Tuesday, February 23, 2010

Mien R. Uno, Presdir Lembaga Pendidikan Duta Bangsa

Mengabdikan Hidupnya untuk Etika, Kartini dan Keluarga

Banyak wanita masa kini yang mampu meneruskan jiwa Kartini. Namun, bila ada ‘Kartini’ yang menjunjung nilai etika dan mengutamakan keluarga, Mien Unolah orangnya. Bahkan di usianya yang mulai senja pun, Mien Uno tetap menjunjung tinggi ketiga aspek tersebut. Bagaimana sosok ibu dari dua anak ini dalam menjalani misi kehidupannya?

Jumat (4/5) pagi, gedung tinggi yang terletak di tengah-tengah perumahan itu terlihat sangat kokoh. Tulisan Lembaga Pendidikan Duta Bangsa tampak menghiasi bagian atas gedung di daerah Kemang Selatan, di mana lembaga pendidikan tersebut berada. Lembaga itulah yang kini dipimpin oleh Mien Uno, seorang “Kartini” masa kini yang kerap mengusung nilai-nilai etika dan pengembangan diri, setiap mengisi berbagai seminar.

Ada sesuatu yang unik pada Yayasan Duta Bangsa pada pagi itu. Mulai dari Satpam hingga resepsionis, memberikan penyambutan yang ramah dan bersahabat. “Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?” ujar resepsionis Duta Bangsa menyambut Realita. Tak hanya itu, seorang office boy yang menyediakan minuman juga bertindak yang sama. Memang, perilaku karyawannya mulai dari level bawah sampai atas terlihat begitu kental.

Setelah menunggu di dalam salah satu ruangan, Mien Uno hadir dan menyapa. Meski usianya sudah berkepala enam, penampilan Mien Uno justru terlihat lebih muda. Tak hanya itu, suaranya pun masih lantang dan penuh semangat. Apalagi, ketika ia mulai mengangkat masalah wanita yang mampu menjadi pemimpin. Mien Uno tampak sangat bersemangat

menceritakan perjalanan hidup dan karirnya, hingga ia mampu menjadi seorang presiden direktur di Lembaga Pendidikan Duta bangsa.

Etika dan Moral. Siapa yang tak kenal Mien Uno? Sejak tahun 1970-an, Mien Uno sudah aktif di berbagai organisasi hingga sekarang. Ia dikenal sebagai pendidik dan pakar etika. Selain itu, dia juga aktif sebagai pemerhati masalah penampilan dan pengembangan diri dari masing-masing personal. Jadi, jangan heran jika tiap kali Mien Uno tampil dalam seminar, topik yang akan dibicarakan adalah masalah etika dan pengembangan diri. Baik bagi pria maupun wanita.

Ketertarikan Mien Uno mengembangkan masalah etika berawal setelah ia menyadari bahwa etika memiliki landasan moral. Sedangkan moral, menurut Mien Uno, bersifat universal. “Moral itu banyak kaitannya dengan hati nurani,” ujar pemilik nama asli Rachmini Rachman ini. “Etika adalah perangkat tata cara pergaulan,” tuturnya. Etika mengatur bagaimana seseorang bergaul di masyarakat. Menurut Mien, etika itu banyak berkembang karena ada faktor budaya dan pengalaman. Selain itu, etika bisa diterima di satu tempat, namun belum tentu bisa diterima di tempat lain.

Sedangkan moral menurut Mien Uno, berkaitan sangat erat dengan agama. Diakui Mien, orang yang memiliki penghayatan agama yang kuat, memiliki falsafah moral yang kuat juga. Mien percaya, jika apa yang ditanam adalah kebaikan maka pada nantinya akan menuai kebaikan, begitu pula sebaliknya.

Wanita dan Anak. Mien Uno tak hanya sukses dalam karirnya sebagai pakar etika, tetapi juga sukses dalam berperan sebagai seorang ibu di dalam keluarga. Lihat saja anak bungsunya, Sandiaga Uno. Ia tumbuh menjadi seroang pengusaha muda sukses di Indonesia. Hal ini membuktikan ungkapan yang mengatakan bahwa di balik kesuksesan seseorang pasti ada sosok wanita. Sandiaga Uno yang menjabat sebagai ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) kini juga sukses memimpin perusahaannya, Saratoga Capital hingga sekarang.

Sukses yang sama tak hanya milik Sandiaga Uno. Anak sulung Mien Uno yakni Indra Cahya Uno juga mampu menggeluti bidang teknologi secara maksimal. Sukses kedua anaknya tersebut tak lain karena hasil didikan dari orang tuanya. Mien Uno berpendapat bahwa mendidik anak tidak sama dengan mencetak kue. “Kita nggak bisa mendidik semua anak dengan perlakuan yang sama. Mendidik anak harus dilakukan dengan sentuhan berbeda pada setiap anak,” lanjutnya.

Selain itu, anak harus dilihat sebagai subjek, bukan objek. Dari situlah, Mien Uno melihat bakat kedua anaknya. Indra Cahya, diakui Mien Uno sangat menyukai dunia mekanik. Alhasil, Mien menyekolahkan Indra di bidang konstruksi pesawat terbang. Indra pun sempat masuk ke IPTN (dulu PT Dirgantara Indonesia,red) untuk menyalurkan bakatnya. Setelah PT DI mengalami kemunduran, Indra kemudian disekolahkan kembali di bidang manajemen ekonomi. Akan tetapi, dunia manajemen atau bisnis bukanlah dunia yang cocok untuk anak sulungnya tersebut. “Sekarang dia mengambil S3 di bidang Ilmu Resources,“ ujar Mien Uno tanpa menyebutkan nama universitasnya. Sifat dan bakat Indra ternyata bertolak belakang dengan sifat adiknya, Sandiaga Uno. Sandi lebih memilih terjun ke dunia bisnis.

Kedua anaknya tersebut merupakan contoh sukses Mien Uno mendidik anak. “Jadi mendidik setiap anak itu berbeda-beda” imbuh Mien yang sudah menjadi pendidik sejak tahun 1956 ini.

Melanjutkan Jiwa Kartini. Mien Uno sendiri ketika masih muda, lebih memiliki ketertarikan di bidang pendidikan. Bidang yang sama juga digeluti oleh adik kandungnya, Arif Rachman yang kini dikenal sebagai pakar pendidikan. Kedua kakak beradik ini memang mengikuti jejak kedua orang tua mereka yang banyak bergelut di dunia pendidikan. Orang tua Mien Uno memiliki latar belakang sebagai pendidik. Yang paling penting, orang tua Mien Uno tidak membeda-bedakan gender. “Orang tua saya tidak membeda-bedakan pendidikan bagi laki-laki maupun perempuan,” kenang wanita yang tidak menyukai novel ini.

Diakui Mien Uno, Arif Rachman ketika masih kecil sempat belajar menari atau kegiatan khas perempuan lainnya. Karena di dalam keluarga Mien Uno, tak ada larangan bagi anak-anaknya untuk belajar. “Gender itu hanya pandangan dari sudut budaya,” ujar wanita kelahiran 23 Mei 1941 ini sembari berfilosofi. Didikan orang tua yang membebaskan semua anak-anaknya menekuni semua bidang pendidikan itulah yang menular ke dalam diri Mien Uno dan kemudian ditularkan lagi kepada kedua anaknya. “Kita semua saling memantau bakat masing-masing. Kita juga bekerjasama sebagai sebuah tim,” aku Mien Uno.

Salah satu contoh Mien Uno bekerja secara tim bersama keluarganya adalah pada saat ia diundang ke seminar. Sebelum menjadi pembicara, ia terlebih dahulu mendiskusikan materi seminar bersama suami dan kedua anaknya. “Jadi, kita melakukan brainstorming,” aku Mien.

Setiap langkah yang dipijakkan oleh Mien Uno memang tak dapat dilepaskan begitu saja dengan sosok Kartini tempo dulu. Karena Mien Uno sendiri mengaku bahwa apa yang dilakukan saat ini merupakan kelanjutan dari setiap langkah yang pernah dipijakkan oleh RA Kartini ratusan tahun lalu. “Saya melanjutkan cita-cita Kartini yakni dengan memberdayakan perempuan. Tetapi, saya tidak hanya memberdayakan perempuan, melainkan juga kaum laki-laki,” tegas Mien Uno.

Lewat Lembaga Pendidikan Duta Bangsa yang dipimpinnya, Mien Uno menginginkan agar wanita menjadi berarti bagi dirinya dan lingkungannya. Perjuangan Mien Uno melanjutkan cita-cita Kartini adalah dengan cara menanamkan etika dan pengembangan diri sebagai bekal untuk bisa bersaing di zaman globalisasi seperti saat sekarang ini.

Anak Seorang Pendidik. Mien Uno lahir dari pasangan Abdullah Rachman dan Siti Koersilah pada 23 Mei 1941 di Indramayu, Jawa Barat. Kedua orang tua Mien Uno adalah guru atau pendidik di zaman penjajahan Belanda. Ketertarikan Mien Uno di bidang pendidikan dimulai ketika ia tamat dari SMP. Dari sekian banyak sekolah yang ditawarkan, ia memilih melanjutkan studi ke Sekolah Pendidikan Guru (SGA) di Bogor.

Sejak kecil, saya sudah dibiasakan untuk memilih sendiri apa yang saya sukai. Dengan cara ini saya dididik untuk menghidupi diri saya dengan kemampuan saya sendiri,” aku Mien. Setelah menamatkan pendidikannya di SGA, Mien Uno kemudian memutuskan untuk melanjutkan studinya ke IKIP Negeri Bandung (Sekarang Universitas Pendidikan Indonesia,red) mengambil jurusan Administrasi Pendidikan. Mien Uno menyelesaikan studinya pada tahun 1965. “Saya diberikan keleluasaan untuk mengaktualisasikan diri saya dengan memberikan pelajaran kepada anak-anak dengan imbalan tertentu,” tutur Mien. Tak heran, selama belajar, Mien sudah memiliki penghasilan sendiri.

Setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, ia kemudian bertemu dengan lelaki yang kini menjadi pasangan hidupnya, Ir. Razif Halik Uno, seorang pria keturunan Gorontalo. Mereka lelu menikah dan dikaruniai dua putra, yakni Indra Cahya Uno dan Sandiaga Uno. Dari kedua anaknya, Mien mendapatkan empat cucu. Karena mengikuti pekerjaan sang suami, Mien pun ikut tinggal bersama Halik Uno di Riau selama hampir 10 tahun. Halik Uno sendiri bekerja untuk perusahaan minyak Caltex di Riau. Selama kurun waktu 10 tahun, Mien lebih banyak ‘bertapa’ di rumah dan menyandang status ibu rumah tangga.

Setelah meninggalkan Riau dan pindah ke Jakarta, Mien Uno mulai memiliki banyak kegiatan. Sekitar tahun 1975, Mien belajar dan mengajar di lembaga Martha Tilaar Beauty and Gallery. Berkat keterlibatannya di dalam lembaga tersebut, Mien dipercaya mengasuh acara Dunia Wanita di TVRI dan kemudian menjadi pemandu acara Lembaga Konsumen di stasiun televisi yang sama.

Beberapa organisasi kemudian dimasukinya sebagai langkah untuk berkiprah menjadi pendidik, bekal dari kedua orang tuanya. Tercatat Mien pernah bergabung bersama Himpunan Pencinta Kain Tenun dan Batik (Wastraprema) pada tahun 1976. Dua tahun kemudian, Mien berduet dengan Bagong Kussudiardjo untuk mendirikan Usaha Dagang Batik Bagong Kussudiardjo. Setahun kemudian ia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia).

Selain beberapa organisasi tersebut, Mien Uno juga aktif di dalam berbagai kegiatan yang masih di dalam lingkaran pendidikan. Menjadi penceramah dan pengajar sudah menjadi rutinitas wanita penyuka film ini. Tak jarang pula, ia menjadi konsultan public relations dan pemasaran di berbagai perusahaan swasta.

Kini di usia senjanya, Mien masih tetap memimpin Lembaga Pendidikan Duta Bangsa dan Yayasan Mien Uno yang telah didirikannya beberapa tahun silam. “Yayasan Mien Uno masih tetap berjalan. Saat ini kita sedang mencari calon penerima beasiswa untuk kuliah S1,” aku Mien yang enggan membahas lebih jauh tentang kegiatan sosialnya tersebut.

Meski sibuk bersama Yayasan Duta Bangsa, Mien masih dapat meluangkan waktu bersama keluarga, khususnya anak dan keempat cucunya. “Biasanya sih, saat hari, kita sering berkumpul bersama,” ujar Mien yang selalu menjaga makanan untuk tetap sehat. Anak-anak dan cucu-cucunya kerap datang ke rumah Mien hanya untuk berkumpul dan bermain bersama. Terkadang juga, Mien berkunjung ke rumah anak-anaknya untuk menengok keadaan keempat cucunya tersebut.

Mien Uno memang terlihat tua. Tetapi ia enggan pensiun dari segala kegiatan yang digelutinya selama ini. “Sampai saat ini, saya masih mampu bekerja,” ujarnya singkat ketika ditanya sampai kapan ia akan tetap memainkan peran sebagai Kartini yang menjunjung etika dan tak melupakan perannya sebagai istri, ibu dan nenek bagi suami, anak dan cucunya. Fajar

Side Bar 1……

Berencana Menulis Buku Lanjutan Tentang Etika

Hobi membaca buku ternyata memberikan imbas tersendiri bagi sosok Mien Uno. Ia kini mampu menulis buku tentang etika dan pengmbangan diri yang merupakan bidang yang ditekuninya sejak lama. Bahkan ia termasuk penulis yang produktif dalam menghasilkan buku-buku tentang etika.

Sebelum menelurkan buku-buku karangannya, Mien Uno kerap menulis kolom di beberapa media cetak tanah air. Tulisannya itu kemudian dikumpulkan dalam dua buah buku yang berjudul Cermin Diri I (1991) dan Cermin Diri II (1996). Sebagai seorang pendidik yang cukup dikenal masyarakat luas, perjalanan hidup dan karirnya kemudian ditulis dalam sebuah buku biografi bertajuk Mien R. Uno, Menjadi Wanita Indonesia yang disusun oleh Herry Gendut Janarto pada tahun 1999. Buku terakhir yang sudah ia rampungkan tahun 2005 lalu bertajuk Etiket-Sukses Membawa Diri Di Segala Kesempatan.

"Ini buku perjalanan hidup saya. Apa yang saya pelajari, amati, dan cerna... saya tulis," ujar pengidola Margaret Thatcher ini, mantan PM Inggris ini. Di dalam buku tersebut, Mien Uno bercerita tentang bagaimana seseorang menerapkan etika secara konsisten dan konsekuen. Menurutnya, salah satu contoh budaya buruk yang harus segera diperbaiki adalah budaya suap di dalam masyarakat Indonesia.

Selain berbagai judul buku yang telah ia tulis, Mien Uno juga seringkali mendapatkan penghargaan atas kiprahnya selama ini. Sejak tahun 1985, ia menjadi langganan berbagai penghargaan dari berbagai instansi. Salah satunya adalah Citra Wanita Pembangunan Indonesia pada tahun 1994. Ratusan piagam penghargaan nasional sebagai pembicara di berbagai forum juga kini tersimpan rapi di salah satu lemari di ruang kerjanya. Dengan banyaknya penghargaan dari berbagai instansi tersebut, Mien Uno memang sangat diperhitungkan kiprahnya sebagai wanita yang mampu menjunjung etika bagi kaum wanita Indonesia.

Kini, Mien Uno berencana akan menerbitkan kembali seri buku tentang etika. “Saya sedang menulis buku lagi. Saya sih maunya setiap lima tahun sekali menerbitkan buku,” lanjut nenek dari empat cucu ini. Namun ia mengaku bahwa buku yang tengah ia tulis sekarang ini belum dipastikan waktu diterbitkannya. “Saya nggak tahu, kapan terbitnya ya. Mungkin dua atau tiga tahun dari sekarang lah,” ujar Mien sembari tersenyum lebar. Fajar

Side Bar 2…..

Senang Mengoleksi Souvenir Pernikahan

Mien Uno memang bukan pengelolah event organizer pernikahan. Jadi, tak ada hubungan antara souvenir pernikahan dengan sosok Mien Uno. Tapi mengapa Mien Uno erat kaitannya dengan souvenir pernikahan? Pasalnya, Mien Uno memiliki salah satu hobi yang cukup unik. Ia kerap mengumpulkan souvenir pernikahan yang telah ia datangi. Lihat saja, ratusan souvenir pernikahan yang telah ia kumpulkan dalam dua buah peti besar di rumahnya di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sebetulnya, itu belum seberapa. Karena masih banyak souvenir pernikahan lainnya yang ia simpan di tempat lain. Hobi ini telah dilakukannya sejak 20 tahun lalu. Kebiasaannya bermula setelah timbul perasaan sayang terhadap setiap souvenir dari pernikahan kerabat yang ia datangi. Bagi Mien Uno, barang-barang tersebut merupakan suatu bentuk kebahagiaan dari pernikahan yang telah dilakukan, sehingga sayang jika barang-barang itu dibuang.

Berbagai souvenir mulai dari kipas, pembuka botol, gantungan kunci sampai souvenir lainnya yang lebih berharga seperti kain tenun India, souvenir pernikahan Raam Punjabi telah memenuhi ruang kerjanya. Kain tenun tersebut merupakan souvenir yang hanya diberikan secara terbatas. Mien Uno merasa sangat tersanjung ketika ia berhak mendapatkan souvenir tersebut.

Sekarang saya nggak tahu pasti, sudah berapa banyak jumlahnya, mungkin ribuan,” ungkap Mien sembari tertawa lebar. Tak hanya souvenir pernikahan, ternyata Mien Uno juga mengoleksi barang-barang unik lainnya. Salah satunya adalah asbak dari berbagai negara yang telah ia kunjungi.

“Setiap ke luar negeri, saya menyempatkan diri untuk membeli asbak,” ujar wanita 66 tahun ini. Hingga kini ratusan asbak menjadi koleksi pribadi di rumahnya. Bahkan sepatu yang sudah berumur sangat tua, dikumpulkannya pula. Sebanyak 200-an pasang sepatu juga menjadi penghuni tetap rumahnya yang asri itu. Uniknya, koleksi-koleksi sepatu-sepatu tersebut hanya yang bermerek Charles Jordan. Meski sempat diprotes oleh sang suami, Mien tetap saja mengumpulkan koleksi sepatunya. Fajar

Side Bar 3…

Terbiasa Nonton Bioskop Sejak Umur Empat Tahun

Selain memiliki hobi mengumpulkan souvenir pernikahan, sepatu dan asbak, ada hobi lainnya yang juga kerap dilakukan Mien, yakni menonton film di bioskop. Kali pertama ia menonton film di bioskop adalah pada saat Mien berumur empat tahun. Kala itu, ia diajak serta oleh kedua orang tuanya untuk menonton film.

Film pertama yang ia tonton adalah Phantom of The Opera. “Phantom of The Opera itu dulu termasuk film seram,” kenang Mien. Meski masih kecil, ia terbilang berani untuk menonton film yang dibuat sekitar tahun 1945 itu. Kebiasaan sejak kecil itu masih sering ia lakukan hingga sekarang, meski tidak selalu pergi ke bioskop. Kesukaannya terhadap film ternyata terpengaruh dari kakak kandungnya, yakni Rasyid Rachman yang merupakan seorang penerjemah film-film asing.

Dia selalu mengajak saya nonton film,” kenang Mien. Ia beralasan, sang kakak sering mengajak dirinya karena Mien selalu punya uang. “Dulu saya selalu punya uang, karena saya rajin menabung,” aku penyuka buku biografi ini. Kebiasaan itu terus dilakukan oleh Mien Uno sejak berumur empat tahun hingga ia menginjak umur 17 tahun.

Film Phantom of The Opera itu jugalah yang kini membuat Mien seorang penakut. Selain film tersebut, ada film Belanda yang masih diingat Mien Uno. Film yang bertajuk Di Belakang Awan itu masih melekat dalam memori Mien karena ceritanya yang menarik. “Film itu menceritakan tentang persahabatan,” ungkap Mien. Dari film tersebut, ia mengambil banyak pelajaran. “Ternyata tak selamanya sahabat itu adalah sahabat sejati,” ujarnya. Mien berkata demikian karena ia sendiri pernah memiliki sahabat yang ternyata menjadi pengkianat dengan melakukan aksi ‘menusuk dari belakang’. Fajar

Biodata Mien Rachman Uno

Nama Asli : Rachimini Rachman Uno

Tempat / tanggal lahir : Indramayu, 23 Mei 1941

Nama Suami : Ir. Razif Halik Uno

Nama Anak :

  • Indra Cahya Uno

  • Sandiaga Uno

Pendidikan : Sarjana Pendidikan IKIP Bandung

Pengalaman Karir :

  • Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa

  • Penulis kolom di berbagai media di Indonesia

  • Senior consultant PR

  • Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional periode 1998-2003

Penghargaan :

  • Public Figure tahun 1990

  • Top Executive Indonesia 1992-1993

  • Citra Wanita Pembangunan Indonesia tahun 1994

  • Indonesian Women of The Year 1995

  • Citra Abadi Pembangunan Nasional tahun 1996

No comments: