Monday, February 15, 2010

Charles Saerang, Presiden Direktur PT Nyonya Meneer

Charles Saerang, Presiden Direktur PT Nyonya Meneer

Penyelamat Nyonya Meneer dari Kehancuran Akibat Konflik Keluarga

Sempat mengalami konflik dalam tubuh perusahaan keluarga yang dipimpinnya, kini Charles justru mampu membawa Nyonya Meneer pada posisi puncak. Tak hanya itu saja, membawa jamu menjadi kebanggaan milik bangsa menjadi salah satu obsesinya. Lalu seperti apa perjalanan hidup dan karir generasi ketiga sekaligus cucu Nyonya Meneer tersebut?

Jamu memang menjadi sebuah fenomena tersendiri di tanah air. Sebagai obat tradisional warisan nenek moyang, jamu memegang peranan penting dalam budaya masyarakat Indonesia. Namun, beredarnya jamu palsu dan jamu kimia di pasaran tentu banyak memberikan dampak negatif terhadap produk jamu-jamu tradisional yang dihasilkan oleh beberapa perusahaan jamu tanah air, termasuk salah satunya adalah PT Nyonya Meneer. Permasalahan tersebut mungkin hanya menjadi salah satu halangan bagi perusahaan yang berdiri sejak tahun 1919 tersebut.

Di masa lampau sendiri, PT Nyonya Meneer sempat mendapatkan masalah yang bertubi-tubi menghampirinya. Di saat masalah yang bersumber dari perpecahan antar anggota keluarga terjadi, muncullah sosok yang dapat dibilang sebagai penyelamat bagi kelangsungan perusahaan jamu keluarga itu. Dialah Charles Saerang yang merupakan cucu dari Nyonya Meneer yang kini menjadi orang pertama di perusahaan.

Kamis (22/8) siang, Realita memperoleh kesempatan berbincang-bincang dengan Charles Saerang. Tepat di lantai paling atas salah satu gedung perkantoran di jalan Sudirman, Jakarta, sebuah klub eksekutif berada. Ketika berada di lantai tersebut, nampak beberapa orang pria tengah berjalan sembari bercengkerama. Penampilan mereka sangatlah elegan. Terlihat dari pakaian jas yang dipadu dengan dasi yang melingkar di lehernya. Di salah satu ruangan yang telah disediakan, pria bertubuh tinggi besar sudah berada di dalam ruangan. Seperti halnya para eksekutif lainnya yang menjadi pelanggan tetap di klub eksekutif tersebut, ia juga terlihat sangatlah elegan.

Sebagai seorang eksekutif di perusahaannya, Charles Saerang memang harus bersikap elegan dan rapi dalam setiap kegiatan yang dilakoninya. Meski begitu, Charles justru lebih bersikap santai ketika berbincang-bincang dengan Realita. Sesekali gelak tawa dan senyum Charles menghiasi perbincangan santainya. Ia terlihat sangat antusias membagi kisah hidup dan karirnya dalam menjalankan perusahaan keluarga yang dipimpinnya saat ini.

Introvert dan Pemalu. Charles terlahir dari pasangan (alm.) Hans Ramana dan (alm.) Vera Saerang pada 20 Februari 1952. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Berbeda halnya dengan Nyonya Meneer yang dilahirkan di kota Sidoarjo, Charles justru dilahirkan di kota Semarang, Jawa Tengah. Ia dibesarkan dengan segala macam bentuk proteksi dari sang orangtua. Wajar memang, mengingat keluarganya yang berasal dari keluarga yang berada. Tak pelak, didikan dari orang tua tersebut membentuk sisi kepribadian Charles di waktu kecil. “Waktu kecil, saya termasuk anak yang introvert,” kenang pemilik nama lengkap Charles Ong Saerang ini.

Saat kanak-kanak, Charles lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah saja. Ia mengaku sangat dibatasi untuk bermain di luar lingkungan rumah. “Saya lebih banyak bermain dengan saudara kandung yang kebanyakan perempuan,” aku Charles. Tak heran, ketika masih kecil, ia tidak terbiasa bertemu dengan orang asing. Kesehariannya lebih banyak dihabiskan di rumah dan di sekolah. Untuk berangkat ke sekolah pun, Charles harus diantar-jemput oleh salah satu pegawai orang tuanya. Ia mengenyam pendidikan sekolah dasar di kota kelahirannya, Semarang. Namun, ketika ia menginjak kelas 6 SD, Charles harus mengikuti keinginan orang tua yang pindah ke Jakarta. Ia pun melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Setelah lulus SD, ia melanjutkan ke SMP 1 KAPI, Jakarta.

Belajar Mandiri. Sebagai anak daerah yang baru merasakan suasana kota Jakarta, Charles merasa sangat terkejut dengan kondisi Jakarta waktu itu. “Saya lihat banyak kekerasan di sini (Jakarta, red) waktu itu,” ungkap pria yang memiliki hobi mengangkat barbel ini. Selepas menyelesaikan pendidikan SMP-nya, Charles mengambil keputusan yang cukup berani dengan meminta kepada kedua orang tuanya untuk bersekolah di luar negeri tepatnya di London Academy, Inggris. Tentu keputusan tersebut sangatlah mengejutkan mengingat sifat Charles yang sangat introvert dan tidak mudah bergaul dengan orang asing. “Saya memilih bersekolah di luar negeri karena saya ingin mandiri,” ungkap Charles. Meski awalnya kaget dengan keputusan sang anak, akhirnya kedua orang tua Charles mengijinkannya untuk menuntut ilmu di negeri orang, tepatnya di London, Inggris.

Di London, Charles mengenyam pendidikan SMA. Ia sendiri menghabiskan waktu 6 tahun di Inggris. Setelah itu, Charles melanjutkan kuliahnya di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Awalnya, Charles mendaftar untuk kuliah di bidang kedokteran. “Saya nggak diterima di kedokteran,” kenang Charles. Alhasil, ia pun memutuskan untuk mengambil bidang business science di Miami University, Ohio. Selepas lulus kuliah pada tahun 1976, ia kemudian melanjutkan kembali untuk meraih gelar doctor philosophy of marketing dari Kensington University, California.

Di saat-saat masih mengenyam pendidikan, Charles sebenarnya dituntut oleh kedua orang tuanya untuk membantu perusahaan keluarga warisan Nyonya Meneer. Pada saat masuk ke dalam tubuh perusahaan pun, Charles dituntut untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi, yakni perpecahan antar anggota keluarga. Dengan berbekal pendidikan yang sudah dipelajarinya di negeri seberang, Charles pun berupaya untuk membenahi kekacauan yang terjadi di dalam perusahaan. Tak hanya itu saja, kematian sang ayah pada tahun 1976 juga mendorongnya untuk terjun langsung di dalam perusahaan keluarga.

Dua Kali Konflik. Terjunnya Charles di perusahaan keluarga tidaklah disambut dengan kondisi perusahaan yang maju, melainkan dengan kondisi perusahaan yang dirundung masalah. Masalah yang bersumber dari perpecahan antar anggota keluarga mau tak mau membuatnya memutar otak untuk mencari solusi terbaik. Berbagai perubahan pun dilakukan oleh Charles. Di antaranya adalah dengan meneliti masalah apa saja yang tengah diderita oleh perusahaan yang didirikan di Semarang tersebut. Hatinya kembali tersentuh ketika sang pendiri perusahaan, Ny Meneer meninggal dunia pada 23 April 1978. Sepeninggalnya pendiri perusahaan, barulah kondisi perpecahan semakin menjadi-jadi. hal tersebut berdampak pada jatah keuntungan yang diterima Charles sebagai anak dari Hans Ramana, anak Ny Meneer. “Jatah keluarga saya memang kecil sekitar 23%,” kenang Charles. Meski begitu, ternyata ada beberapa pihak dari keluarga Ny Meneer lain yang berusaha untuk memotong jatah keuntungan yang seharusnya diterima Charles. Oleh karena itu, ia pun menuntut rasa keadilan dalam pembagian keuntungan tersebut.

Puncaknya, pada tahun 1980, Ny Meneer mengalami perpecahan hebat untuk kali pertama. “Perpecahan itu merupakan pukulan yang berat bagi kami,” ujar Charles. Pasalnya, kala itu perpecahan tersebut sempat menimbulkan anggota keluarga lain sedih dan putus asa. “Saya sedih melihat tante saya yang sempat menangis,” lanjutnya. Perpecahan ini dipicu oleh perebutan kekuasaan dan upaya-upaya untuk meningkatkan peranan di dalam mesin organisasi. Konflik tersebut berlangsung cukup panas, sehingga Sudomo, selaku menteri tenaga kerja waktu itu turun tangan untuk memecahkan permasalahan. Tak lebih dari setahun, konflik pun dapat terselesaikan dengan baik. Akhirnya, solusi yang diambil adalah dengan cara pelepasan saham oleh 2 anak nyonya Meneer beserta keluarga mereka, yakni Lucy Saerang dan Marie Kalalo.

Depresi Menghadapi Konflik. Cobaan tak hanya berhenti sampai di situ saja. Perpecahan kembali terjadi di era tahun 1990-an. Saat itu perpecahan terjadi lebih hebat ketimbang kejadian yang pertama. “Yang kedua itu mereka menginginkan penyelesaian secara hukum, bukan dalam konteks keluarga,” tutur Charles. Konflik terjadi karena adanya pertentangan antara keluarga Hans Pangemanan (anak Ny Meneer dari suami kedua) melawan keluarga Nonie Saerang yang bergabung dengan Charles Saerang. Konflik ini termasuk konflik yang cukup berkepanjangan dan paling melelahkan karena berlangsung dari tahun 1989-1994. Akibat konflik itu pula, Charles sempat tinggal di Amerika selama beberapa waktu karena adanya upaya pembunuhan terhadap dirinya. Konflik ini akhirnya dapat terselesaikan pula dengan mengambil solusi pelepasan saham oleh keluarga Hans Pangemanan. Selesai satu konflik, ternyata konflik lain timbul. Situasi dimana porsi saham 50:50 antara Nonie Saerang dan Charles Saerang justru menimbulkan masalah perpecahan berikutnya. Pada tahun 1995-2000, perpecahan tersebut berlangsung. Nonie Saerang harus melawan keponakannya sendiri, Charles Saerang. Konflik ini diwarnai dengan adanya pengrusakan nama baik di antara keduanya. “Saya dituduh menyebarkan aliran komunisme,” kenang pria yang ketika bersekolah di Inggris sering mendapatkan nilai F ini. Tak pelak, Charles pun sempat dihadapkan ke depan meja hijau atas tuduhan tersebut. Ia pun menyambut tantangan tersebut dengan meladeninya di jalur hukum. Proses peradilan yang sangat berkepanjangan sempat membuat Charles depresi terhadap masalah yang tak kunjung selesai.

Akhirnya titik terang pun datang juga, pihak keluarga besar Nonie Saerang memutuskan untuk mengalah dan memilih untuk melepaskan saham yang dimilikinya kepada keluarga Charles Saerang pada tanggal 27 Oktober 2000. Sejak saat itulah, Charles telah mampu memegang kendali penuh di dalam tubuh organisasi perusahaan yang kini omsetnya mencapai Rp 500 miliar ini. Namun saat ini Charles justru mendapatkan tantangan dan cobaan lainnya yang datang dari luar perusahaan. “Sekarang tantangannya jamu kimia yang banyak beredar,” ungkap Charles yang juga menjabat ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia ini.

Transisi Menuju Generasi Keempat. Tak hanya itu saja, tantangan dan cobaan yang dihadapi oleh Charles adalah mengangkat jamu sebagai salah satu budaya Indonesia di kancah internasional. “Nyonya Meneer itu bukan hanya milik saya, tapi milik bangsa Indonesia,” ujar Charles. Tak heran, kini Charles sangat getol untuk memasyarakatkan jamu baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Oleh karena itu, sebagai generasi ketiga Nyonya Meneer, Charles kerap bertemu para petinggi dan pejabat Negara hanya untuk mendapatkan bantuan dalam mengangkat pamor jamu di dunia internasional. Selain itu, Charles juga memiliki rencana untuk menjual saham-saham PT Nyonya Meneer ke pasar modal alias go public. “Kita sedang merencanakan bentuk go publicnya,” ujarnya singkat.

Untuk kehidupan pribadi, pernikahan Charles dengan Lindawaty Suryadinata (50) menghadirkan dua buah hati, yakni Vanessa Kalani (27) dan Claudia Alana (16). Charles sendiri hidup terpisah dengan istrinya yang kini tinggal di Malaysia. “Sebulan sekali, saya bertemu dengan istri,” aku Charles. Sedangkan anak pertamanya, Vanessa saat ini tengah menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas di Amerika Serikat. “Saya sedang mempersiapkan anak pertama saya untuk menjadi generasi keempat Nyonya Meneer,” tutur Charles.

Rencananya, dua tahun mendatang, Vanessa akan langsung terjun penuh mengurusi perusahaan keluarga yang dibesarkan oleh sang ayah. Diakui Charles, saat ini pun Vanessa masih kembali ke tanah air setiap 6 bulan sekali untuk mempelajari sistem kerja di dalam perusahaan. “Kalau anak kedua masih lama, soalnya masih berumur 16 tahun,” ujar Charles. “Sekarang masih masa transisi,” lanjutnya. Untuk mempersiapkan generasi keempat tersebut, Charles mendidik kedua anaknya untuk dapat menjadi seorang pemimpin dalam perusahaan keluarga yang mampu membawa produk jamu sebagai milik bersama, tak hanya di lingkungan keluarga saja melainkan seluruh rakyat Indonesia. Fajar

Side Bar 1…

Mengunjungi Makam Sang Ayah Pada Saat Dirundung Masalah

Pada saat masalah menghadang Charles dalam mengembangkan perusahaan, ia kerap melakukan rutinitas yang cukup unik. “Saya selalu mengadu ke makam ayah saya bila ada masalah,” aku Charles. Tepat di samping makam, Charles langsung mencurahkan permasalahannya. Walaupun tak akan terdengar oleh sang ayah, ia mengaku merasa lebih tenang bila telah menceritakan duduk permasalahan yang tengah dihadapinya.

Tak hanya menceritakan permasalahan yang tengah dihadapinya, Charles juga selalu mendoakan sang ayah. Baginya, ayahnya merupakan sosok panutan dalam memimpin perusahaan keluarga. Dari ayahnya pula, ia belajar banyak hal mengenai hidup. Sikap mandiri dan berani, didapatnya dari sang ayah yang meninggal pada tahun 1976. Tak heran, kini ketika permasalahan datang, tak ada lagi sosok yang menjadi tempatnya bersandar. Dulu, biasanya ia selalu bercerita kepada sang ayah bila memiliki masalah. Tak hanya dengan ayah, Charles juga selalu bercerita kepada sang nenek, yang tak lain adalah Nyonya Meneer. Akan tetapi, setelah keduanya tiada, tak ada lagi tempat bercerita dan mengadu. “Tak ada yang bisa saya ajak bicara, karena sudah tidak ada Nyonya Meneer dan ayah,” tutur Charles. Sang istri pun hanya mampu mendoakan keberhasilan Charles.

Tek heran, bila Charles tengah dirundung masalah, ia mengaku selalu berkunjung ke makam sang ayah. Dengan begitulah, ia akan dapat berpikir tenang dan mampu mendapatkan solusi terbaik. Solusi yang berguna bagi ribuan karyawan yang kini menjadi tanggungannya. Fajar

Side Bar 2…

Sempat Dilawan dengan Ilmu Sihir Ketika Konflik

Berbagai cara ditempuh oleh pihak lawan terhadap Charles untuk memenangkan perpecahan antar anggota keluarga. Mulai dari jalur hukum, bahkan tindakan kriminal sekalipun. Bahkan Charles sempat diisukan sebagai penyebar ideologi komunisme. Tak pelak, tuntutan hukum pun mengancam pria bertubuh tegap ini. Bahkan percobaan pembunuhan pun sempat menghampirinya. Sehingga membuat Charles harus mengungsi ke Amerika untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan pada hari pertama setelah menikah dengan istrinya, kediaman Charles harus dijaga polisi militer untuk mencegah kejadian buruk di rumahnya.

Selain dilawan dengan jalur hukum dan tindakan-tindakan di luar hukum, ternyata Charles sempat merasakan ilmu sihir yang dikirimkan oleh pihak lawan kala itu, yakni keluarga besar Nonie Saerang. “Kantor saya ditaburi garam dan ditaruh kembang oleh mereka,” kenang Charles. Ia tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pihak lawan tersebut. Banyak pihak yang memberitahu dirinya bahwa ia telah diguna-guna. Mereka langsung memberikan saran agar Charles melawannya dengan menggunakan ilmu sihir pula. Akhirnya Charles mengikuti saja saran tersebut. Ia kemudian pergi ke perkampungan di daerah Semarang Timur. Meski tak percaya, Charles hanya menerima saja barang-barang pemberian dari si paranormal. “Saya dikasih bendera, lalu disuruh pasang, ya saya pasang saja,” ujarnya sembari tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tersebut. Meski demikian, Charles masih bersyukur ia tidak mengalami kejadian yang lebih buruk dari ilmu sihir itu. Ia dapat melewati permasalahan tersebut tanpa suatu kejadian yang buruk.

Dalam perjalanan karir dan hidupnya, ternyata Charles mempercayai bahwa ada bantuan Tuhan yang selalu membimbing dan menjaga kehidupan dirinya dan keluarga. “Apa yang saya jalankan, ada yang mengatur,” ujar Charles singkat. Dengan kepercayaan yang dimilikinya, Charles mampu melewati segala macam permasalahan yang menghampirinya. Fajar

Side Bar 3…

Tiga Prinsip Menyelesaikan Perpecahan Perusahaan Keluarga ala Charles Saerang

Ada beberapa prinsip yang selalu dipegang Charles dalam menjalankan perusahaan dan karirnya sebagai orang pertama di dalam perusahaan keluarga. Dengan prinsip-prinsip itulah, Charles mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang menyangkut hubungan antar anggota keluarga. Prinsip-prinsip itu di antaranya adalah; pertama, memiliki visi. “Kita harus punya mimpi,” tegas Charles. Menurutnya, tanpa ada mimpi atau visi ke depan, manusia tidak akan memiliki target atau tujuan yang hendak dicapai dalam hidup. Dalam membangun Nyonya Meneer menjadi perusahaan jamu terbesar di tanah air, Charles pun menggunakan visi ke depan. Salah satu mimpinya adalah dengan membuat jamu Nyonya Meneer sebagai jamu kebanggaan milik bangsa Indonesia.

Kedua, memiliki komitmen. Setelah manusia mempunyai mimpi ke depan, maka menurut Charles, harus disertai dengan komitmen yang tinggi untuk menggapai mimpi tersebut. “Saya punya komitmen untuk menyelesaikan perpecahan dalam keluarga,” ujar Charles. Komitmen tersebut diwujudkannya dengan melakukan tindakan proaktif menyelesaikan perpecahan dalam keluarga besar Nyonya Meneer, yakni menawarkan solusi yang sama-sama menguntungkan. Ketiga, memiliki skills atau kepandaian. Memiliki visi dan komitmen tanpa skills bagi Charles tidak akan ada gunanya. Menurutnya, dengan adanya kepandaian, dapat menyelesaikan segala macam bentuk masalah yang hinggap dalam tubuh perusahaan. “Kepandaian itu didapat dari belajar,” tutur ayah dua anak ini. Tak heran, Charles memberanikan diri untuk belajar di negeri seberang agar mampu menuntut ilmu yang nantinya dipergunakan di dalam perusahaan.

Menurut Charles pula, perpecahan dalam keluarga besar Nyonya Meneer dianggapnya sebagai tantangan dan merupakan salah satu tahap yang harus dilalui perusahaan agar berkembang. “Mungkin tanpa adanya perpecahan, kita nggak mungkin berkembang,” ujar pria yang memiliki hobi berolahraga ini. Charles membandingkan perusahaan Nyonya Meneer dengan salah satu perusahaan jamu lain yang di masa lalunya tidak mengalami perpecahan. “Perusahaan itu malah kondisinya stagnan saja,” ujarnya tanpa menyebutkan nama perusahaan tersebut. Oleh karena itu, Charles patut bersyukur dengan adanya perpecahan yang terjadi berkali-kali di masa lalu. Karena dengan begitu, perusahaan Nyonya Meneer akan tetap bermakna sebagai pemersatu anggota keluarga besar Nyonya Meneer. Fajar

Side Bar 4..

Biodata

Nama Lengkap : Charles Saerang

Tempat/tanggal lahir : Semarang, 20 Februari 1952

Nama orangtua : (alm.) Hans Ramana dan (alm.) Vera Saerang

Pendidikan :

  • 1981 : Doktor bidang philosophy of marketing, Kensington University, California, USA.

  • 1976 : Bachelor Degree bidang Business Science, Miami University, Ohio, USA.

Karir

  • 1990-sekarang : Presiden Direktur PT. Nyonya Meneer

  • 2005-2008 : Anggota Departemen kesehatan dan obat-obatan, Dewan Riset Nasional.

  • 2004-2005 : Gubernur distrik Lions Club Indonesia.

  • 2003-2011 : Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan obat tradisional.

  • 2001-sekarang : Anggota Komisi Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan.

  • 1994-2008 : Anggota Advisory KADIN.

Penghargaan

  • 2003 : Finalis Entrepreuner of the Year versi Ernst & Young.

  • 2002 : Penghargaan Kalpataru.

  • 2002 : The Property Right Awards dari Convention World Intellectual Property Organization.

  • 2001 : Best Executives dari ASEAN.

  • 1995 : Indonesian Awards Presentation Program.

  • 1992 : Honorary Achievement Award dari World Lifetime ABI-USA.

5 comments:

Eko Supriyono said...

saya dulu pernah kerja di nyonya meneer,dan saya terkesan dengan style bapak charles dalam memimpin perusahaan.terimakasih pak semoga tuhan memberkahi bapak selalu.amin

Eko Supriyono said...

saya dulu pernah kerja di nyonya meneer,dan saya terkesan dengan style bapak dalam memimpin perusahaan.terimakasih pak.semoga tuhan memberkahi bapak selalu.amin

Dewi Bulan Mei said...

He is a incredible man. Characteristic, humourous, smart and more value. Certainly as a man he has flaws but that is unique creation of God. keep sucsess.

linny pangemanan said...

Ny .Meneer hancur ditangannya. Sebentar lagi ganti pemilik. Setiap pesta pasti ada akhirnya
Karma selalu ada, tdk malukah anda bilang sebagai penyelamat Ny.Meneer...yg ada jadi penghancur.

linny pangemanan said...

Ny .Meneer hancur ditangannya. Sebentar lagi ganti pemilik. Setiap pesta pasti ada akhirnya
Karma selalu ada, tdk malukah anda bilang sebagai penyelamat Ny.Meneer...yg ada jadi penghancur.