Monday, March 30, 2009

Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Menteri Negara Pemberdayaan Wanita

Anak Sang Proklamator yang Ingin Memperjuangkan Hak Kaum Perempuan

Menjadi seorang anak dari salah satu proklamator kemerdekaan memang sempat menjadi beban bagi dirinya. Namun, Meutia mampu mengubahnya menjadi motivasi hingga mendorongnya berprestasi dalam kehidupan keluarga dan karirnya. Tak terkecuali bagi karirnya saat ini sebagai seorang menteri. Lalu bagaimana perjalanan hidup dan karirnya hingga saat ini?

Sejak SBY menjadi orang nomor satu di negeri ini, wanita setengah baya ini pun muncul menjadi pemimpin di salah satu kementerian di pemerintahan. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dipercayakan kepada dirinya. Dialah Meutia Hatta, putri sulung dari Mohammad Hatta, salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia. Di salah satu gedung perkantoran di jalan Merdeka Barat, Jakarta itulah Meutia berkantor. Jam menunjukkan hampir pukul 12 siang pada Selasa (25/9) itu. Terik panas matahari nampak menyengat kota Jakarta yang kala itu masih dalam suasana bulan Ramadhan. Tepat di lantai dua, ruangan kerja Meutia berada. Ruangannya memang cukup besar dan nyaman. Tak hanya itu saja, kelembutan si empunya ruangan juga terlihat dari dekorasi di dalam ruangan tersebut. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Realita mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan wanita yang masih nampak anggun di masa senjanya ini. Ia tampak ramah meski pertemuan itu untuk pertama kalinya. Sembari duduk santai di sofa yang berada di dalam ruang kerjanya, Meutia kemudian berbagi cerita mengenai perjalanan hidup dan karirnya kepada Realita.
Terbebani Menjadi Anak Proklamator. Meutia sendiri merupakan anak sulung dari pasangan (alm.) Mohammad Hatta dan (almh.) Rahmi Rachim. Meutia terlahir dengan nama Meutia Farida pada 21 Maret 1947 di kota Yogyakarta. Ia memiliki dua adik perempuan, yakni Gemala Rabi’ah (54) dan Halida Nuriah (51). Sebagai seorang anak sulung, Meutia memang diberikan tanggung jawab lebih untuk dapat menjaga kedua adiknya tersebut. Tak heran, sifat kepemimpinan sudah tertanam di dalam dirinya sedari kecil.
Seiring dengan diangkatnya sang ayah menjadi seorang wakil presiden selepas memproklamatorkan kemerdekaan Indonesia, Meutia kemudian pindah ke Jakarta dan mulai akrab dengan kehidupan istana. Sejak bayi hingga ia berusia 10 tahun, Meutia menghabiskan waktunya di dalam istana bersama keluarganya. Protokoler istana pun sudah menjadi kebiasaan yang selalu dijalaninya. Meski menyandang anak seorang wakil presiden, Meutia tak lantas tumbuh menjadi seorang wanita yang selalu membangga-banggakan latar belakang keluarganya. Sebaliknya, menyandang seorang anak dari proklamator, justru menjadikan beban sosial tersendiri bagi dirinya. “Menjadi anak Bung Hatta sempat menjadi beban buat saya,” aku Meutia. Meski begitu, rasa terbebani sebagai anak seorang proklamator dihilangkannya dengan cara mengukir prestasi di bidang yang digelutinya. “Saya harus meningkatkan prestasi yang saya miliki,” ujar wanita yang memiliki hobi membaca ini. Prestasi tersebut terlihat dari semakin menanjaknya karir Meutia di bidang akademik.
Didikan Nasionalisme. Meutia kecil mulai mengenyam pendidikan di SD PERWARI, Jakarta. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP dan SMA Santa Ursula. “Dulu, saya bersekolah di sekolah yang bukan sekolah favorit bagi para anak pejabat,” kenang penggemar makanan gado-gado ini. Meski demikian, ia tetap bersekolah di sekolah yang telah dipilih oleh kedua orang tuanya tersebut. Pasalnya, sang ibu sangat percaya bahwa sekolah yang dimasuki Meutia merupakan sekolah dengan kualitasnya yang cukup baik. Meutia tumbuh seperti halnya anak-anak kecil pada umumnya. Yang membedakan hanyalah statusnya yang merupakan anak seorang wakil presiden sekaligus proklamator kemerdekaan Indonesia.
Didikan kedua orang tuanya sangat berperan terhadap perkembangan sifat Meutia di waktu kecil. “Ayah dan Ibu saya selalu memotivasi saya untuk selalu belajar dan memperdalam ilmu,” tutur wanita berkacamata ini. Selain itu, rasa nasionalisme yang tinggi serta didikan disiplin juga tak luput ditanamkan pada Meutia kecil. Rasa tanggung jawab terhadap apapun yang dilakukan oleh tiap anaknya juga sudah tertanam sedari kanak-kanak. Bung Hatta tidak selalu mengajarkan dengan teori-teori saja, melainkan melalui contoh-contoh yang dilakukannya di depan anak-anak. Termasuk salah satunya adalah jiwa kepemimpinannya terhadap bangsa dan negara. Meski Meutia hanya seorang perempuan, jiwa kepemimpinan itulah yang menular ke dalam dirinya. Berkat didikannya tersebut Meutia tidak mengalami kesulitan dalam memimpin sebuah organisasi, tak terkecuali sebuah kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan.
Mencintai Antropologi. Selepas menamatkan pendidikan SMA-nya, Meutia sempat mengalami kebimbangan dalam memilih jalur pendidikan yang akan dipilihnya di jenjang universitas. “Cita-cita saya dari kecil adalah menjadi seorang guru,” aku Meutia sembari tersenyum. Pada saat kebimbangan itulah, Meutia berkonsultasi dengan sang ayah. “Karena ingin mengabdi kepada negara tercinta, akhirnya saya memilih bidang studi Antropologi,” tutur wanita yang baru bisa menggoreng telur pada usia 21 tahun, saat ikut sang ayah ke luar negeri ini. Ia semakin yakin mengambil keputusan tersebut setelah mendaftar di program studi antropologi di Universitas Indonesia (UI). Menurutnya, melalui antropologi, ia dapat belajar mengenai asal-usul manusia dan akar kebudayaan dari negeri sendiri. Yang tentu saja pada akhirnya, akan menimbulkan kecintaan terhadap bangsa dan negara sendiri.
Merasa tak cukup hanya dengan meraih gelar sarjana, Meutia kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dan S3 dengan masih berfokus di bidang antropologi medik. Bahkan ia mampu meraih gelar profesor di bidang yang sama. Cita-citanya menjadi guru sejak kecil akhirnya tercapai karena Meutia memutuskan untuk menjadi staf pengajar di UI dan Universitas Bung Hatta, Padang, Sumatera Barat. Sejak 25 Maret 2006, Meutia juga dikukuhkan sebagai guru besar tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI.
Selain menjadi seorang pengajar, karirnya di birokrasi juga merangkak naik seiring diangkatnya Meutia sebagai Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan untuk masa jabatan Desember 2003 hingga Oktober 2004. Puncaknya, setelah Susilo Bambang Yudhoyono meraih kemenangan pilpres 2004 silam, nama Meutia Hatta juga menjadi sorotan. Terlebih lagi, setelah ia mendapatkan panggilan untuk menghadap SBY sebelum pengumuman nama-nama menteri dilakukan. Kepastian menjadi seorang menteri akhirnya terjadi seiring dengan disebutnya nama Meutia Hatta sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan untuk masa bhakti lima tahun sejak 2004.
Memperjuangkan Hak Perempuan. Kebahagiaan dan rasa bangga tentu dirasakan oleh Meutia setelah namanya dipastikan mengisi pos menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Meski demikian, Meutia hanya menganggap kepercayaan yang dilimpahkan kepada dirinya hanyalah buah dari hasil kerja kerasnya selama ini. “Saya menganggap jabatan menteri sebagai bonus,” ujarnya singkat. Yang paling utama bagi dirinya tentu saja prestasi terutama di bidang pendidikan yang mampu meraih gelar profesor di bidang antropologi.
