Wednesday, October 14, 2009

Lula Kamal, Presenter dan Dokter


Mendapat Jawaban Allah Ketika Bingung Memilih Kekasih Beda Agama


Menjadi seorang dokter dulunya bukanlah cita-cita Lula Kamal. Namun, sedikit dorongan dari kedua orang tuanya ternyata menyadarkan Lula bahwa menjadi seorang dokter, ada suatu kepuasan tersendiri yang didapat. Perjalanan hidupnya juga sempat diwarnai dengan pertolongan Allah saat menghadapi berbagai masalah dan ketika menjalani ibadah haji di Tanah Suci. Lalu bagaimana kisahnya?


Ditemui di sebuah kafe di Jakarta Selatan, Lula Kamal nampak masih terlihat muda di usianya yang sudah berkepala tiga. Penampilan Lula yang cukup santai namun anggun justru tak menggambarkan profesinya sebagai seorang dokter. Bahkan ia tak tampak sebagai seorang ibu dari dua anak. Senyumnya mengembang dengan jelas dari kejauhan saat Realita menghampirinya. Wanita yang terlihat masih cantik ini pun tak segan-segan untuk memulai pembicaraan pada siang hari beberapa waktu lalu itu.
Anak Bawel. Dilihat dari perawakan tubuhnya, Lula Kamal memang memiliki keturunan Arab dari kedua orang tuanya, yakni Kamal Muhammad (67) dan Alwiyah Bawazier (72). Lula merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia tumbuh dan besar di dalam lingkungan keluarga yang sangat taat dalam beragama. Hal tersebut lantas mempengaruhi kepribadiannya hingga kini. Lula sendiri lahir di Jakarta, pada 10 April 1970. Lula di masa kanak-kanak, diakuinya sebagai anak yang cerewet. “Saya termasuk anak yang bawel,” ujar Lula sembari tertawa lebar. “Disuruh diam lima menit saja nggak bisa,” lanjutnya tanpa berhenti tertawa.
Menurut Lula, masa kecilnya cukup membahagiakan. Apalagi kedua orang tuanya bukanlah tipe orang tua yang banyak menuntut. “Orang tua mengajarkan bahwa apa pun pilihan kita, ya risiko ditanggung sendiri,” tutur wanita berambut panjang ini. Tak hanya itu saja, kedua orang tuanya juga banyak memberikan kebebasan asal diiringi dengan tanggungjawab. “Di masa kecil, saya cukup belajar dengan bermain,” kenang Lula. “Didikan agama tetap nomor satu,” aku Lula. Bahkan selepas shalat Maghrib, setiap anak diwajibkan untuk mengaji dan mengerjakan PR sekolah.
Lula kecil sempat mengenyam pendidikan di Bandar Lampung. Kala itu, kedua orang tua Lula memutuskan untuk pindah sementara ke Lampung seiring dengan kepindahan tugas ibunya. Lula pun mengenyam pendidikan di SD Teladan, Bandar Lampung dan kemudian melanjutkan ke SMPN 2, Bandar Lampung. Selepas menamatkan pendidikan SMP, keluarganya ternyata kembali tinggal di Jakarta. Alhasil, Lula pun melanjutkan pendidikan di SMA 68, Jakarta.
Menjadi Dokter. Sang ibu, Alwiyah Bawazier yang berprofesi sebagai seorang dokter turut mempengaruhi pilihan Lula dalam menempuh pendidikan selepas SMA. “Di keluarga itu harus ada yang menjadi dokter,” ujar Lula sembari menirukan omongan sang ibu. Bujukan sang ibu lantas menghantarkan Lula memilih Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti. Kendati belum memiliki minat yang mendalam terhadap dunia kedokteran, Lula baru menyadari betapa menariknya dunia kedokteran setelah belajar di bangku kuliah. “Saat praktek kuliah kedokteran, saya baru sadar betapa nikmatnya menjadi seorang dokter,” tutur Lula yang di masa kecilnya lebih dekat ke ibu ini. “Saya nggak menyesal menjadi seorang dokter,” lanjutnya singkat.
Awalnya Lula justru sempat memiliki cita-cita berkarir di dunia teknik. “Saya sebenarnya dulu tertarik dengan dunia teknik,” kenang Lula. Namun kenikmatan yang dirasakan Lula saat mempraktekkan ilmu kedokteran dalam dunia nyata membuatnya melupakan cita-cita di masa remajanya tersebut. Setelah merawat pasien yang sedang mengalami sakit parah hingga mencapai kesembuhan, di situlah Lula merasakan kepuasan yang cukup membahagiakan. Terlebih lagi bila sang pasien masih mengingat dirinya meski waktu sudah berjalan lama. “Kalau pasien yang sudah sembuh dan masih mengingat saya, itulah yang paling menyenangkan,” ungkap Lula.
Jadi None Jakarta. Kegiatan Lula ternyata tak hanya dihabiskan di bangku kuliah saja. Ia juga ikut mendaftar menjadi None Jakarta tahun 1990 karena ajakan dari salah satu teman kuliahnya. Berawal dari sekadar iseng, ternyata Lula memenangi pemilihan di tingkat wilayah Jakarta Pusat. Melaju ke babak berikutnya, ia berhasil menyabet juara pertama dan menyandang None Jakarta tahun 1990. “Menjadi None Jakarta cukup menyenangkanlah,” ujar Lula yang kali pertama menjadi presenter di acara Sebab Akibat ini. Saat itu pula, Lula mampu menghasilkan uang dari hasil kerja kerasnya sendiri meski terbilang cukup kecil. Sejak saat itu, Lula disibukkan dengan kegiatan sebagai None Jakarta. Selain itu, ia juga mulai wara-wiri tampil di televisi sebagai seorang presenter. Kendati begitu, Lula masih tetap menjalani perkuliahan dan berhasil lulus sebagai seorang dokter.
Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran, Lula mengambil tempat praktek di sebuah puskesmas di daerah Senen, Jakarta Pusat. Tak lama kemudian, ia pindah ke kelurahan Kenari tak jauh dari tempat praktek sebelumnya. Di tempat tersebut, Lula mulai mengenal lebih dalam profesinya sebagai seorang dokter. Mulai dari musibah banjir dan kebakaran yang sempat melanda lingkungan di sekitar puskesmasnya, sudah pernah ia alami dengan menjadi dokter yang harus selalu siaga 24 jam penuh. “Banyak orang yang sengaja berobat ke puskesmas saya berpraktek, cuma ingin melihat saya mengobati pasien,” tutur presenter Buah Bibir ini dengan bangga.
Lula dan Narkoba. Selepas merampungkan kuliahnya dan menyabet gelar dokter, Lula memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di bidang kedokteran jiwa di Universitas Indonesia (UI). Selama sekitar 1 semester merasakan kuliah di bidang kejiwaan, Lula lebih banyak bertemu dengan pasien yang bermasalah dengan narkoba. Sejak saat itu, timbullah ketertarikannya terhadap dunia narkoba yang sangat merusak kesehatan si pemakainya. “Kalau saya mendalaminya lebih jauh, sepertinya akan lebih baik lagi,” pikir Lula saat itu. Ketertarikan itu pula yang kemudian membuat Lula ingin terlibat langsung dalam penyuluhan bahaya narkoba. Kebetulan, saat itu ada pembukaan beasiswa dari British Council untuk menempuh S2 di Inggris.
Setelah mengikuti berbagai tes, akhirnya Lula berhasil mendapatkan beasiswa pendidikan di King’s College, London, Inggris. Alhasil, Lula tidak melanjutkan kembali pendidikan S2 di UI, karena mendapatkan beasiswa di Inggris. Di negeri Elizabeth tersebut, Lula belajar banyak mengenai bahan-bahan yang menyebabkan ketagihan. “Tidak hanya narkoba saja, tapi alkohol dan rokok,” ujar Lula yang memiliki hobi travelling dan berbelanja ini. Sekembalinya dari Inggris, ia lebih banyak menghabiskan waktu di berbagai kegiatan penyuluhan narkoba dan ketergantungannya. Salah satunya adalah dengan terlibat di Badan Narkotika Nasional (BNN).
Pengalaman Haji. Perjalanan hidup Lula ternyata juga tak terlepas dari pertolongan Allah. Salah satunya hinggap dalam perjalanan hajinya di Tanah Suci pada tahun 2000. “Saya banyak mendapatkan pengalaman spiritual dan pertolongan Allah saat menunaikan ibadah haji,” kenang Lula. Saat di Masjidil Haram, selepas shalat Shubuh, ia sempat berpisah dengan salah satu temannya. Namun, keduanya sepakat untuk bertemu di sebuah lorong di Masjidil Haram. Lula pun menunggu temannya tersebut di lorong, tempatnya bertemu. Namun demikian, ternyata setelah temannya mondar-mandir di lorong tak jua bertemu dengan Lula. Padahal Lula sendiri sudah menungguinya di lorong tersebut. “Padahal menurut dia, dia sudah bolak-balik di lorong 10 kali tapi tidak melihat saya, padahal saya ada di sana,” ujar Lula dengan keukeuh-nya. Lula hampir saja memutuskan untuk pulang ke Mina seorang diri karena tak berhasil bertemu dengan temannya itu. Baru saat sore menjelang, mereka berdua akhirnya bertemu di koridor yang sama. Menurut Lula, pengalaman itu cukuplah aneh dan tak masuk di akal.
Selain itu, saat di Makkah Lula juga mengalami kejadian yang cukup aneh. Kala itu, ia sudah mendapatkan posisi yang cukup nyaman untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Meski ribuan orang memadati tempat tersebut, Lula berhasil mendapatkan tempat yang cocok untuk berdoa. Sayangnya, saat itu ia lupa membawa Al-Qur’an. Padahal kala itu, jamaah lainnya sudah diusir oleh sang penjaga agar berpindah ke tempat lain karena bertambahnya jumlah jamaah. Akan tetapi, Lula sendiri sama sekali tak diusir dan didiamkan oleh para penjaga. Merasa beruntung mendapatkan tempat mustajab untuk berdoa, tapi Lula lupa membawa Al-Qur’an. Tiba-tiba saat tengah duduk, seorang pria tak dikenal melintas di depannya. “Orang itu tiba-tiba menaruh Al-Qur’an di depan saya,” aku Lula. Padahal waktu itu, ia belum berdoa dan hanya membatin ingin segera mendapatkan Al-Qur’an agar segera bisa mengaji dan berdoa.
Pengalaman di Hijr Ismail menambah pengalaman spiritualnya di Tanah Suci. Saat ingin menunaikan shalat sunnah, Lula merasa kebingungan karena tak ada tempat sedikit pun untuk melaksanakan shalat. Tiba-tiba di tempatnya berdiri, sebuah celah kecil muncul seketika di antara ribuan jamaah lainnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melaksanakan shalat dua raka’at. Sesaat setelah menunaikan shalat, celah yang baru saja digunakan langsung dipenuhi dengan ribuan jamaah lainnya. Bila saja Lula terlambat untuk memanfaatkan celah kecil untuk shalat, maka ia tak mungkin bisa menunaikan shalat sunnah. Baginya, kemudahan tersebut dianggap sebagai pertolongan Allah yang tak semua jamaah bisa merasakannya.
Saat berada di Tanah Suci, Lula pun sempat memanfaatkannya untuk meminta petunjuk terhadap kelangsungan hubungannya dengan pria yang berbeda agama. “Saya banyak memanjatkan doa di Tanah Suci, salah satunya adalah kelangsungan hubungan saya dengan pacar yang berbeda agama,” tutur Lula. Pasalnya, ia masih merasa bimbang karena perbedaan agama itu dapat menjadi penghalang untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Percaya bahwa semua doa demi kebaikan akan langsung dikabulkan oleh Allah di Tanah Suci, ia pun mempercayainya. Selang tiga hari setelah kembali ke tanah air, tak disangka bahwa sang pacar justru tengah mengikuti sebuah sekolah yang nantinya akan menjadi pastur. Melihat kenyataan seperti itu, maka Lula pun memantapkan diri untuk segera memutuskan hubungannya dengan sang pacar tersebut. “Ya langsunglah kita putus,” ujarnya tertawa riang.
Bagi Lula, pengalaman dikabulkan doanya itu merupakan yang tercepat setelah ia memanjatkan doa di Tanah Suci. Hal serupa juga ia rasakan pada doa-doa lainnya yang juga dikabulkan di kemudian hari, termasuk bertemu dengan pria yang kini telah menjadi suaminya. Tak hanya itu saja, memperoleh kebahagiaan bersama suami dan anak-anaknya telah dikabulkan saat ini.
Sebagai seorang artis sekaligus presenter, Lula sudah banyak membawakan acara diskusi, baik di televisi maupun diskusi publik. Bahkan, baru-baru ini Lula telah menyelesaikan film terbarunya. “Saya berperan sebagai seorang ibu,” aku Lula dengan bangga. Dalam film bertajuk Chika ini, ia tertarik untuk memainkan peran sebagai seorang ibu karena waktu syutingnya yang tak begitu lama sehingga tidak terlalu menyita waktu. “Sebenarnya tawaran untuk bermain sinetron sih banyak, tapi karena waktunya yang harus diluangkan harus total, ya nanti dululah,” kilah Lula.
Tiga Peran Sekaligus. Sukses dalam karir ternyata tak menjamin kesuksesan dalam kehidupan pribadi Lula. Pernikahan pertamanya mengalami kegagalan dan harus berujung dengan perceraian. Meski demikian, Lula tetap mampu mengambil hikmah dari perceraian tersebut. Segala kekurangan dalam dirinya saat menjalin hubungan dalam keluarga berusaha untuk diperbaiki agar tak mengalami kejadian serupa di masa mendatang, terutama pernikahan keduanya saat ini.
Sebagian besar waktu Lula memang dihabiskan untuk kegiatan keartisan dan profesinya sebagai seorang dokter. Kendati demikian, bila disuruh untuk memilih, ia merasa kebingungan. “Kenapa harus memilih, saya memulai kedua profesi saya itu dengan perjuangan yang panjang,” tutur Lula. “Menjadi dokter, saya harus kuliah selama 6 tahun lebih dan menjadi artis pun saya tidak langsung karbitan,” lanjutnya tegas. Menurut Lula, ada tiga bagian besar dalam hidupnya, yakni sebagai dokter, presenter, dan istri sekaligus ibu rumah tangga. Berbagai acara diskusi pernah ia lakoni sebagai presenter, bahkan juga sebagai pembicara sekaligus untuk diskuis kesehatan terutama masalah narkoba. “Acara diskusinya bukan hanya tentang kesehatan saja,” aku Lula. Sedangkan sebagai dokter, Lula kini berpraktek di Klinik Puri Mutiara, Cipete, Jakarta Selatan.
Kini, Lula tengah menjalani perannya sebagai istri dan ibu pada pernikahan keduanya dengan Andi Mulyadi Tirtasasmita (39), seorang presenter televisi sekaligus pengusaha. Pernikahan yang digelar pada 1 September 2007 tersebut telah diwarnai dengan hadirnya dua buah hati, Ainaya Fatihah (8) dan Kyla Tahira (6). Untuk itu, ia selalu berusaha membagi waktunya untuk tiga peran tersebut. Baginya dengan menjalani ketiga peran tersebut, ia merasa sebagai wanita yang serba berkecukupan meski mengaku tidak merasa sukses. Untuk ke depannya, Lula memiliki obsesi lainnya yakni melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. “Saya ingin melanjutkan ke S3, tapi nggak tahu mau pilih apa,” ujar Lula sembari kebingungan. Ia beralasan ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan S3 karena sekadar ingin memperdalam ilmu sekaligus beribadah. Sedangkan untuk bidang presenter, Lula memiliki obsesi lain yakni memiliki acara TV yang benar-benar dikhususkan untuk dirinya. “Saya ingin memiliki acara TV, acara saya sendiri,” harap Lula. Fajar


Side Bar 1…
Alami Cobaan Terberat Saat Bercerai


Setiap orang tak menginginkan adanya perceraian dalam pernikahan yang dijalaninya, tak terkecuali bagi Lula Kamal. Bahkan bagi Lula, perceraian yang pernah ia alami pada pernikahan pertamanya dengan dr. Ismail Khan, diakui sebagai salah satu cobaan terberat dalam kehidupannya. “Kita berdua nggak bisa mengambil jalan tengah untuk mempertahankan pernikahan,” ungkap Lula tanpa menjelaskan titik permasalahannya. Saat masalah menghampiri pernikahannya yang dibina sejak November 2000, Lula tak pernah menceritakan kepada siapa pun, termasuk kedua orang tuanya. “Ayah saya sangat terkejut ketika saya mau bercerai,” kenang perempuan berdarah campuran Arab, Sunda, dan Betawi ini.
Kendati begitu, kedua orang tuanya ternyata mendukung keputusan Lula untuk bercerai meski mereka terkejut dengan langkah yang diambil Lula tersebut. “Apa yang kamu jalani dan dirasa itu benar, kami akan mendukung kamu,” ujar kedua orang tuanya kala itu. Sebenarnya sejak awal tahun 2004, Lula beserta suami pertamanya telah bersepakat untuk bercerai. Namun, karena Lula tengah menjalani kuliah S2 di Inggris dan suami pertamanya juga berada di Malaysia, proses perceraiannya baru dilakukan pada bulan Oktober 2004. “Jadi waktu itu perceraian berjalan dengan baik tanpa ada rasa dendam sedikit pun,” ungkap Lula.
Saat memutuskan untuk bercerai, sebenarnya Lula merasakan beban karena harus bertanggung jawab terhadap anaknya. “Pasti kan nantinya anak saya menanyakan di mana ayahnya,” ujar Lula. Beban itu kemudian diatasinya setelah mengadu kepada Allah tentang jalan terbaik yang harus ia tempuh. Setelah merasa bahwa perceraian adalah jalan terbaik, maka ia pun merasa yakin bahwa nantinya kehidupan ia dan anaknya akan menjadi lebih bahagia. Dari perceraian itulah, Lula mengaku mendapatkan pengalaman berarti sekaligus sebagai bekal untuk melangkah dalam hidupnya ke depan, terutama dalam menjalin hubungan dengan suami keduanya kini. “Saya jadi belajar lebih banyak agar pernikahan sekarang tidak menemui kegagalan lagi,” ucapnya. Fajar



8 comments:

agus said...

boleh minta contact person jika ingin memakai jasa Dr Lula kamal sbg pembicara kesehatan di kantor kami.

mohon hub agus salim hp 081519589829 terima kasih.

Anne Chasny said...

Boleh minta kontak person dr lula kamal?
Tolong direply ke alamat email chasnyr et who.int
Terimakasih

Dicha Fitra Rafinda said...

Selamat pagi, kami dari organisasi peduli Narkoba, dari sebuah kampus swasta di Jogja.

Boleh minta kontak dr. Lula Kamal?
Dalam waktu dekat kami berencana untuk mengadakan seminar dan talkshow dan ingin Beliau menjadi pembicara.

Mohon dikirim ke email dichafitra@gmail.com

Terima kasih sebelumnya, atas info yang diberikan.

Dicha Fitra Rafinda said...

Selamat pagi, kami dari organisasi peduli Narkoba, dari sebuah kampus swasta di Jogja.

Boleh minta kontak dr. Lula Kamal?
Dalam waktu dekat kami berencana untuk mengadakan seminar dan talkshow dan ingin Beliau menjadi pembicara.

Mohon dikirim ke email dichafitra@gmail.com

Terima kasih sebelumnya, atas info yang diberikan.

Dicha Fitra Rafinda said...

Selamat pagi, kami dari organisasi peduli Narkoba, dari sebuah kampus swasta di Jogja.

Boleh minta kontak dr. Lula Kamal?
Dalam waktu dekat kami berencana untuk mengadakan seminar dan talkshow dan ingin Beliau menjadi pembicara.

Mohon dikirim ke email dichafitra@gmail.com

Terima kasih sebelumnya, atas info yang diberikan.

Popo said...

Selamat sore,
kami dari mahasiswi DIII Prodi Kebidanan Karawang Poltekkes Bandung,

Boleh minta kontak dr. Lula Kamal?
Dalam waktu dekat kami berencana untuk mengadakan seminar kesehatan nasional dan ingin Beliau menjadi pembicara dalam acara kami.

Mohon dikirim ke email setianisitifaatihah07@gmail.com

Terima kasih sebelumnya, atas info yang diberikan.

Nurifani Chaerunisa said...

Selamat siang, maaf boleh minta kontak dr. Lula Kamal, kami berinisiatif menjadikan beliau pembicara seminar. Mohon bisa dikirimkan ke email nurifani.chaerunisa@gmail.com
Terima kasih

Melati Indah Jelita said...

Selamat pagi, kami Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Boleh minta kontak dr. Lula Kamal?
Dalam waktu dekat kami berencana untuk mengadakan seminar dan talkshow dan ingin Beliau menjadi pembicara.

Mohon dikirim ke email indahjelita97@gmail.com

Terima kasih sebelumnya, atas info yang diberikan.