada dorongan motivasi yang menular ke berbagai kalangan masyarakat. Ponirah sendiri diberi sumbangan sebesar Rp 33 juta oleh Irwan. Fajar

Side Bar 2….

Rutin Adakan Mudik Gratis bagi Pedagang Jamu

Mudik bagi sebagian orang memang menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan menjelang Lebaran tiba. Termasuk bagi para pedagang jamu di Jakarta. Bagi Irwan, pedagang jamu adalah mitra perusahaannya. Sehingga, Irwan mengaku harus menjaga hubungan baik dengan para pedagang jamu tersebut. Hubungan itu dijaga dengan cara menyediakan bus gratis bagi pedagang jamu ke daerah asal mereka. Dan kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap tahun.

Ada satu pengalaman yang menjadi alasan bagi Irwan untuk menyelenggarakan mudik gratis bagi para pedaang jamu. Baik jamu gendong maupun pedagang kaki lima. “Saya pernah melihat ada ibu-ibu yang mau mudik dan masuk ke bus lewat jendela,” kenang Irwan. Melihat pemandangan tersebut, membuat hatinya miris. Ia kemudian memutuskan untuk mengadakan mudik gratis bagi para pedagang jamu yang merupakan mitra terbaiknya.

Sejak tahun 1991, mudik gratis yang menghabiskan biaya Rp 2 milyar ini telah menjadi rutinitas baginya. Para pedagang jamu yang berjumlah sekitar 14.000 orang pun menyambut gembira penyelenggaraan mudik gratis tersebut. Mereka diberangkatkan dari berbagai titik di Jakarta, Bogor, Cikampek, dan Bandung.

Irwan sendiri tidak mengetahui pasti sampai kapan acara mudik gratis ini akan diadakan. Namun, selama efeknya positif bagi para pedagang jamu dan perusahaan, kegiatan ini akan terus diselenggarakan Sidomuncul. Fajar

Side Bar 3……

Istrinya Dirikan KKIT bagi Orang Miskin

Kepeduliannya terhadap orang tidak mampu, ternyata bukan hanya milik sang sumai. Shinta Ekoputri Sujarwo (58), Istrinya Iwan juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ia memprakarsai terbentuknya sebuah komunitas ibu peduli di dekat rumahnya. “Istri saya juga sangat peduli terhadap sesama,” aku Irwan.

Shinta menamai sendiri komunitas yang dibentuknya tersebut sebagai Kerabat Kerja Ibu Theressa (KKIT). “Katanya sih ingin meniru apa yang dilakukan Ibu Theressa dari Calcuta,” kisah Irwan. Kegiatannya, seperti diakui Irwan sangat sederhana. Shinta bersama dengan ibu-ibu lainnya secara rutin membagi-bagikan ratusan nasi bungkus bagi warga kurang mampu. Seperti para pengemis dan pemulung di sekitar Cipete, Jakarta Selatan.

Warga kurang mampu itu diakui Irwan tidak lantas mendapatkan nasi bungkus secara cuma-cuma. Mereka diharuskan membeli setiap bungkus nasi beserta lauknya dengan harga Rp 100 perak. “Hal ini dilakukan untuk mengajarkan mereka agar memiliki upaya demi mendapatkan sesuatu, meski dengan pengorbanan sekecil mungkin,” tutur Irwan.

Rutinitas seperti itu sudah dilakukan Shinta sejak 18 tahun lalu, tepatnya sejak komunitas Kerabat Kerja Ibu Theressa berdiri. Bahkan terkadang KKIT juga bekerjasama dengan gereja untuk dapat menyalurkan berbagai bantuan bagi warga kurang mampu. KKIT sendiri memiliki tujuan seperti halnya Mother Theressa dari Calcuta, India. Para anggota KKIT berusaha mengartikan ucapan Ibu Theressa dalam memaknai hidup. Seperti itulah yang kini dilakukan Shinta bersama rekan-rekan lainnya, meski hanya membagi-bagikan nasi bungkus dengan harga yang tentu saja sangat murah. Menurut Irwan, rencananya kegiatan yang dilakukan istrinya tersebut akan terus dilakukan. Dananya sendiri terkadang berasal dari kocek pribadi Irwan dan Shinta, serta sumbangan dari para anggotanya yang mencapai puluhan orang di Jakarta. Fajar

2 comments:

Online Shop, Shopping List & Review Products said...

artikel yang bagus & sangat memberiku inspirasi & bisa memotivasiku.. thanks

Agung Nugroho said...

Subhanalloh, sukron wa syukurilah semoga Allah selalu menjaga Sdr Irwan Hidayat dalam pertapaan syukur dan menjadi umat Allah yang turut menyempurnakan hakekat hidup fana dan hidup baqo. Amin