Wednesday, March 14, 2007

Ibu Kembar, Sri Rossyati dan Sri Irianingsih

Rela Tinggalkan Kemewahan demi Sekolah Anak Jalanan

Dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan tidak membuat Sri Rossyati dan Sri Irianingsih merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan. Mereka justru menghabiskan sisa usianya dengan mengajar di Sekolah Darurat Kartini, sekolah gratis bagi anak-anak jalanan dan anak dari keluarga tidak mampu. Kini, 16 tahun sudah Rossy dan Rian, panggilan akrabnya kedua ibu guru kembar ini mengelola Sekolah Darurat Kartini. Hingga saat ini, sudah banyak lulusan yang telah meraih sukses dan bekerja di berbagai bidang. Mengapa mereka begitu peduli dengan nasib anak jalanan? Apakah ada pengalaman istimewa yang mengilhami mereka untuk terjun langsung mendidik anak-anak jalanan dan anak dari keluarga kurang mampu?

Di bawah jembatan itu, terlihat kerumunan anak di depan salah sebuah bangunan darurat. Bangunan tersebut tampak kumuh di antara gubuk-gubuk yang memang banyak berdiri di sepanjang pinggir jalan Lodan Raya itu. Tepat di bawah jembatan layang Pluit, banyak bangunan darurat berdiri. Seakan-akan bangunan tersebut ingin berlindung di bawah jembatan beton itu. Gubuk-gubuk itu adalah tempat tinggal sejumlah warga Jakarta. Maklum, mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk mengontrak rumah. Apalagi untuk membeli rumah.
Dengan pendapatan yang tidak seberapa, sebagian besar warga di bawah jembatan layang tersebut harus mampu bertahan hidup di Kota Jakarta yang semakin hari semakin kejam ini. Tak pelak, Jakarta semakin menyingkirkan warga yang tidak mampu membeli ataupun menyewa rumah yang layak. Hal itu menyebabkan sebagian warga Kota Jakarta mendirikan rumah-rumah di sepanjang pinggir kali dan bahkan di bawah kolong jembatan. Salah satu daerah di Jakarta yang menjadi tempat pemukiman bagi warga kurang mampu tersebut adalah di Jakarta Utara, tepatnya di jalan Lodan Raya. Di kolong jembatan layang itulah, warga mendirikan rumah-rumah tak layak huni.
Hampir semua rumah yang berada di kolong jembatan layang itu hanya berdinding papan tripleks dan beratapkan seng. Sebagian besar warga berprofesi sebagai pemulung, tukang ojek, bahkan beberapa di antaranya berprofesim sebagai pekerja seks komersial. Dengan pendapatan yang termasuk di bawah garis kemiskinan, mereka memang harus memenuhi kebutuhan yang paling mendasar. Ironisnya kebutuhan mendasar itupun tidak dapat terpenuhi, termasuk di dalam kebutuhan untuk menyekolahkan anak.
Biaya sekolah yang melambung tinggi tak akan mungkin dapat dipenuhi oleh warga Lodan Raya tersebut. Akibatnya, anak-anak yang lahir dari keluarga itu tidak akan pernah merasakan bangku sekolah. Tapi, harapan anak-anak itu ternyata tidak sepenuhnya sirna. Setitik harapan untuk dapat bersekolah kembali muncul ketika dua ibu yang wajahnya mirip alias kembar, datang ke daerah tersebut.
Awalnya, hanya salah seoarang dari wanita kembar itu, yaitu Sri Rossyati yang mengelola Sekolah Darurat Kartini. Kala itu, ia memiliki tekad untuk memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak kurang mampu. “Kita ingin anak-anak kurang mampu itu memiliki skill untuk bekerja. Makanya di sini kita ajarkan menanam, memasak, dengan harapan mereka dapat bekerja setelah lulus dari sini,” ujar puteri dari Hadi Suharno & RA Suminah ini. Tak heran jika banyak lulusan Sekolah Darurat Kartini yang menjadi karyawan di salah satu supermarket besar di Jakarta.
