Thursday, April 1, 2010

Linda Djalil, Mantan Jurnalis

Sembuh dari Sakit Punggung Setelah Shalat Di Masjidil Haram

Mukjizat sang pencipta memang dapat datang di mana dan kapan saja. Hal tersebut berlaku bagi sosok wanita cantik bernama lengkap Linda Djuwita Djalil ini. Berbagai macam pertolongan Allah telah dirasakannya dan mampu memberikan perubahan bagi diri Linda. Salah satunya yang paling bermakna terjadi ketika Linda menunaikan haji pada tahun 1992. Pada saat itulah, ia merasakan kesembuhan pada penyakit punggungnya yang telah diderita sejak bertahun-tahun lalu. Lalu, mukjizat apalagi yang pernah ia alami?

Hari Minggu (16/12) siang, kota Jakarta dipenuhi dengan awan kelabu. Langit mendung memang kerap menyambangi ibukota Jakarta. Musim penghujan telah berada di ambang pintu. Rintik hujan membasahi kota yang dulunya bernama Batavia ini. Rutinitas dalam roda kehidupan setiap manusia memang tak terlepas dari campur tangan sang Pencipta. Terkadang pula, sesuatu hal di luar akal manusia dapat terjadi tanpa diperkirakan sebelumnya. Sebagian orang menyebutnya sebagai keajaiban, sebagian lainnya menganggap sebagai sebuah mukjizat dari Allah yang datang atas kehendak-Nya.

Salah satu bukti kuasa Illahi dapat terlihat dari perjalanan hidup wanita anggun bernama Linda Djalil. Beberapa kali ia mengalami adanya keajaiban yang menghampiri hidupnya. Pada saat itulah, Linda menyadari bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan akan selalu menolong umat-Nya. Salah satunya yang paling berkesan dan bermakna adalah mukjizat pada saat ia berada di Tanah Suci. Kala itu, beberapa pengalaman religi ia alami. Pengalaman itu pulalah yang membuat suatu perubahan besar dalam hidupnya. Kini, Linda lebih memahami hidup dan lebih banyak berbuat banyak kebajikan dalam putaran roda kehidupannya.

Ditemui di rumahnya di daerah Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Linda tengah memainkan jari-jemarinya di atas tuts piano yang berada di hadapannya. Jari-jarinya tampak lihai memainkan nada-nada yang mengalun indah. Suara merdu pun keluar dari bibir penyuka hewan kura-kura ini. Lirik lagu yang sedang dinyanyikannya nampak padu dengan alunan nada piano. Tak terasa, kedua bola matanya berkaca-kaca. Alunan nada yang terdengar dan ditambah lagi dengan lirik lagu penuh makna memang akan membuat setiap orang yang mendengarnya merasa tersentuh. Setelah sebuah lagu nan indah tersebut selesai, Linda lantas berbagi cerita dengan Realita tentang beberapa mukjizat yang sempat ia alami dalam hidupnya.

Berasal dari Keluarga Sederhana. Linda Djalil sendiri lahir di Jakarta pada 23 Juni 1958. Ia merupakan anak sulung dari tiga bersaudara pasangan (Alm.) Yuliar Djalil dan Roosdiani (72). Linda lahir dan dibesarkan di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Meski tinggal di daerah Menteng, Linda bukanlah anak yang berasal dari keluarga kaya raya. Sebaliknya, kehidupan keluarganya cukuplah sederhana. Sang ayah hanyalah berprofesi sebagai salah seorang karyawan di sebuah perusahaan obat di Jakarta. Sedangkan sang ibu, kini di usia senjanya bergelut di dunia media dengan bertanggung jawab di salah satu media ibukota.

Linda kecil hidup dalam sebuah keperihatinan yang cukup menyedihkan. Jika lingkungan rumahnya merupakan lingkungan elit yang dipenuhi dengan keluarga yang berkecukupan, maka berbeda halnya dengan Linda yang harus hidup pas-pasan. Terlebih lagi pada saat Linda masih kanak-kanak, sang ayah mengalami sebuah bencana yang berakibat terhadap keuangan keluarga. “Dulu ayah saya sempat ditipu dalam bisnis dan mengalami kerugian,” kenang Linda. Alhasil, kehidupan Linda dan keluarga kala itu sangat terpuruk. Beruntung, ia beserta adik-adiknya masih mampu mengenyam pendidikan sekolah. Linda sendiri bersekolah di SD Kepodang, Jakarta Pusat. Selepas itu, ia lantas melanjutkan ke SMP I dan SMAN 4, Jakarta. Kendati demikian, tetap saja Linda harus mengurungkan keinginannya untuk menikmati masa kanak-kanak sebagaimana anak-anak di sekitar lingkungannya. Pasalnya, ia tak bisa memenuhi keinginannya tersebut karena keterbatasan yang dimiliki kedua orang tua.

Salah satunya adalah ketika Linda tertarik untuk belajar bermain piano. “Saya dulu suka bermain piano,” aku wanita yang berstatus janda ini. Meski menginginkan sebuah piano, kedua orang tuanya tidak sanggup untuk membelikan piano dengan kualitas yang baik. “Ayah saya hanya mampu membelikan piano bekas dan murah yang bunyinya sudah enggak jelas,” kenang Linda sembari tersenyum simpul. Meski begitu, tekadnya untuk belajar bermain piano tak mampu terbendung begitu saja. Sebaliknya, ia lebih giat untuk belajar bermain piano meski itu harus dilakukannya dengan menumpang di rumah salah satu tetangganya yang memiliki piano.

Penyuka Seni dan Sastra. Di dalam diri Linda sendiri, memang ada keturunan seni dari keluarga sang ayah. “Dulu nenek saya merupakan seorang pemain akordeon,” ujarnya singkat. Tak pelak, darah seni pun masih mengalir di dalam tubuh Linda. Sehingga kemampuannya untuk belajar bermain piano ternyata lebih cepat dari yang diduga sebelumnya.

Untuk memperdalam ilmu bermain piano, Linda juga memberanikan diri belajar di Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Hal tersebut ditempuh setelah keuangan keluarga semakin membaik seiring dengan ketabahan dan pertolongan dari sang Pencipta. “Saya biasanya datang ke tempat les lebih awal hanya untuk belajar bermain piano lebih lama,” tutur Linda. Ia belajar bermain piano di YPM dalam kurun waktu yang cukup lama. “Saya belajar piano sampai SMA,” aku ibu satu anak ini. Selain menyukai dunia musik khususnya piano, Linda juga menyukai dunia tulis menulis. “Saya suka mengarang,” tandasnya. Kemampuannya dalam merangkai kata dan dijadikan sebuah tulisan memang cukup mumpuni. Bahkan sejak SD, ia telah mampu menelurkan karya tulisnya sendiri dan dimuat di beberapa media, termasuk salah satunya adalah majalah anak-anak ‘Kuncung’. Ketertarikannya ke dalam dunia tulis menulis ternyata tak terlepas dari kebiasaannya membaca. Sejak masih kanak-kanak, Linda memang akrab dengan berbagai macam buku bacaan. Pasalnya, sang kakek, Arifin Tameang memiliki ribuan koleksi buku. Linda kerap melihat berbagai macam koleksi buku bacaan tersebut dan tak jarang pula, ia membaca setiap lembaran buku bacaan itu. “Saya waktu kecil sudah membaca Salah Asuhan dan karya sastra lainnya,” tutur Linda. Dari kebiasaannya itulah, Linda lantas menyukai dunia tulis menulis dan mulai mengarang sebuah karya tulis sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Kesukaannya terhadap dunia sastra masih melekat di dalam dirinya meski ia mulai beranjak dewasa. Hal itu pula yang menjadi salah satu alasannya untuk memilih program studi Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Beruntung bagi dirinya, karena ia diterima di kampus tersebut.

Kemampuannya menulis ternyata membawa Linda terjun di dunia jurnalistik. Di samping mengenyam bangku kuliah, Linda juga berprofesi sebagai seorang wartawati di majalah Tempo. Sejak tahun 1977, Linda bergelut di dunia jurnalistik dan seakan-akan telah menemukan dunia yang dicintainya. Banyak pengalaman baik dan buruk yang dialaminya selama menggeluti profesi sebagai seorang wartawati. Selama itu pula, ia menjalin hubungan dengan para pengusaha dan petinggi di pemerintahan. Linda pun mencapai puncak dalam karirnya di dunia jurnalistik. Meski demikian, sekitar tahun 1994 media tempatnya bernaung dibredel pemerintah. Ia kemudian melanjutkan kemampuan jurnalistiknya di majalah lainnya sejak tahun 1994 hingga tahun 1999.

Mukjizat Haji. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang jurnalis, Linda memutuskan untuk melakukan sebuah kewajiban sebagai seorang umat Islam, yakni berhaji. Tepatnya pada tahun 1992, Linda menunaikan ibadah haji bersama sang suami kala itu. Sejak menginjakkan kaki di Tanah Suci, Linda telah mengalami berbagai kejadian yang cukup aneh. Kejadian-kejadian itulah yang diakuinya sebagai sebuah mukjizat yang datang dari sang Pencipta. Salah satunya adalah ketika ia dapat melakukan shalat tanpa merasakan sakit di punggung yang dideritanya sejak beberapa tahun sebelumnya. “Tiba-tiba ketika saya akan melakukan shalat Ashar di Masjidil Haram, punggung saya tidak merasakan sakit,” kenang Linda sembari terheran-heran.

Sakit punggung memang telah diderita Linda sejak lama. “Itu penyakit turunan dari ibu saya,” ungkap Linda. Tulang punggungnya memiliki kelainan yang diakuinya cukup membuat rasa sakit setiapkali melakukan aktivitas. “Tulang punggung saya agak sedikit bengkok,” imbuhnya. Bahkan sejak tahun 1987, sakitnya tersebut membuat ia tak mampu melakukan gerakan shalat sebagaimana mestinya. Bahkan Linda mengaku hanya bisa menjalankan shalat dengan duduk. Namun anehnya, saat ia akan melakukan shalat Ashar di Masjidil Haram, Linda justru mampu melakukan gerakan-gerakan shalat biasa tanpa merasakan sakit di bagian punggungnya. “Saya juga terkejut waktu itu,”tambahnya.

Selama melakukan setiap tahapan naik haji di Tanah Suci, Linda juga tak pernah merasakan sakit di punggungnya. Suatu hal yang aneh dan di luar dugaan. Bahkan Linda pun sempat tak percaya dengan apa yang dialaminya. Namun demikian, ia percaya bahwa kejadian yang dialaminya tersebut merupakan suatu anugerah dan mukjizat dari Allah. Linda lantas bersyukur dengan apa yang dialaminya itu. Tak hanya itu saja, ia juga mengalami kejadian aneh lainnya selama berada di Tanah Suci. Kejadian-kejadian itu diakuinya memberikan hikmah yang dapat diambilnya dalam menjalani hidup.

Pengusaha Berstatus Single Parent. Sekembalinya ke tanah air, sakit punggungnya mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. “Sakitnya tidak separah dulu,” aku Linda. “Sebenarnya dapat disembuhkan dengan operasi,” lanjutnya. Namun, operasi tersebut tidak langsung menyembuhkan penyakitnya. “Kemungkinannya bisa sembuh atau bisa lumpuh,” ujar Linda. Tak ayal, ia tak mau menempuh penyembuhan melalui operasi karena tidak yakin dengan presentase kemungkinan kesembuhannya. Alhasil, ia masih saja berkutat dengan kelainan pada tulang punggung yang dimilikinya tersebut meski kini rasa sakitnya jauh lebih berkurang pasca menunaikan ibadah haji.

Selepas menunaikan ibadah haji, Linda kembali meniti karir sebagai seorang jurnalis. Profesi wartawati ia tekuni hingga tahun 1999. Di tahun yang sama, Linda kemudian banting stir menjadi seorang pengusaha. Salah satu yang dilakukannya adalah mendirikan sebuah salon khusus perempuan bernama ‘Allesa’ di daerah Jakarta Selatan. Nama salon tersebut diambil dari nama putera satu-satunya yang bernama Rizki Allesa (22) yang kini tengah menyelesaikan pendidikan S2 di salah satu universitas swasta di Jakarta. Tak hanya itu saja, Linda beserta teman-temannya juga mendirikan sebuah perusahaan Public Relations bernama Reuni Media Specialist sejak tahun 2002.

Sukses dalam berkarir ternyata bukanlah sebuah jaminan bagi kesuksesan Linda dalam kehidupan pribadinya, karena pernikahan yang dibina sejak tahun 1982, harus kandas di tengah jalan. Dan sejak tujuh tahun yang lalu, Linda resmi menyandang status sebagai seorang janda beranak satu. Kini, Linda berusaha berperan sebagai seorang single parent bagi anak laki-lakinya dan sekaligus menjadi seorang pengusaha yang terus mengembangkan salon miliknya. “Tidak ada rencana khusus ke depannya,” ungkap wanita berkulit putih ini sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1…

Diberikan Air ZamZam Oleh Perempuan Tak Dikenal Saat Kehausan di Tanah Suci

Selain mengalami kesembuhan pada sakit di punggungnya, Linda juga sempat mengalami kejadian-kejadian aneh selama menunaikan haji. Salah satu di antaranya adalah mendapatkan air zam-zam saat ia kehausan ketika melakukan sya’i di Tanah Suci. “Waktu itu leher saya seperti tercekik dan sangat haus,” kenang mantan wartawan istana ini. Akan tetapi, ketika ia hendak minum dari botol yang dibawanya ternyata ia tersadar bahwa botol minumnya kosong. Barulah ia teringat bahwa sebelumnya, ia telah memberikan air minumnya kepada seorang pengemis yang datang kepada dirinya. “Waktu itu saya lupa mengisi kembali botol minum saya,” aku Linda.

Beberapa saat sebelum kejadian itu, Linda memang sempat didatangi oleh seorang pengemis. Tapi ketika Linda akan memberikan uang kepada pengemis tersebut, sang pengemis justru tidak mau menerimanya. Pengemis itu justru menginginkan air minum yang dimiliki Linda. “Pengemis itu mau minum dari gelas saya sendiri,” kenangnya. Linda pun langsung memberikan air minum yang dimilikinya tersebut. Karena ketulusan hatinya itulah, Linda mendapatkan balasan setimpal dengan apa yang dilakukan sebelumnya. Di saat ia merasa haus dan kesulitan mendapatkan air minum, ia justru mendapatkan pertolongan Allah melalui perempuan tak dikenal yang memberikan air minum dengan ikhlas. Tak hanya balasan dari kebaikan yang dilakukannya, Linda juga sempat mengalami balasan dari kekhilafan yang dilakukannya sebelum berada di Tanah Suci. “Dulu, saya anti dengan sandal jepit karet,” aku Linda. Alasannya, ia selalu mengalami kram bila memakai sandal jepit karet tersebut.

Tak heran, Linda selalu menghindari sandal berharga murah itu. Bahkan ketika akan berangkat ke Tanah Suci pun, ia sengaja tak membawa sandal karena takut kakinya akan mengalami kram. “Saya nggak mau pakai sandal jepit karet,” tuturnya. Keangkuhannya itu ternyata terbalas ketika berada di Tanah Suci. Entah karena lupa atau tidak sengaja, ia memakai sandal jepit karet untuk pergi ke kamar mandi. “Pada waktu mandi itulah, kedua kaki saya kram,” ujarnya sembari meringis. Saat itu pula, ia langsung berdoa dan memohon doa kepada Allah agar kakinya tidak mengalami kram yang cukup menyakitkan. Alhasil, kramnya pun sembuh. Tak hanya sampai di situ saja, pada saat hendak melakukan shalat di Masjidil Haram Linda kembali bertemu dengan ‘sandal jepit karet’. Banyaknya jemaah yang memenuhi Masjidil Haram, membuat Linda harus dengan susah payah mencari tempat shalat. Satu-satunya tempat yang masih lega ternyata sebidang tempat sempit yang justru dipenuhi dengan sandal jepit karet. Mau tak mau, Linda harus shalat di atas tumpukan sandal jepit karet yang sebelumnya sangat dibenci Linda. Dari kejadian itu, Linda mampu mengambil hikmah agar tidak mudah sombong terhadap berbagai macam hal. Tak hanya itu saja, ia juga lebih banyak memahami makna hidup dan lebih menghargainya dengan mengisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat. Fajar

Side Bar 2…

Dapat Masuk ke Dalam Ka’bah karena Dikira Istri Pejabat

Masuk ke dalam rumah Allah dan melihat keadaan di dalamnya memang merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi seluruh jamaah haji. Namun, tidak semua jamaah dapat diberikan ijin untuk masuk ke dalam Ka’bah. “Itu kan cuma khusus untuk pejabat atau presiden dari sebuah negara yang diperbolehkan masuk,” tutur Linda. Beruntung bagi Linda, karena dirinya dapat masuk ke dalam Ka’bah bersama para pejabat dari Indonesia.

Awalnya, Linda mengaku bahwa ia memang tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam Ka’bah. Kalaupun dapat masuk, ia harus berdesak-desakan dengan jemaah lainnya. Linda pun berusaha untuk bersaing dengan jemaah lainnya untuk dapat masuk ke dalam kabah. Namun, ia tak mampu melawan tubuh jemaah lainnya yang lebih besar. Pada saat itulah, ia sempat ditolong oleh salah satu pejabat Departemen Luar Negeri tanah air bernama Dadang Sukandar. Sang penjaga lantas menduga bahwa Linda adalah istri dari pejabat tersebut. Tak ayal, penjaga pun mengijinkan Linda untuk masuk ke dalam Ka’bah. Kejadian itu terjadi ketika Linda yang kala itu berprofesi sebagai seorang wartawati istana ikut dalam rombongan Umrah para pejabat Indonesia pada tahun 1990-an. “Itu merupakan mukjizat bagi saya karena dapat melihat isi Ka’bah,” ungkapnya sembari tersenyum.

Di dalam Ka’bah, Linda merasakan kekaguman terhadap bangunan yang menjadi kiblat umat Islam seluruh dunia. Kekaguman yang tak akan terjadi tanpa adanya pertolongan atau mukjizat dari Allah. Pengalaman itu pula menjadi pengalaman tak terlupakan bagi dirinya. Kesempatan itu juga tak akan pernah terwujud bila Linda tidak bergelut di dunia jurnalistik. Selama bergelut itulah, ia dapat mengenal berbagai orang dari kalangan pejabat ataupun petinggi-petinggi pemerintahan lainnya. Fajar


3 comments:

Anonymous said...

Mantaps

Anonymous said...

Mantaps euy

Anonymous said...

Mantaps euy