Monday, March 30, 2009

Rizky Rahmawati Pasaribu, Pengacara dan Mantan Aktivis

Selalu Mengikuti Apa Kata Sang Mama Setelah Tiga Kali Lolos dari Maut

Sempat tiga kali lolos dari kematian mungkin menjadi sebuah keajaiban tersendiri. Namun, itulah yang terjadi dalam perjalanan hidup Rizky Rahmawati Pasaribu. Baginya, pengalaman tersebut dianggap sebagai tanda kasih sayang dari Allah. Kasih sayang yang memberikan kesempatan bagi wanita muda ini berkarya. Lalu seperti apa perjalanan hidup mantan aktivis yang sempat memperjuangkan reformasi ini?

Seorang gadis tergeletak tak berdaya tepat di tepi jalan tak jauh dari Universitas Trisakti, Jakarta Barat. Matanya terbelalak dan dari kepalanya mengucur darah segar. Suasana di sekeliling gadis itu pun tampak kacau. Ratusan mahasiswa berlarian menghindari kejaran para petugas polisi. Suara letusan senjata api pun seakan-akan menjadi musik pengiring tragedi yang lebih dikenal dengan sebutan tragedi Trisakti 12 Mei 1998 tersebut. Masyarakat sekitar banyak yang mengira gadis itu telah tewas akibat peluru petugas. Namun, siapa sangka gadis tersebut justru masih mampu berkarya dengan menjadi seorang pengacara muda berbakat.
Ditemui di rumahnya di daerah Kelapa Gading, gadis bernama lengkap Rizky Rahmawati Pasaribu ini terlihat ramah dengan senyumnya yang mengembang. Kiky-panggilan akrabnya-kini memang tengah menikmati profesinya sebagai seorang pengacara. Kejadian 10 tahun lalu ketika ia masih menyandang status sebagai mahasiswa Hukum Universitas Trisakti itu merupakan pengalaman berharga dalam hidupnya. Ternyata tak hanya itu saja, Kiky juga mampu lolos dari kematian saat terjadinya bom Bali dan bom kedutaan besar Australia. Ketiganya itulah yang mewarnai kehidupan Kiky. Sembari bersantai di loteng rumahnya, Kiky lantas menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh dengan pertolongan Allah tersebut.
Anak Pengacara. Kiky terlahir dari pasangan Zul Amali Pasaribu (58) dan Elly Mutia (55). Kiky lahir di Jakarta pada 30 Maret 1980 dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sang ayah merupakan pria asli Batak. Sehingga dalam keluarga, nuansa Batak sangat kental terasa. “Orang tua mengajarkan kebebasan yang bertanggung jawab,” ungkap Kiky. Kiky sendiri dibesarkan di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Sang ayah sudah berprofesi sebagai seorang pengacara sedari Kiky masih kanak-kanak. Sehingga dunia hukum sebenarnya sudah tak asing lagi di telinga Kiky.
Kiky menghabiskan waktu kanak-kanaknya di ibukota. Ia mengenyam pendidikan di SDN 04 Kelapa Gading. Kiky lantas melanjutkan pendidikannya ke SMP 123, Kelapa Gading dan SMA 36 di daerah Rawamangun. Sejak masih kanak-kanak, Kiky termasuk anak yang mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. Selain itu, ia juga merupakan anak yang sangat kritis terhadap keadaan di sekitarnya. Tak heran, ketika memasuki bangku kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti pada tahun 1997, Kiky banyak menyoroti kondisi politik dan ekonomi Indonesia yang tengah terpuruk. Selain berkonsentrasi pada kuliahnya, Kiky juga sangat aktif dalam bergaul dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya. Melalui komunikasi itulah, semangat untuk ikut dalam pergerakan mahasiswa semakin menggebu-gebu dalam diri Kiky. Terlebih lagi, kedua orang tuanya justru mendorong Kiky untuk ikut menyuarakan reformasi. “Masa mahasiswa cuma berdiam diri di rumah saja,” ujar Kiky sembari meniru ucapan sang ayah kala itu. Bersama dengan puluhan bahkan ratusan mahasiswa lainnya, ia terjun ke jalan untuk menyalurkan aspirasinya.
Tepat tanggal 12 Mei tahun 1998, Kiky ikut dalam aksi demo mahasiswa dari kampusnya, Trisakti untuk menuntut mundurnya Soeharto yang kala itu terpilih kembali menjadi seorang presiden. Tuntutan reformasi pun merebak di penjuru tanah air, khususnya di Jakarta. Ribuan mahasiswa bergabung dan melakukan aksi demo terhadap pemerintah dan DPR. Sebagai seorang mahasiswa, Kiky pun terdorong untuk turun ke jalan dan menyuarakan aspirasi rakyat. Tak diduga sebelumnya, aksi demo yang dilakukan Kiky bersama mahasiswa lainnya ternyata berbuah bentrok. Pihak mahasiswa dan polisi ternyata bentrok satu sama lain. Kumpulan mahasiswa yang tadinya dengan lantang menyuarakan tuntutan reformasi, berlarian menghindari desingan peluru yang dilontarkan petugas polisi.
Tragedi Trisakti. Kiky yang tadinya berada di barisan terdepan aksi demo pun ikut berlarian menghindari kejaran polisi yang hendak membubarkan aksi demo. Saat berlari tak jauh dari bangunan kampusnya sembari membawa spanduk bertuliskan reformasi, ia merasa tubuhnya kesemutan dan langsung lemas tak berdaya. Sepasang kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Seketika Kiky jatuh tak berdaya di tepi jalan. Sementara itu, kondisi di sekitarnya semakin kacau dengan diiringi suara desingan peluru petugas polisi. Ratusan mahasiswa lain pun berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing.
Kondisi Kiky sendiri masih tergeletak di atas aspal jalan. Dari sebelah kiri kepalanya, keluar darah segar yang menetes jatuh membasahi jalan. Tak ada bagian tubuhnya yang bergerak menandakan ia masih tersadar dan hidup. Bahkan saat masih tergeletak di tepi jalan itu, Kiky sempat mendapat kekerasan dari beberapa oknum polisi. “Teman-temanku bilang saya ditendangi makanya banyak yang biru-biru,” ujar Kiky. Tak heran, banyak rekan-rekan mahasiswa lainnya menyangka bahwa Kiky telah menemui ajalnya saat memperjuangkan reformasi. Namun, pertolongan Allah membuat kenyataan yang berbeda. Ternyata maut masih belum dapat menjemputnya. Dengan bantuan seorang pria, tubuh Kiky yang tak berdaya dibawa ke bangunan bekas kantor Walikota Jakarta Barat. Tak dinyana, tempat tersebut sudah dipenuhi dengan korban luka-luka akibat bentrok antara polisi dan mahasiswa.
Di dalam salah satu ruangan, tubuh Kiky yang belum siuman masih tergeletak. Namun, salah seorang petugas polisi masuk ke dalam ruangan. Menurut pengakuan saksi, si polisi tersebut menodongkan senjata ke arah kepala Kiky yang masih belum sadar. “Tembak saja, dia tuh yang paling terdepan pas demo tadi,” ujar polisi lainnya sembari meloyor pergi. Entah kenapa, setelah beberapa lama sang polisi tidak menarik pelatuk senjatanya yang sudah ditodongkan ke kepala Kiky. Si polisi justru mengungkapkan kemarahannya karena tak mampu menarik pelatuk senjatanya dengan memukul sebuah lemari yang berada tak jauh dari tubuh Kiky dengan menggunakan gagang senjatanya. “Sampai bolong lemarinya,” ujar Kiky bersemangat. Saat itu, maut bisa saja langsung menjemputnya bila pelatuk senjata yang digenggam sang polisi langsung ditarik. Akan tetapi, si polisi tersebut mengurungkan niatnya untuk menembak Kiky yang masih tak berdaya. Ia justru lantas meninggalkan ruangan dan mencari kembali mahasiswa lainnya yang dianggap berbuat anarkis.
Selang beberapa lama kemudian, Kiky pun siuman. Dengan kepala yang berlumuran darah, ia berusaha mengingat kembali kejadian tragis sebelumnya yang ia alami. Tepat di sampingnya, ada seorang ibu-ibu yang berusaha membantu sebagian mahasiswa lain yang terluka termasuk Kiky. Wanita tua tersebut lantas mengingatkan bahwa luka yang diderita Kiky cukup parah. Namun demikian, Kiky justru tidak menyadarinya setelah memegang kondisi kepalanya yang berlumuran darah. Ia juga baru menyadari bahwa kepalanya terserempet peluru karet polisi. “Saya baru sadar saat memegang kepala saya yang penuh darah,” kenang Kiky. Beruntung baginya, karena peluru tersebut tidak sampai menembus bagian kepalanya. Bila saja peluru itu menembus kepala Kiky, maka otomatis nyawanya pastilah sudah terenggut.
Setelah mendapatkan perawatan seadanya di bangunan bekas kantor Walikota Jakarta Barat, Kiky langsung dibawa petugas polisi ke Polda Metro Jaya untuk mendapatkan perawatan medis di klinik Polda. Barulah setelah sekaligus mengajukan Berita Acara Perkara (BAP), ia dibawa pulang oleh kedua orang tuanya yang menjemput. Baginya, pengalaman tersebut sangatlah mencekam. Namun, karena memperjuangkan aspirasi masyarakat dan reformasi, Kiky berani untuk melawan maut yang hampir saja menjemputnya secara tiba-tiba.
Bom Bali 2002. Setelah kejadian Mei 1998, Kiky pun kembali ke bangku kuliah dan melanjutkan cita-citanya sebagai seorang pengacara. Tepat tahun 2002, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya dan menyandang gelar SH di belakang namanya. “Setelah lulus, saya ingin beristirahat dulu makanya saya mau liburan ke Bali,” aku gadis yang masih melajang ini. Sekitar akhir bulan September, Kiky pun berangkat ke pulau dewata. Di Bali, sudah menunggu beberapa temannya yang memang bertempat tinggal di pulau yang terkenal dengan pantai Kuta tersebut. Kiky menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di Bali. Setelah dua minggu di Bali, Kiky beserta teman-temannya lantas berencana untuk menghabiskan hari Sabtu malam, 12 Oktober 2002 di sebuah klab malam bernama Paddy's Club. “Saya belum pernah ke Paddy's Club, makanya saya diajak teman-teman untuk ke sana,” ujar gadis berkulit sawo matang ini.
Namun, entah kenapa pada siang harinya, ibunda tercinta menelepon Kiky untuk langsung pulang ke Jakarta pada hari itu juga. “Waktu itu Mama saya menyuruh pulang hari itu juga tanpa alasan yang jelas,” aku Kiky. Sebagai anak, Kiky pun berusaha untuk mematuhinya. “Saya langsung mencari tiket pesawat ke Jakarta hari itu juga dan baru dapat tiket yang sore hari,” tutur Kiky. Padahal, Kiky sendiri masih ingin berlama-lama di Bali karena belum puas berlibur di pulau dewata tersebut. “Kalau nggak pulang sekarang, nggak usah pulang sekalian,” begitu ucapan sang ibu agar Kiky segera pulang hari itu juga. Akhirnya Kiky pun terpaksa mengikuti kemauan sang ibu dengan pulang ke Jakarta pada petang harinya. Rencana untuk berkunjung ke Paddy's Club bersama teman-temannya pun buyar sudah. Teman-temannya yang tinggal di Bali pun tak jadi menikmati malam minggu di Paddy's Club karena Kiky pulang ke Jakarta. Dengan perasaan sedikit kesal, Kiky tiba di rumah pada malam harinya. Barulah pada keesokan harinya, Kiky mengetahui bahwa Bali terguncang hebat akibat bom yang meledak di Paddy's Club. Seketika Kiky termenung sejenak dan tak mampu berkata-kata. Kiky tersontak kaget dengan kabar bom yang meledak di sebuah klab malam yang sebenarnya hendak dikunjungi pada malam sebelumnya.
Bom Kedubes Australia 2004. Kiky tersadar bukan sebuah keberuntungan yang berpihak kepada dirinya, namun pertolongan Sang Penciptalah yang menyelamatkan dirinya dari sebuah bom yang bisa merenggut nyawanya seketika. Tak hanya bom di Bali, Kiky pun sempat lolos dari bom yang meledak di depan Kedutaan Besar Australia. Pada hari Kamis, 9 September 2004, dimana bom meledak di kedubes Australia, Kiky sudah bekerja dengan status magang di sebuah kantor law firm yang berkantor di gedung Menara Gracia tepat di sebelah kedubes Australia. Selain ikut bekerja di sebuah law firm, Kiky juga aktif di sebuah LSM bernama Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Perempuan dan Keluarga (LBH PEKA) di jalan Cibulan daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Biasanya di pagi hari, Kiky menyelesaikan pekerjaannya di kantor law firm di Menara Gracia. Namun pada pagi hari itu, Kiky lebih memilih untuk berangkat ke kantor LSM untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Pada siang hari, ponselnya berbunyi, atasan di kantor law firm menelepon Kiky. “Saya menyangka akan dimarahi karena tidak ke kantor waktu itu,” kenang Kiky yang berencana akan melanjutkan pendidikan S2-nya ini. Ternyata sang atasan justru hendak menanyakan keberadaan Kiky, karena kantor law firm-nya rusak parah akibat bom yang meledak di Kedubes Australia. Tak diduga, sang atasan juga tengah tak berada di dalam kantor dan hendak menanyakan keadaan para karyawannya termasuk Kiky. Setelah ledakan, ruangan kantor law firm di Menara Gracia pun hancur berantakan. Beruntung, teman-teman kantornya masih dapat menyelamatkan diri dari kerusakan akibat bom. Lagi-lagi, Kiky lolos dari ledakan bom yang bisa saja berakibat buruk terhadap dirinya.
Ketiga kejadian yang cukup mencekam itulah yang mewarnai kehidupan Kiky hingga sekarang. Ia mengaku sempat trauma dengan aparat kepolisian berseragam akibat tragedi Mei 1998. Namun, kini sebagai seorang pengacara ia mampu menghilangkan rasa traumanya tersebut. “Masa saya sebagai pengacara takut sama aparat yang berseragam,” begitu kilah Kiky yang mengibaratkan hidupnya seperti apa yang terjadi pada film Final Destination. Saat ini, ia memang menikmati masa-masanya sebagai seorang pengacara. Kiky kini tengah memegang kantor hukum cabang milik sang ayah bernama Amali & Associates di Jalan Raya Enggano, Jakarta Utara. Kiky sendiri ikut mengurusi kantor hukum milik sang ayah sejak tahun 2004. Kala itu karena kondisi kesehatan sang ayah yang mengalami gangguan, akhirnya ia diajak untuk mengurusi kantor hukum ayahnya tersebut.
Kini, sudah banyak kasus yang pernah ditangani Kiky sebagai seorang pengacara. Salah satu kasus yang pernah ditanganinya adalah kasus pembunuhan Naek Gonggong Hutagalung yang dilakukan oleh artis Lidya Pratiwi. “Saat ini saya sedang menangani kasus pembunuhan mutilasi,” ujarnya singkat. Profesi sebagai seorang pengacara memang benar-benar ia nikmati. Pasalnya, Kiky memiliki suatu alasan yang menjadi motivasi terbesarnya kini. “Tuhan memberikan saya waktu untuk lebih banyak berkarya,” ujar Kiky. “Saya bersyukur sekali masih diberikan kesempatan untuk lebih banyak berkarya,” lanjutnya sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1...

Sejak Bom Bali, Selalu Ikuti Apa Kata Sang Mama

Kejadian bom Bali memberikan hikmah tersendiri bagi Kiky. Pasalnya, keputusan untuk langsung pulang ke Jakarta pada awalnya memang perintah dari ibunda tercintanya. Padahal kala itu, tak ada alasan yang jelas dan masuk akal dari ibunya agar Kiky segera kembali ke Jakarta. Namun, entah kenapa sang mama justru mengharuskan Kiky segara pulang. Meski kala itu Kiky merasa agak sedikit kesal karena harus kembali ke Jakarta sedangkan ia masih ingin berlama-lama berlibur di Bali, akhirnya ia mendapatkan hikmah yang tiada bernilai.
Bila saja waktu itu Kiky jadi menghabiskan waktu di Paddy's Club, tentu saja nyawanya akan melayang seiring dengan dahsyatnya bom yang meledak di bar malam itu. Bahkan teman-temannya yang sebelumnya juga akan ikut ke Paddy's Club berterimakasih kepada Kiky. Berkat kepulangannya ke Jakarta, mereka juga tak jadi menghabiskan malam di Paddy's Club. “Salah satu teman saya, orang Korea selalu menceritakan tentang kejadian bom Bali kalau saya ke sana (Bali, red),” tutur Kiky. “Kalau nggak ada Kiky, kamu nggak bakalan menikah sama saya,” begitu ujar temannya itu kepada suaminya kini saat Kiky pergi ke Bali setelah terjadinya ledakan bom. Teman-teman lainnya juga sangat bersyukur mereka tidak jadi berangkat ke Paddy's Club di malam naas itu. Akhirnya semua terselamatkan berkat keputusan Kiky yang harus pulang ke Jakarta pada hari itu juga. “Makanya sekarang saya selalu mengikuti nasihat mama,” tutur Kiky. “Memang kalau mama sudah berkata apa, kita sebagai anak harus mengikutinya,” lanjutnya. Selain karena peran ibundanya, Kiky juga menganggap bahwa semua apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan bukti kuasa Tuhan. “Kita tahulah rezeki, jodoh, dan maut itu kan kuasa Tuhan,” ujarnya tegas. Fajar

6 comments:

fajar aryanto said...

benar-benar mukjizat...!!!

Anonymous said...

Ya.. Alhamdulillah :) terima kasih atas tulisan tentang saya ini yang udah di muat di tabloid realita. Apa kabar mas fajar?
-Rizky "Kiky" Rahmawati-

fajar aryanto said...

mbak Kiki, apa kabar?? saya baik2 saja.. mbak, saya minta nomer kontaknya lg dong.. kok saya hubungi ke nomer kontak yg lama, gak nyambung ya..
thanks..
Fajar Aryanto

Anonymous said...

Hoi ki...gw baru tau lu batak, gw pikir jawa.
Gw yg jawa malah sering dibilang batak..
*artikel nya bagus, 2 thumbs up buat kiki* xox, susi

Rizky Rahmawati said...

Hi Susi, iya saya batak mix padang.. muka jawa. hehe
Thank you yah... sukses!
-Kiky-

Anonymous said...

Mba saya minta tlng bebasin abang dpenjara mau pki pengacara saya gk punya uang