Hal senada juga diungkapkan oleh sang adik, Irianingsih, yang juga memiliki misi yang sama dalam mendirikan Sekolah Darurat Kartini. “Kita ingin sekali mencerdaskan anak bangsa. Bukan hanya sisi akademis, tetapi juga berbudi luhur,” ujar Irianingsih. Wanita yang lebih muda 5 menit dibandingkan Rossy-panggilan akrab Rossyati-ini. “Walaupun dia bersekolah di kolong jembatan, tapi dia berakhlak,” harap ibu dua anak kelahiran Yogyakarta, 4 Februari 1950 ini.
Irianingsih bergabung dengan Sekolah Darurat Kartini setelah diajak oleh sudara kembarnya, Rossy. Meskipun begitu, Irianingsih juga telah lama berkecimpung di dalam kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan sejak tahun 1972, Irianingsih telah mengajar aksara di daerah pedalaman, tepatnya di daerah Lombok. Di tempat itulah, ia mengajarkan membaca dan menulis bagi warga desa yang belum mengenal huruf.
Sanggar Kartini. Ternyata tak hanya mirip pada wajah, kemiripan sifat juga terlihat dari tindakan yang mereka lakukan. Jika Rianingsih mengajar di daerah Lombok, maka Rossy mengaku pernah mengajar di daerah Kalimantan. Awal mula Rossy sering melakukan kegiatan sosial khususnya terhadap warga yang kurang mampu.
Kegiatan ini dimulai setelah Rossy menikah dengan seorang dokter. Sebagai seorang istri yang ‘manut’ terhadap suami, Rossy pun ikut bersama sang suami untuk dinas di daerah pedalaman. Kesempatan itu dipakai Rossy untuk melakukan kegiatan sosial dengan cara mengajar menulis dan membaca kepada warga yang masih buta huruf. Rossy mengaku sudah menemukan dunianya setelah terlibat langsung mengajari orang yang kurang mampu.
Hingga kini, Rossy tetap konsisten untuk selalu membantu warga yang kurang mampu. Pada tahun 1990, Rossy beserta rekan-rekan dan kenalannya memutuskan untuk mendirikan tempat belajar bagi anak-anak yang kurang mampu. Kala itu, mereka menyebut tempat belajar tersebut dengan sebutan Sanggar Kartini. Ada alasan tersendiri bagi mereka yang akrab dipanggil Ibu Kembar ini dalam memilih nama Kartini. “Kartini itu kan nama tokoh perempuan yang mampu mencerdaskan bangsa tanpa pamrih,” ujar Irianingsih.
Sanggar Kartini kemudian berganti nama menjadi Sekolah Darurat Kartini setelah beberapa perubahan yang dilakukan oleh kedua ibu kembar ini. Tempat belajar yang sebelumnya hanya sebagai sanggar, mulai tahun 1996 diubah menjadi sekolah seperti halnya sekolah-sekolah lainnya yang telah berdiri. Nama Kartini tetap dipertahankan, karena pada dasarnya mereka ingin menjadi seperti Kartini yang telah melakukan banyak hal positif di dunia pendidikan. Yang lebih mulia lagi, Rossyati dan Irianingsih tidak mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun baik dari warga maupun dari pemerintah. Jika hingga kini mereka sering mendapatkan banyak penghargaan dari berbagai pihak, hal tersebut bukan tujuan yang ingin mereka capai. Yang terpenting bagi Rossyati dan Irianingsih adalah anak-anak dari keluarga kurang mampu atau anak jalanan dapat merasakan manisnya duduk di bangku sekolah dan mendapatkan ilmu-ilmu yang nantinya bermanfaat bagi masa depan mereka.
Guru Berkualitas. Sebagaimana halnya di sekolah-sekolah umum lainnya, siswa yang bersekolah di Sekolah Darurat Kartini mendapatkan pelajaran yang sama. Di akhir tahun, para siswanya pun harus mengikuti ujian yang soal-soalnya berasal dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sehingga para siswanya tidak perlu khawatir dengan kualitas pendidikan yang diberikan di Sekolah Darurat Kartini. “Para pengajarnya lulusan S1 dari masing-masing jurusan,” aku Rossyati.
