Friday, March 12, 2010

Krisnina Maharani, Istri Akbar Tandjung (Mantan Menteri Sekretaris Negara, dan Ketua Umum Golkar)


Memberi Warna Dunia Melalui Yayasan Warna Warni


Sabtu (8/9) siang, udara Jakarta terasa panas. Tapi tidak di sekitar rumah besar itu. Di sekeliling rumah tersebut, terdapat pepohonan besar yang mampu memberikan keteduhan di sekelilingnya. Rumah bernomor 18 tersebut memang nampak besar dan megah. Saat Realita datang dan hendak berbincang-bincang, si empunya masih belum kembali ke rumah. Namun, selang beberapa lama kemudian, sebuah mobil sedan masuk ke dalam halaman rumah. Seorang wanita setengah baya namun tetap terlihat segar itu keluar dari pintu mobil belakang. Ia kemudian menyapa Realita yang telah menunggunya sejak beberapa saat sebelumnya. Dengan ramah, ia pun mempersilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup besar. Logat suara yang lembut dan halus dari wanita itu langsung memecahkan keheningan dalam ruangan. Dialah Krisnina Maharani, istri dari tokoh politik sekaligus mantan menteri di era orde baru, Akbar Tandjung.

Mengedarkan Modul Sejarah. Meski tak ada jabatan penting yang saat ini dipegang oleh sang suami, tidak lantas menyurutkan niatnya untuk selalu aktif di berbagai kegiatan sosial. Terbukti dengan beberapa yayasan sosial yang kini tengah dipimpinnya. Bahkan Nina-panggilan akrab Krisnina-lebih banyak memberi perhatian khusus terhadap kegiatan di bidang budaya dan sejarah Indonesia. Baginya bidang sejarah memiliki peran penting dalam kemajuan suatu bangsa, tak terkecuali bangsa Indonesia. Tak heran, Nina getol sekali dalam membangkitkan minat anak muda sekarang untuk mempelajari sejarah, baik nasional maupun internasional. Salah satu caranya adalah dengan membuat sebuah modul sejarah bagi anak-anak siswa di kota Solo. “Saya membuat modul tentang sejarah dan dipelajari oleh para siswa SMA,” aku Nina. “Bila kita tidak mengerti sejarah, maka kita tidak memiliki karakter,” lanjutnya.

Di dalam modul tersebut, para siswa mempelajari tentang masa lalu bangsa Indonesia yang mengandung banyak makna. Setiap minggu, mereka diharuskan untuk mempelajari modul sejarah seperti halnya pelajaran-pelajaran lainnya yang dipelajari di sekolah. Dengan begitu, mereka dapat mengenal lebih jauh mengenai sejarah bangsanya sendiri tanpa harus selalu menghafal. “Pelajaran sejarah saat ini mengharuskan siswa untuk menghafal, padahal itu tidak efektif,” tutur Nina. Ia ingin agar pelajaran sejarah tidak semata-mata pelajaran yang hanya untuk dipelajari saja, melainkan juga harus diresapi dan dipahami dengan baik. Tak hanya itu saja, melalui modul mengenal sejarah tersebut, para siswa itu juga diharapkan mampu menghargai sejarah di masa lalu. Pembuatan modul sejarah memang dilakukan Nina sejak beberapa tahun silam. Melalui Yayasan Warna Warni yang didirikannya, Nina menyalurkan idenya mengenai modul sejarah tersebut. “Untuk pilot project sih baru di Solo saja,” ungkap Nina. Rencananya, ia akan memperluas ke daerah-daerah lainnya di luar Solo.

Warna Warni Indonesia. Yayasan Warna Warni sendiri merupakan yayasan yang didirikan Nina pada tahun 2000 sebagai suatu bentuk kekhawatirannya terhadap kondisi bangsa ini. “Bangsa ini memang berbeda-beda rasnya,” ujarnya singkat. Menurutnya pula, bangsa ini tentu harus menjunjung bhinneka tunggal ika yang sejak dulu telah didengung-dengungkan. Dengan kewarna-warnian masyarakat Indonesia, sudah seharusnyalah bangsa ini untuk bersatu. Tak heran, Nina menamakan yayasan yang didirikannya ini sebagai Yayasan Warna Warni Indonesia. Melalui yayasan ini pula, Nina sempat memberikan sumbangan Rp 70 juta bagi korban gempa di Klaten, Jawa Tengah. “Kita membangunkan rumah bagi para korban gempa,” aku Nina.

Modul atau buku mengenal sejarah hanyalah satu dari rentetan aksi sosial yang dilakoni Nina. Selain itu, ia juga aktif di sebuah yayasan yang bernama Yayasan Ria Pembangunan. Yayasan tersebut memang sudah puluhan tahun berdiri. “Ria Pembangunan didirikan oleh almarhumah Ibu Tien (istri Soeharto, red),” ungkap anak ketujuh dari 11 bersaudara ini. Semasa sang suami masih menjabat sebagai menteri, ia memang aktif terlibat di dalam organisasi yayasan. Namun, setelah Akbar Tandjung tak lagi menjadi pembantu presiden, tak membuat Nina berhenti dari kegiatannya di Yayasan Ria Pembangunan. Sebaliknya, ia lebih banyak mengambil porsi keterlibatan yang lebih besar. Yayasan Ria Pembangunan sendiri memiliki sebuah panti jompo yang mampu menampung ratusan orang-orang lanjut usia yang terlantar. Tak puas dengan kegiatannya di dua yayasan sekaligus, Nina juga ternyata memiliki peran besar dalam organisasi Yayasan Jantung Indonesia. Ia sempat menjadi ketua umum di yayasan tersebut. Namun, kini ia lebih banyak berperan sebagai pemerhati saja, walaupun terkadang dilibatkan dalam beberapa kesempatan. “Kita sedang mau mengadakan rakornas Yayasan Jantung Indonesia,” aku wanita kelahiran 5 April 1960 ini.

Aktifnya Nina di berbagai kegiatan sosial memang tak terlepas dari peran sang suami dan didikan orang tuanya ketika ia masih kecil. Kedua orang tua Nina, yakni (alm.) Mulyadi dan (almh.) Sumarni memang telah mendidik Nina dengan menerapkan kepedulian sosial yang sangat tinggi melalui contoh-contoh yang mereka berikan. Salah satu contohnya adalah ketika masa-masa sulit tengah melanda masyarakat Indonesia. “Waktu itu harga barang-barang pokok mahal,” kenang nenek satu cucu ini. Sebagai anak yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, rumahnya kerap didatangi oleh warga yang hendak meminta bantuan.

“Ada lelaki tua yang sering datang ke rumah dan meminta bantuan,” ungkap Nina. Kedatangan lelaki yang hidup miskin tersebut tidak lantas diusir oleh kedua orang tua Nina. Sebaliknya, kedua orang tuanya justru menerima dengan tangan terbuka. Bahkan mereka juga memberikan beberapa bahan pokok yang dibutuhkan oleh lelaki tua pengemis tersebut. Kejadian itu terjadi berulang-ulang. Meski demikian kedua orang tua Nina juga tak pernah sekalipun menolak kehadiran ataupun mengusir lelaki tua itu. Dari contoh yang telah diberikan kedua orang tuanya itulah, Nina mendapatkan pelajaran berharga bagaimana menjalani hidup di masa depan.

Jiwa sosial yang dimiliki Nina dari waktu ke waktu semakin menjadi-jadi. Terlebih lagi setelah bertemu dengan jodohnya, yakni Akbar Tandjung. Sifat Akbar yang dikenalnya sebagai sosok pria baik dan dewasa, membuat hatinya terpincut dan memutuskan untuk mengarungi mahligai rumah tangga bersama pria asal Sumatera tersebut. Setelah Akbar menjadi menteri, dan Nina mendapatkan kesempatan untuk aktif di beberapa yayasan sebagai wadah para istri menteri, sifat kepedulian sosialnya pun dapat tersalurkan dengan sempurna.

Selain aktif di berbagai yayasan, Nina juga ternyata memiliki kepandaian di bidang lain, yakni menulis buku untuk diterbitkan secara komersil. Meski diperjualbelikan, tetap saja kecintaannya terhadap sejarah membuat Nina memutuskan untuk menulis buku tentang sejarah. Salah satu buku yang kemudian menjadi dikenal masyarakat tanah air adalah tentang pandangannya terhadap sosok Kartini. Beberapa judul buku bacaan lainnya juga sempat ditelurkan dari pemikiran Nina. Keterlibatan Nina dalam kegiatan non profit ini juga tak terlepas dari dukungan sang suami. “Bang Akbar sih selalu mendukung saya,” aku wanita kelahiran Solo ini. Pernikahannya dengan mantan ketua umum Partai Golkar tersebut telah menghadirkan empat anak perempuan, yakni Fitri Krisnawati (25), Karmia Krissanty (21), Triana Krisandini (18) dan Sekar Krisnauli (11). Meski disibukkan dengan berbagai macam kegiatan di yayasan, Nina tetap saja mampu meluangkan waktu bersama keluarga. Bagi Nina, keduanya-keluarga dan sosial-merupakan hal terpenting bagi dirinya, karena merupakan inti kebahagiaan dan memberikan warna warni dalam hidupnya. Fajar

Side Bar…

Mengembangkan Kampung Batik Laweyan, Solo

Sejarah tak hanya tergambar dari bangunan ataupun arsitektur dari sebuah bangunan dari suatu daerah. Sejarah dan budaya juga terlihat dari benda seni seperti halnya batik. Batik khas Solo, Jawa Tengah mendapatkan perhatian khusus dari Nina. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kampung batik Laweyan, Solo. “Saya ingin mengembangkan kampung Laweyan agar produknya mampu dikenal tak hanya di dalam negeri saja,” tutur Nina. Tepat setahun yang lalu, Nina mengadakan sebuah acara di kampung Laweyan yang bertujuan untuk memperkenalkan kampung Laweyan sebagai daerah yang mampu menghasilkan produk batik berkualitas.

Pada acara tersebut, Nina mengundang orang-orang dari berbagai kalangan untuk melihat produk-produk batik. Dengan begitu, para pengrajin batik akan diuntungkan dengan adanya promosi tersebut. Tak hanya itu saja, melalui acara pengenalan kampung Laweyan, Nina juga berharap mampu mengubah gaya hidup para pengrajin batik agar mereka mampu termotivasi untuk memproduksi hasil batik yang lebih berkualitas. Sejak diadakan acara pengenalan kampung Laweyan, diakui Nina terdapat perubahan yang cukup signifikan. “Ada perubahan yang signifikan, kampung itu kini menjadi maju,” aku Nina. Tak pelak, hal tersebut membuat hati Nina terpuaskan berkat usahanya dalam membangun kampung batik Laweyan. Fajar


No comments: