Friday, April 9, 2010

Jefri Al-Buchori, Ustadz dan Penceramah

Bertobat Total Setelah Allah Menayangkan Semua Perbuatan Maksiatnya di Mekkah

Tidak akan ada yang menyangka kalau Ustadz Jefri Al-Buchori di masa mudanya adalah seorang junky atau pemakai obat-obatan terlarang. Mungkin juga, tak banyak orang yang menduga bahwa penceramah tampan ini dulunya kerap melakukan perbuatan maksiat. Tapi kini Jefri adalah seorang ustadz yang getol memberikan dakwah. Bagaimana sebetulnya perjalanan seorang Ustadz Jefri hingga mendapatkan titik balik dalam hidupnya untuk bertobat total dari semua perbuatan maksiatnya di masa lalu, termasuk meninggalkan Narkoba?

Sabtu (24/3) siang lalu, cuaca Jakarta terasa panas. Hal ini wajar, sebab musim kemarau telah menjelang. Meski cuaca terasa panas, ketika Realita hendak bertemu Uje, panggilan akrab Ustadz Jefri di daerah Cibubur, cuaca justru lebih sejuk. Terlebih lagi, setelah berada di tempat syuting ceramah Ustadz Jefri. Suasana yang sejuk makin terasa teduh setelah mendengarkan ceramah Ustadz Jefri yang kala itu terdengar cukup keras. Puluhan jemaah yang sebagian besar mengenakan pakaian berwarna putih tampak serius mendengarkan ceramah Ustadz Jefri. Sesekali terdengar gelak tawa dari para jemaah yang kebanyakan ibu-ibu itu setelah mendengar lelucon yang terlontar dari depan mimbar. Jefri memang tengah memberikan ceramah kepada puluhan jemaah untuk disiarkan di salah satu televisi swasta tanah air.

Setelah menuntaskan ceramahnya selama hampir dua jam, Jefri masih terlihat gembira meski sudah berjam-jam memberikan dakwah kepada para jemaah, Ia tidak terlihat lelah setelah ceramah. Jefri masih memperlihatkan senyumnya kepada para jemaah yang akan meninggalkan tempat. Ketika Realita berusaha untuk menghampirinya, Jefri masih saja tampak ramah menyambut kedatangan wartawan. Ia juga mempersilahkan wartawan untuk duduk dan langsung bercengkerama. Meski sempat terhenti ngobrol karena kedua anaknya menghampiri Jefri, obrolan akhirnya berlanjut kembali. Dari percakapan di waktu sore itulah, Jefri bersedia mengulas mengenai perjalanan hidup dan karirnya hingga ia mendapatkan kesuksesan sebagai penceramah seperti sekarang ini.

Terjerat Narkoba. Jefri kini ternyata bukanlah Jefri yang dulu. Di masa mudanya, Jefri hanyalah seorang pemuda yang banyak melakukan perbuatan maksiat. Meski sempat mengenyam pendidikan di pesantren, itu bukan jaminan untuk membuat kepribadian dan sikap Jefri menjadi lebih baik. Pendidikan agama yang kuat dari orang tua menjadi asupannya sehari-hari. Pada usia sembilan tahun, Jefri sudah dapat melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Didikan orang tuanya memang sangat kental dalam membentuk kepribadian seorang Jefri.

Namun sebaliknya, selepas pendidikan di pesantren, Jefri malah menemukan kebebasannya sebagai anak muda yang selalu ingin mencoba hal-hal baru. Pada saat itulah, Jefri masuk ke dalam dunia kelam, dunia yang dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan dosa. Selama bertahun-tahun, Jefri bergaul dengan berbagai macam obat-obatan terlarang. Tidak ada lagi benteng agama yang didapatnya dari pesantren. Yang ada hanyalah keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru dan menggoda. Ditambah lagi perasaan frustasi yang ia rasakan dalam hidupnya. Semuanya bercampuraduk menjadi satu dan menjelma sebagai motivasi bagi dirinya untuk lebih terjerambab di dunia yang kelam.

Awal mula Jefri masuk ke dalam jeratan Narkoba saat ia terjun di dunia entertainment. Kala itu, Jefri diperkenalkan dengan dunia artis di mana segala macam godaan berseliweran. Dari situlah, Jefri mengenal benda haram yang disebut Narkoba itu. Sekitar tahun 1991, Jefri memang mulai ikut terlibat di dalam dunia entertainment. Dari dunia itu pula, ia mampu meraih lembaran-lembaran uang dengan mudahnya. Kondisi ini mengakibatkan pribadi Jefri semakin tertantang untuk mencoba hal-hal baru. “Namanya juga masih muda,” ujar Jefri sembari tersenyum.

Saya pakai Narkoba karena saya ingin mati akibat frustasi dalam hidup,” imbuhnya. Gaya hidup Jefri yang dulunya hanya berkutat di dalam pesantren, setelah terjun di dunia entertainment, berubah 180 derajat. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di diskotek dan bar. Minuman-minuman beralkohol pun telah diakrabinya selama beberapa tahun. Seiring berjalannya waktu, Jefri semakin terpuruk dengan kondisi tersebut. Ia semakin sulit untuk lepas dari dunia yang kelam itu.

Uang bayaran dari hasil menjadi penari latar dan fashion show kala itu, kerap digunakan untuk membeli Narkoba. Tak heran, uangnya tak pernah tersisa. Jefri juga pernah mencicipi dunia akting dengan turut berperan di beberapa sinetron. Di antaranya adalah Sayap-sayap Patah, Opera Tiga zaman, dan Kerinduan. Terjunnya Jefri di dunia akting ternyata tidak serta merta disetujui oleh kedua orangtuanya, H. Ismail dan Hj. Tatu Mulyana. Kedua orang tuanya yang memiliki latar belakang agama yang kuat membuat Jefri terhambat dalam menekuni karirnya. Pasalnya, kehidupan artis yang tak bisa lepas dari dunia malam membuat kedua orang tuanya tidak menyetujuinya.

Dari waktu ke waktu, Jefri semakin tenggelam dengan obat-obatan terlarang yang dikonsumsinya. Ia semakin frustasi, akibatnya ia makin gemar mengkonsumsi shabu-shabu. Dari dalam dirinya pun sudah tak ada lagi kemauan untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar. Namun, ketika sang ayah meninggal pada tahun 1992, Jefri semakin terpuruk dalam dunia Narkoba. Ia merasa sudah tak bisa lepas lagi dari jeratan obat-obatan terlarang.

Kehidupannya pun semakin tidak terkendali dan berantakan, termasuk studinya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Konsekuensinya, ia harus menyandang predikat drop out (DO) dari kampusnya. Ia kemudian dikeluarkan oleh pihak kampus, karena tidak pernah membayar uang kuliah. Uang dari orang tua yang seharusnya digunakan untuk biaya kuliah, sudah ia gunakan semuanya untuk membeli serbuk haram tersebut.

Ketergantungannya pada Narkoba mengakibatkan ia beberapa kali mengalami over dosis (OD) meski tidak sampai berakibat fatal. Dunia Jefri semakin gelap seakan-akan tak ada lagi harapan. Tidak ada lagi cita-cita yang mungkin bisa tercapai. Yang ada hanyalah kehancuran yang semakin lama makin jauh terperosok.


Mendapatkan Titik Balik. Ternyata Jefri tidak terus menerus terkekang dalam dunia Narkoba. Jefri percaya ia telah diberikan suatu hidayah agar mampu berubah dan kembali ke jalan yang benar. Perubahan itulah yang kini mengubah nasib Jefri yang sebelumnya hitam kelam. Perubahan itu pula yang menjadikan Jefri sebagai ustadz muda yang kerap wira-wiri di layar televisi.

Namun, yang terpenting dari segalanya, Jefri mampu mengubah jalan hidupnya yang sempat berbelok dari jalur yang seharusnya ia jalani. Jefri baru merasakan mendapat hidyah setelah ia sempat mengalami kejadian-kejadian yang sulit untuk dijelaskan secara logika. “Saya sempat bermimpi yang aneh,” ujar Jefri. Di dalam mimpinya tersebut, Jefri melihat jenazahnya sedang disiksa oleh malaikat akibat dari segala macam perbuatan maksiat yang telah ia perbuat. Tak hanya itu, ia juga sempat melihat banyak kehancuran di dunia ini setelah kiamat datang. Di dalam mimpinya, ia juga diperlihatkan banyak cahaya putih. Sementara Jefri berjalan di tengah-tengah kuburan.

Terasa banget kok saat disiksa,” imbuhnya. Selain itu, motivasi dari keluarga, menjadi latar belakang Jefri untuk berubah. Salah satu orang yang paling berjasa dalam proses perubahan hidupnya itu tidak lain adalah ibunya, Hj. Tatu Mulyana. Sebagai seorang ustadzah, Tatu tak pernah berhenti untuk memberikan nasihat kepada anak lelakinya itu. Namun, seperti yang diakui Jefri, perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya kemauan yang timbul dari dalam dirinya.

Selama bertahun-tahun Jefri bergelut dengan dunia kelam, Jefri merasakan adanya kelelahan di dalam dirinya. “Saya sudah lelah hidup di dunia seperti itu,” ujar pria kelahiran Jakarta, 12 April 1973. Diakuinya pula, ia memang bertekad untuk berhenti dari dunia yang menghancukan kehidupannya tersebut dan berusaha untuk kembali ke jalur yang benar. “Ibaratnya seorang bayi yang tidak selalu akan menjadi bayi,” ujarnya sedikit berfilsafat.

Berkat keinginan yang kuat yang hadir di dalam dirinya tersebut, Jefri lambat laun mampu keluar dari lingkaran setan. “Saya ibarat segelas air ditambah terus airnya hingga tumpah. Itulah perbuatan maksiat yang sudah saya lakukan,” ujar Jefri. Sehingga kala itu Jefri sudah tidak kuat lagi untuk tetap melakukan perbuatan maksiat. Perlahan-lahan, ia kembali sadar akan artinya hidup yang dijalaninya. Keputusan pun telah diambilnya. Ia akan melakukan taubat sebelum kejadian di dalam mimpinya tidak terjadi di kehidupan nyata.

Sebagai salah satu langkah untuk membersihkan diri dari segala dosa, ia memutuskan untuk pergi umrah ke tanah suci. Di Mekkah itulah, ia mencurahkan segala isi hatinya tentang perbuatan-perbuatan dosa yang pernah ia lakukan. Di tanah suci, Jefri tak segan-segan menangis sembari menyesali segala perbuatan yang ia telah lakukan selama masa mudanya. “Setelah menangis, saya merasa lega,” kenang pria yang pernah berlatih tari bersama Adtya Gumay, seorang penata koreografi ini. Di tanah suci itu pula, ia mengalami suatu kejadian yang membuatnya bertaubat atas segala perbuatan yang telah ia perbuat.

Kini, perubahan dalam dirinya telah menampakkan hasil. Jefri telah lahir kembali menjadi manusia yang lebih bermakna. Dengan ceramah-ceramahnya yang menarik, Jefri semakin laris manis muncul di layar kaca. Tak hanya itu, ia juga disibukkan dengan jadwal ceramah yang tak pernah berhenti. Jefri menjadi penyebar agama padahal sebelumnya ia justru menjadi perusak agama. Dengan masa lalunya yang kelam, ia kini mendapatkan pelajaran yang berharga, pelajaran yang menjadikan dirinya sendiri sebagai sosok pejuang agama.

Membangun Keluarga. Seiring dengan perjalanan karirnya yang cukup sukses, kehidupan keluarganya pun semakin membaik dan harmonis. Memiliki istri yang anggun dan menawan, adalah salah satunya. Bahkan Pipik selalu menemani Jefri semenjak Jefri masih terlibat obat-obatan terlarang. Pernikahannya yang sudah belasan tahun telah menghadirkan manusia-manusia baru di dalam hidupnya. Dari penikahannya dengan Pipik, Jefri memperoleh dua orang anak. Adiba Khanza Az-Zafira (7) dan Abidzas Al Ghifari (6). Keduanya selalu mengisi hari-hari Jefri bersama keluarga. Dari keduanya pula, Jefri menemukan perannya sebagai seorang ayah.

Meski disibukkan dengan kegiatan dakwah dan syuting beberapa acara televisi, Jefri masih masih meluangkan waktu bersama keluarga. Untuk kedua anaknya tersebut, Jefri lebih banyak membebaskan keinginan mereka. Ia juga memiliki jurus ampuh untuk mendidik anak. “Anak-anak itu selalu mengikuti apa yang dicontohnya,” ujar Jefri yang beberapa waktu lalu meluncurkan situs Ujecentre ini.

Dengan begitu, Jefri hanya berusaha untuk memberikan contoh baik di depan kedua anaknya tersebut. Soal cita-cita kedua anaknya, ia telah dibebaskan sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Tidak ada waktu pasti yang sengaja ia luangkan bersama istri dan kedua anaknya. Meski begitu, ia masih dapat meluangkan waktu bagi kedua buah hatinya itu. Salah satunya adalah dengan bermain bersama.

Tempat bermain favorit adalah di Timezone,” ujar Pipik, istri Jefri. Di dalam rumah, Jefri bahkan menyempatkan diri untuk dapat bermain playstation bersama kedua anaknya itu. Bermain futsal juga menjadi salah satu acara favorit keluarga. Jefri memang lebih dikenal dengan keluarganya yang harmonis. Kini, Jefri telah banyak berubah sebagai akibat dari masa lalunya yang dijadikan sebagai masa pembelajaran. “Saya tidak pernah menempatkan masa lalu saya sebagai kesalahan tepi sebagai masa pembelajaran,” ungkap Jefri dengan mantapnya. Fajar

Side Bar 1………

Menyatakan Tobat dengan Membenturkan Kepala di Ka’bah

Jefri memang mengakui bahwa banyak perbuatan maksiat telah ia akrabi sejak ia menginjak masa muda. Namun, ia dapat berubah dan bertaubat atas segala perbuatannya di masa lampau setelah ia diberikan hidayah untuk berubah. “Saya sudah lelah dengan perbuatan maksiat,” ungkap Jefri. Berkat hidayah itulah, Ia mampu membangkitkan keinginannya untuk berubah menjadi orang baik.

Salah satu hidayah yang pernah dialaminya adalah ketika ia menjalani umrah di Tanah Suci. “Waktu itu, saya mengunjungi makam Rasulullah,” kenang Jefri. Pada saat mengunjungi makam Rasulullah itulah, Jefri merasakan ada sesuatu yang menarik lehernya. “Saya ditarik kayak magnet,” tambahnya. Tiba-tiba, Jefri melihat semua perbuatan yang pernah ia lakukan di masa lampau. Perbuatan-perbuatan dosa itu secara gamblang diperlihatkan kepada dirinya. Tak ayal, Jefri merasakan penyesalan yang begitu dalam. Air mata pun jatuh deras tiada henti bersama penyesalan yang keluar dari dalam dirinya. Baginya, kejadian tersebut menjadi suatu hidayah bagi dirinya agar dapat berubah dan tidak mengulangi perbuatan dosa berikutnya.

Tak hanya itu, rasa penyesalan Jefri juga diungkapkannya di depan Ka’bah. Di depan rumah Allah itulah, Jefri membentur-benturkan kepalanya ke dinding Ka’bah. Di tempat suci itu pula, ia berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Saya membentur-benturkan kepala ke dinding Ka’bah berkali-kali,” ujar Jefri. Di depan Kabah pula, ia meminta kepada Allah. “Ya Allah, kalau saya bermanfaat untuk agama ini, sembuhkan saya. Tapi kalau sepulang dari sini, saya berbuat maksiat lagi, saya hanya minta matikan saya saja,” pintanya.

Permintaan itu diakui Jefri memang pada dasarnya tidak diperbolehkan. Namun, ia tidak memiliki pilihan. “Kalau bicara kapan saya harus mati, banyak waktu saya akan mati,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Rasa penyesalan memang tak pernah berhenti begitu saja. Berkat pergi umrah tersebut, Jefri mengubah sisi buruknya menjadi sisi yang kini menjadi unggulannya. Ia kini menjadi penyebar dakwah yang merupakan perbuatan mulia di hadapan Tuhan. Fajar

Side Bar 2……

Berencana Mendirikan Pesantren untuk Anak Yatim

Ada salah satu rencana mulia yang ingin direalisasikan Jefri. Rencana tersebut merupakan rencana yang bersakala besar. “Saya sedang membangun pesantren,” ungkap Jefri singkat. Dengan sukses yang dapat diraihnya saat ini, mungkin banyak yang menduga bahwa pundi-pundi uang tentu saja menghampiri dirinya. Terlebih lagi, Jefri tidak hanya berperan sebagai penceramah saja, ia juga menekuni karir lain sebagai penyanyi dan bintang iklan.

Ternyata pundi-pundi uang yang dikumpulkannya tidak melulu untuk kebutuhan pribadinya saja, melainkan untuk kepentingan bersama. Salah satunya adalah dengan membangun pesantren di daerah Cikeas, Bogor. Pesantren tersebut rencananya untuk anak-anak kurang mampu dan yatim piatu. Meski begitu, seperti diakui Jefri, ada sisi komersial yang akan dijual melalui pesantren ini. Dengan begitu, dana yang didapat dari sisi komersil tersebut dapat digunakan untuk membiayai keperluan anak-anak kurang mampu yang masuk pesantren. Pasalnya, anak-anak kurang mampu dan yatim piatu tidak akan dipungut biaya dalam menjalani kegiatan belajar di pesantren. “Target kita memang bagaimana mencerdaskan anak-anak bangsa,” ungkap Jefri.

Sekarang ini, pembangunanya belum dilakukan. Rencananya bulan Mei atau Juni mendatang. Peletakan batu pertama akan dilakukan oleh Jefri sendiri. “Lahannya baru saja dipatok-patok,” aku Jefri. Tanah seluas puluhan hektar tersebut akan dibangun pesantren cukup besar. Jefri juga mengaku bahwa ia tengah mengumpulkan biaya untuk mendirikan pesantren yang terletak di Cikeas, Bogor ini. Nama yang akan dipakai untuk pesantren itu pun belum ditentukan dengan pasti.

Saya masih bingung menentukan nama pesantrennya,” ujar Jefri. Meski begitu, ada beberapa nama pesantren yang kemungkinan besar akan dipertimbangkan untuk dipakai. Seperti Pusat Tarbiyah Ma’arij atau Uje Centre. Jefri berharap pembangunannya dapat segera dimulai agar peresmiannya juga dapat dilaksanakan tanpa harus menunggu waktu lama. Selain akan membangun pesantren, Jefri juga kini tengah merencanakan suatu program dalam rangka membantu orang kurang mampu.

Kita sedang mencari orang-orang cacat untuk diberdayakan,” aku Jefri. Saat ini, baru dua orang cacat yang bergabung dengan program Jefri. Salah satu orang cacat yang telah bergabung, diberdayakan untuk membuat rumah boneka barbie yang nantinya akan dijual ke pasar. Rencananya, Jefri akan mencari sekitar 30 orang cacat untuk mengikuti program tersebut. Fajar

Side Bar 3…..

Pipik Dian Irawati, Istri Ustadz Jefri Al Buchori

Setia Dampingi Jefri dalam Suka dan Duka

Sosoknya yang anggun dan menawan selalu berada di samping Jefri. Kerudung yang dipakainya pun menambah citra wanita muslimah sejati. Senyumnya khas selalu tersungging dari bibirnya ketika menemani sang suami. Adalah Pipik, istri Jefri yang selalu menemaninya ke mana pun Jefri berada. Bahkan ketika Jefri masih bergelut dengan dunia hitam Narkoba, Pipik selalu menjadi sosok wanita penyemangat agar Jefri kembali ke jalan yang benar.

Cintanya yang besar, mendorong Pipik untuk selalu berada di samping Jefri. Ketika masih pacaran dan mengetahui bahwa Jefri seorang pecandu Narkoba, Pipik tetap setia mendampinginya. Bahkan pada tahun 1999, Pipik memantapkan diri untuk menikah dengan Jefri. Hanya dengan bermodalkan honor iklan yang diterima Pipik, mereka nekat melangsungkan pernikahan. Pipik beralasan, dengan jalan itulah, Pipik bisa membantu dan mengarahkan Jefri kembali ke jalan yang benar meski ia sadar harus melalui berbagai hambatan. Salah satunya adalah ketika malam pertama mereka yang hanya diwarnai dengan tingkah laku Jefri yang aneh. Mererka pun melwati malam pertama bersama Narkoba.

Waktu pun berjalan, akhirnya Jefri mendapatkan hidayah untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya. Jefri pun berusaha untuk mencari pekerjaan. Setelah umrah, Jefri mulai memberikan ceramah-ceramahnya di Masjid. Dari honor ceramahnya itulah, Jefri kemudian kembali merangkai puing-puing kehidupannya yang sempat berantakan. Kini, pasangan Jefri dan Pipik memang dikenal sebagai keluarga yang harmonis. Kedua anaknya menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Jefri. “Anak-anak boleh menjadi siapa saja, asalkan tetap menjadi santri,” ujar Jefri penuh harap.

Di mata Pipik, Jefri merupakan suami yang pantas menjadi panutan. “Sosok yang menyenangkan, bisa menjadi teman dan suami di dalam keluarga,” ungkap Pipik yang tengaah hamil tujuh bulan ini. Jefri juga dikenalnya sebagai suami yang disiplin dalam hal agama. “Dia selalu berusaha untuk shalat berjamaah,” tambahnya. Pipik memang sudah jatuh hati pada Jefri sejak petemuan pertama. Karena pribadinya yang mudah bergaul, Pipik langsung merasakan getaran cinta pada Jefri. Fajar

17 comments:

Najib Burhani said...

Mohon informasi, tulisan ini terbit di Tabloid Realita edisi kapan ya? terima kasih

Anonymous said...

Sayang Realita gak panjang nyawanya. Mudah2an JFK enggak gitu.

fajar aryanto said...

semoga saja JFK panjang nyawanya..

ruzh2 said...

uje'saya danu dilampung saya ingin benar menjadi layaknya uje sebagai penyebar agama islam ,kalau boleh tau nmr hp uje berapa je, klu nmr kt 081369143023 trims je.

ruzh2 said...

uje'saya danu dilampung saya ingin benar menjadi layaknya uje sebagai penyebar agama islam ,kalau boleh tau nmr hp uje berapa je, klu nmr kt 081369143023 trims je.

ruzh2 said...

uje'saya danu dilampung saya ingin benar menjadi layaknya uje sebagai penyebar agama islam ,kalau boleh tau nmr hp uje berapa je, klu nmr kt 081369143023 trims je.

ruzh2 said...

uje'saya danu dilampung saya ingin benar menjadi layaknya uje sebagai penyebar agama islam ,kalau boleh tau nmr hp uje berapa je, klu nmr kt 081369143023 trims je.

iif latifah said...

Tapi sayang dia tlh meninggal n tnang di sana

iif latifah said...

Ya allah dia sudah tiada

Fariz Najwan said...

"Inna lillaaahi wa inna ilaihi roojiuun, sesungguhnya semuanya milik Allah dan sesungguhnya semua kembali kepada Allah. Telah pulang ke Rahmatullah Ustadz Jefry AlBukhori, yg akrab kita panggil Uje. Allahummagfirlahu warhamhu...semoga Allah mengampuni semua dosa almarhum, memaafkan semua kesalahan almarhum...aamiin"

Fariz Najwan said...

"Inna lillaaahi wa inna ilaihi roojiuun, sesungguhnya semuanya milik Allah dan sesungguhnya semua kembali kepada Allah. Telah pulang ke Rahmatullah Ustadz Jefry AlBukhori, yg akrab kita panggil Uje. Allahummagfirlahu warhamhu...semoga Allah mengampuni semua dosa almarhum, memaafkan semua kesalahan almarhum...aamiin".

Ummi Alifyaa said...

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un.....bgtu sangat khlangan

tri aryani said...

aku sangat mencintai dan mengagumi dakwahmu ustadz... semoga engkau bahagia lebih bahagia dari di dunia yg fana' inni..... aku yakin engkau sudah di syurga saat ini... ak akan sll merindukan dakwah serta engkau ustadz yg ganteng dan gauull

tri aryani said...

ustadz engkau adalah seseorang yang begitu baik.... semoga alloh mengampunkan semua dosa yg pernah engkau perbuat... dan aku yakin engkau saat ini sudah tenang dan bahagia bahkan lebih bahagia dibanding di dunia yg fana' ini, engkau saat ini pasti sudah di syurga' bersama kekasih allah lainyya.... selamat jalan uje' we love you so much

rizal said...

Ya allah uje innalillah smoga di tera di sisinya dengan perjuangan dakwahnya yg luarbiasa smoga smakin banyak teman2 yang husnul khotimah amin

kaisar carvin said...

Ya, Allah, engkau Maha Kasih Lagi Maha Penyayang Hamba Mohon Padamu Ya Allah Kasihi lah dan Sayangilah Ustadz Jeffry Al-Buchori.. Sebagai mana Beliau Mengasihi Dan Menyayangi Semua Umat tanpa Pilih kasih di Masa hidupnya.. Ya, Allah, Hanya padamu lah Hamba Memohon Dan Ampuilah Semua dosa Ustadz Jefrry dan Berikan lah Beliau Tempat Yang layak di sisi mu ..Amin.
Selamat Jalan Ustadz Jeffry Al-Buchory, Semua Hamba Allah akan slalu Mengenang dan Menyayangi Ustadz.. We Are Love you So Much Ustadz Jeffry Al-Buchori...

bmk dinkes said...

manusia punya rencana, tuhan yang menentukan, selamat jalan ustadz, semoga diterima iman islamnya diampuni segala dosa2nya, ditempatkan ditempat yang mulya disisi alloh swt, amiin yaa robbal alamain