Tuesday, May 4, 2010

Yussy Fauziah, Ketua LSM Peduli Anak Negeri

Menaklukan Anak-Anak Jalanan dengan Senyum dan Kasih Sayang

Berada di belakang Rasya-anak pasangan selebritis Tamara Bleszinsky dan Teuku Rafly Pasha-membuat sosok Yussy Fauziah dikenal oleh masyarakat luas. Di balik kegigihannya memperjuangkan hak Rasya, wanita yang telah lama menggeluti dunia aktivis ini ternyata merupakan sosok wanita tangguh yang mampu bertahan dari berbagai kecaman dan teror yang menghampirinya. Seperti apakah liku perjalanan hidup Yussy Fauziah?

Yussy Fauziah, sepintas mungkin banyak orang akan merasa asing ketika mendengar nama tersebut. Sebab belum banyak orang yang mengetahui siapakah sosok perempuan blasteran Belanda Arab ini. Namun belakangan namanya mulai dikenal orang ketika ia seringkali muncul di layar kaca atau pun pemberitaan di media hiburan yang seolah lebih menyudutkan dirinya. Yussy yang terlibat dalam kasus penyelesaian secara damai mengenai masalah perebutan hak asuh anak yang terjadi antara artis Tamara Bleszinsky dan Teuku Rafly Pasha, dituding sebagai orang ketiga yang terlalu banyak mencampuri dan mempengaruhi psikis anak pasangan Tamara dan Rafly, Rasya Teuku Islami Pasha, sehingga enggan menemui ibunya, Tamara. Yussy pun akhirnya dilaporkan Tamara ke Polres Jakarta Selatan. Namun hingga kini prosesnya masih belum berjalan. Yussy juga siap jika dirinya dipanggil oleh polisi kapanpun.

Ditemui Realita di kantor sekretariat LSM Peduli Anak Negeri di Jl. Pal Batu II No. 4 Manggarai, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Yussy terlihat elegan dengan busana yang dikenakannya. Yussy baru saja pulang menghadiri acara pertemuan antar sesama aktivis anak di kantor Komnas anak di kawasan Pasar Rebo Jakarta Timur. ”Maaf ya Mas lama menunggu karena saya habis ada pertemuan dengan Kak Seto, Aries Merdeka Sirait, Peggy Melati Sukma dan aktivis LSM anak lainnya di Komnas Anak di Pasar Rebo,” kata Yussy dengan ramah sambil mengawali pembicaraannya. Yussy yang siang itu mengenakan setelan baju berwarna coklat mengatakan pada Realita, bahwa keterlibatannya aktif bergerak dalam bidang sosial sudah dilakukannya ketika ia duduk dibangku SMP. Beragam aktivitas dan kegiatan sosial pernah diikutinya. Mulai dari aktivitas sosial yang bergerak dibidang seni dan budaya sampai pada gerakan aktivis politik yang selalu mengkritisi kebijakan pemerintahan daerah setempat yang seringkali tidak berpihak pada masyarakat bawah atau kaum minoritas. Saking kritisnya, pernah pada suatu kali, rumah Yussy di Kendari dijagai oleh banser agar ia tidak bisa lagi berkoar-koar di luar. Bahkan SMS-SMS ataupun telepon-telepon bernada ancaman sudah menjadi makanan Yussy sehari-hari. Inilah yang membuat Yussy agak enggan untuk menceritakan keluarganya karena ia tidak ingin keluarganya terkena ancaman-ancaman ataupun teror.

Orang Tua Sangat Disiplin. Yussy terlahir dari pasangan Frans Loedwig Chrisyen (Muhammad Iqbal Yunus) dan Fatimah bin Talib. Anak kedua dari dua bersaudara ini lahir di Surabaya pada 11 Maret 1960. Ayahnya adalah seorang yang berprofesi sebagai Prajurit TNI dan merupakan warga keturunan Belanda sementara ibunya hanyalah ’ibu rumah tangga biasa’ yang dengan setianya selalu menemani sang suami bertugas di Surabaya.

Memiliki orang tua yang berprofesi sebagai TNI, otomatis membuat Yussy semenjak kecil sudah merasakan didikan yang sangat disiplin dari sang ayah. Seingat Yussy, ayahnya memang dikenal orang yang disiplin, tetapi dibalik sikapnya yang sangat disiplin tersimpan rasa kasih sayang yang juga amat besar diberikan pada Yussy. Kendati disiplin, sang ayah tidak pernah ringan tangan padanya seperti apa yang dibayangkan kebanyakan orang kalau mempunyai orang tua TNI. ”Ayah saya memang disiplin tetapi semuanya itu dilakukan demi kebaikan anak-anaknya. Dan ayah paling tidak suka dibohongi, kalau ketahuan kita membohonginya maka ia pun akan marah besar. Karena buat ayah lebih baik jujur dihadapannya daripada nantinya ketahuan dibelakangnya,” papar Yussy.