Kini, setelah menjadi menteri tentu saja tanggung jawab dan beban yang harus dipikul cukup berat ketimbang menjadi seorang staf pengajar di sebuah institusi pendidikan. Meski begitu, Meutia tetap menjalankan peran menteri sebagaimana yang telah diberikan kepadanya. “Saya banyak belajar, membaca buku tentang pemberdayaan perempuan,” ungkap Meutia. Dengan begitu, ia dapat menguasai setiap permasalahan yang tengah dihadapi oleh kementerian yang dipimpinnya saat ini. Selama masa kepemimpinannya, Meutia telah menelurkan satu undang-undang, yakni UU No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Tak hanya itu saja, ia juga tengah melanjutkan penerapan undang-undang yang telah ditetapkan pendahulunya, seperti UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).
Menurutnya, permasalahan terbesar yang dihadapi kaum perempuan adalah kekerasan yang kerap menimpa kaum hawa, baik di dalam rumah tangga maupun di lingkungan kerja. “Diskriminasi terhadap kaum perempuan juga masih saja terjadi,” ujarnya singkat. Selain itu, Meutia menilai bahwa kualitas hidup kaum perempuan di Indonesia masih dirasa kurang. Ditambah lagi dengan berbagai permasalahan-permasalahan lainnya yang menghampiri kaum perempuan tanah air. Tak heran, Meutia sangatlah giat dan bertekad untuk segera meningkatkan kualitas hidup kaum perempuan di tanah air. “Seharusnya kaum perempuan harus mampu mencapai posisi yang bisa menerima hak-haknya sebagai warga negara dan sebagai manusia untuk beribadah dan mendidik anak,” tutur Meutia sembari menjelaskan. Di sisa waktu masa jabatannya sekarang, ia hanya berusaha untuk meneruskan program-program yang telah ditentukan pada awal pengangkatannya sebagai menteri.
Anak Sulung Meninggal. Menjadi seorang menteri memang sangatlah menyita waktunya sebagai seorang istri dan ibu di rumah. Meski demikian, hal tersebut sudah diantisipasinya sejak lama. Bahkan sebelum menjadi menteri pun, Meutia sudah terbiasa dengan aktivitas di luar rumah. Karena pada mulanya Meutia memang telah menjadi seorang dosen di beberapa universitas, sehingga melakoni kegiatan di luar rumah sudah menjadi hal biasa.
Kehidupan pribadi Meutia Hatta, ternyata tak semulus perjalanan karirnya yang lambat laun merangkak naik. Pasalnya, ada satu cobaan yang sempat menghampirinya dan dirasa cukup berat bagi Meutia. Anak sulungnya, Sri Juwita Hanum, hasil pernikahannya dengan Sri Edi Swasono (62), meninggal pada usia 8 tahun. “Hanum meninggal karena kecelakaan di kolam renang,” kenang Meutia. Kejadian yang terjadi pada tahun 1983 tersebut diakuinya menjadi sebuah cobaan teramat berat dalam hidupnya, ia harus kehilangan anak perempuannya itu. Tak hanya itu saja, Meutia juga sempat beberapa kali mengalami pendarahan pada saat hamil. Tak pelak, keguguran pun menjadi akibatnya. Meski begitu, Meutia selalu berusaha untuk tabah menghadapi berbagai cobaan tersebut. “Kami mencoba menghadapi cobaan itu dengan saling mendekatkan diri antar keluarga, selalu bertawakal, dan sabar,” ujarnya sembari menjelaskan. Namun, sisa kebahagiaan masih tersisa karena Meutia masih memiliki anak laki-laki yang selalu menghiburnya, Tansri Yusuf Zulfikar (25).
Saat ini tak ada target khusus yang hendak dicapai oleh ibu satu anak ini. Di kehidupan karirnya pun, Meutia hanya berusaha menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepada dirinya. “Kalau saya sudah tidak menjadi menteri lagi, saya akan kembali menjadi seorang pengajar,” ujarnya tegas. Sedangkan untuk kehidupan keluarga, Meutia mengaku hanya akan menjalani sesuai dengan yang dituntun oleh Allah SWT. Ia juga berharap, anak satu-satunya, Tansri Yusuf Zulfikar dapat hidup bahagia dan sukses baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam karirnya. Tansri sendiri kini tengah mengenyam pendidikan S2 di program studi komunikasi pembangunan di UI. Baginya, dengan membagi waktu antara pekerjaan sebagai menteri sekaligus dosen, dan keluarga melalui sistem yang ia namakan ‘manajemen waktu’ dapat mempermudah pembagian waktu itu sendiri. Dengan berkarya di keluarga dan karir mengangkat hak perempuan, Meutia merasakan jiwa Kartini yang mengalir dalam darahnya. “Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan,” ungkapnya sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1…

Kerap Bermain dengan Anak Pegawai Istana di Waktu Kecil

Tinggal di dalam lingkungan istana tak dinyana tak membuat Meutia memiliki sifat angkuh dan memilih-milih teman. Sebaliknya, ia justru lebih banyak bergaul dengan anak-anak dari para pegawai istana wakil presiden kala itu. Sulitnya bermain di luar lingkungan istana memang membuat Meutia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam lingkungan istana yang berukuran sangat luas. Untuk melayani keperluan sang ayah beserta keluarga, di dalam istana tersebut terdapat beberapa pegawai yang mengurusi segala macam keperluan keluarga Bung Hatta. Tempat tinggal para pegawainya pun masih berada di dalam lingkungan istana. “Mereka tinggal di pavilliun di samping istana,” kenang Meutia.
Sebagian para pegawainya juga telah memiliki anak-anak seumuran Meutia. Tak pelak, ia kerap bermain dengan mereka. Meutia juga tak pernah sekalipun merasa canggung meski anak-anak tersebut merupakan anak dari para pegawai sang ayah. “Dulu tidak ada barrier dalam keluarga kami,” aku mantan ketua Yayasan Bung Hatta ini. Sikap yang dimilikinya itu tidak terlepas dari didikan kedua orang tuanya yang tak pernah membeda-bedakan hanya berdasarkan latar belakang semata.
Ketika masih kanak-kanak, Meutia juga merasakan banyak pengalaman unik dan menarik selama ikut dengan sang ayah. “Saya sering bertemu dengan banyak orang baru yang datang ke rumah,” kenang Meutia. Selain itu, Meutia juga kerap dibawa ke setiap acara yang bersifat formal. Alhasil, salon pun menjadi tempat yang sering dikunjunginya. “Waktu masih anak-anak, saya sering ke salon,” aku wanita yang anti poligami ini sembari tersenyum. Pengalaman lainnya juga sempat ia rasakan di sekolah. Dengan menyandang sebagai anak wakil presiden, terkadang Meutia merasa dikucilkan dari pergaulan teman-temannya di sekolah. Sikap bullying dari teman-temannya tersebut membuat Meutia merasa sedih karena tidak memiliki teman dekat ketika masih kelas 5 SD. “Ada anak yang mengajak teman-teman saya untuk memusuhi saya,” kenang Meutia. Akhirnya, Meutia berusaha untuk menunjukkan sikap baik kepada teman-temannya supaya mereka mau menerima tanpa harus melihat status sebagai anak wakil presiden. Dari berbagai pengalaman itu pula, Meutia berharap agar para orang tua lebih memperhatikan sifat dan perilaku anak sehari-hari untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Fajar

Side Bar 2…

Hobi Travelling sebagai Ungkapan Rasa Cinta Terhadap Tanah Air

Meski disibukkan dengan berbagai aktivitas kementerian yang menyita waktu, Meutia ternyata mampu meluangkan sedikit waktu luangnya untuk menyalurkan salah satu hobinya, yakni travelling atau bepergian ke daerah-daerah. Awal mula Meutia menyukai travelling tentu saja berasal dari sang ayah. Kala sang ayah masih menjadi wakil presiden, sesekali Meutia ikut serta dalam rombongan ketika bepergian ke luar kota. Rutinitas tersebut sudah dimulainya sejak ia masih berumur 6 tahun. Karena terbiasa itulah, kini Meutia justru mendapatkan hal-hal menarik dari perjalanan yang dilakukannya. “Dulu saya sering pergi ke Bali, Sangirtalaut, dan daerah-daerah lainnya di Indonesia bersama ayah dan ibu,” kenang Meutia.
Kini, kebiasaan itu menjadi hobi yang sangat disukai Meutia. Walaupun tidak tentu waktu bepergiannya, dalam kurun waktu setahun, Meutia pasti akan meluangkan waktu hanya untuk sekadar bepergian ke luar kota melihat beraneka ragam pemandangan yang menakjubkan. Hobi itu kemudian tersalurkan kembali setelah menjadi seorang menteri. Pasalnya, setiap kali Meutia bepergian tugas ke luar kota, ia menikmati setiap detik perjalanan yang dilakoninya. Selain hobi travelling, Meutia juga memiliki hobi mengkoleksi perangko. Hobi ini sudah dilakoninya sejak berumur 12 tahun. Awal ketertarikannya pun tak terlepas dari peran sang ayah yang kerap bepergian ke luar negeri, sehingga buah tangan yang dibawanya adalah perangko. “Saat ini sudah ada 62 album perangko,” aku Meutia.
Selama melakukan travelling, Meutia mampu melihat keindahan alam tanah air yang merupakan anugerah sang pencipta. Tak hanya alam saja, ragam budaya di masing-masing daerah juga mendorong rasa nasionalisme yang tinggi dari dalam dirinya. Perasaan cinta tanah air pun muncul dalam dirinya. Ungkapan rasa cinta itu juga dituangkan dalam sebuah buku yang ditulisnya sendiri. Buku tersebut lebih banyak menggambarkan tentang berbagai perjalanan yang kerap dilakukan Meutia di berbagai pelosok daerah di Indonesia beserta foto-foto yang cukup menarik. Buku yang bertajuk ‘Jejak Langkah Di Negeriku’ tersebut sudah diluncurkan sejak bulan Maret lalu. Melalui buku itu pula, Meutia hendak memperlihatkan betapa indahnya alam dan budaya Indonesia. Sudah sepatutnyalah, masyarakat berbangga diri dengan keindahan alam dan budaya yang dimiliki. Fajar

No comments: