Wednesday, May 12, 2010

Abu Syauki, Pemimpin Rumah Zakat Indonesia

Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Untuk Berzakat Melalui Rumah Zakat

Menghampiri setiap orang dengan membawa foto anak-anak kurang mampu merupakan awal berdirinya Rumah Zakat Indonesia. Kini, ia memimpin Rumah Zakat sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk selalu menyalurkan zakatnya. Berawal dari niat mulianya tersebut, saat ini ribuan orang kurang mampu dapat dibantu dari zakat para donatur.

Kali ini Bandung menjadi kota kunjungan Realita untuk menghadirkan sosok yang memiliki kepedulian sosial tinggi. Rabu (21/3) pukul 07.30, Realita sudah bersiap-siap untuk menuju ke kota kembang, Bandung. Berkat dibangunnya jalan tol Cipularang, waktu perjalanan Jakarta-Bandung yang biasanya ditempuh sekitar 4 jam, kini hanya cukup dengan 2 jam saja. Langit cerah dan tidak terlalu panas menemani perjalanan pada pagi itu. Cuaca yang sedikit mendung menyambut kedatangan Realita di kota yang memiliki julukan Paris Van Java ini. Jam sudah menunjukkan pukul 09.58 pagi, saat Realita menjejakkan kaki di Bandung. Pukul 10.00 memang telah ditentukan sebelumnya untuk dapat bertemu sosok pria yang dikenal sebagai salah satu Ustadz muda kondang di kota Bandung ini. Abu Syauki, bukanlah terkenal karena ceramah yang lucu dan menggelitik seperti sahabatnya, Aa Gym. Abu Syauki lebih dikenal sebagai pimpinan Rumah Zakat Indonesia yang berkantor pusat di Bandung. Ia adalah pendiri organisasi yang banyak menyalurkan zakat ke berbagai kalangan kurang mampu tersebut.

Hatinya Tersentuh di Jakarta. Dengan ditemani salah satu asistennya, Edwin, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju kediaman pribadi Abu Syauki. Di salah satu perumahan di pinggiran kota Bandung, Abu Syauki beserta istri dan keenam anaknya tinggal. Sebuah kendaraan bermerk terkenal asal Eropa, tampak terparkir di depan rumahnya tersebut. Akhirnya, kami tiba di kediaman Abu Syauki. Tidak beberapa lama kemudian, pintu rumah terbuka secara perlahan. Dugaan sebelumnya bahwa sosok Abu Syauki adalah seorang pria tua yang diperkirakan berumuran sekitar 50-60 tahunan, ternyata salah besar. Pria muda berkulit putih keluar dari pintu rumah. Dialah Abu Syauki, pria yang sempat menyebarkan foto anak-anak kurang mampu agar masyarakat tersentuh hatinya untuk memberikan zakat. Dengan senyumnya yang ramah, ia mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu yang tidak terlalu besar itulah, ia kemudian menceritakan tentang perjalanan hidupnya termasuk awal perjalanan dimana ia mendirikan Rumah Zakat Indonesia.

Pada tahun 1998, Abu Syauki tengah berada di Jakarta, tepatnya di daerah Pademangan. Di daerah tersebut, ia memang sengaja sedang berkunjung ke rumah salah satu temannya. Pria yang akrab dipanggil dengan Abu ini sangat terkejut dengan keadaan lingkungan di daerah Pademangan tersebut. “Hati saya merasa tersentuh melihat keadaan sekitar waktu itu,” kenang Abu. “Saya harus melewati gundukan sampah agar dapat masuk ke rumahnya,” lanjut pria yang tak pernah lulus studi sarjananya ini. Kondisi krisis yang terjadi pada tahun 1998 memang membuat kebanyakan masyarakat Indonesia terpuruk. Pada saat itulah, Abu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa banyak masyarakat yang perlu dibantu. Terlebih lagi, akibat dari krisis yang menerpa perekonomian tanah air, kesempatan untuk belajar di sekolah bagi anak-anak semakin terbatas. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, Abu melihat banyak anak-anak yang tidak mampu mengenyam bangku sekolah.

