Tuesday, May 4, 2010

Mia Hanafiah, Ketua Yayasan Jantung Indonesia dan Wakil Ketua Federasi Jantung Dunia (World Heart Foundation)

Bahagia Saat Melihat Penderita Kelainan Jantung Dapat Sembuh

Memiliki seorang suami yang merupakan seorang dokter ahli jantung, membuatnya semakin akrab dengan berbagai pengetahuan tentang organ pemacu darah tersebut. Dari situlah ia menjadi peduli terhadap kesehatan tubuh, terutama yang mempengaruhi kinerja jantung. Tak pelak, ia mulai berkecimpung di Yayasan Jantung Indonesia dan Federasi Jantung Dunia. Tak hanya itu saja, ia juga sangat getol melakukan kampanye anti rokok. Lalu seperti apa bentuk kegiatan sosialnya tersebut?

Senin (22/10) siang, sebuah rumah besar yang terletak di daerah Pejaten Barat itu terlihat sangat sepi. Pepohonan besar dan halaman luas mengelilingi bangunan rumah yang berukuran cukup besar tersebut. Tak heran, suasana sejuk dan asri sangat kental terasa ketika memasuki pekarangan rumah itu. Setelah memasuki ruangan pun, kesejukan masih saja terasa. Beberapa saat kemudian, seorang wanita yang mengenakan blazer keluar dari sebuah ruangan. Meski keriput sudah menghiasi wajahnya, wanita itu justru masih nampak bugar. Langkah kakinya seakan-akan menggambarkan semangatnya yang masih membara. Terutama semangat untuk mengkampanyekan anti rokok di tanah air.

Senyum dan sapa ramahnya menyambut kedatangan Realita pada siang bolong itu. Dialah Mia Hanafiah, sosok wanita yang selalu berada di barisan terdepan untuk mengkampanyekan anti rokok beberapa waktu terakhir ini. Sembari duduk santai di sofa panjang, ia lantas bercerita mengenai sekelumit kegiatan sosial yang kerap dilakoninya.

Selama puluhan tahun telah ia jalani kegiatan sosial di Yayasan Jantung Indonesia. Telah banyak program yang telah ia telurkan di dalam organisasi yayasan. Prestasi pun telah ia torehkan untuk kepentingan orang banyak. Salah satunya adalah dengan membuat program klub jantung sehat di pelosok nusantara. Tak hanya itu saja, beberapa program kegiatan lainnya pun telah ia canangkan selama berkecimpung di dalam yayasan.

Suami Ahli Jantung. Mia Hanafiah sendiri merupakan anak dari pasangan (alm.) Sulisto Purbo Kusumo dan (alm.) Arbayah Sulisto. Mia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Mia lahir di kota hujan, Bogor pada 11 Juni 1945. “Saya berasal dari keluarga besar,” ujarnya singkat. Meski lahir dari keluarga besar, hubungan antar saudara kandung tetaplah harmonis. Hingga kini, Mia masih kerap berkumpul dengan kakak dan adik-adiknya bila ada kesempatan.

Terlahir di zaman kemerdekaan memang memaksa Mia tak sepenuhnya menikmati masa kanak-kanaknya dengan baik. Ia harus berpindah-pindah tempat, untuk menghindari kondisi yang masih belum terkendali kala itu. Ketika masih balita, Mia turut serta kepindahan sang ayah yang memutuskan untuk tinggal di Jakarta. Tak pelak, pendidikan pun ia dapatkan di ibukota. Mia kecil bersekolah di SD Negeri di jalan Cilacap, Menteng, Jakarta Pusat. Ia kemudian melanjutkan sekolahnya di SMPN 1, Jakarta dan SMAN Setiabudi Teladan, Jakarta. Selepas menamatkan pendidikannya, Mia lantas memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan ekonomi di Universitas Indonesia (UI). “Saya cuma kuliah selama dua bulan saja, lalu pindah,” kenang pemilik nama asli Laksmiati ini. Ia memutuskan untuk pindah ke Jerman untuk mengenyam pendidikan bahasa. Tiga bahasa, yakni Perancis, Jerman dan Belanda telah ia pelajari selama kurun waktu dari tahun 1963 hingga tahun 1967.

Setelah kembali ke tanah air, Mia bertemu dengan seorang pria yang kini menjadi suami sekaligus ayah dari tiga anak-anaknya. Pria yang bernama Hasikin Hanafiah (75) kini berprofesi sebagai dokter ahli jantung yang juga memiliki sebuah klinik sendiri di daerah Jakarta Selatan. Pernikahannya saat ini sudah berumur puluhan tahun dan telah menghadirkan tiga buah hati, yakni Ashanti (39), Aad (38) dan Dita (35). Tak hanya kehadiran ketiga anaknya, kehidupan Mia juga telah diwarnai dengan hadirnya tujuh cucu yang selalu meramaikan kediamannya.

Sukarelawan Puluhan Tahun. Awal ketertarikan Mia dengan kegiatan sosial bermula setelah ada niat dari dalam dirinya untuk lebih banyak berkegiatan setelah ketiga anaknya sudah mandiri dan dewasa. “Saya memilih aktif di kegiatan sosial karena waktunya yang tidak mengikat,” aku Mia. Tak hanya itu saja, dorongan sang suami pun memberikan motivasi lebih bagi Mia untuk aktif di yayasan. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) dipilih juga berkat saran sang suami yang berprofesi sebagai dokter ahli jantung. Selain itu, beberapa pengalaman yang sempat ia rasakan mendorongnya untuk aktif di yayasan yang berkonsentrasi pada penanggulangan penyakit jantung di tanah air tersebut. Salah satu pengalaman pribadinya adalah meninggalnya sang ibunda setahun lalu akibat serangan jantung. Selain itu, sang ayah juga meninggal beberapa tahun lalu karena penyakit kanker akibat sang ayah merupakan perokok berat. “Awalnya saya hanya ikut sebagai seorang sukarelawan saja,” kenang Mia. Pada tahun 1981, Mia resmi ikut sebagai sukarelawan dan selalu hadir membantu setiapkali YJI mengadakan kegiatan.

Mia merasakan adanya ketertarikan yang lebih setelah ia mampu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa banyak pihak yang merasa terbantukan dengan adanya YJI. Yayasan tersebut sendiri berdiri sejak tahun 1979. Awalnya yayasan itu bernama Yayasan Jantung Dewi Sartika. Seiring berjalannya waktu, nama yayasan tersebut dirubah oleh (almh.) Tien Soeharto menjadi Yayasan Jantung Indonesia dan memiliki daerah cakupan di seluruh Indonesia. Keterlibatan Mia semakin bertambah besar setelah ia diberikan kepercayaan untuk menjadi Ketua Umum pada periode 1988-1999. Kepercayaan yang diberikan kepadanya itu pun tidak disia-siakannya. Mia kerap membuat banyak kegiatan yang bertujuan untuk membangun awareness di dalam masyarakat terhadap bahaya penyakit yang menyerang organ jantung. Kini, Mia menjabat sebagai Ketua 2 Yayasan Jantung Indonesia yang membidangi penerangan dan penyuluhan penyakit jantung di tanah air.

Bantuan Dana Operasi. Melalui YJI, Mia bersama rekan-rekan lainnya mencanangkan berbagai program kegiatan. Salah satunya adalah dengan membuat Klub Jantung Sehat yang kini sudah tersebar di seluruh pelosok tanah air. “Saat ini sudah ada 3000 Klub Jantung Sehat di berbagai daerah,” ungkap Mia. Masing-masing Klub Jantung Sehat tersebut digunakan pihak yayasan sebagai sarana untuk mensosialisasikan pola hidup sehat yang pada akhirnya akan mencegah pertumbuhan angka penyakit jantung di tanah air. “Kegiatan mereka biasanya melakukan minimal 3 kali olahraga bersama dalam satu minggu,” tutur wanita yang masih nampak muda di usia senjanya ini. Tak hanya itu saja, pola hidup sehat juga digencarkan dengan memberikan penyuluhan makanan sehat dan bergizi serta mengkampanyekan anti rokok melalui klub-klub jantung sehat tersebut.

Selain membentuk klub jantung sehat, Mia beserta rekan-rekannya di yayasan juga membantu dalam hal pembiayaan bagi anak-anak kurang mampu yang menderita kelainan jantung. Sejak berdiri, yayasan telah membantu 1700-an anak yang menderita kelainan jantung. “Tapi kita tidak membiayai penderita penyakit jantung koroner yang biasanya disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat,” ungkap Mia. “Yang dibantu adalah anak-anak yang memiliki cacat bawaan pada jantungnya dan berasal dari keluarga kurang mampu,” lanjutnya. Tak heran setiap tahun yayasan mengeluarkan uang dalam kisaran Rp 30-40 juta untuk membantu masing-masing anak dalam menjalani operasi tersebut. “Bisa dibayangkan bagaimana susahnya menggalang dana untuk membantu anak-anak itu,” ungkapnya sembari tersenyum. Untuk menggalang dana sebagai sumber pembiayaan segala macam kegiatan operasional yayasan, setiap tahun pihak yayasan mengadakan acara penggalangan dana yang mampu menampung dana sumbangan dari para donatur, baik perorangan maupun perusahaan. Selain itu, bila pihak yayasan akan mengadakan kegiatan, tak segan-segan pihak yayasan meminta sumbangan dana dari berbagai pihak. Tak jarang pula, Mia merogoh koceknya untuk sekadar membiayai sebagian kegiatan yang diadakan yayasan. “Kadang-kadang kita keluar uang jugalah,” ungkap Mia tanpa menyebutkan nominalnya.

Kampanye Anti Rokok. Mia juga menjadi orang terdepan dalam kegiatan kampanye anti rokok yang dirintisnya dari kegiatan Yayasan Jantung Indonesia. “Saya sangat khawatir dengan meningkatnya konsumsi rokok di Indonesia,” ujar Mia. Bahkan berdasarkan hasil penelitian yang didapat YJI, jumlah perokok kini lebih banyak berasal dari generasi muda. “Sekarang para produsen rokok mengincar anak-anak muda sebagai target pasarnya,” aku Mia. Hal tersebut menurut Mia, karena para produsen ingin mempertahankan industri rokok yang semakin lama semakin terhimpit dengan kebijakan pemerintah yang mempersempit gerak industri rokok. Selain itu, para perokok setia yang berasal dari generasi tua, telah berkurang dengan kematian yang tentunya disebabkan oleh kebiasaan merokok itu sendiri.

Tak pelak, YJI kini lebih banyak mengkampanyekan penyakit jantung kepada generasi muda. “Sekarang kita lihat saja para penderita jantung makin kesini makin muda umurnya,” ujar Mia. Melalui kampanye anti rokok yang diketuai oleh Farid Moeloek, Mia juga berharap dapat menekan konsumsi rokok pada generasi muda saat ini. “Semakin muda orang memulai merokok, semakin susah ia berhenti merokok,” imbuhnya. Atas dasar kekhawatiran itulah, Mia semakin getol untuk selalu berkampanye melawan bahaya rokok tanpa dibayar sepeserpun. Komite nasional kampanye anti rokok sendiri beranggotakan 22 organisasi yang peduli terhadap bahaya rokok.

Pengalaman puluhan tahun terjun di YJI dan beberapa organisasi sosial lainnya membuat Mia terpilih untuk menjabat sebagai wakil ketua Federasi Jantung Dunia, yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. “Organisasi yang tergabung di federasi itu adalah yayasan-yayasan jantung dari seluruh dunia,” tutur Mia. Sebagai rasa tanggung jawab, rencananya bulan ini Mia akan menghadiri rapat di Inggris bersama organisasi-organisasi lainnya yang tergabung di Federasi Jantung Dunia. Sebelum menjabat posisi tersebut, sebelumnya Mia juga mengemban tugas sebagai ketua Federasi Jantung Dunia se Asia Pasifik.

Tak hanya aktif sebagai relawan di yayasan dan di komite nasional kampanye anti rokok, Mia tentu saja aktif berkegiatan sosial di dalam lingkungan kehidupan pribadi dan keluarganya di rumah. Hal tersebut dianggapnya sebagai kewajiban yang memang harus dilakukan sebagai seorang manusia. Salah satu aksi sosial pribadinya adalah dengan membangun sebuah Masjid yang dipersembahkan untuk almarhumah ibunda tercintanya di daerah Brebes, Jawa Tengah. “Di sana juga ada panti asuhan yang selalu kita sumbang,” ungkap Mia. Tak hanya itu saja, untuk kegiatan sosial yang bersifat insidental bagi para korban musibah, Mia kerap memberikan sumbangan bersama teman-teman dan keluarga yang diajak serta. Ia tidak pernah menganggarkan dana yang akan disumbangkan. “Yang pasti jumlah dana sumbangan itu untuk zakat dan beberapa sumbangan lainnya untuk kegiatan sosial,” ujarnya singkat.

Meski disibukkan dengan kegiatan sosialnya di yayasan, Mia tetap saja dapat meluangkan waktu dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Bahkan mereka selalu dapat menyempatkan untuk berlibur bersama. “Beberapa waktu lalu kita berlibur ke Bali bersama anak dan cucu,” kenang Mia. “Minimal setahun sekalilah,” lanjutnya. Tak hanya itu saja, sebagai seorang istri pun, Mia tetap mendukung karir sang suami yang kini berpraktek di Rumah Sakit Harapan Kita dan klinik pribadinya di daerah Jakarta Selatan. Sang suami sendiri, Hasikin Hanafiah ternyata ikut terlibat sebagai salah satu anggota Dewan Pembina di Yayasan Jantung Indonesia. Bagi Mia, dengan aktif di kegiatan sosial, ia merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak penderita kelainan jantung dapat sembuh dari sakitnya berkat bantuan yang diberikan yayasan yang digelutinya. “Kebahagiaanlah yang saya dapatkan,” ujar Mia sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1:

Menggelar 10 Pancang Niat Dalam Rangka Memperingati Hari Sumpah Pemuda

Bila 28 Oktober 1928, para pemuda meneriakkan janji mereka untuk bersatu yang dikenal dengan Hari Sumpah Pemuda, maka berbeda halnya dengan apa yang dicanangkan oleh Mia bersama rekan-rekannya di YJI. “Kita menggelar 10 pancang niat yang berisikan janji para pemuda untuk selalu hidup sehat,” tutur Mia. Pada hari Minggu, 28 Oktober yang lalu, YJI menggelar sebuah kegiatan yang melibatkan sekitar 3000 anak sekolah untuk meramaikan peringatan hari sumpah pemuda. Anak-anak sekolah tersebut melakukan sebuah permainan yang sudah lama ditinggalkan, yakni permainan lompat tali. “Permainan lompat tali sekarang kan banyak ditinggalkan anak-anak, padahal permainan itu sangat menyehatkan,” tutur Mia.

Permainan lompat tali memang tengah diperkenalkan kembali di 50 sekolah di Jabotabek oleh YJI. Permainan tersebut akan dimasukkan dalam pelajaran olahraga di masing-masing sekolah. Dengan begitu, diharapkan anak-anak muda akan kembali menyukai permainan lompat tali yang tentunya menyehatkan tubuh. “Sehingga menciptakan pemuda-pemuda sehat yang bebas dari pola hidup buruk termasuk salah satunya merokok,” tutur Mia.

Tak hanya itu saja, YJI juga menggelar musik hip hop yang menyehatkan yang disebut dengan hip heart. “Hip heart itu diciptakan oleh salah satu sanggar tari yang akan menyehatkan remaja kita,” ujar Mia. Sekitar 3000 klub jantung sehat juga tidak ketinggalan ikut serta dalam kegiatan ini. Mereka melakukan senam pada pagi harinya. Sebuah bazaar juga meramaikan kegiatan yang memperingati hari sumpah pemuda tersebut. Bazaar yang dinamakan ‘Heart fair’ tersebut tentunya akan menjual berbagai barang yang tak hanya berkaitan dengan kesehatan saja. YJI sendiri tak akan berhenti mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut. Untuk ke depannya, Mia bersama YJI akan terus getol mengadakan berbagai kegiatan untuk mensosialisasikan pola hidup sehat untuk mencegah bertambahnya penyakit jantung di tanah air, terutama bagi para pemuda dan wanita. Fajar

Side Bar 2:

Giat Kampanye Anti Rokok, Salah Satu Anaknya Justru Perokok Berat

Ada satu hal ironis yang terjadi dalam keluarga Mia Hanafiah. Meski Mia sangat getol menyuarakan kampanye anti rokok di berbagai kesempatan, lain halnya yang terjadi di dalam keluarga sendiri. Pasalnya salah satu anak lelakinya justru menjadi perokok berat. Aad (38), adalah anak lelakinya yang ternyata adalah perokok berat. “Ya memang anak saya merokok,” ungkap Mia. “Dia kan dulu pernah kuliah di Inggris, jadi terbawa lingkungannya,” akunya. Mia sendiri memang telah banyak mengingatkan anaknya tersebut untuk berhenti merokok. Namun demikian, karena sang anak masih ketergantungan dengan rokok, maka larangan itu pun tak mempan.

Kini, di rumahnya di daerah Pejaten, Mia mengajarkan kepada cucu-cucunya untuk selalu banyak bergerak dan berolahraga. Tak heran tepat di belakang rumahnya, Mia menempatkan sebuah kolam renang besar dan beberapa alat permainan yang menuntut cucu-cucunya untuk selalu bergerak. “Sekarang ini kan banyak game-game permainan dan komputer yang justru tidak menyehatkan karena hanya berdiam saja,” ujarnya. Kekhawatiran itulah yang menyebabkan Mia untuk menempatkan beberapa alat permainan di belakang rumahnya. “Jadi setiap mereka (cucu-cucu, red) ke sini, saya suruh bermain di luar,” aku Mia.

Pemikiran itulah yang mengakibatkan salah satu ide Mia Hanafiah dituangkan ke dalam Yayasan Jantung Indonesia dengan mencanangkan sebuah program yang dinamakan Gerakan Jantung Sehat Remaja. Mia sendiri menjabat sebagai ketua gerakan tersebut. Di dalam gerakan itu, terdapat banyak kegiatan diantaranya adalah kegiatan outbond, games, dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk menyehatkan tubuh para remaja yang menjadi pesertanya. “Namanya Kampung Remaja,” ujarnya singkat. Tahun lalu, kegiatan ini diadakan di daerah Sukabumi. Sedangkan untuk tahun ini diadakan di daerah perkemahan Cibubur. Mia berharap kegiatan tersebut akan selalu diadakan setiap tahunnya. Fajar

Side Bar 3:

Sering Meraih Penghargaan Atas Aksi Sosialnya

Berkat keikhlasan dan ketekunannya berkecimpung di YJI dan beberapa organisasi sosial lainnya, Mia sempat meraih beberapa penghargaan yang tentunya membanggakan bagi dirinya. Salah satu yang paling berkesan adalah penghargaan WHO Tobacco or Health Award beberapa tahun silam. Selain itu, beberapa penghargaan dari menteri pemuda dan olahraga, serta menteri sosial turut menjadi koleksi penghargaannya.

Pengabdian selama puluhan tahun juga patut diacungi jempol. Pada tahun 2006 silam, tepat 25 tahun pengabdiannya di YJI, Mia mendapatkan penghargaan dari pihak yayasan. Namun, Mia bertekad untuk tidak berhenti sampai di situ saja. Ia akan terus aktif di YJI dan selalu mengkampanyekan anti rokok di Indonesia. Baginya, kebahagiaan dan kepuasan yang timbul setelah aktif di kegiatan sosial itulah yang ingin didapatkan dirinya. Bahkan rencananya ia ingin menurunkan jumlah penderita sakit jantung di tanah air serta mengurangi konsumsi rokok di generasi muda. Karena menurutnya, generasi muda itulah yang merupakan generasi penerus pemimpin-pemimpin Indonesia di masa mendatang. Fajar



10 comments:

tasia maokti said...

bagaimana cara mendapatkan bantuan dari yayasan jantung indonesia ??
adik saya adalah penderita kelainan jantung(jantung bocor) dia berusia 2bulan.
kami berasal dari keluarga miskin, yang benar-benar membutuhkan uluran tangan para dermawan yang bersedia membantu untuk kesembuhan adik saya.
tolong dibalas, terimaksih.

tasia maokti said...

bagaimana cara mendapatkan bantuan dari yayasan jantung indonesia ?
adik saya adalah seorang penderita kelain jantung(jantung bocor), dia masih berusia 2bulan.
kami berasal dari keluarga miskin yang benar-benar membutuhkan uluran tangan demi kesembuhan adik saya.
tolong dibalas, terimakasih

Mien DS said...

Tasia, kalau Tasia tingal di Bali, bisa datang dan konsultasi lebih dahulu ke Yayasan Jantung Indonesia cabang Bali.

wesia utama said...

Ibu keponakan saya punya kelainan jantung. Namanya : Komang Seri umurnya baru 2 tahun ( jantung Bocor) dokter menyarankan untuk operasi dan saat ini kami sangat memelukan bantuan dana untuk biaya operasi yang cukup tinggi tolong kami. saya mohon mengharapkan sekali bantuan dari yayasan jantung indonesia untuk bisa membantu kami.
bisa contak kami di dadok_arix@yahoo.com
tlp : 0361 424090 ( wyn Sudiana )

IA said...

Adik saya menderita jantung bocor bawaan lahir usianya sekarang 19th, bagaimana cara mendapatkan bantuan biaya untuk operasinya? Terima kasih kalau ada info tolong kontak 085624060523

IA said...

Adik saya menderita jantung bocor bawaan lahir usianya sekarang 19th, bagaimana cara mendapatkan bantuan biaya untuk operasinya? Terima kasih kalau ada info tolong kontak 085624060523

IA said...

Adik saya menderita jantung bocor bawaan lahir usianya sekarang 19th, bagaimana cara mendapatkan bantuan biaya untuk operasinya? Terima kasih kalau ada info tolong kontak 085624060523

Ratna Zhang said...

mohon tanya klub jantung sehat di batam ada tidak ??? mohon di balas

Hartaulina Tarigan said...

Ada warga kami seorang anak usia 13thn bernama Nandy, mengalami kelainan jantung bawaan sejak lahir. Kondisinya memprihatinkan. Tinggal d rmh berukuran 3x2.5m. Bapaknya hanya pekerja kebun dan ibunya tdk bekerja krn hrs menjaga Nandy yg sering mengalami biru" mendadak disekujur tubuhnya. Kmana kami bs memohon bantuan ya Bu? Nandy tinggal d kampung Kedung Jaya Cirebon Jawa Barat. Jika ada yayasan jantung sosial yg bs membantunya..terimakasih

pokel said...

Assalamuallaikum wr wb

Perkenalkan nama saya joko winarno asal saya dr boyolali
Disini saya mau bertanyya tentang jantung bocor perihal tetangga saya ad yg mempunyai penyakit jantung bocor sampai sekarang umur 11 thn dr keluarga tidak mampu , disini saya sama teman " kerja membantu untuk si anak tersebut agar lekas sembuh dr penyakitnya tp kami tidak tau harus berbuat ap ketika jalur bpjs hanyya menganjurkan obat jalan dengan harga obat untuk 30 hari sekitar Rp 750.000,-00
Tolong bantuan solusi atao jln yg harus kami lakukan supaya si anak tersebut bisa lekas tertangani (karena beberapa dokter yg saya temui menyarankan untuk segera di operasi) dengan hasil foto lubang berdiameter 2,6cm /tgl 18 may 2016 ( bisa hubunggi ke saya 081384431380) terimakasih sebelumnya