Monday, February 15, 2010

Sisca Soewitomo, Ahli Tata Boga

Lari ke Dapur Setelah Gagal Jadi Dokter

Berkat kepiawaiannya dalam meramu masakan dan menjadi pembawa acara memasak di televisi selama lebih dari 10 tahun, banyak ibu rumah tangga yang terinspirasi untuk menjadi koki di dapurnya sendiri. Ditambah lagi, dengan 70 buku resep yang sudah ia terbitkan. Dengan pengetahuannya tersebut, Sisca Soewitomo juga kerap berbagi dengan menjadi pendemo di berbagai kesempatan. Salah satu prinsip yang selalu ia pegang hingga saat ini adalah memasak dengan cinta. Lalu seperti apa perjalanan hidup nenek dari tiga cucu ini?

Siapa tak kenal dengan Sisca Soewitomo, ahli tata boga yang menjadi jaminan bagi lezatnya sebuah masakan. Resep masakan yang mudah dan enak, banyak disukai oleh kaum ibu yang ingin belajar menjadi koki handal. Selama 10 tahun, Sisca selalu menyapa ibu-ibu di rumah dan memperkenalkan resep dari berbagai masakan pada setiap pagi di salah satu televisi swasta. Senyuman khas dan gaya bicaranya yang santun, menjadi penyemangat kaum ibu untuk belajar memasak.

Kendati acara tersebut tak lagi diputar, Sisca masih tetap disibukkan dengan kegiatan yang masih berkaitan dengan dunia tata boga. Ia tetap menyapa kaum ibu, di setiap acara memasak di berbagai daerah. “Saya masih pendemo,” sapa Sisca kepada realita pada Kamis siang (7/5) lalu. Meski sudah menginjak usia 60 tahun, wajahnya masih terlihat awet muda. Bahkan, tak sedikit pun raut kelelahan setelah beraktivitas seharian. Kerutan di wajahnya tak menghentikan langkahnya dalam berkarya di dunia kuliner. Sembari duduk santai di stand warung sederhana miliknya di sebuah mal di daerah Jakarta Utara, Sisca berbagi cerita dengan realita.

Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, wanita bernama lengkap Sis Cartica Soewitomo ini memang kerap diberikan tanggung jawab lebih dari kedua orangtuanya yang masih memiliki darah ningrat, RP. Tjipto Soemirat dan Chrysantini Slamet Condokaryono. “Keluarga saya itu sangat solid dan akrab,” kenang Sisca. Sang ayah semasa hidup bekerja sebagai seorang karyawan Bea dan Cukai hingga pensiun. Sedangkan ibundanya, selain sibuk dengan aktivitas di dalam rumah, juga membantu penghasilan keluarga dengan membuat usaha katering kecil-kecilan.

Tak Diberi Uang Jajan. Sisca lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang mengedepankan kedisiplinan khas budaya Jawa. “Setiap makan, kita semua harus berkumpul di meja makan,” kenang wanita kelahiran Surabaya pada 8 April 1949 ini. “Makan itu harus selalu dihabiskan,” tambahnya. Sebagai anak pertama, Sisca juga diharuskan untuk selalu mengatur keempat adik-adiknya agar selalu disiplin dalam berbagai hal. Sejak SD hingga SMP, Sisca beserta adik-adiknya tak pernah diberikan uang jajan. “Kami semua diharuskan membawa bekal dari rumah,” kenang Sisca. Selain itu, sang ayah juga mengharuskan semua anak-anaknya untuk gemar membaca buku.

Kecintaan Sisca terhadap dunia masakan mulai muncul setelah melihat kebiasaan ibundanya yang selalu memasak untuk kebutuhan dalam rumah dan usaha katering yang ditekuninya. Mulai dari membuat masakan rumah hingga kue-kue ringan, sudah menjadi pemandangannya sehari-hari. “Saya tuh suka makan dari kecil,” aku pengguna setia Blackberry ini. Dari kesukaannya itulah, rasa penasarannya muncul tentang bagaimana meramu masakan agar terasa enak.

Sisca kecil mengenyam pendidikan SD hingga SMA di Surabaya, Jawa Timur. Setelah menamatkan pendidikan SD YMCA dan SMPN 3, Sisca melanjutkan pendidikannya di SMAN 4, Surabaya. Di kota pahlawan itulah, ia mulai memupuk kecintaannya terhadap dunia kuliner dengan sesekali membantu sang ibu di usaha katering miliknya. “Sejak kecil, saya selalu membantu ibu saya memasak,” kenang Sisca. Diakuinya, sang ibu memang sangat pintar memasak,begitu juga dengan neneknya. Selepas menamatkan pendidikan SMA-nya di SMAN 4 Surabaya, sang ayah dipindahtugaskan ke ibukota Jakarta. Alhasil, seluruh anggota keluarga pun ikut pindah ke Jakarta. Termasuk Sisca yang lantas melanjutkan kuliahnya di Jakarta.

Berkat dorongan dari kedua orangtuanya, Sisca memilih pendidikan kedokteran, Universitas Trisakti, untuk kelanjutan pendidikannya. Namun, ia hanya mampu bertahan selama setahun menjadi mahasiswa kedokteran. “Kedokteran sebenarnya memang pilihan orangtua,” kilah Sisca. Selang beberapa lama setelah memutuskan untuk tak melanjutkan pendidikan kedokterannya, Sisca lantas menerima pinangan seorang pria yang menjadi pujaan hatinya pada tahun 1969. Di usia yang relatif muda, 21 tahun, Sisca memberanikan diri untuk membangun keluarga sendiri bersama Soewitomo Soeleiman.

Selama menjadi istri dan ibu dari dua anak inilah, Sisca lebih sering membantu ibundanya mengurusi usaha katering. Ia juga belum memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dan lebih banyak berperan sebagai seorang ibu rumah tangga. Keputusan untuk menikah muda dipilih Sisca bukan tanpa pertimbangan sama sekali. Menurutnya, ia masih tetap berkarya meski sudah menikah dan memiliki anak. “Tidak ada hambatan walaupun saya sudah menikah dan memiliki anak,” ujar Sisca tegas.

Pendemo Memasak. Setelah kelahiran anak kedua, dan kedua anaknya semakin tumbuh besar, Sisca baru memikirkan untuk melanjutkan kembali pendidikannya demi membantu pemasukan keluarga. Bukan kedokteran yang lantas dipilihnya. “Waktu itu, saya sempat bingung memilih antara seni rupa dan perhotelan,” ungkap penyuka karakter kartun Mickey Mouse ini. Jurusan seni rupa sempat akan dipilih karena pertimbangan kesukaannya terhadap dunia seni. “Saya suka sekali menggambar,” ungkap penyuka masakan sambal tempe ini. Lagi-lagi, kecintaannya terhadap dunia kuliner membuat dirinya memilih jurusan perhotelan, di Trisakti.

Karirnya semakin merangkak naik, setelah lulus kuliah. Sisca sempat menjadi seorang asisten dosen di kampus yang sama. Berkat kecerdasannya, Sisca mendapatkan beasiswa untuk belajar di negeri seberang masih di bidang kuliner. Tepatnya pada tahun 1980, ia mendapatkan beasiswa untuk mendalami dunia kuliner di China Baking School, Taiwan. Tiga tahun kemudian, Sisca juga berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika dan mengikuti program pendidikan di American Institute of Baking, Manhattan. Sekembalinya ke tanah air, Sisca menjadi seorang dosen dan membagikan ilmunya kepada ratusan mahasiswa. Namanya sebagai seorang ahli di bidang kuliner mulai dikenal masyarakat setelah menjadi seorang pembawa acara memasak di salah satu televisi swasta.

Kepergian Suami. Pada saat karirnya semakin merangsek naik, kedukaan ternyata menghampiri hidup Sisca. Pada tahun 2003, sang suami meninggal karena penyakit jantung di usianya yang akan menginjak 60 tahun. Kala itu, Sisca tengah bersiap-siap untuk berangkat memberikan demo masak. Sedangkan sang suami, tengah bersantai di atas tempat tidur selepas mandi. Tanpa memberikan pertanda sebelumnya, ia lantas meregang nyawa seketika tepat di atas tempat tidur. Kepergian sang suami secara tiba-tiba memang sempat membuat Sisca tenggelam dalam kesedihan. Menurut pemeriksaan dokter, Soewitomo meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya. Lambat laun, Sisca berusaha menganggapnya sebagai kenyataan yang memang menjadi takdir sang Khalik.

Saya percaya bahwa itu memang sudah waktunya,” ujar Sisca. “Tapi saya bangga karena pernikahan saya dengan suami selama hampir 34 tahun hanya mampu dipisahkan oleh kematian,” lanjutnya. Kehilangan suami yang sangat dicintainya tersebut menjadi pukulan terberat dalam langkah hidup Sisca. Pasalnya, Sisca menganggap bahwa peran sang suami sangatlah besar dalam karirnya di bidang kuliner. Akan tetapi, Sisca tetap berusaha kembali merangkai hidup dan karirnya tanpa kehadiran sang suami. Ia justru merasa tertantang untuk berkarya di dunia kuliner, dan mulai meramu berbagai resep masakan terbaru bagi kaum ibu di Indonesia.

Cooking With Love. Menurut Sisca, memasak itu sudah seharusnyalah disertai dengan perasaan cinta. Sisca sangat percaya bahwa dengan kekuatan cinta, segala sesuatu akan lebih terasa indah. Tak terkecuali untuk masakan. Ia memberi contoh, seorang ibu yang pasti akan memasak apapun dengan disertai perasaan kasih sayang dan cinta kepada anak-anaknya. “Ibu manapun akan membuat makanan itu seenak dan secantik mungkin agar anaknya suka, karena ada perasaan cinta dari ibu itu kepada anaknya,” tutur Sisca. Menurutnya pula, rasa masakan itu enak karena adanya kebiasaan. “Yang penting, memasak itu harus dengan cinta. Pasti masakannya akan terasa enak,” ujar Sisca. Ia sendiri mengaku tidak pintar memasak. “Saya juga masih belajar memasak,” ujar Sisca merendah. Baginya, tidak ada wanita yang tidak bisa memasak.

Di sela-sela kesibukannya, Sisca masih menyempatkan waktu luang bersama keluarga. Ketiga anaknya, Deddy Mulyawan, Novia Rizkihadiyan

ti, dan Heygar Soewitomo selalu setia menemani di setiap waktu luangnya. Terlebih lagi dengan kehadiran tiga cucunya, yang semakin membuat hidup Sisca berwarna. Seperti diakuinya, hampir semua anaknya bisa memasak meski tidak pintar memasak. “Saya sama sekali tidak menuntut anak atau menantu saya pintar memasak,” ungkap Sisca. Jika hari libur tiba, pasti semua anak dan cucunya akan berkumpul di kediamannya yang luas dan asri di daerah Pancoran, Jakarta Selatan.

Kendati usianya sudah tak muda lagi, Sisca masih tetap akan terus berkarya di dunia kuliner tanah air. “Sampai Allah memanggil saya,” ujarnya dengan tegas. Rencananya, ia akan membuka sebuah restoran yang menawarkan makanan rumahan dan tradisional Indonesia. “Tunggu saja waktunya, kejutan,” ujar Sisca singkat. Sedangkan untuk buku, ia juga masih akan menerbitkan buku-buku resep lainnya yang membantu kaum ibu dalam membuat masakan yang penuh dengan cinta. “Setahun minimal saya selalu menerbitkan 12 judul buku,” aku Sisca. “Walau saya tidak jadi dokter, saya sekarang justru menjadi dokter dapur,” tuturnya. Fajar

Side Bar:

Resep Awet Muda Sisca Soewitomo

Usianya memang sudah berkepala enam pada 8 April lalu. Namun wajahnya sama sekali tak menampakkan seorang nenek yang tua renta. Sebaliknya, Sisca justru terlihat awet muda kendati sudah menyandang status nenek dengan tiga cucu. Tak hanya itu saja, Sisca juga masih kuat untuk beraktivitas di luar rumah seharian penuh. Mulai dari mendemo masak di depan puluhan kaum ibu di berbagai daerah, hingga mengawasi warung makan sederhana miliknya.

Menurutnya, tak ada resep khusus agar terlihat muda dan sehat. “Saya memang makan semua jenis makanan,” aku Sisca yang telah menunaikan ibadah haji pada tahun 2006 ini. Kendati demikian, ia selalu membatasi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsinya. “Jadi cuma icip-icip saja,” ujarnya sembari tertawa lebar. Selain itu, Sisca juga selalu menghindari daging kambing untuk dimakannya. “Daging kambing itu ganas sekali,” ujar Sisca. Pasalnya, ia mengaku memiliki penyakit darah tinggi dan diabetes yang diturunkan dari kedua orangtuanya. Tak heran, sebisa mungkin ia selalu membatasi makanan yang dikonsumsinya. “Karena saya ingin hidup lebih lama, makanya makan makanan yang sehat,” tutur Sisca menjelaskan.

Tak hanya itu saja, Sisca juga memiliki keyakinan tersendiri tentang resep awet muda yang dimilikinya itu. “Yang penting wajah itu harus sering-sering terkena air wudhu,” ujar Sisca tersenyum seraya tak pernah meninggalkan ibadah lima waktunya. Menurutnya, dengan sering membasuh wajah dengan air wudhu, maka ia yakin wajah akan terasa lebih segar dan terbukti lebih awet muda ketimbang usianya. “Jangan lupa untuk selalu mensyukuri apa yang kita dapat,” ujar Sisca berfilosofi. Baginya dengan selalu bersyukur, otomatis akan selalu berpikir positif terhadap berbagai hal. Hasilnya, wajah akan selalu segar dan awet muda. Fajar

Biodata

Nama Lengkap : Sisca Soewitomo

Tempat/tanggal lahir : Surabaya, 8 April 1949

Nama Suami : (Alm.) Soewitomo Soeleiman, SE. MBA

Nama Anak :

  • Deddy Mulyawan, S.Kom.

  • Novia Rizkihadiyanti, SE.

  • Heygar Soewitomo (kelas 2 SMA)

Pendidikan :

    1. SDN YMCA Surabaya, lulus tahun 1962

    2. SMPN 3 Surabaya, 1965

    3. SMAN 4 Surabaya, 1968

    4. Akpar Trisakti, 1976

    5. China Baking School, Taipei Taiwan, 1980

    6. American Institute of Baking, Manhattan, USA, 1983

Karir :

  1. 1979-1991, Asisten Dosen dan Dosen Senior Akpar Trisakti merangkap Kepala Bagian Humas, Sekretaris Direktur Akademi, Kepala Pengabdian Masyarakat

  2. 1979-1999, Dosen Part Time Perhotelan Universitas Pelita Harapan

  3. Product Development Manager PT. Fega Aquafarmindo

  4. 1997-1999, Manajer Proyek Khusus Grup Femina

  5. 1999-hingga sekarang, Culinary Consultant and Food Stylish untuk iklan kemasan dan iklan televisi.


1 comment:

Rida said...

sy sependapat dgn " cooking with love" & sangat terbukti ampuh... Walaupun sy hny bisa menumis sederhana tapi hasilnya sangat luar biasa krn dibuat dengan penuh cinta.

Salam dr penggemar ibu Sisca,

Rida