Friday, February 12, 2010

Dewi Yull (Aktris dan Penyanyi)

Diberi Berkah Lewat Dua Anaknya yang Tunarungu dan Ditinggal Suami Menikah Lagi

  • Maka dari keduanya, keluarlah Mutiara dan Murzan”

Tidak ada yang meragukan keindahan suara Dewi Yull. Lagu Layu Sebelum Berkembang pun terdengar lebih hidup ketika dilantunkan oleh Dewi Yull bersama almarhum Broery Marantika. Ironisnya, suara merdunya tidak mampu didengar oleh anaknya sendiri, Giscka, karena keterbatasan pendengaran yang dimilikinya. Tidak hanya Giscka, salah satu putranya yaitu Panji, juga mengalami hal serupa. Ditambah lagi, suaminya yang seharusnya mendampingi menghadapi cobaan tersebut justru meninggalkannya. Namun semua itu tidak lantas membuat ibu empat anak ini menyesali dengan apa yang telah terjadi. Sebaliknya, ia justru menganggap anak-anaknya sebagai anugerah dalam hidup. Bagaimana Dewi Yull berjuang merawat keempat anaknya seorang diri? Apa yang membuatnya bisa setabah itu? Adakah hikmah yang bisa ia petik?

Pada usianya yang masih tergolong sangat muda, Dewi Yull memutuskan untuk menikah dengan Ray Sahetapy, lawan mainnya di film ‘gadis’. Keputusannya tersebut memang cukup mengagetkan banyak pihak. Di saat karirnya sedang menanjak di dunia film maupun dunia tarik suara, Dewi Yull justru memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dan menikah dengan Ray Sahetapy. Karena perbedaan agama, orangtua Dewi Yull, tidak merestui pernikahan anaknya tersebut. Meskipun begitu, penyanyi yang sering berduet dengan almarhum Broery Marantika ini tetap melangsungkan pernikahan dengan aktor yang laris di era tahun 80-an itu. Dari pernikahannya tersebut, lahirlah Giscka Putri Agustina Sahetapy (24 tahun), Rama Putra Sahetapy (15), Panji Surya Putra Sahetapy (13), dan Muhammad Raya Sahetapy (5).

Penyanyi yang memiliki nama asli RA Dewi Pujiati ini memang terbukti mampu menjalani kehidupan keluarga dengan harmonis. Paling tidak selama 23 tahun ia mampu bertahan membina keluarga dengan Ray Sahetapy sebelum mengakhirinya dengan perceraian. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya dalam berkarya. Puluhan album telah ia hasilkan selama berkarir di bidang tarik suara. Berbagai judul film pun telah dilakoninya. Sebut saja film ‘Gadis’, Opera Jakarta’, ‘Kembang Kertas’, Pacar Pertama’, ‘Ayu dan Ayu’, ‘Secangkir Kopi Pahit’, ‘Suami’, serta film terakhir yang sempat dilakoninya, yaitu ‘Kiamat Sudah Dekat’. Berbagai prestasi di bidang kesenian tersebut semakin melambungkan namanya. Tepatnya di era tahun 80 hingga 90-an, nama Dewi Yull menjadi salah satu nama artis serba bisa. Di balik prestasinya yang semakin menjulang, ternyata kehidupan keluarganya juga menyimpan sisi yang memilukan untuk orang sesukses Dewi .

Tidak Malu dengan Kondisi Anak. Selang beberapa waktu setelah ia menikah dengan Ray Sahetapy, wanita kelahiran Cirebon ini langsung dikaruniai anak perempuan cantik yang diberi nama Giscka Putri Agustina Sahetapy yang lahir 24 tahun silam. Kelahirannya pun disambut gembira oleh pasangan Ray dan Dewi. Akan tetapi, kegembiraan mereka sempat terganjal dengan diketahuinya kondisi kesehatan Giscka yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran alias tuna rungu. “Saya baru mengetahui kalau Giscka itu tuna rungu saat usianya 2 tahun,” kenang Dewi. Meskipun begitu, puteri pasangan HRM Soendaryo Priatman Tirto Adhi Suryo dan Masayu Devi Hetimawati ini tidak menyesali kondisi tersebut. “Buat saya, anak-anak itu anugerah yang sangat luar biasa,” ujar Dewi. Dari keempat anaknya pula, Dewi Yull mendapatkan motivasi yang sangat besar dalam membangun kehidupan yang sempat mendapatkan goncangan.