Sebarkan Foto Anak Kurang Mampu. Kesedihan yang ia rasakan ketika banyak anak-anak menderita membuat Abu mengambil tindakan yang cukup berani. “Saya lalu mulai berpikir, apa yang bisa saya perbuat?” ujar Abu. Ia berniat untuk membantu anak-anak kurang mampu agar dapat bersekolah kembali serta memberikan banyak bantuan kepada masyarakat kurang mampu lainnya. Padahal ia sendiri mengaku bahwa ia tidak memiliki banyak uang untuk diberikan kepada masyarakat kurang mampu. Meski begitu, Abu tetap saja mencari cara agar dapat memberikan bantuan kepada kaum papa. Salah satu cara yang ia jalankan dan termasuk unik adalah dengan mengetuk hati orang-orang mampu untuk memberikan zakatnya melalui foto anak-anak kurang mampu yang ia sebarkan. Melalui foto-foto tersebut, ia dapat mendorong orang-orang yang memiliki kelebihan dalam hartanya untuk memberikan sebagian hartanya itu sebagai zakat kepada kaum papa. “Waktu pertama kali itu banyak yang tertarik untuk memberikan zakat,” ungkap Abu sembari tersenyum riang.

Dari tindakan awalnya itu, Abu kemudian mendirikan DSUQ (Dompet Sosial Ummul Quro). “DSUQ itu berawal dari kepedulian saya terhadap anak-anak miskin terutama yatim piatu,” tutur pria bernama asli Deni Triesnahadi ini. Kepeduliannya tersebut disalurkan melalui tindakan Abu yang selalu mengambil foto anak-anak kurang mampu. Di kota kelahirannya, Bandung, Abu memulai pencariannya terhadap anak-anak kurang mampu dan kemudian diabadikan melalui kamera foto. “Foto-foto itu saya kumpulin lalu saya tempel di selembar kertas,” kenang Abu yang pernah bertugas sebagai konseling di salah satu rumah sakit di Bandung ini. Tepat di bawah foto-foto yang telah ditempelkan tersebut, Abu memberikan keterangan nama, sekolah dan asal daerah si anak. Dengan begitu, setiap calon penyumbang yang akan memberikan zakatnya dapat mengetahui latar belakang anak-anak kurang mampu tersebut. Cara yang ditempuh Abu terbilang cukup berhasil. Terbukti dengan banyaknya orang yang menyumbangkan zakatnya kepada anak-anak kurang mampu tersebut.

Abu memang tak hanya menampilkan foto anak-anak kurang mampu saja, ia juga selalu menyampaikan hadits Rasulullah SAW kepada para calon penyumbangnya. “Saya bilang ke mereka, barang siapa yang menyantuni anak yatim itu pahalanya sama seperti tahajjud dan jihad seumur hidup,” tutur pria kelahiran 11 Februari 1968 ini. Sebanyak 10 foto yang ia tawarkan pada kali pertama, langsung diserbu oleh para penyumbang. Kesepuluh anak kurang mampu itu pun langsung mendapatkan dana zakat dari para penyumbang. Hebatnya, dari 10 anak kurang mampu yang mampu mendapatkan dana zakat, berkat kerja keras dari Abu Syauki, kini Rumah Zakat mampu berkembang pesat dan mengasuh 13.000 anak kurang mampu.

Empat Program Rumah Zakat Indonesia. Rumah Zakat yang berkantor pusat di Bandung ini memiliki beberapa program yang bertujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu. Beberapa program tersebut diantaranya adalah Educare, Healthcare, Ecocare, dan Youthcare. Untuk program Educare, Rumah Zakat secara rutin memberikan dana beasiswa kepada ribuan para pelajar SD, SMP, dan SMA. Beasiswa tersebut secara rutin diberikan setiap bulan selama minimal 1 tahun. Besar uang beasiswa yang diberikan berbeda-beda tergantung dari jenjang pendidikan yang mereka tempuh. Untuk setiap anak SD, beasiswa yang diberikan sebesar Rp 75.000/bulan, anak SMP Rp 100.000/bulan serta anak SMA diberikan beasiswa sebesar Rp 125.000/bulan. Sedangkan jumlah dana beasiswa untuk setiap anak yang diberikan beasiswa dari luar negeri, akan diberikan sebesar Rp 250.000/bulan. Rumah Zakat tidak hanya memberikan uang beasiswa saja kepada anak-anak kurang mampu tersebut, tetapi juga pembinaan-pembinaan baik untuk anak asuh tersebut maupun orangtuanya.

Healthcare, yakni program bantuan Rumah Zakat di bidang kesehatan. Beberapa kegiatan sosial kerap dilakukan oleh rumah zakat untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat kurang mampu. Uniknya, semua fasilitas kesehatan yang diberikan Rumah Zakat sama sekali tidak dikenakan biaya alias gratis. Abu menyediakan mobil jenazah, mobil klinik, klinik, rumah bersalin, serta ambulance yang semuanya gratis. Seluruh fasilitas tersebut telah tersedia di hampir sebagian besar cabang Rumah Zakat di seluruh Indonesia. Rumah Zakat juga tidak jarang mengadakan berbagai operasi untuk menyembuhkan beberapa penyakit, seperti bibir sumbing, katarak, dana beberapa lainnya. Tidak hanya di bidang kesehatan, Rumah Zakat juga sangat peduli terhadap pengembangan ekonomi kerakyatan khususnya bagi Usaha Kecil dan Menengah. Zakat yang disalurkan dalam program Ecocare biasanya digunakan untuk pembiayaan usaha mikro. Dana yang didapat oleh Abu beserta Rumah Zakatnya berasal dari para donatur, dan mitra usahanya. Dana zakat tersebut biasanya dipergunakan oleh para pengusaha kecil yang kekurangan modal sebagai dana untuk membiayai kegiatan operasional usahanya tersebut. “Pinjaman modal ini disalurkan untuk mencegah adanya rentenir,” ungkap Abu. Rumah Zakat juga memberikan pelatihan bagi para calon penerima zakat agar kemampuan mereka dalam berwirausaha semakin meningkat.

Selain program-program yang telah diagendakan sebelumnya, Rumah Zakat juga memiliki satu program lagi untuk membantu para korban bencana atau musibah. Aksi kemanusiaan ini dilakukan dengan cara memberikan bantuan cepat ke daerah-daerah terjadinya bencana dan daerah konflik. Bantuan tersebut dapat berupa relawan Rumah Zakat dan penyaluran bantuan seperti pelayanan kesehatan, obat-obatan, makanan, pakaian layak pakai, dan beberapa barang bantuan lainnya. Daerah yang pernah disambangi oleh tim Rumah Zakat atau ERT (Emergency Rescue Team) diantaranya adalah daerah Pangandaran, Aceh, dan Yogyakarta. “Biasanya kita akan datang maksimal sehari setelah terjadi musibah,” ungkap Abu. Khusus untuk program rehabilitasi dan aksi sosial di daerah bencana dan konflik, Rumah Zakat memproduksi berbagai produk makanan kaleng bagi para korban bencana. Makanan kaleng yang dapat langsung dikonsumsi ini diakui Abu memiliki banyak gizi, vitamin dan mineral sehingga kesehatan para korban akan dapat selalu terjaga meski mereka berada di dalam kondisi yang memperihatinkan.

Rumah Zakat sendiri baru dikukuhkan sebagai lembaga amil zakat nasional pada tanggal 18 Maret 2003. Sebelumnya, lembaga Dompet Sosial Ummul Quro merupakan benih dari Rumah Zakat. Hingga saat ini, Rumah Zakat Indonesia memiliki 31 kantor pelayanan zakat serta 22 cabang tersebar di pulau Jawa dan Sumatera. Untuk tahun 2006 yang lalu, Rumah Zakat mampu menggalang dana sebesar Rp 30 miliar dan telah disumbangkan untuk kaum yang membutuhkan. Sebagian dana hasil zakat sekitar 12,5 % -nya digunakan untuk membiayai kegiatan operasional dan gaji ratusan karyawan Rumah Zakat sebagai amil zakat. “Tetapi kenyataannya, tahun lalu saja kami hanya memakai 4,2 %,” ungkap Abu. Para donaturnya sendiri berasal dari dalam dan luar negeri, baik perorangan maupun instansi. Rencananya, Rumah Zakat akan kembali mengembangkan sayapnya di daerah-daerah lainnya dan berusaha untuk membantu lebih banyak orang lagi.

Pelopor Zakat. Lembaga Rumah Zakat Indonesia memang tidak dapat dilepaskan begitu saja dari sosok Abu Syauki. Dialah yang kali pertama membangun dan mendirikan Rumah Zakat hingga saat ini. Abu juga menjadi pelopor segala macam program yang dijalankan oleh Rumah Zakat. Jiwa sosial yang ia miliki pun sengaja ditularkan kepada keenam anaknya. Bahkan anak pertamanya sendiri, Syauki, ikut terjun langsung mengurusi kegiatan kelembagaan Rumah zakat. Namun tidak demikian dengan istrinya, Siti Sumandari, yang tidak diperbolehkan untuk ikut-ikutan di dalam Rumah Zakat. “Saya memang tidak memperbolehkan istri saya ikut di Rumah zakat,” ujar pria yang berganti nama menjadi Abu Syauki pada tahun 2000 ini. Alasannya, Abu tidak mau kelak Siti akan dihormati oleh karyawan Rumah Zakat lainnya hanya karena ia adalah istri ketua Rumah zakat.

Pernikahan yang telah Abu jalani selama puluhan tahun telah menghadirkan 6 anak, yakni Syauqi Mujahid (16), Hamzah Romzul Qur’ani (15), Hasan Albana (14), Sholahudin (13), Muti’ah Qur’aniah (12), dan Azindani (11). Ternyata tidak hanya jiwa sosial saja yang ditularkannya, jiwa dagangnya pun ia tularkan. Bahkan salah satu anaknya, Hamzah, telah menggeluti bisnisnya sendiri. “Dia (Hamzah-Red) malah kemarin minta uang Rp 5 juta untuk bisnis,” kenang Abu. Sebagai orang tua, Abu pun hanya bertugas untuk mengarahkan ke jalan yang benar. Karena pada dasarnya, Abu di masa kecil juga mengalami pendidikan yang tidak jauh berbeda dengan apa yang ia ajarkan kepada anak-anaknya sendiri. Lahir dari pasangan (alm) Eddi Affandi dan Enden Dewi, Abu tumbuh menjadi pemuda yang mandiri dan mampu melihat peluang-peluang bisnis yang menguntungkan. “Kalau jiwa dagang, saya dapatkan dari salah satu sanak keluarga saya yang memiliki usaha,” ungkap Abu. Kesuksesan Abu dalam memimpin Rumah Zakat merupakan hasil dari kegigihannya untuk membantu masyarakat kurang mampu. Meski ia sendiri pada awalnya tidak memiliki cukup uang untuk membantu, Abu justru memilih cara lain untuk menunjukkan kepeduliannya, yakni dengan menggalang zakat dari pihak lain melalui Rumah Zakat. Fajar

Side Bar 1

Sempat Tinggalkan Bisnisnya Hanya untuk Rumah Zakat

Jika ada prinsip yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan, mungkin akan sangat cocok dengan apa yang dialami oleh Abu Syauki. Di saat usianya menginjak 26, Abu telah memiliki bisnis yang cukup sukses. “Saya dulu bisnis di transportasi dan peternakan,” ungkap Abu. Meski belum mencapai kesuksesan, Abu justru lebih banyak menyibukkan diri di Rumah Zakat. “Saya sempat tinggalkan dulu bisnis saya, untuk Rumah Zakat,” ungkap Abu. Ia lebih memilih untuk terlibat di dalam Rumah Zakat ketimbang harus mengurusi bisnisnya sendiri. Keputusan tersebut diambil karena ayah dari 6 anak ini ingin lebih banyak membantu masyarakat kurang mampu. Sedangkan bisnis peternakan kambing dan sapinya, seperti diakui Abu, diurusi oleh salah satu temannya. “Saya suruh teman saya untuk mengurusnya, dan saya kasih saham 25 % di sana,” ujar Abu yang berencana akan membangun lahan peternakan di daerah Bandung ini.

Keputusan yang diambil Abu Syauki memang sangatlah tepat. Kini, ia mampu membantu lebih banyak orang dibandingkan beberapa tahun lalu melalui Rumah Zakat yang didirikannya. Bahkan setelah meninggalkan bisnisnya selama beberapa waktu, ia mampu kembali lagi ke bisnisnya tersebut dan meraih sukses pula. “Berkat Rumah Zakat juga, bisnis saya menjadi sukses,” ujarnya. Tak heran jika Abu mengatakan demikian, pasalnya, semenjak Abu lebih banyak mengurusi Rumah Zakat, ia juga dapat memiliki lebih banyak rekan atau teman yang merupakan para penyumbang Rumah Zakat. Tak hanya itu, Abu juga percaya bahwa berkat ia melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang, Allah SWT akan selalu mempermudah rezeki yang datang kepadanya.

Abu sendiri mengaku bahwa ia telah memiliki jiwa dagang sejak masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Di antara teman-temannya, ia lebih tertarik untuk berdagang dan berbisnis ketimbang harus bekerja sebagai karyawan. Bahkan ia meninggalkan kesempatannya untuk masuk menjadi pegawai negeri BUMN sebagai jatah bagi dirinya karena orang tuanya yang bekerja di BUMN tersebut. Keputusan itu sangatlah tepat. Terbukti ia kini memiliki dua perusahaan pribadi yang bergerak di bidang peternakan dan perdagangan, yakni PT Niaga Ummul Quro dan PT Citra Niaga Abadi. Kedua perusahaannya tersebut kini diurusi oleh orang-orang kepercayaan Abu.

Jiwa wirausaha dan dagang yang dimiliki Abu tentu bukanlah tanpa halangan. Abu seringkali ditipu oleh rekan bisnis ketika akan memulai kerjasama bisnisnya. “Saya malah sempat ditipu Rp 3 miliar,” kenang Abu sembari tersenyum lebar. Kejadian tersebut bukanlah pertama kalinya bagi Abu. Ia sempat ditipu oleh rekan bisnisnya, mulai dari Rp 3 juta hingga yang paling besar adalah Rp 3 miliar. Namun, ia tidak pernah ambil pusing dengan penipuan yang menimpa dirinya tersebut. Abu selalu dapat mengambil pelajaran dari kejadian itu. Dengan seringnya ia ditipu, Abu menjadi lebih banyak belajar untuk lebih waspada dan berusaha untuk lebih baik lagi dalam mengelola bisnisnya. Fajar

Side Bar 2

Mengubah Mobil Tua Menjadi Mobil Jenazah Gratis

Rumah Zakat memang memiliki beberapa fasilitas bagi orang-orang kurang mampu. Semua fasilitas tersebut sama sekali tidak dikenakan biaya bagi para penggunanya. Salah satunya adalah fasilitas mobil jenazah. Kendaraan yang biasanya digunakan untuk mengantarkan jenazah ke tempat pemakaman memang kerap digunakan oleh orang kurang mampu. Karena ketidakmampuan ekonomi yang mereka miliki, maka fasilitas mobil jenazah tersebut bersifat gratis. Abu mencetuskan mobil jenazah gratis ini sejak beberapa tahun yang lalu, pada awal-awal pendirian Rumah Zakat. “Waktu itu saya memutuskan untuk membantu orang kurang mampu dengan memberikan fasilitas mobil jenazah gratis,” kenang Abu.

Meski tidak memiliki uang banyak, Abu memberanikan diri untuk membeli mobil tua yang harganya relatif murah sekitar tahun 2000. Kala itu, Abu melihat banyak orang kurang mampu yang membutuhkan mobil jenazah untuk mengantarkan jenazah dari sanak saudara mereka sendiri. Seringkali proses pengantaran jenazah sedikit terhambat akibat ketiadaan biaya. Abu pun merasa perlu membantu dengan menyediakan mobil jenazah gratis. “Saya memutuskan untuk membeli mobil Colt buatan tahun 1981,” ungkap Abu. Dengan uang seadanya, ia memberanikan diri untuk membeli mobil tersebut.

Awal mula Abu Syauki memutuskan untuk membeli mobil tua dan dijadikan sebagai mobil jenazah, adalah ketika ia bertugas sebagai konseling di salah satu rumah sakit di Bandung. Pada saat itu, ia kerap bertemu dengan pasien-pasien yang kekurangan dana untuk membawa jenazah sanak keluarganya dari rumah sakit tempat Abu bekerja. Abu pun tidak dapat berbuat apa-apa, karena tak mampu untuk memberikan dana kepada mereka. Dari situlah, Abu bertekad akan membeli mobil untuk digunakan sebagai mobil jenazah. “Waktu saya punya uang Rp 28 juta, langsung saya belikan mobil bekas,” kenang Abu. Harga mobil Colt tahun 1981 itu sendiri hanya berharga Rp 25 juta, sedangkan sisanya digunakan untuk memperbaiki serta mengubah penampilan mobil tersebut menjadi mobil jenazah. Setelah mobil jenazah tersebut layak pakai, tanpa berpikir banyak, Abu langsung mengumumkan adanya mobil jenazah gratis di beberapa surat kabar di kota Bandung. “Kalau iklan di Koran itu kan gratis, ada teman saya di sana,” imbuhnya.

Respon postif pun kemudian berdatangan setelah Abu mengiklankan di surat kabar di kota Bandung. Meski mobil tersebut sering mogok, tetap saja banyak orang yang meminta bantuan mobil jenazah. “Saya sering kasihan sama keluarga jenazahnya kalau melihat mobil jenazah mogok,” ujar Abu. Dengan alasan, jika mobil mogok, maka jenazahnya harus dikeluarkan terlebih dahulu karena mesin mobilnya tersebut berada di bagian tengah kendaraan. Itulah yang sempat membuat hati Abu miris melihat keadaan mobil jenazah tersebut. Niat hati ingin menolong orang kurang mampu, tapi sebatas itulah kemampuan Abu sebenarnya. Meski begitu, Abu tidak patah semangat untuk mencari jalan keluarnya. Ia pun sempat mencurahkan pikirannya ke beberapa rekan-rekannya tentang masalah mobil jenazah gratis tersebut. Beruntung, rekan-rekannya yang memiliki kekayaan berlebih itu mau membantu permasalahan Abu. Dari situlah, jumlah mobil jenazah gratis dari waktu ke waktu semakin bertambah. Hingga kini, Rumah Zakat memiliki 30 mobil jenazah gratis di seluruh cabang di Indonesia. Fajar


2 comments:

Anonymous said...

Semoga Allah SWT selalu membukakan hati pembayar zakat kearah kebenaran, karena merekalah sebenar-benarnya penegak agama. Amin ya Rabbal Alamin.

Hasan Ramdhani said...

Inspiratif, terima kasih sudah menyajikan artikel ini :)