Sangat disayangkan, meski sang ayah memberikan kasih sayang yang teramat tulus padanya, Yussy sendiri tidak pernah merasakan indahnya belaian kasih sayang dari seorang ibu. Pasalnya, ketika menginjak usia dua tahun, Fatimah ibunda Yussy tercinta harus pergi menghadap sang khalik untuk selama-lamanya karena penyakit jantung. Sejak saat itu pula Yussy harus tinggal bersama dengan kakak dari ibunya di Madura yang kebetulan tidak mempunyai anak. Yussy pun terpaksa harus tinggal terpisah dari sang ayah yang harus tetap menjalankan tugasnya di Surabaya. Sementara, Awan-sang kakak-ikut bersama ayahnya. Kendati tinggal secara terpisah, Yussy masih tetap bisa mendapatkan kasih sayang dari sang ayah. Sebab, setiap satu minggu sekali, ayahnya datang mengunjungi Yussy di Madura. Bahkan dalam setiap kunjungannya ayahnya selalu membawakan oleh-oleh untuk Yussy seperti mainan, baju atau pun sepatu sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Yussy pun akhirnya dibesarkan di Madura. Yussy kecil bersekolah di SD Negeri Jungcangcang Utara di Madura dan meneruskan SMP-nya di SMP Negeri 1 Madura. Ketika memasuki SMU Yussy kembali dibopong sang ayah ke Surabaya dan meneruskan sekolahnya di SMU Pratika Surabaya. Lagi-lagi suasana duka harus diterimanya. Ketika usianya menginjak 18 tahun, sang ayah dipanggil untuk menghadap sang pencipta.

Singkat cerita, tahun 1978 Yussy menikah dengan seorang pria asal Kendari, Sulawesi Tenggara. Pernikahan pun dilangsungkan di Surabaya ketika status Yussy masih tercatat sebagai anak sekolah. Pada tahun 1987, Yussy dan suami hijrah ke kota Kendari, tempat kelahiran sang suami. Pasalnya, sang suami yang seorang kontraktor harus bekerja di sana. Sebelum ke Kendari, Yussy dan suami sempat tinggal di Jakarta selama beberapa tahun seperti di Jl. M, Gudang Peluru kemudian pindah ke Jl. D, di Kebon Baru Asembaris.

Selama kurang lebih 12 tahun lamanya Yussy dan suami beserta keempat anaknya tinggal di Kendari. Selama tinggal di Kendari, lagi-lagi Yussy rajin mengikuti kegiatan sosial. Di sana Yussy juga menuntut ilmu di salah satu universitas swasta di Kendari, Sulawesi Tenggara, mengambil jurusan management. Di Kendari, Yussy mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai ketua DKD (Dewan Kesenian Daerah). Yussy juga pernah dipercaya sebagai sekretaris PKK dengan membuat yayasan atau pun sanggar bersama mahasiswa di sana yang diberi nama 2KK (Karya Kinati). Melalui sanggar ini Yussy bersama anak-anak sanggar lainnya berangkat sampai ke mancanegara untuk mengikuti berbagai festival kebudayaan.

Aktif di Berbagai Organisasi. Selama 12 tahun lamanya tinggal di Kendari hingga pada akhirnya di tahun 2000 Yussy harus kembali ke kota kelahirannya di Surabaya karena sang suami juga berpulang ke Rahmatullah. Sedangkan anak-anaknya tetap tinggal di Kendari karena sudah terlanjur bersekolah di sana. Anak sulungnya yang sudah kuliah di Ujung Pandang pada waktu itu mengatakan bahwa dirinya sudah terlanjur senang beradaptasi tinggal di Sulawesi Tenggara.

Setelah kembali ke Surabaya Yussy tetap menjalankan aktivitas sosialnya dan lagi-lagi posisi ketua dijabatnya sebagai ketua Arti Seni Aksi. Namun karena merasa kurang cocok dengan organisasi tersebut maka ia pun segera meninggalkannya dan pada tahun 2001 beralih pada LSM Anak yaitu Komnas PAI (Komnas Perlindungan Anak Indonesia) sampai dengan pertengahan tahun 2006. Setelah itu Yussy hijrah ke Jakarta atas permintaan Kusumo, temannya sesama aktivis anak waktu di Komnas PAI, karena Kusumo sudah meninggalkan posisi ketua Komnas PAI dan masuk menjadi bagian daripada kepengurusan sebuah lembaga negara yang dikenal dengan KPAI. Otomatis posisi ketua di Komnas PAI menjadi kosong dan Yussy diminta kesediaannya untuk menggantikan posisi tersebut.

Setelah menduduki posisi sebagai ketua Komnas PAI, membuat Yussy berpikir untuk membuat satu LSM sendiri bersama dengan sesama temannya ketika di Komnas PAI. Maka pada November 2006 terbentuklah sebuah wadah perkumpulan yang diberi nama LSM Peduli Anak Negeri dimana Yussy juga menjabat sebagai ketua umum LSM Peduli Anak Negeri.

Bagi Yussy, salah satu alasan yang membuat ia tertarik alih profesi terjun dalam dunia anak adalah, ketika ia berada dalam perjalanan menuju kota pahlawan Surabaya. Dalam perjalanan Yussy melihat betapa keras dan brutalnya sikap dan kehidupan anak-anak jalanan. Hal inilah yang membuat Yussy menjadi khawatir akan masa depan anak-anak Indonesia yang notabene sebagai cikal bakal generasi penerus bangsa. Baginya, tidak sepantasnyalah anak-anak yang masih dibawah umur berkeliaran di jalan tanpa arah dan tujuan yang jelas.

Secara jujur Yussy mengakui bagaimana perasaannya ketika pertamakali bergabung sebagai aktivis anak pada tujuh tahun silam. Ada satu kebanggaan dan kepuasan tersendiri yang dirasakannya ketika ia bisa membela hak-hak anak yang mendapat kekerasan baik dari kalangan keluarganya maupun kalangan lingkungan sekitarnya. Hikmah yang paling utama yang didapatkannya adalah ketika bisa menjadikan pribadi sebagai filter, untuk menjaga sikap. ”Karena pastinya anak-anak akan menjadikan kita sebagai orang yang diteladaninya. Bagaimana mungkin menjadi teladan anak-anak, kalau dari kita pribadi sikap hidupnya berantakan dan nantinya lambat laun hal itu akan tercermin pada anak-anak yang kita bina, karena anak-anak sendiri mempunyai sikap kepekaan dan sensitivitas yang tinggi pada orang yang menjadi suri tauladannya,” urai Yussy. ”Selain itu, ada juga nilai lebih yang tidak bisa ditukarkan dalam bentuk apapun,” tambahnya. Gilbert, Fajar

Side Bar 1:

Memanfaatkan Rumah Pribadinya di Surabaya untuk Anak Jalanan

Meski sudah memiliki latar belakang sebagai aktivis gerakan, ketua teater dan sanggar seni budaya dan beberapa aktivitas sosial lainnya, namun bagi Yussy menjalani profesi sebagai aktivis anak adalah sesuatu hal yang sifatnya baru dimana Yussy dituntut harus memiliki kesabaran yang sangat luar biasa untuk memahami dan mengayomi anak-anak, karena pada dasarnya setiap anak mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda.

Tetapi dengan bermodalkan kemauan, dan kemampuan, serta niat yang besar, Yussy berhasil melakukan penyesuaian yang dilakukan selama empat tahun lamanya di Surabaya bersama dengan ratusan anak jalanan yang ditampung di rumah pribadinya di Surabaya di Jl. Ngagel Tirto. Di rumah pribadinya ini Yussy menampung anak-anak jalanan di Surabaya dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang pecandu narkoba, pengamen, pedagang jalanan, atau pun pemusik punk dan underground yang berkeliaran bebas di Surabaya, Jawa Timur. Tak heran jika Yussy membiarkan saja rumahnya menjadi terlihat seperti tak terawat.

Dan bila rumahnya terlihat berantakan, menurut Yussy wajar saja, karena penghuninya adalah manusia –manusia dengan tingkah polah yang bermacam-macam. Misalnya bila Yussy tidak ada, maka anak yang kecanduan ada yang sampai naik ke loteng hanya untuk menyuntik saat mereka sakaw.

Meskipun kadang perbuatan tersebut diketahui olehnya, tetapi semuanya itu dibiarkan oleh Yussy begitu saja, karena untuk membuat mereka sadar Yussy tidak mungkin memperlakukan anak-anak dengan sikap yang keras. Yussy, sangat sadar modal utama untuk mendidik anak-anak jalanan itu adalah dengan senyum, kesabaran, serta belaian kasih sayang yang tulus dari hati nurani. ”Buat saya, senyum dan kasih sayang yang tulus, itu sudah lebih dari segalanya untuk mengatasi kelakuan dan sikap anak-anak yang brutal. Karena yang dibutuhkan mereka tidak lebih daripada itu. Baru setelah semuanya sadar, kita berikan pengertian dan pemahaman akan dampak dan bahayanya menggunakan narkoba. Setelah itu juga kita hantam benar sisi batinnya. Semua ini dilakukan untuk menggugah kesadaran mereka yang seakan sudah musnah,” papar Yussy. ”Memang tidak mudah untuk melakukan semua ini. Butuh keuletan dan kesabaran yang luar biasa,” tambahnya.

Dengan sikapnya itu, serta pengorbanan baik berupa tenaga dan materi, wajar saja jika Yussy mendapatkan gelar ’Mama’ yang juga merupakan panggilan akrab dari anak-anak jalanan yang berada di bawah asuhannya. Bukan itu saja, Yussy juga menjadi salah seorang yang paling dihormati dan disegani oleh anak-anak jalanan, pelajar serta mahasiswa di Surabaya. Ini semua tentunya buah dari dedikasi, perjuangan, dan pengorbanannya, demi memberikan hidup bagi anak-anak jalanan di Surabaya. Gilbert

Side Bar 2:

Menjadi Vegetarian untuk Meredam Emosi

Tidak hanya memanfaatkan rumah pribadinya saja untuk tempat berlindung bagi anak jalanan. Sebagai mantan aktivis, Yussy atas saran seorang temannya, juga rela melakukan diet ketat dan menjadi vegetarian selama tiga tahun lamanya, demi untuk untuk meredam dan menetralisir serta mengontrol emosinya.

Ia memang harus mengontrol emosinya, karena dalam menghadapi anak-anak jalanan, ia membutuhkan energi tinggi dan kesabaran yang luar biasa, sehingga anak-anak bisa menjadi lebih dekat dan terbuka dengan dirinya. ”Buat saya, mendidik anak tidak diperlukan kekerasan tetapi juga harus ditangani dengan kelembutan,” tegas Yussy yang seringkali menyampaikan hal tersebut dalam setiap orasinya ataupun penjelasannya ketika ia diundang sebagai pembicara di departemen sosial atau pun dinas sosial lainnya di berbagai kota.

Bukan hanya itu saja, berangkat dari dalam urusan rumah tangganya sendiri, Yussy pun termasuk orang tua yang sangat demokratis terhadap keempat anak-anaknya yaitu dengan selalu melibatkan sang anak dalam segala aktivitasnya sebagai aktivis anak. Baginya hal tersebut juga merupakan bagian daripada proses belajar mengajar. Yussy mencontohkan dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki anak-anaknya, Yussy mengajak mereka untuk berbagi. Misalnya saja Yudha, anak bungsunya yang mempunyai kemampuan lebih dalam bermusik. Yussy meminta bantuan pada si bungsu untuk memberikan pendidikan musik pada anak-anak jalanan. Begitu juga dengan putra pertamanya yang kuliah di bidang ekonomi. Misalnya ketika Yussy mempunyai program alih profesi untuk anak-anak jalanan maka anaknya tersebut secara khusus diminta untuk memberikan penjelasan tentang bagaimana caranya hidup dari berwirausaha yang baik.

Sebagai ibu atas keempat anaknya, Yussy membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang sesuai dengan nalar dan kecerdasan yang dimiliki masing-masing anak. Artinya, Yussy tidak mau melihat anak-anaknya tumbuh dan berkembang menjadi generasi doktrin dan tumbuh atas pengaruh yang kuat dari orang tuanya. ”Buat saya anak-anak itu ibarat burung merpati yang terbang bebas terserah ke mana mereka mau memilih. Yang penting kita sebagai orang tua sebagai modal awalnya hanya memberikan pemahaman dan pengetahuan yang cukup tentang risiko dan akibat yang akan ditanggung nantinya. Kita jelaskan sebab dan akibatnya. Setelah itu biarkan mereka memilih dengan bebas sesuai dengan apa yang diinginkan, termasuk masalah pendidikan, jodoh, dan kepercayaan (agama, red),” terang Yussy yang berencana akan menulis sebuah buku mengenai anak ini. Keempat anaknya pun tinggal terpisah dari Yussy. Ada yang di Kendari dan ada yang di Surabaya. Yussy sendiri saat ini tinggal di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Yussy selalu menganggap anak-anaknya sebagai teman dan rekan kerja. Hal itu dilakukan semata-mata supaya anak-anaknya menjadi lebih terbuka apabila sedang menghadapi masalah. Gilbert

No comments: