Monday, March 30, 2009

Prita Kemal Gani, Pemilik The London School of Public Relations Jakarta

Mengabdikan Hidupnya di Dunia Pendidikan dan Public Relations Sepeninggal Sang Ayah

Berawal dari kesederhanaan di masa kecilnya, akhirnya Prita Kemal mampu mengubahnya menjadi sebuah kesuksesan dalam hidupnya. Sebuah institusi pendidikan mampu dibangunnya dan menjadi salah satu kampus idaman bagi para calon mahasiswa. Tak diduga, tekad Prita untuk meraih kesuksesan berawal dari kesedihan setelah kematian sang ayah. Lalu bagaimana perjalanan hidup ibu tiga anak ini?

Sebuah rumah di salah satu perumahan di daerah Pamulang yang cukup besar dan asri, nampak sepi. Tak terlihat ada penghuni di dalam rumah tersebut. Kendati demikian, seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai seorang pengusaha terlihat berada di dalam rumah. Ia tampak sibuk dengan pekerjaannya dalam mengurusi sebuah sekolah tinggi swasta meski hanya dilakukan di dalam rumah saja. Saat menerima kedatangan Realita, wanita anggun ini pun lantas melempar senyum. Sembari duduk di sofa yang berada di dalam ruang kerjanya, wanita bernama lengkap Prita Kemal tersebut pun lantas berbagi cerita mengenai perjalanan hidup dan karirnya hingga mampu mendirikan sebuah sekolah tinggi di bidang public relations.
Prita Kemal adalah sosok yang sukses membangun imej dan integritas dari sebuah sekolah tinggi yang diberi nama The London School of Public Relations di Jakarta. Berkat tangan dinginnya, ia mampu menarik minat para calon mahasiswa untuk menimba ilmu di sekolah yang didirikannya tersebut. Perempuan tegar ini terlahir pada 23 November 1961 di Jakarta. Prita Kemal merupakan anak kedua dari lima bersaudara pasangan (Alm.) Sudaryono dan Titi Sudaryana (73). Adik bungsu Prita meninggal ketika berusia 3 bulan karena sakit. “Jadi saya tinggal empat bersaudara,” aku Prita. Sang ayah berprofesi sebagai seorang wartawan di salah satu media cetak di Jakarta. Sedangkan sang ibu awalnya hanya berperan sebagai seorang ibu rumah tangga saja.
Ditinggal Sang Ayah. Prita kecil tidaklah hidup dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Pasalnya, ayahnya, Sudaryono justru meninggalkan Prita di saat ia masih berumur 5 tahun karena menderita penyakit hepatitis B, penyakit yang sama yang diderita adik bungsu Prita. Tak pelak, hal tersebut sangat mengguncang kehidupan keluarganya, terutama dalam hal kehidupan ekonomi. “Cukup memprihatinkanlah,” ujar Prita singkat sembari mengenang masa kecilnya tersebut. “Perjalanan hidup saya nggak hebat cuma memang tidak semulus yang dibayangkan,” tutur Prita.
Untuk menghidupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah Prita dan saudara kandung lainnya, sang ibu harus bekerja keras dengan cara membuka usaha kecil-kecilan. Mulai dari membuka usaha katering hingga mampu mendirikan sebuah hotel di daerah Bengkulu. Beruntung bagi ibunya, usaha tersebut membuahkan hasil. Buktinya terlihat ketika sang ibu mampu menyekolahkan semua anak-anaknya. Bahkan Prita juga mampu melanjutkan pendidikannya ke negeri seberang.
Sepeninggal sang ayah, Prita memang dididik dengan penuh rasa kasih sayang dari ibunda tercinta. Tak hanya itu saja, rasa kedisiplinan pun ditanamkan ke dalam diri Prita sejak masih kanak-kanak. Meski begitu, ia terpaksa dititipkan ke rumah kakak kandung dari almarhum ayahnya yakni Sudarsono sejak masih duduk di bangku TK hingga kelas 3 SD. “Saya dan kakak saya dititipkan, tapi kedua adik saya ikut dengan ibu karena masih kecil,” aku Prita. Sedangkan sang ibu memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat.
Sejak kelas 3 SD hingga kelas 3 SMP, sang ibu kembali ke Jakarta untuk tinggal bersama. Namun, usaha di Jakarta kurang berhasil. Sehingga sang ibu kembali meninggalkan Prita dan saudara kandung lainnya serta memutuskan untuk menerima tawaran menjadi seorang manajer di salah satu hotel di Bengkulu. Setelah itulah, Prita dititipkan di rumah adik dari ibundanya yang bernama Almibur di Jakarta. Hal tersebut dikarenakan kondisi ekonomi keluarga yang masih belum stabil dan kesibukan ibunya yang akan bekerja sebagai seorang manajer di sebuah hotel di Bengkulu.
Seringnya Prita dititipkan di tempat saudara, membuahkan pelajaran sendiri bagi diri Prita. “Membuat saya mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan,” imbuhnya. Meski dititipkan ke sanak saudara, biaya sekolah Prita masih ditanggung oleh sang ibu atas hasil kerja keras ibundanya tersebut. Prita kemudian tinggal kembali bersama dengan sang ibu di Jakarta setelah ia lulus kuliah dan memiliki pekerjaan tepatnya pada tahun 1992.
Selama dititipkan, Prita mengaku harus memiliki sifat tepo sliro. Pasalnya, ia sadar harus ikut membantu segala macam pekerjaan rumah di tempat saudaranya tersebut. Hal itulah yang membuat dirinya tahan mental dalam menjalani hidup dengan sifat kesederhanaan yang dimilikinya. “Saya sudah terbiasa prihatin,” ujar Prita singkat. “Hal itulah yang menjadi keuntungan saya dalam membangun usaha karena tahan dalam segala macam kegagalan dalam mendirikan usaha,” lanjutnya.
Kagum pada Ibunya. Menghabiskan masa kanak-kanaknya tidak bersama dengan sang ibu, tak menggerus rasa sayangnya kepada ibunda tercintanya. Sebaliknya, Prita justru mengagumi ketegaran sang ibu yang bekerja keras untuk dapat membiayai keempat anaknya yang masih kecil. “Dia adalah perempuan yang luar biasa,” ujar Prita. Hasil kerja keras sang ibu membuahkan hasil dengan berdirinya sebuah hotel yang diberi nama Hotel Mala di Bengkulu, meski hotel tersebut tidak semewah hotel berbintang.
Awal mula usaha sang ibu sendiri adalah usaha katering yang berasal dari hobinya memasak. “Ibu saya tuh suka memasak,” ungkap Prita soal sang ibu, Tity. Dari hasil kerja keras sang ibu itulah, keempat anaknya termasuk Prita mampu menyelesaikan pendidikannya tanpa ada kesulitan yang berarti. Kini hotel milik sang ibu telah dijual, karena beberapa pertimbangan bidang pariwisata yang kurang menjanjikan saat itu.
Prita yang tinggal di Jakarta mengenyam pendidikan di SD Santa Ursula yang kemudian dilanjutkannya ke SMP Van Lith, Jakarta. Ia lantas menempuh pendidikan SMA di SMA PSKD 1, Jakarta. Selepas menamatkan pendidikan SMA, Prita sempat melanjutkan ke Akademi Perhotelan Trisakti dan lulus pada tahun 1984. “Lalu saya mendapatkan job training di Hotel Hilton dan kebetulan saya ditempatkan di bidang public relations,” kenang Prita. Sejak saat itulah, Prita menyukai bidang kehumasan tersebut. “Saya melihat tugas PR itu ternyata enak,” begitu ia menilai kala itu. Alhasil, Prita pun mengutarakan niatnya untuk kembali melanjutkan pendidikannya di bidang kehumasan kepada ibundanya. Sang ibu kala itu sempat terkejut dengan niat anak perempuan satu-satunya itu. Namun demikian, karena tekad Prita yang sangat kuat, Prita pun lantas menempuh pendidikan public relations di negeri Ratu Elizabeth, tepatnya di London City College of Management Studies, London. Ia lulus pada tahun 1987. Setahun kemudian ia kembali meneruskan pendidikannya di Manila, tepatnya di International Academy of Management and Economic, Manila.
Mendirikan LSPR. Setelah kenyang dengan ilmu yang didapat di luar negeri, Prita kemudian kembali ke tanah air dan mulai berkarir di sebuah perusahaan swasta bernama Clarck Hatch International, tentu saja masih bergelut di bidang public relations. Saat itulah, ia melihat peluang usaha untuk membangun sekolah yang mengajarkan khusus mengenai public relations. Menurutnya, kala itu tak ada sekolah khusus yang mengajarkan mengenai dunia PR kepada masyarakat yang ingin mempelajarinya. Kepiawaiannya dalam membaca peluang itulah yang akhirnya mendorong Prita mendirikan sebuah institusi pendidikan sederhana pada tahun 1992.
Dengan bermodalkan uang seadanya yang berasal dari sisihan gaji dan tabungan pribadinya serta bantuan dari sekolahnya di London, ia mendirikan sekolah khusus yang mengajarkan tentang bidang kehumasan. Dengan hanya menyewa sebuah ruangan seluas 12 meter persegi di gedung WTC, Jalan Sudirman, Jakarta, Prita memberanikan diri untuk menyelenggarakan kegiatan perkuliahan. Ia semakin yakin tatkala sang suami, Kemal Efendi Gani (49) mendukung rencana Prita. Kala itu, Prita hanya mampu menggaet 12 orang ekspatriat untuk mengajar di sekolahnya. “Saat itu untuk menggaji ekspatriat itu cukup mahal ya,” aku Prita. Tak diduga sebelumnya, ternyata para calon mahasiswa yang mendaftar cukup banyak. Namun, karena keterbatasan ruangan dan jumlah pengajar, Prita hanya membatasi 30 mahasiswa untuk diterima. Karena semakin banyak calon mahasiswa yang mendaftar, ia pun lantas memutuskan untuk memindahkan lokasi perkuliahan ke ruangan yang lebih besar di Gedung Wisma Dharmala, Jakarta.
Seiring dengan berjalannya waktu, daya tarik sekolah yang didirikannya tersebut semakin merangkak naik. Jumlah calon mahasiswa yang mendaftar semakin bertambah. Terlebih lagi ketika tahun 1998, saat krisis moneter mendera tanah air, sekolah milik Prita justru kebanjiran para pendaftar. “Saat krisis kan banyak orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya ke luar negeri, akhirnya mereka memutuskan untuk mendaftarkan anaknya di sekolah kami,” tutur Prita. Apalagi, ijazah yang diberikan berasal dari London, Inggris. Sehingga, banyak calon mahasiswa yang memilih untuk bersekolah di LSPR (London School Public Relations). “Sejak saat itulah kita memiliki banyak murid,” kenang Prita. Ia kemudian memutuskan untuk meningkatkan sekolahnya menjadi sekolah tinggi pada tahun 1999. Dengan begitu, LSPR praktis menjadi sekolah setingkat universitas pada umumnya.
Mendapat Hambatan. Perjalanan membangun sebuah sekolah tinggi bagi Prita memiliki banyak halangan. Meski pada tahun 1998, banyak calon siswa yang mendaftar, namun di sisi lain sebagian besar pengajar yang berasal dari luar negeri justru harus meninggalkan sekolah milik Prita. “Banyak ekspatriat yang kembali ke negeri asalnya pada saat terjadi kerusuhan di Jakarta,” kenang Prita yang berencana pergi ke Tanah Suci ini. Meski begitu, halangan tersebut mampu dilewatinya, karena ia telah banyak menimba ilmu dari para ekspatriat yang sempat mengajar di sekolah miliknya itu. “Dengan banyak ikhtiar, segala macam halangan pasti dapat terlewati,” ungkapnya tegas.
Kini, kesuksesan telah diraihnya. Sekitar 250-an karyawan menjadi tanggung jawab Prita. Ribuan mahasiswa pun menjadi tolak ukur kesuksesan pengajaran di kampus miliknya tersebut. “Tanggung jawab saya sangat besar dalam menjalani usaha ini, saya harus selalu berusaha mempertahankannya,” tutur Prita.
Di tengah kesibukannya mengurusi LSPR, Prita juga menikmati perannya sebagai istri dari Kemal Effendi Gani (49), pemimpin redaksi majalah SWA dan ibu dari Ghina Amani Kemal Gani (13), Fauzan Kanz Kemal Gani (7) serta Rasyha Dinar Kemal Gani (4). Dorongan dari keluarga terutama sang suami dalam membangun bisnisnya, sangatlah besar. Bahkan sang suami turut memberikan dorongan kepada Prita saat awal mendirikan LSPR. Di dalam keluarga, ia juga memiliki harapan dan rencana ke depan. “Saya ingin anak-anak saya dapat meneruskan apa yang saya bangun sekarang,” harap Prita.
Tak heran, Prita kerap mengajak serta anak-anaknya berkunjung ke kampus miliknya. Terbukti, anak sulungnya nampak sangat menyukai dunia kampus LSPR yang telah dibangun Prita. Soal membagi waktu dengan keluarga, Prita dengan mudah dapat melakukannya. Pasalnya, Prita dapat melakukan pekerjaan di rumah. “Saya bisa melakukan pekerjaan saya di dalam rumah,” aku wanita yang menyenangi kebersihan ini. “Saya ingin selalu dekat dengan anak saya,” kilahnya sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1…

Memberi Masakan Sang Ibu Kepada Ratusan Karyawannya Selama 15 Tahun

Kiprah Prita dalam menjalankan bisnisnya ternyata tak terlepas dari campur tangan sang ibu. Hal tersebut tergambar jelas dari penyediaan makanan yang secara rutin diberikan kepada para karyawannya. “Makanan yang dimakan karyawan saya itu masakan ibu saya,” ujar Prita dengan bangganya. “Mungkin sampai karyawan saya bosan dengan makanannya,” lanjutnya sambil berkelakar dan tertawa lebar. Menu makanan yang dihidangkan bagi para karyawannya memang merupakan hasil racikan dari ibundanya. Bahkan tak jarang pula dimasak sendiri oleh tangan sang ibu.
Meski kini sudah berusia lanjut, ibundanya tak patah semangat untuk terus memantau dan memasak menu makanan bagi para karyawan LSPR. Ada keuntungan tersendiri bagi Prita menyerahkan urusan makanan kepada ibunya. “Melakukan kegiatan di masa tua itu mencegah kepikunan dari ibu saya,” tutur wanita yang memiliki hobi membaca buku ini. Sehari-hari, sang ibu, Tity, selalu memantau persiapan penyediaan makanan bagi seluruh karyawan LSPR. Meski usianya sudah tidak muda lagi, semangatnya justru semakin menjadi-jadi. “Dia (Ibunya, red) masih sehat dan kuat,” ujar Prita.
Pola kekerabatan dalam rumah tangga juga diterapkannya untuk memimpin bisnis, karena Prita menganggap seluruh staf dan mahasiswa di LSPR sebagai bagian dari keluarga besarnya. Sehingga hampir tak ada batasan antara dirinya dengan karyawan bawahan sekalipun. Dengan begitu kondisi dalam sekolahnya akan terasa nyaman untuk menuntut ilmu. Fajar
Side Bar 2…
“Selingkuh soal keuangan sama beratnya dengan berzina”
Dalam meraih kesuksesan dalam bisnisnya, Prita memiliki prinsip yang selalu dipegangnya. Salah satunya adalah selalu membayar gaji para karyawannya tepat waktu dan menjaga kesejahteraan dari setiap karyawan yang bekerja di perusahaannya. “Membayar gaji karyawan sebelum keringatnya mengucur dan mengering,” ungkap Prita sembari berfilosofi. Pelajaran hidup tersebut didapatnya dari sang ibunda tercinta. Selain itu, dalam kehidupan keluarga, Prita juga berusaha selalu jujur kepada suami. “Selingkuh soal keuangan kepada suami bagi saya sama saja dengan berbuat zina,” ujar Prita soal prinsip yang dipegangnya dalam berkeluarga. Tak heran, ia selalu menjaga betul mengenai segala macam tindakannya terutama dalam hal keuangan. Perhatian Prita bukan semata-mata untuk menjaga relasi yang baik dengan suami, tetapi mereka berdua juga merasa takut jika tidak diinginkan oleh anak-anak.
Semua pelajaran hidup itulah yang kini selalu dijalaninya dengan sepenuh hati. Prita mendapatkannya dari ibunda tercinta. Sang ibu memang diakuinya selalu memberikan contoh kepada anak-anaknya melalui pelajaran-pelajaran hidup yang walaupun terlihat sederhana namun sangat bermakna dan mengandung arti yang mendalam. Mengutip omongan sang ibu, Prita juga mengibaratkan hidup sebagai sebuah rel. “Jadi kita tidak boleh melenceng dari rel yang benar,” ujarnya bersemangat. Baginya, bila telah melenceng maka ia meyakini bahwa tujuan awalnya pastilah tak akan tercapai. Fajar

Side Bar 2…

Bertemu dengan Jodoh Saat Bergelut di Dunia Public Relations

Tak hanya kesuksesan dalam karir saat Prita bergelut dengan dunia kehumasan, namun suami pun ditemuinya saat menjalankan tugas sebagai seorang staf PR. Kala bekerja sebagai seorang direktur PR di sebuah perusahaan bernama Clark Hatch International di Jakarta, Prita menyelenggarakan sebuah acara press conference dan mengundang wartawan dari berbagai media. Acara tersebut dihadiri oleh sang pemilik yang berasal dari Amerika Serikat. Namun, karena sesuatu dan lain hal, wartawan dari majalah SWA datang terlambat. Alhasil, si reporter tidak sempat bertemu dengan pemilik tersebut. Karena rasa tanggung jawab yang diemban Prita dalam memberikan pelayanan kepada wartawan, ia pun meminta sang pemilik yang merupakan atasannya tersebut agar dapat meluangkan waktu wawancara dengan si reporter.
Waktu pun telah ditentukan pada malam hari di hotel tempat atasannya menginap di Jakarta. Prita menemani si wartawan saat menjalankan proses wawancara. Setelah selesai menuntaskan pekerjaannya, ternyata si wartawan sedikit iseng bertanya soal status Prita kala itu yang memang masih sendiri. Diakui Prita, si reporter merasa heran karena di malam hari, Prita sebagai seorang perempuan masih saja bekerja. Singkat cerita, si wartawan lantas memiliki niat untuk memperkenalkan Prita dengan redaktur di majalah SWA yang tidak lain adalah suaminya sekarang. “Saat saya mengantarkan foto ke kantor majalahnya, barulah saya berkenalan dengan redakturnya dan menikah sampai saat ini,” kenang Prita. Selang setahun setelah berkenalan tepatnya pada tahun 1992, Prita memutuskan untuk menikah dengan Kemal Effendi Gani dan telah berbahagia dengan kehadiran tiga buah hatinya.
“Waktu menikah usia saya sudah tidak muda lagi,” canda Prita sembari tersenyum. Sehingga, dunia public relations dapat dikatakan telah memberikan dua hal yang sangat membahagiakan dirinya, yakni kesuksesan berkarir dan kesuksesan dalam membangun mahligai rumah tangga. Fajar

1 comment:

Anonymous said...

Hai Ibu Prita...apa kabar? Semoga Ibu dan keluarga selalu dlm lindungan Allah SWT.... Saya murid Ibu Batch V, sangat berkesan kuliah di LSPR, awalnya saya mempunyai 2 pilihan tempat kuliah, setelah berkonsultasi dgn atasan di kantor, beliau menyarankan saya berkuiah di LSPR, menurut beliau LSPR adalah sekolah yang tepat untuk saya disamping mengasah kemampuan bahasa Inggris saya yg msh belepotan, hehehe....saya sempet khawatir kalo saya menjadi murid tertua krn saya lulus SMA pd thn 96, lsg bekerja...tp ketakutan saya terkalahkan dgn rasa excited saya pd saat hari pertama msk kuliah dan hari2 selanjutnya sangat menyenangkan krn byk jg teman2 yg bekerja sambil kuliah.... Saya bangga menjadi salah satu mahasiswa di LSPR... Maju terus LSPR.

Salam,
Lina Parlina - Batch V