Ketika merawat Giscka, Dewi tidak pernah merasa malu dengan keadaan yang diderita oleh Giscka. Dengan ketunarunguannya, Dewi justru sering membawa puteri sulungnya tersebut ke tempat syuting. “Saya bawa kemana saja, karena saya tidak mau anak ini menjadi beban,” ujar wanita yang berparas keibuan ini. Dengan keterbukaannya terhadap lingkungan sekitar, Dewi Yull memperkenalkan Giscka ke dunia luar. Dengan begitu, Dewi berharap si anak tidak merasa minder dengan kondisi fisik tubuhnya. Sikap Dewi tersebut terbukti dengan perkembangan psikologis Giscka yang makin hari makin menunjukkan kepercayaan diri yang semakin meningkat. “Giscka mampu mandiri menjadi anak yang luar biasa dan lebih hebat dari saya,” aku Dewi. Giscka pun tumbuh menjadi sosok gadis yang memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan anak normal lainnya. Tak hanya itu, kemandiriannya pun patut diacungi jempol. Dengan ketunarunguannya, Giscka mampu menjadi gadis dengan tingkat kepercayaan diri yang mantap. Ia mampu mengikuti sikap ibunya yang tegas dalam berbagai hal. Sebagai seorang ibu, Dewi Yull bangga terhadap sang anak. Hingga menjelang pernikahannya, Dewi Yull selalu mendampingi Giscka dan memberikan dorongan moril sebagai seorang ibu. Kini, Giscka telah mampu memberikan cucu pertama bagi Dewi Yull. Kebahagiaan seorang nenek akhirnya didapatkan oleh penyanyi yang mampu mendendangkan berbagai aliran lagu ini.

Terulang pada Anak Ketiga. Selain Giscka, putera ketiganya, Panji Surya juga memiliki keterbatasan fisik. Ia juga tidak bisa mendengar sebagaimana halnya sang kakak, Giscka. Kelahiran Panji yang memiliki kekurangan fisik tersebut sempat menimbulkan berbagai pertanyaan di diri Dewi. “Kenapa tidak cukup satu?” tanya Dewi ketika Panji hadir di dunia. Akan tetapi, Dewi justru lebih mendekatkan diri pada Tuhan untuk menemukan jawabannya. Ada suatu kejadian yang mampu memberikan jawaban bagi Dewi. Untuk mengetahui jawabannya, Dewi kerap melakukan sholat malam untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dukungan ibunda juga tidak kalah pentingnya dalam memotivasi Dewi Yull dalam menghadapi kenyataaan. Sang Ibu menyarankan kepada Dewi Yull untuk lebih banyak membaca Al-Quran dan melakukan sholat malam. Alhasil, ketika di malam hari setelah sholat malam dan ia membaca Al-Quran, Dewi Yull membaca salah satu ayat di dalam Al-Quran yang isinya adalah ; “Maka dari keduanya, keluarlah mutiara dan Murzan.” “Setelah itu, saya ambruk dan menangis,” kenang Dewi Yull. Dari kejadian itu, Dewi Yull yakin bahwa anak-anaknya merupakan mutiara yang sangat berharga dalam hidupnya. Tak terkecuali dua anaknya yang mengalami kekurangan dalam hal fisik.

Semenjak kejadian di malam hari tersebut, Dewi yull lebih banyak berikhtiar dalam menjalani kehidupan. Dua anaknya yang secara fisik kurang sempurna, justru menjadi suatu bentuk kesempurnaan di mata Dewi Yull. “Sempurna itu kan ada karena adanya ketidaksempurnaan,” ujar Dewi Yull. Tanpa diliputi rasa malu, pemeran Sartika dalam sinetron ‘dokter Sartika’ ini selalu mengajak anak-anaknya ke lingkungan luar. Bahkan Giscka ketika masih berumur di bawah sembilan tahun selalu diajaknya ke lokasi syuting. “Saya selalu mengajak Giscka ke lokasi syuting Losmen, Sartika,” kenang Dewi Yull. Dengan begitu, Dewi berharap anaknya tersebut tidak merasa menjadi beban dengan adanya kekurangan fisik yang dimilikinya. Sebaliknya, Giscka justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi ketimbang anak-anak normal lainnya. Kemampuannya di bidang seni juga sangat mencengangkan berbagai pihak, termasuk ibunya sendiri, Dewi Yull. Sedangkan untuk Panji, putera ketiganya yang juga memiliki kekurangan fisik yang hampir sama dengan Giscka, memiliki kepribadian yang tidak kalah dari sang kakak. Panji mampu menorehkan prestasi yang cukup membanggakan bagi Dewi Yull. Panji yang memiliki hobi sepakbola mampu menjadi pemain futsal yang cukup bagus dengan menyandang gelar top scorer kompetisi futsal antar sekolah sejabotabek. Prestasi lainnya yang lebih membanggakan adalah diraihnya penghargaan pada hari anak internasional beberapa waktu yang lalu. Dewi pun terharu dengan berbagai prestasi yang mampu diraih oleh anak-anaknya, terutama dua anaknya yang memiliki kekurangan fisik.

Dengan diraihnya berbagai prestasi bagi anak-anaknya, Dewi Yull mampu menikmati hidup kesendiriannya setelah bercerai dengan Ray Sahetapy. Berbagai cobaan memang silih berganti menghampiri kehidupan Dewi Yull. Kehadiran dua anaknya yang memiliki kekurangan fisik memang bisa dibilang sebagai cobaan bagi Dewi. Kondisi keluarganya yang semula adem ayem, tiba-tiba harus dihiasi dengan perceraian. Tetap saja bagi Dewi, perceraian tersebut sudah menjadi ketentuan Allah. “Tidak ada yang bisa dimiliki di dunia ini, termasuk anak-anak, semua itu hanyalah titipan,” ujar penyanyi yang mengawali karier di jalur tarik suara saat memenangi lomba Pop Singer se-Jawa Barat pada tahun 1970 ini.

Bangun Kembali Perusahaannya. Setelah menjadi single parent, Dewi Yull pun kini lebih banyak mengurusi perusahaan production house-nya. Perusahaan yang diberi nama PT Giz Cipta Pratama Audiovisual ini telah berdiri sejak 15 tahun silam. Perusahaan yang berkantor di Jalan Camar I No. 1, Bintaro ini menjadi salah satu sumber pendapatan Dewi Yull untuk menghidupi keluarganya. Perusahaan tersebut juga tak luput dari kerikil-kerikil tajam yang menghantam perjalanan hidup Dewi Yull. Dua tahun pertama setelah berdiri, PH yang didirikan oleh Dewi Yull tersebut tidak mendapatkan proyek yang harus dikerjakan. Barulah setelah berjalan dua tahun lebih, perusahaan tersebut banyak mendapatkan order untuk membuat video klip, film dokumenter dan produksi sinetron. Salah satu band terkemuka di Indonesia, KLA Project pun pernah mempercayakan pembuatan salah satu video klipnya kepada perusahaan yang dimiliki oleh Dewi Yull.

Seiring dengan berjalannya waktu, PT Giz mengalami hambatan-hambatan yang mengakibatkan macetnya perkembangan perusahaan. “Selama hampir tiga tahun, perusahaan mengalami kesulitan,” kenang Dewi Yull. Tapi kesulitan tersebut lambat laun mampu diatasi oleh Dewi Yull beserta karyawan-karyawan yang ada untuk mendukungnya. Saat ini, PT Giz Cipta Pratama Audiovisual tengah menangani beberapa film dokumenter. Salah satunya adalah film dokumenter yang dibuat dari hasil kerjasama dengan Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi. Film tersebut dibuat untuk mensosialisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Selain mengurusi production house miliknya, wanita kelahiran 10 Mei 1961 ini juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia kini menjadi duta bagi organisasi Eka Tjipta Foundation. Di dalam organisasi di bawah bendera Sinar Mas Group tersebut, ia mensosialisasikan biji jarak sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat. “Biji jarak itu kan bisa menjadi pengganti minyak tanah,” ungkapnya menjelaskan kepada Realita. Dewi mengaku, dengan aktif di dalam organisasi tersebut, ia dapat menimba ilmu lebih banyak. “Biji jarak itu hasil pengembangan dari IPB (Institut Pertanian Bogor-red), jadi saya sering bertemu dengan para profesor dari IPB,” aku Dewi. Seringnya Dewi Yull bertemu dengan orang-orang akademis yang terbilang cerdas, cukup membuat Dewi Yull bahagia. Pasalnya, ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan yang sebelumnya belum pernah diketahuinya.

Tak hanya itu, Dewi Yull juga kerap mengadakan acara konsultasi dengan para orangtua yang memiliki anak dengan keterbatasan tunarungu. “Saya sering ke Cirebon untuk memberikan konsultasi bagi orangtua yang memiliki anak tunarungu,” aku Dewi. Kegiatan tersebut dilakukannya karena ia melihat banyak orangtua yang merasa malu terhadap kondisi anaknya yang memiliki kelainan daripada anak normal lainnya. Menurut Dewi, sebagai orangtua sebaiknya tidak usah malu dengan keadaan sang anak yang tunarungu. Sang anak akan merasa terbantu dengan sikap orangtua yang terbuka kepada lingkungan sekitar. Dengan begitu, pembentukan karakter si anak akan terjadi dengan sendirinya. Perkembangan mental sang anak pun akan berjalan dengan baik.

Tidak Pasang Target. Untuk hidupnya sendiri, Dewi Yull tidak pernah memiliki target tertentu untuk masa depan dirinya dan keluarga. “Saya hanya berusaha untuk bersyukur setiap hari,” ujar Dewi. Tak heran jika ia memiliki prinsip, berterimakasih pada hari kemarin dan hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Bahkan ketika ditanya mengenai rencana ke depan, Dewi hanya menjawab, “Saya sih tidak punya rencana, yang penting kita harus berikhtiar setiap hari,” begitu ujarnya. Untuk rencana menikah kembali pun ia menyerahkannya kepada Allah. Jika memang nantinya diberikan jodoh, ia pasti akan menikah kembali. Akan tetapi, baginya yang terpenting adalah membimbing seluruh anaknya menjadi anak yang mandiri dan minimal berguna bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, selama ini, ia membebaskan keinginan dari seluruh anak-anaknya. “Saya bebaskan semua anak-anak saya, asalkan sekolahnya bener,” tutur penyanyi yang akan mengeluarkan album Shalawat menjelang Ramadhan tahun ini. Selain itu, ia juga menghormati keinginan dari sang anak karena Dewi Yull sendiri menyadari bahwa anak hanyalah titipan yang dapat diambil sewaktu-waktu oleh empunya. Oleh karena itu, ia sangat memegang arti kepercayaan bagi anak-anaknya. Dewi Yull percaya dengan adanya kepercayaan, anak-anaknya tidak akan mudah terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. “Makanya saya pernah bilang kepada anak-anak saya, jika kalian ingin cepat mamah meninggal, kamu pakai saja narkoba dan apa saja yang buruk,” tutur Dewi. Tak ayal, hingga kini anak-anaknya tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang buruk. Sebaliknya, anak-anaknya justru dapat membuktikan kepada ibu yang sangat dicintainya tersebut bahwa mereka dapat berprestasi di dunianya masing-masing. Fajar


Side Bar 1:

Panji Mampu Menyetir Mobil di Usia 6 Tahun


Ternyata tuna rungu tidak menjadi hambatan bagi Panji, putera ketiga Dewi Yull. Hal tersebut terbukti dengan diraihnya penghargaan pada hari anak internasional beberapa waktu yang lalu. Tak hanya itu, ada suatu kejadian menarik yang pernah dialami oleh keluarga Dewi Yull. Saat itu, Panji meminta untuk diajarkan menyetir mobil. Dewi Yull sempat kaget karena waktu itu Panji baru menginjak umur 6 tahun. Tidak mungkin anak sekecil itu mampu mengendarai kendaraan beroda empat tersebut. Akan tetapi, karena Dewi Yull selalu membebaskan keinginan dari anak-anaknya, maka ia mengijinkan Panji untuk belajar menyetir mobil. Hebatnya, Panji langsung lancar menyetir mobil tanpa harus menunggu petunjuk dari sang ibu. “Waktu itu, saya sudah siap-siap memegang rem tangan, tapi akhirnya dia memang sudah lancar nyetir mobil dengan sendirinya,” tutur Dewi sembari tertawa lebar.

Cerita menarik tak hanya sampai di situ saja, pernah suatu hari Panji mengajak saudara-saudaranya yang juga masih kecil untuk naik ke atas mobil. Hyundai Atoz automatic itu disetir Panji mengelilingi komplek bersama saudara-saudaranya. Dewi Yull pun sempat merasa khawatir dengan kejadian tersebut. Tapi kekhawatiran itu tidak terbukti karena mereka selamat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Jadi waktu itu sudah nggak heran lagi kalau tetangga ngeliat mobil tapi nggak kelihatan supirnya, berarti itu anak saya yang nyetir,” ujar Dewi. Pengalaman unik lainnya pun pernah dialami bersama dengan Giscka. Dewi mengaku, ia pernah dilempar kaleng minuman ringan oleh Giscka karena tidak dituruti keinginanya untuk meminum minuman ringan tersebut. “Kepala saya sempat robek karena dilempar kaleng minuman,” kenang Dewi. Kejadian tersebut memang menjadi risikonya karena Dewi memang sedang mengajari Giscka untuk belajar mengucapkan kata-kata dengan benar. “Supaya dia bisa belajar mengucapkan kata-kata dengan jelas,” ujarnya. Kejadian-kejadian menarik itu tak hanya menjadi bumbu-bumbu yang terjadi ketika merawat anak dengan keterbatasan tunarungu. Akan tetapi, kejadian itu juga justru menambah rasa kasih sayang Dewi terhadap keempat anaknya. Fajar


Side Bar 2:

Mimpi Bertemu dengan Almarhumah Ibunda Sebelum Memakai Jilbab


Perubahan drastis memang terjadi pada tahun 1999 dalam hidup Dewi Yull. Saat itu, ia memutuskan untuk memakai jilbab. Keputusan tersebut memang cukup mengagetkan banyak pihak. Bahkan ada beberapa pihak yang memberikan peringatan agar tidak memakai jilbab karena nantinya tawaran pekerjaan akan berkurang. Meskipun begitu, ia tetap mengukuhkan hatinya untuk memakai jilbab, sebagaimana diwajibkan oleh Allah.

Sebelum memutuskan untuk memakai jilbab, ada kejadian menarik yang dialami oleh Dewi Yull. Pada suatu malam, Dewi Yull bermimpi bertemu dengan almarhumah ibunda, Masayu Devi Hetimawati. “Dia menegur saya untuk lebih dekat dengan Allah,” aku dewi. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk lebih mendekatkan diri dengan sang pencipta. Salah satu keputusan yang diambilnya adalah dengan memakai jilbab. Hingga kini, ia pun tetap menutup rambutnya dengan kain jilbab. “Jangan jilbab itu diidentikkan dengan orang suci,” ujar Dewi. Dewi yang mengaku masih berhubungan baik dengan Ray Sahetapy ini memang telah memantapkan diri untuk tetap memakai jilbab sebagai salah satu kewajibannya sebagai wanita muslimah. “Jilbab itu kan masalah hak asasi manusia, jadi kenapa harus dipertanyakan,” tutur Dewi sambil menutup pembicaraan. Fajar


No comments: