Tuesday, May 4, 2010

Henny Supolo Sitepu, Ketua Yayasan Cahaya Guru

Guru yang Kerap Berbagi dengan Guru-guru Kurang Beruntung

Menjadi seorang guru memang telah menjadi cita-citanya sejak kecil. Kini, ia mampu menggapainya dan mengukir prestasi dengan meletakkan batu pertama kurikulum pelajaran di sekolah Al Izhar. Tak hanya itu saja, Henny Supolo juga kerap memberikan berbagai pelatihan bagi guru-guru di pelosok Indonesia melalui Yayasan Cahaya Guru yang dipimpinnya. Lalu bagaimana perjalanan hidup dan karir ibu dua anak ini?


Hari menjelang siang saat Realita berkunjung ke daerah Pondok Indah. Selasa (13/11), udara di ibukota Jakarta terasa panas. Meski musim hujan telah berada di penghujung mata, namun tetap saja udara panas masih terasa di kota yang penuh sesak ini. Meski demikian, ketika memasuki kawasan Pondok Indah, pepohonan rindang mampu meredam udara panas yang berasal dari mentari di langit Jakarta. Perumahan yang berada di sekitarnya pun tak kalah sejuknya. Pasalnya, pepohonan besar dan rindang menghiasi di sepanjang pinggir jalan. Entah sampai kapan udara sejuk akan bertahan di daerah Pondok Indah, setelah Pemda DKI memutuskan untuk menebang beberapa pepohonan di wilayah tersebut untuk membangun jalur bus Transjakarta.

Meski beberapa pepohonan sengaja dihilangkan untuk membangun jalur bus Transjakarta, di sisi lain daerah Pondok Indah tetap saja masih menampilkan pemandangan hijau dengan banyaknya pepohonan yang masih berdiri tegap. Termasuk salah satunya adalah di jalan Alam Asri, yang berada di tengah-tengah daerah Pondok Indah. Seperti halnya pepohonan yang mampu memberikan kesejukan bagi lingkungan di sekitarnya, profesi guru pun memberikan kesejukan bagi murid-muridnya. Tak hanya kesejukan, seorang guru juga memberikan penerangan terhadap dunia pendidikan. Tak heran, guru kerap diibaratkan sebagai sebuah pelita dalam kegelapan. Tanggal 22 November yang lalu pun menjadi hari yang sangat istimewa bagi profesi guru, karena hari itu merupakan hari guru nasional. Profesi seorang guru juga tergambar dari sosok wanita pendidik bernama lengkap Henny Supolo Sitepu ini.

Tepat di depan salah satu taman yang berada di perumahan Pondok Indah, sebuah rumah besar berada. Berbagai tanaman dan pepohonan pun menghiasi halaman rumah tersebut. Saat Realita memasuki salah satu ruangan di rumah itu, berbagai pernak-pernik pajangan berbentuk kuda menghiasi setiap pojok ruangan. Setelah menunggu beberapa lama, seorang perempuan paruh baya pun keluar dan menyapa Realita. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, ia pun terlihat akrab meski pertemuan itu baru kali pertama terjadi. Dialah Henny Supolo Sitepu, seorang guru sekaligus praktisi pendidikan yang telah menorehkan berbagai prestasi di dunia pendidikan. Sembari duduk santai di sebuah kursi panjang, Henny lantas bercerita seputar perjalanan hidup dan kegiatan di dunia pendidikan yang kini tengah dijalaninya.

Cita-Cita Menjadi Guru. Sebagai anak dari seorang tentara, tentu Henny kecil dididik dengan sangat disiplin. Henny terlahir dari pasangan (Alm.) Supolo dan (Almh.) Harini. Ia merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Didikan disiplin memang sangat kental dalam keluarga Harini. “Ayah saya disiplin sekali dalam mendidik anak,” kenang Henny. Henny lahir di kota Kediri pada 16 September 1954. Ketika Henny masih berumur setahun, ia kemudian pindah ke kota Bandung karena mengikuti kepindahan tugas dari sang ayah. Hanya sekitar lima tahun, ia bersama keluarga tinggal di kota kembang tersebut. Pada usianya yang baru menginjak enam tahun, Henny pun harus kembali berpindah tempat, karena sang ayah ditugaskan di ibukota Jakarta. Tak heran, ia mulai merasakan bangku pendidikan di kota yang dulunya bernama Batavia tersebut.

Henny kecil bersekolah di SDN Percobaan 3 yang dulunya berlokasi di Jalan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. “Mungkin sekarang sudah nggak ada sekolahannya,” ujar Henny. Selepas itu, ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Santa Ursula, Lapangan Banteng, Jakarta. Pada usia remaja, Henny mengaku sempat memiliki cita-cita sebagai seorang guru. Namun demikian, cita-citanya tersebut berganti-ganti saat ia melihat profesi-profesi lainnya yang lebih menarik. “Saya pernah ingin menjadi polwan, dan dokter anak,” ungkapnya singkat.

Henny juga mengalami masa-masa indah pada usia remajanya di SMAN 4, Jakarta. Setelah menamatkan pendidikan sekolahnya, Henny pun memutuskan untuk mengambil mata kuliah Sastra Inggris di Universitas Indonesia (UI). Meski mengambil kuliah Sastra Inggris, cita-cita menjadi seorang guru tak pernah terhapus dari ingatannya. Semasa kuliah, Henny dikenal sebagai salah satu mahasiswa yang aktif di organisasi. Tak heran, ia sempat menjadi Ketua Senat UI sebelum akhirnya organisasi Senat dibubarkan pada saat pemerintahan Soeharto.

Pembuat Kurikulum. Setelah lulus dari Sastra Inggris UI, Henny menjalani dua profesi sekaligus. “Saya menjadi asisten dosen di UI dan bekerja di LBH Jakarta,” aku Henny. Menjadi asisten dosen UI dilakoninya selama 2 tahun, sedangkan aktif di LBH Jakarta bagian Non Litigasi, dijalaninya selama 4 tahun. Di saat yang sama pula, ia kerap menjadi penulis tamu di salah satu rubrik Tabloid Mutiara. Selain itu, salah satu sahabatnya, yakni Bondan Winarno mengajaknya untuk ikut terlibat di sebuah majalah khusus mengenai pendidikan anak. “Secara tidak sengaja, saya lambat laun berkecimpung di dunia pendidikan,” ungkap ibu dua anak ini.

Keterlibatan di dunia pendidikan semakin terasa ketika sahabatnya, Yani Arifin mengajaknya untuk membuat persiapan dalam rangka pendirian sebuah sekolah. Tanpa berpikir panjang, Henny lantas menerima ajakan tersebut. Alhasil, ia pun menjadi salah satu pendiri dan pembuat kurikulum sekolah yang diberi nama Al Izhar tersebut. “Saya tertarik dengan dunia pendidikan, karena proses pengajarannya kepada anak-anak siswa,” tutur penyuka hewan kuda ini.

Bersama rekan-rekannya di sebuah tim, Henny membuat konsep pengajaran dan pendidikan sekolah Al Izhar. Salah satu dasar yang ditanamkannya di sekolah yang terletak di Al Izhar adalah memberikan kesempatan berekspresi bagi seluruh siswa. Dengan begitu, diakuinya, siswa dapat menemukan potensi dalam diri yang paling menonjol dan pada akhirnya akan berguna di masa depan. “Nilai di sekolah itu bukan segala-galanya,” ungkap Henny singkat. Menurutnya pula, guru seharusnya berperan membantu para siswanya menemukan potensi dalam diri masing-masing siswa.

Setelah dua tahun bekerja, akhirnya sekolah Al Izhar mampu beroperasi pada tahun 1987. Kini, Al Izhar sendiri berkembang cukup pesat. Hal tersebut tak lain berkat tangan dingin Henny yang menanamkan konsep serta kurikulum pendidikan yang diterapkan. Meski termasuk dalam salah satu pembuat kurikulumnya, Henny mengaku tidak terus menerus aktif di sekolah tersebut. Ia berpendapat bahwa proses kaderisasi merupakan proses yang sangat penting. Tak pelak, walaupun kini ia masih menjabat sebagai staf ahli Al Izhar, Henny justru lebih banyak memberikan kepercayaan bagi generasi muda untuk melanjutkan proses pengajaran di Al Izhar.

Yayasan Cahaya Guru. Selain menjadi salah satu pembuat kurikulum sebuah sekolah swasta yang cukup bergengsi, Henny juga menjabat sebagai seorang ketua dewan pengurus Yayasan Cahaya Guru. Yayasan ini diakui Henny merupakan sebuah organisasi yang memberikan banyak perhatian terhadap kesejahteraan dan pengembangan guru di berbagai daerah di tanah air. Yayasan Cahaya Guru sendiri didirikan pada 15 November tahun lalu oleh Imam Prasodjo (Ketua Yayasan Nurani Dunia, red). Henny dipercaya untuk memegang kendali pimpinan karena pengalaman dan latar belakangnya di dunia pendidikan yang mumpuni. Berbagai kegiatan telah diadakan Henny beserta para relawan di Yayasan Cahaya Guru. Sebagian besar kegiatannya berupa pelatihan-pelatihan bagi guru-guru di beberapa daerah terpencil. “Kami melakukan pelatihan terhadap guru di Purwakarta dan Kepulauan Seribu,” tutur Henny.

Di Purwakarta sendiri, pelatihan guru dilakukan di 46 Sekolah Dasar dan 7 Madrasah. Menurutnya, di daerah-daerah tersebut, guru-guru perlu mendapatkan pelatihan agar kemampuan mereka dapat berkembang. Dengan begitu, proses belajar mengajar di daerahnya dapat memberikan hasil yang positif.

Guru-guru yang memberikan materi pelatihan ternyata berasal dari sebuah Komunitas Pelatihan Guru yang didirikan Henny bersama rekan-rekannya. “Jadi, guru-guru yang berasal dari sekolah yang beruntung, memberikan pelatihan kepada guru-guru dari sekolah yang kurang beruntung di daerah-daerah,” tutur Henny. Pelatihan tersebut tak hanya berlangsung sekali saja, melainkan secara berkala. “Setahun biasanya 3 kali pelatihan,” imbuhnya. Bila guru-guru yang dilatih tersebut telah selesai mendapatkan pelatihan, mereka juga dituntut untuk menyebarkan pengetahuan tersebut kepada guru-guru lainnya. “Sehingga bisa tumbuh dan berkembang,” harap Henny. Melalui pelatihan ini pula, Henny berharap guru-guru dapat lebih kreatif dalam mendidik para siswanya. Menurutnya, proses pengajaran dari guru dapat disesuaikan dengan potensi yang dimiliki daerah. Sehingga pada akhirnya proses belajar dan mengajar menjadi menarik dan tidak monoton.

Dana untuk membiayai setiap kegiatan Yayasan Cahaya Guru, diakui Henny berasal dari perusahaan-perusahaan swasta yang menjadi donatur yayasan. “Pendidikan itu tanggung jawab kita semua,” ujarnya singkat. Melalui yayasan ini pula, Henny berharap pihak-pihak swasta dapat memberikan lebih banyak perhatian terhadap dunia pendidikan tanah air yang masih kurang sesuai dengan yang diharapkan. Menurutnya, melalui sisi Corporate Sosial Responsibility dari perusahaan-perusahaan, diharapkan tak ada lagi bangunan sekolah yang hampir roboh atau rusak. “Apa yang bisa kita lakukan, ya lakukan saja demi dunia pendidikan kita,” saran Henny.

Kegiatan Henny di dunia pendidikan ternyata tak hanya sampai di situ saja. Beberapa kegiatan juga kerap dilakoninya. Salah satunya adalah menjadi salah seorang konsultan bagi Konferensi Anak yang diadakan majalah anak-anak. Kegiatan tersebut memang tak jauh dari dunia pendidikan anak. Dalam kegiatan tersebut, Henny berperan dalam memberikan penilaian terhadap anak-anak yang lolos seleksi untuk mengikuti konferensi anak. “Kita mengangkat berbagai topik pada setiap Konferensi Anak,” ungkap Henny. Tak hanya itu saja, Henny juga seringkali menjadi dewan juri dalam penyeleksian terhadap kompetisi antar guru SMA. Pada kegiatan itu, setiap perwakilan guru SMA dari daerah mengajukan proposal mengenai sebuah kegiatan yang digagasnya. Henny pun berperan dalam memilih proposal mana yang pantas untuk menjadi juara dan mendapatkan dana sebagai sumber pembiayaan bagi kegiatan yang diproposalkan sebelumnya.

Meski disibukkan dengan berbagai kegiatannya di dunia pendidikan, Henny tetap saja berperan sebagai seorang wanita pada umumnya yang menjadi ibu rumah tangga di dalam keluarga. Waktu luang akan tetap terjaga bagi suami dan kedua anaknya. Henny sendiri menikah dengan sang suami, Mulia Sitepu (64) pada tahun 1982. Sang suami yang kemudian menjadi mualaf tersebut saat ini berprofesi sebagai dokter spesialis mata yang juga merangkap sebagai pengajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Atmajaya. Setahun kemudian, buah hatinya hadir menyapa, yakni Narantara (24) dan disusul putri bungsunya, Anindita (22). Saat ini, anak lelaki sulungnya tengah mengambil gelar master di International Bussiness Management, Kuala Lumpur, Malaysia. Sedangkan Anindita telah rampung menyelesaikan pendidikannya dari Psikologi, Universitas Indonesia.

Sebagai seorang pendidik, Henny tentu mengajarkan berbagai macam hal positif terhadap kedua anaknya. Ia membebaskan kedua anaknya memilih dunia yang disukai selama bernilai positif. “Kita memiliki porsi masing-masing di dunia pendidikan,” ujar Henny sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1…

Merasakan Enaknya Menjadi Guru Pada Usia 19 Tahun

Dunia pendidikan sendiri memang tak bisa terlepaskan begitu saja dari keluarga besar Supolo. Pasalnya, kakek dan nenek dari ibunda Henny juga sempat berprofesi sebagai guru. Bahkan sang kakek justru pernah menjadi seorang kepala sekolah di masa lampau. “Nenek saya pernah jadi kepala sekolah HIS, sekolah zaman dulu,” aku Henny. Tak pelak, dunia pendidikan sudah tak asing lagi bagi dirinya. “Tante saya juga adalah seorang guru,” ujarnya. Bahkan dari tantenya pulalah, Henny dapat mengalami bagaimana rasanya mengajar untuk kali pertama.

Sang tante yang bernama Anggani Sudono memang sempat mengajak Henny pada saat dirinya hendak mengajar di Jakarta International School. “Saya cuma membantu-bantu saja mengajar,” ungkap Henny. Meski begitu, berkat pengalaman itulah ketertarikannya terhadap dunia pendidikan semakin menggebu-gebu. Ia juga belajar banyak tentang dunia mengajar dari sang tante. Selain dari tantenya sendiri, Henny juga belajar mengenai dunia pendidikan dari neneknya yang sempat menjadi kepala sekolah HIS di masa lampau. “Nenek saya pernah menjadi kepala sekolah HIS di daerah Pare, 24 KM dari kota Kediri,” tutur Henny. Tak hanya neneknya, sang kakek juga ternyata pernah menjadi kepala sekolah setelah melepaskan seragam kemiliterannya.

Pilihan berkiprah di dunia guru yang merayakan hari Guru Nasional pada 22 November ini juga didukung oleh sang suami tercinta. Bahkan keluarga besar sang suami pun mendukungnya. Kedekatan Henny dengan keluarga sang suami memang sangatlah harmonis. Selepas ditinggalkan ibu kandungnya, ia bagaikan mendapatkan sosok pengganti melalui kehadiran ibu mertua yang sangat menyayanginya. Bahkan ketika sang suami menghadapi bulan puasa pertamanya, sang ibu mertualah yang membantu menyiapkan makanan sahur dan berbuka bagi suaminya. “Dulu waktu suami saya menjalani puasa pertamanya, saya sedang hamil besar jadi ibu mertua saya yang menyiapkan segalanya,” kenang Henny. Tak heran, ia kini sangat bahagia dalam menjalani profesi dan aktivitas keluarganya yang dipenuhi dengan rasa kasih sayang. Fajar

Side Bar 2…

Membiasakan Berdiskusi di Dalam Rumah

Ada suatu hal menarik yang diajarkan orang tua Henny ketika ia masih kanak-kanak. “Orang tua saya selalu memberikan peluang bagi anak-anaknya dan selalu membiasakan berdiskusi di dalam rumah,” kenang Henny. Tak heran, kebiasaan itulah yang membuat keempat anaknya mampu mengekspresikan pendapatnya di depan orang banyak. Meski demikian, sang ayah yang memiliki latar belakang kemiliteran sangat menekankan kedisiplinan bagi anak-anaknya. Dengan begitu, kepribadian dari masing-masing anaknya dapat terbentuk sedari kecil. Terbukti dari sifat kepemimpinan yang dimiliki Henny sejak kecil. Pasalnya, Henny harus menjadi pengganti sang ibu yang meninggal pada saat Henny menginjak umur 19 tahun. “Ibu saya meninggal pada usia saya 19 tahun,” aku Henny. Walaupun ia merupakan anak kedua, namun sang kakak yang telah menikah sudah tidak tinggal bersama lagi. Akibatnya, ia menjadi sosok kakak yang dituakan setelah ibu kandungnya meninggal dunia.

Karena didikan dari orang tua itulah, Henny beserta kakak dan kedua adiknya mampu berkiprah di dunia yang berbeda-beda tanpa ada paksaan dari orang tua. “Kakak saya menjadi dokter sekaligus seorang peneliti, sedangkan adik saya ada yang menjadi marketing director,” ujar Henny. Ketiga saudara kandungnya diakui Henny, memilih profesi sesuai dengan kecintaannya masing-masing. Termasuk salah satunya adalah Henny sendiri yang lebih mencintai dunia pendidikan. Bahkan pihak orang tua sangat mendukung dengan pilihan anak keduanya tersebut.

Ada sebuah pengalaman yang mungkin tak akan pernah dilupakannya pada saat masih kanak-kanak. “Saya sering mengikuti rapat yang dilakukan ayah saya,” aku Henny. Sehingga, ia sudah terbiasa dengan suasana diskusi dari rapat tersebut. Di dalam keluarga sendiri, sang ayah membiasakan acara diskusi dari masing-masing anggota keluarga. Setiap anggota keluarga dibebaskan untuk mengeluarkan pendapatnya di berbagai kesempatan, termasuk pada saat acara makan bersama.

Hal serupa juga diajarkan kepada kedua anaknya saat ini. Masing-masing anak bebas memilih dunia pekerjaannya sesuai dengan kesenangan masing-masing. Terbukti, bila anak sulungnya menyukai dunia bisnis dan mengambil master di bidang tersebut, berbeda halnya dengan anak bungsunya yang lebih memilih dunia psikologi sebagai dunia pekerjaannya. Untuk urusan pribadi pun, Henny beserta sang suami membebaskan pilihan kepada kedua anaknya. “Saya sudah siap memiliki cucu, tapi anak-anak saya belum siap tuh,” ujarnya sembari tertawa lebar. Fajar

Biodata

Nama Lengkap : Henny Supolo Sitepu

Tempat, tanggal lahir : Kediri, 16 September 1954

Nama Suami : dr. Mulia Setiepu, Sp M (64)

Nama Anak : Narantara (24)

Anindita (22)

Pendidikan :

  • Sastra Inggris, Universitas Indonesia (UI), tahun 1979

  • Master of Arts, Michigan State University, Curriculum and Teaching

  • School Management Courses, University of Western Australia

Karir :

  • Asisten Pengajar Drama Modern Fakultas Sastra UI (1979-1982)

  • Staf non litigasi LBH Jakarta (1980-1984)

  • Penulis tamu tabloid Mutiara (1980-1984)

  • Editor rubrik keluarga majalah Balita (1983-1985)

  • Anggota tim persiapan sekolah Al Izhar, Pondok Labu (1985-1987)

  • Koordinator Pengembangan kurikulum Al Izhar (1987-2003)

  • Editor Pelangi majalah pendidikan dan budaya Indonesia terbitan University of Southern Queensland (1990-1996)

  • Staf ahli pengembangan kurikulum Al Izhar (2003-sekarang)

Kegiatan :

  • Anggota Yayasan Mitra Netra

  • Anggota Yayasan Dyatmika

  • Anggota Komite Etik Lembaga Eijkman, Jakarta

  • Anggota Komunitas Pelatihan Pendidikan Al Izhar Pondok Labu

  • Pendiri Komunitas Pemberdayaan Guru

  • Ketua Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru

Lain-lain :

  • Konsultan Konferensi Anak Majalah Bobo

  • Penulis buku serial “Menjadi guru di rumah”


No comments: