Thursday, April 1, 2010

Aidil Akbar Madjid, MBA., Perencana Keuangan

Sukses Setelah Membahagiakan Kedua Orangtua

Kesuksesan yang kini diraih Aidil Akbar pastinya tidak datang tiba-tiba. Aidil pun sangat percaya bahwa apa yang didapatnya sekarang berkat doa kedua orangtua. Pasalnya, sejak kali pertama bekerja dan mendapatkan gaji, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ayah dan ibunya hingga saat ini. Tak heran, ia sangat percaya bahwa doa kedua orangtuanya sangat berperan dalam tangga karir yang tengah dijalaninya. Lalu bagaimana kisah pria berkacamata ini?

Di usianya yang relatif muda, Aidil Akbar memang telah merengkuh kesuksesannya setelah menjadi seorang perencana keuangan ternama tanah air. Sebuah gedung perkantoran di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat menjadi tempatnya mencurahkan segala ide di dunia bisnis dan keuangan yang digelutinya. Akbar-panggilan akrabnya-bersama rekan-rekannya memang bergelut di dunia jasa yang menawarkan perencanaan keuangan bagi para pelanggannya yang berasal dari berbagai latarbelakang.

Kantor yang berada di lantai 20 milik Aidil Akbar itu memang nampak sepi saat Realita datang pada minggu pertama di tahun 2009. Akbar ternyata bukanlah tipe pengusaha muda yang selalu mengejar materi dalam dunia bisnis yang digelutinya. Hubungannya dengan Tuhan selalu ia jaga dengan baik. Terbukti, ketika Realita datang, Akbar tengah menunaikan kewajiban shalat fardhunya. Setelah menunggu beberapa saat, Akbar pun hadir menyapa dengan senyuman hangat. Di sebuah ruangan yang tak begitu besar di kantornya, Akbar lantas berbagi kisah mengenai perjalanan karir dan hidupnya yang dipenuhi dengan pertolongan Allah.

Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Akbar memang dididik dengan kedisiplinan yang tinggi. Tak hanya itu saja, ia juga dituntut untuk memiliki tanggungjawab besar terhadap kedua adiknya. Tak heran, Akbar sangat dekat dengan kedua adiknya tersebut. Pria yang lahir pada 19 Juli 1973 ini menghabiskan masa kecilnya di ibukota. Sang ayah, Ir. H. Abdul Madjid Djalil, Mep (69), merupakan salah satu karyawan di Pertamina. Sedangkan ibu, Hj. Tuty Kusniaty Madjid lebih banyak meluangkan waktu di rumah sebagai ibu rumah tangga biasa.

Mandiri dan Disiplin. “Kami, anak-anaknya tak pernah dimanja,” kenang Akbar tentang didikan kedua orangtuanya. Alhasil, ketiga anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri tanpa bergantung pada kedua orangtua, tak terkecuali Akbar. Ketika tugas sang ayah dipindahkan ke negeri Sakura, Jepang, Akbar pun melanjutkan pendidikannya di Jepang. Kala itu, ia masih duduk di bangku SMP. Tinggal di negeri orang merupakan pengalaman menarik bagi Akbar. Bersama keluarganya, ia merasakan tinggal di Jepang selama lima tahun sejak tahun 1986. Sekitar tahun 1991, tugas ayahnya kembali dipindahkan ke tanah air. Akbar pun melanjutkan pendidikan SMA di ibukota. Setelah menamatkan pendidikan SMA, kedua orangtuanya menyarankan untuk melanjutkan kuliah di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Alih-alih menuruti saran orangtua, Akbar pun memutuskan untuk melanjutkan bangku kuliahnya di Amerika Serikat. Akbar sendiri mengaku bahwa semasa SMA, ia terlalu banyak bermain ketimbang belajar. “Saya memang banyak mainnya,” aku Akbar sembari tersenyum malu. Merasa khawatir dengan perilaku Akbar yang belum mencurahkan konsentrasinya ke pendidikan, kedua orangtuanya lantas menyarankan Akbar agar melanjutkan kuliah di Amerika, dengan harapan ia mampu lebih bersikap bertanggungjawab terhadap masa depannya sendiri. Meski seorang diri di negeri seberang tak membuat Akbar ketakutan, pasalnya, selama tinggal bersama kedua orangtuanya, ia sudah ditanamkan didikan kedisiplinan dan kemandirian. “Saya sudah biasa kalau ingin mendapatkan sesuatu itu harus dengan usaha,” ujar Akbar yang telah berkecimpung di dunia perencanaan keuangan selama 15 tahun ini.

Semasa remaja, Akbar sendiri dikenal sebagai anak yang sangat ambisius. “Hidup saya selalu terencana dan teratur dengan baik,” ungkap Akbar dengan bangga. Kendati begitu, ia mengaku bahwa tak memiliki cita-cita sebagai seorang perencana keuangan. Namun, saat duduk di bangku SMA, Akbar memang memilih jurusan A3 (akuntansi, sosial) ketimbang A1 dan A2 (eksakta). “Karena itu lebih berguna nanti kalau saya masuk ke sekolah bisnis,” kilah Akbar. Tak heran, selepas lulus SMA, Akbar memutuskan untuk melanjutkan kuliah di jurusan keuangan.

Dengan bekal kemandirian dan didikan agama yang kuat, Akbar hidup di lingkungan kehidupan Amerika yang serba bebas. “Itulah untungnya dididik agama yang kuat dari kedua orangtua saya,” ujar Akbar. Hal itu terlihat ketika Akbar masih kanak-kanak. “Waktu anak-anak, saya ingin sekali gamewatch, tapi ayah saya tidak membelikannya,” kenang pengguna setia Blackberry ini. Kendati begitu, Akbar yang kala itu masih duduk di bangku kelas 2 SD Al-Azhar, Jakarta, justru diberi uang bila mampu menyelesaikan puasanya di bulan Ramadhan. Tiap kali ia menyelesaikan puasa, Akbar memperoleh uang Rp 500. Sehingga dalam sebulan ia mampu mengumpulkan uang untuk membeli gamewatch sendiri. Dari pengalaman tersebut, Akbar sedari kecil sudah dididik untuk mengatur dan merencanakan keuangannya sendiri.

Meski kehidupan di Amerika diisi dengan berbagai kegiatan yang terkadang melanggar norma agama, Akbar dengan yakin mampu menghadangnya dengan baik. Berbekal pengetahuan agama yang dimilikinya, ia mampu menangkis segala godaan yang datang. Selama setahun berada di Amerika, Akbar tak langsung mengenyam pendidikan sarjananya. “Saya sekolah bahasa Inggris terlebih dahulu,” aku Akbar yang mengaku setahun pertama di Amerika kebanyakan dihabiskan hanya untuk bermain-main saja. Meski sudah berada di negeri nun jauh di seberang, ia masih aktif berkomunikasi dengan keluarga dan sahabat-sahabat semasa SMA-nya dulu. “Waktu itu, teman-teman saya sudah kuliah, tapi saya masih sekolah bahasa Inggris,” tutur Akbar yang semasa kecilnya bercita-cita menjadi insinyur ini. Mendengar pengalaman teman-temannya di Jakarta yang sudah memasuki dunia kampus, Akbar pun mulai terpacu untuk mulai serius mengenyam pendidikan di negeri Paman Sam. Padahal, kala itu Akbar masih menikmati masa kesendiriannya di Amerika. Sehingga ia kerap lupa dengan tujuan awal kedatangannya ke Amerika untuk menempuh pendidikan sarjana.

Sisihkan Uang untuk Orangtua. Dorongan besar lantas membuat Akbar kembali ke arah tujuan semula untuk serius mengenyam pendidikan. “Stigma mahasiswa yang belajar ke luar negeri di era tahun 1990-an itu kan kalau pulang ada dua, bawa ijazah atau bawa anak,” ujarnya sambil tertawa kecil. Tak ingin cita-citanya hancur karena salah pergaulan, Akbar lantas berusaha untuk kembali serius belajar dan belajar. Apalagi teringat dengan kedua orangtuanya yang telah susah payah membiayai pendidikannya di Amerika. “Saya cenderung punya mimpi besar dan kemauan besar,” tuturnya menjelaskan. Akbar pun serius mendalami dunia bisnis yang dipelajarinya. Berkat dorongan itu pulalah, nilai-nilai akademis yang diraihnya cukup memuaskan. Setelah lulus meraih gelar Bachelor of Business Administrations dari Loyola Marymount University, Los Angeles, Akbar tak langsung kembali ke tanah air. Ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di Amerika sekaligus melanjutkan pendidikannya di Woodbury University, mengambil program Master of Business Administrations.

Uniknya, Akbar sejak kali pertama bekerja di Amerika, sudah mulai terbiasa untuk selalu mengirimkan sebagian uangnya bagi kedua orangtua hingga saat ini. Kendati kedua orangtuanya tidak hidup kekurangan, Akbar merasa wajib memberikan sebagian penghasilannya untuk kedua orangtua. “Dari awal bekerja setelah lulus, saya selalu mengirimkan uang untuk ayah dan ibu saya,” aku Akbar. Meski pemberian materi tak mampu menggantikan segala macam pengorbanan yang dilakukan kedua orangtuanya, Akbar tetap merasa berkewajiban untuk membahagiakan mereka. Bahkan ketika masih bekerja di Amerika sembari melanjutkan kuliah, Akbar sempat mengirimkan uang 500 Dollar Amerika kepada kedua orangtuanya. Kebiasaan itu lantas berlanjut setelah Akbar kembali ke tanah air dan mulai merintis bisnisnya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, karir Akbar pun mulai merangkak naik. Namun, perjalanan karirnya ternyata tak semudah yang dibayangkan. Pada tahun 2005, perusahaan Pavillion Group yang didirikannya bersama salah satu teman, sejak tahun 2003, mendapat hantaman keras dari penurunan bisnis. Kerugian yang cukup besar harus ditanggung oleh Akbar. “Bisnisnya lumayan menurun,” ungkap Akbar. Penurunan bisnis yang disebabkan oleh kesalahan estimasi tersebut cukup membuat Akbar shock. Jumlah asset yang dimilikinya lantas menurun cukup drastis. Namun demikian, Akbar masih beruntung karena memiliki tabungan yang cukup untuk bertahan di saat posisinya tengah terpuruk. “Walaupun tidak sampai terpuruk banget,” kilah Akbar. Bercermin dari kejadian itulah, Akbar berubah 180 derajat dari sosok pria ambisius menjadi pria yang lebih banyak mempertimbangkan segala macam langkah-langkah bisnisnya. “Akhirnya saya baru tersadar selain perencanaan dan perhitungan yang baik, ada step lain yang harus dilakukan yakni pasrah,” tutur Akbar. “Apapun yang kita lakukan, hasilnya tergantung yang di atas (Tuhan, red),” lanjutnya.

Pertolongan Allah. Perlahan tapi pasti, keterpurukan bisnisnya mulai membaik. Mengadu kepada Allah dan bersikap tawakal dengan apa yang terjadi, dilakukan Akbar agar mendapatkan jalan keluar yang baik. Ditambah lagi dengan doa kedua orangtua yang tak pernah berhenti, akhirnya Akbar mampu melewati cobaan tersebut. “Ada saja jalan keluar yang ditunjukkan Allah,” ungkap Akbar. Beberapa proyek bisnis datang saat ia tengah terpuruk. Di saat jalan keluar itu datang, Akbar sangat percaya bahwa pertolongan Allah datang karena ia telah ikut membahagiakan orangtua. “Saya sangat percaya membahagiakan orangtua akan mendatangkan pertolongan Tuhan,” ujarnya.

Kini, Akbar tengah menikmati pekerjaannya sebagai seorang perencana keuangan yang cukup handal. Namanya sudah mulai dikenal banyak orang setelah kerap tampil di berbagai acara, termasuk salah satunya adalah acara Perfect Numbers di sebuah stasiun televisi swasta. Perusahaan yang didirikannya, yang bergerak di bidang jasa perencana keuangan juga mengalami perkembangan cukup baik. Ia juga mendirikan Akbar’s Financial Check Up untuk melayani konsultasi keuangan bagi masyarakat umum. Tak hanya itu saja, waktu Akbar juga disibukkan dengan kegiatan mengajarnya bagi para perencana keuangan junior di beberapa universitas dalam negeri, seperti Universitas Indonesia (UI), Jayabaya, dan Insititut Teknologi Bandung (ITB).

Merasa karirnya mulai menampakkan kesuksesan, Akbar tak lantas lupa daratan. Ia tetap mensyukuri apa yang telah didapatkan sekarang ini. Salah satu tanda bersyukurnya adalah dengan lebih banyak memberi kepada masyarakat yang kurang beruntung. Akbar sendiri memiliki belasan anak asuh sejak tahun 2006. Segala macam biaya pendidikan ditanggungnya agar mereka dapat mengenyam pendidikan dengan baik.

Sukses di karir bukan merupakan jaminan kesuksesan bagi kehidupan pribadinya. Pernikahan yang telah dibina selama 4 tahun harus berakhir dengan perceraian pada tahun 2006. Kendati anak semata wayangnya, Alicia Safira Madjid (6) diasuh oleh mantan istri, Akbar tetap dapat meluangkan banyak waktu dengan anak kesayangannya tersebut. Bagi Akbar, apa yang diraihnya saat ini, tak lain adalah berkat kerja keras dan perencanaan yang baik. Ia pun tak mengelak adanya pertolongan Allah dalam setiap jejak langkah di kehidupannya. “Saya percaya bahwa ini semua saya dapatkan karena adanya pertolongan Allah, dan doa dari kedua orangtua,” tutur Akbar menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1…

Tips Menghadapi Krisis Global Ala Aidil Akbar

Sebagai seorang perencana keuangan, Aidil Akbar memiliki beberapa tips untuk menghadapi krisis global yang melanda berbagai negara termasuk di Indonesia, di antaranya adalah :

  1. Perbanyak simpanan dalam bentuk uang cash, seperti deposito dengan jumlah uang minimal untuk bertahan selama 6 bulan. Bila, hal-hal buruk terjadi seperti terkena PHK, maka kita dapat menggunakan uang tersebut untuk bertahan hidup sambil mencari pekerjaan baru.

  2. Kurangi pengeluaran yang bersifat konsumtif. Menurut Akbar, di saat krisis, sebaiknya masyarakat harus mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting. Karena uang cash di masa krisis sangatlah berharga dan diperlukan sewaktu-waktu.

  3. Kalau punya asuransi, pastikan preminya harus selalu dibayar. Karena asuransi tersebut akan sangat berguna bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

  4. Jika tiga poin di atas sudah terpenuhi dengan baik dan masih tersisa uang, maka uang itu boleh untuk diinvestasikan sesuai dengan keinginan kita.

Side Bar 2…

Rencanakan Keuangan Pribadi dengan Rekening Zakat Sendiri

Bagi Akbar, merencanakan keuangan pribadi tak selalu diatur menurut pengeluaran-pengeluaran yang bersifat konsumtif saja. Ada hal lain yang perlu diperhatikan selain duniawi semata, salah satunya adalah dengan membuat rekening zakat sendiri. Mensyukuri hidup yang dijalaninya, Akbar selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk anak-anak kurang mampu. Agar keuangannya teratur dengan baik, maka ia menyisihkan sebagian penghasilannya tersebut melalui rekening zakat yang dibuatnya. Selain dapat diatur dengan baik, dengan dipisahkan maka uang zakat tersebut tidak dapat diganggu untuk keperluan lain. “Kewajibannya itu kan 2,5 persen, tapi saya selalu menyisihkan sebesar 10 persen dari penghasilan,” aku Akbar tanpa bermaksud sombong. “Setiap kali saya dapat rezeki, pasti saya potong,” lanjutnya dengan pasti. Hal itu dilakukannya karena terkait dengan kondisi psikologi manusia.

Orang itu kan kalau dapat rezeki banyak lalu dipotong untuk zakat, pasti nggak rela,” ujar Akbar. “Misalnya kita punya penghasilan Rp 10 juta dan menyisihkan 2,5 persen saja, jadi hanya Rp 250 ribu. Seandainya kita mendapat rezeki Rp 1 miliar, pasti nggak akan rela harus menyisihkan Rp 25 juta kan? Padahal kita harus menyisihkan zakat minimal 2,5 persen,” tutur duda beranak satu ini. Oleh karena itu, dengan kebiasaan menyisihkan penghasilan sebesar 10 persen, dan ketika mendapatkan rezeki besar, maka diturunkan menjadi 5 persen atau 2,5 persen pun bukanlah masalah karena sudah terbiasa. “Jadi sebenarnya itu adalah faktor psikologis, sama seperti bagaimana merencanakan dan mengatur keuangan,” ujar Akbar.

Kata orang, cobaan itu datang ketika kita mendapatkan rezeki yang besar,” ujarnya sembari tertawa lebar. Rekening zakat pribadi yang dibuat Akbar biasanya ditujukan untuk 15 anak asuh yang kini dimilikinya. Tak jarang pula, ia gunakan saat berkunjung ke panti asuhan atau kegiatan amal lainnya, seperti berbuka puasa bersama dengan anak yatim ketika bulan Ramadhan tiba. Fajar

6 comments:

Aidil said...

waaaahhh itu artikel tentang saya ya? dapet dari mana mas? soalnya itu kan dari tabloid.

Thx

Aidil Akbar Madjid
http://www.aidilakbar.com

fajar aryanto said...

iya mas aidil, itu tulisan di tabloid realita.. kan saya yang wawancara waktu itu, ini blog yang isinya tulisan-tulisan yang pernah saya buat di tabloid realita, mas...

David said...

Mas Fajar & Mas Aidil, boleh ga saya pinjam fotonya mas Aidil buat saya muat di Tabloid Business Opportunity yg terbit di bulan Juli 2010.

Thx
David
Artistis
Tabloid Business Opportunity

fajar aryanto said...

mas David, klo saya pribadi sih boleh2 saja.. karena blog ini memang saya buat untuk membantu semua khususnya pengunjung blog saya..
terimakasih sudah berkunjung dan meminta ijin terlebih dahulu..

Salam,
Fajar Aryanto

bayu rizky said...

salam.

mas fajar saya juga minta ijin untuk mempergunakan foto pak aidil u/ gambar profil di majalah MyMagz edisi ke 16/november 2011. jika sudah termuat akan saya beri link-nya. terimakasih :)

fajar aryanto said...

mas Bayu, klo saya pribadi sih boleh2 saja.. karena blog ini memang saya buat untuk membantu semua khususnya pengunjung blog saya..
terimakasih sudah berkunjung dan meminta ijin terlebih dahulu..saya tunggu linknya ya,,

Salam,
Fajar Aryanto