Jumlah guru yang mengajar di Sekolah Darurat Kartini berjumlah 16 orang. Masing-masing guru mengajarkan satu mata pelajaran. Biasanya, mereka mengajar di tingkat SMP, dan SMU. Sedangkan sisanya, yakni TK, dan SD diajar oleh Rossyati dan Irianingsih. Tak pelak, Rossyati dan Iraningsih harus datang ke sekolah setiap hari. Hari-hari saat usia menjelang senja, mereka habiskan untuk mengabdi pada dunia pendidikan khususnya bagi anak jalanan dan anak dari keluarga kurang mampu.
Sekolah Gratis. Sekolah darurat Kartini sendiri membebaskan segala biaya bagi siwanya. Bahkan mereka mendapatkan segala fasilitas untuk belajar. Seperti tas, seragam sekolah, buku-buku baik buku tulis maupun buku pelajaran. Dan semua biaya itu ditanggung oleh “Ibu Kembar”, sehingga tak ada sepeser pun yang harus dikeluarkan oleh orang tua siswa yang kebanyakan berasal dari keluarga kurang mampu. Kebutuhan lainnya seperti perlengkapan untuk kegiatan memasak, berkebun, dan perbengkelan, telah dipenuhi oleh Ibu Kembar. Sehingga sebagian besar warga kurang mampu yang tinggal di sekitar jalan Lodan Raya merasa terbantu dengan kehadiran Rossyati dan Rianingsih.
Secara rutin, Sekolah Darurat Kartini selalu memberikan sumbangan, berupa sembilan bahan pokok bagi seluruh keluarga kurang mampu. Tak heran, ketika Realita berkunjung ke sekolah Kartini, Rossyati dan Irianingsih tengah membagi-bagikan bungkusan yang berisikan beberapa macam bahan pokok. “Kalau itu sih sumbangan dari teman saya, lalu dibagi-bagikan,” aku Rossyati.
Meski begitu, sumbangan selalu akan diberikan kepada mereka secara rutin. Biasanya, seminggu sekali Ibu Kembar memberikan bingkisan berupa bahan-bahan pokok bagi orang tua siswa. Meskipun nilainya kecil, sumbangan tersebut sangat berarti bagi warga kurang mampu di bawah Jembatan Pluit. Karena dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp. 10.000 sehari, mereka tentu hidup serba kekurangan.
Sedangkan untuk siswa, mereka biasanya mengadakan kegiatan masak-memasak seminggu sekali. Hari Sabtu dipilih oleh Ibu Kembar untuk dijadikan sebagai hari masak-memasak di samping kegiatan belajar mengajar. Realita pun sempat melihat sendiri bagaimana siswa-siswa tersebut antre ketika akan mengambil makanan yang telah mereka masak. Sebuah senyum mengembang dari setiap siswa yang hendak mengambil makanan.
Irianingsih pun dengan cekatan mengambil piring yang kemudian diisi dengan nasi beserta lauknya. Terlihat sederhana memang, tapi rona bahagia terpancarkan dari wajah siswa yang mendapatkan makanan. Dapat merasakan duduk di bangku sekolahan saja telah mampu mendorong semangat dari anak-anak yang kurang beruntung itu untuk menggapai masa depannya.
Sabtu (27/8) siang itu terasa tidak sepanas biasanya. Suara canda terdengar bergema di bawah Jembatan Layang Pluit. Meskipun berisik, dorongan mereka untuk belajar dan menimba ilmu tetap berkobar. Ternyata semangat Kartini tidak pernah mati, meskipun RA Kartini telah wafat berartus-ratus tahun lalu. Jiwa-jiwa Kartini telah hadir pada sosok Sri Rossyati dan Sri Irianingsih. Sekolah Darurat Kartini adalah wujudannya. Fajar

Sri Rossyati Si Noni yang Pernah Bercita-cita Menjadi Guru

Awalnya, kehidupan yang serba berkecukupan dicemaskan akan membuat Rossy akan tumbuh menjadi anak manja. Maklum, ayahnya yang jebolan ITB saat itu bekerja sebagai pejabat di PJKA. Meski ayahnya memiliki posisi penting di PJKA, tidak mendorong Rossy mengikuti jejak ayahnya untuk bekerja di tempat sama. Rupanya, ia lebih tertarik pada pekerjaan sampingan sang ayah yang senantiasa mengajar anak-anak kurang mampu dan anak-anak jalanan.
Karena sudah terbiasa mengajar anak kurang mampu dan anak jalanan bersama ayahnya, Rossy yang hidup berkecukupan tumbuh menjadi anak yang kuat dalam karakter dan tidak manja. Ia tumbuh menjadi anak yang mandiri dan tidak mau mengandalakan kekayaan orang tua. Bahkan apa yang menjadi kekayaan keluarga sering digunakan untuk membantu sesama yang membutuhkan.
Sejak usianya masih muda, ia telah terbiasa melakukan kegiatan sosial. Kegiatannya pun bertambah setelah ia menikah. Ia sempat mengajar aksara di daerah pedalaman Kalimantan pada saat mengikuti perjalanan dinas sang suami yang berprofesi sebagai dokter. Wanita yang biasa dipanggil Noni ini memang memiliki cita-cita ingin menjadi guru sejak kecil. Itu sebabnya, Rossy memilih masuk IKIP Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Bahasa Indonesia. “Saya bercita-cita menjadi guru sejak kecil,” ujar Rossyati. “Guru itu hebat bisa mendidik semua orang, bisa ngomong di depan orang banyak,” tuturnya.
Tak heran bila Rossy sangat senang ketika mengajar di depan kelas. Di Sekolah Darurat Kartini, Rossy mengajar anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Bermodalkan kecintaannya terhadap dunia pendidikan, ia terlihat tegas dalam memberikan ilmu kepada para siswanya. Tak hanya itu, Rossy juga memiliki banyak pengetahuan mengenai dunia keterampilan. Diakuinya, pengetahuan tersebut didapatnya dari sang ibu yang pernah menjadi guru kepandaian pada zaman Belanda dulu. “Dari ibu, saya bisa mengerti dan menguasai berbagai jenis keterampilan,” kenang Rossy.
Keterlibatannya di sekolah ini memang murni dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak kurang mampu dalam menimba ilmu. “Saya nggak mengejar popularitas,” aku Rossy. Bahkan, ia rela merogoh koceknya setiap bulan untuk membiayai sekolah ini. Dana untuk membiayai Sekolah Darurat Kartini diambil dari bunga deposito yang telah mereka tanamkan di bank. Selain itu, Ibu Kembar juga menerima sumbangan dari para donatur luar. Yani Panigoro, adik kandung Hilmi Panigoro adalah salah satu donator yang sering menyumbang.
Yani sering menyumbang berbagai perlengkapan belajar. Mulai dari buku sampai alat tulis. Biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai Sekolah Darurat Kartini sekitar Rp 20-25 juta, per bulan. Semuanya berasal dari bunga deposito. Biaya yang dikleuarkan oleh Ibu Kembar memang tidaklah sia-sia. Karena lulusan Sekolah Darurat Kartini banyak mendapat pekerjaan yang cukup baik. Presentase kelulusan sekolah juga cukup baik. “Tahun kemarin persentase kelulusan 70 persen, padahal biasanya 100 persen,” aku ibu dari dr. Mira, Ir. Hendro, dr. Santi, Ir. Irvan ini.
Kini, kegiatan Ibu Kembar hanya tercurah pada Sekolah Darurat Kartini. Perusahaan-perusahaan yang dulu pernah mereka miliki, kini sudah tidak ada lagi. Rumah Sakit Astuti di Pemalang yang tadinya milik Rossy, kini sudah diserahkan kepada anaknya, dr Mira untuk mengelolahnya.
Meski tidak ingin mengejar popularitas, kegiatan positif yang dilakukannya sempat mengundang sejumlah tokoh Parpol untuk mengajaknya bergabung. “Saya sempat diajak menjadi anggota DPR, tapi saya nggak pengin menjadi anggota DPR.” Ia berencana mengembangkan sekoah ini. Ia juga berencana memperbaiki bangunan sekolah menjadi lebih permanen. Dengan begitu, siswa-siswa dapat belajar dengan lebih nyaman.
“Saya berharap pemerintah mencontoh sekolah kita dan membuat sekolah kayak ini, supaya anak-anak bangsa yang miskin bisa mengenyam pendidikan,” ujarnya istri dr. Admira Marzuki, Spog yang kini bekerja di RS Hermina, RSPAD Gatot Subroto, dan beberapa rumah sakit lainnya ini. Fajar


Sri Irianingsih Berharap Ada Orang yang Meneruskannya
Tidak jauh berbeda dengan Rossy, Rian (panggilan akrab Sri Irianingsih,red) juga memiliki motivasi positif dalam membangun Sekolah Darurat Kartini. Dalam mengajar, Rian lebih menitikberatkan pada aspek akhlak siswa. “Di sini menu pendidikannya, 60 persen pengetahuan akademis dan 40 persen berlajar keterampilan,” ujar Rian. Sehingga dalam pengajarannya, siswa tidak melulu dibekali dengan ilmu-ilmu eksakta, tetapi juga akhlak yang baik ditanamkan pada setiap pribadi siswa. Karena Rian percaya, seseorang yang memiliki akhlak baik sudah pasti akan diterima masyarakat.
Berbeda dengan Rossy yang memiliki suami dokter, Rian memiliki suami tentara (TNI AL). “Pangkat terakhirnya Laksamana Pertama,” aku Rian. Sayangnya, suaminya telah pergi untuk selamanya. Tapi, hal itu tidak membuat semangat Rian mati. Sebaliknya, ia lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada pendidikan anak-anak kurang mampu.
Rian lulus dari Universitas Airlangga jurusan Psikologi. Rian tadinya memiliki perusahaan property. Namun perusahaan yang diberi nama sama dengan namanya itu telah ditutup sejak tahun 1995 lalu. Awal mula Rian mendirikan perusahaan property terjadi ketika ia mengikuti program yang diadakan Universitas Brawijaya, Malang. Pada program tersebut, Rian sering berkunjung ke desa-desa untuk melakukan penyuluhan mengenai berbagai hal. Ia kemudian memutuskan untuk mendirikan perusahaan property yang biasa membangun ruko di daerah-daerah.
Untungnya, kegiatan sosial Ibu Kembar sangat didukung oleh keluarga. “Mereka bersyukur kita masih bisa melakukan pekerjaan yang penuh arti di usia senja seperti ini,” ujar Rian. Tak hanya sukses menyenangkan orang lain khususnya warga kurang mampu, Ibu Kembar juga sukses mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Rian memiliki dua anak. salah satu anaknya, Ir Yuli, bekerja di Departemen Pendidikan, sedangkan anak laki-lakinya Edwin, SE, bekerja di Surabaya. “Alhamdulillah mereka sudah bisa mandiri,” ujar ibu dari Ir. Yuli dan Edwin, SE.
Walaupun sudah memiliki keluarga sendiri, dua wanita kembar ini tetap tak bisa terpisahkan. Ada satu pengelaman menarik yang dialami Rossy dan Rian sebagai orang kembar. “Waktu saya sedang nonton film, ternyata Rossy juga nonton film yang sama di rumahnya,” aku Rian. Selain itu, jika salah satu dari mereka sakit, maka yang satunya pasti akan merasakannya juga. “Waktu itu saya nggak bisa tidur, setelah saya telepon, ternyata dia sakit dan nggak bisa tidur,” ujar istri Laksamana Pertama (alm) Faisal ini.
Untuk menjaga misi yang diemban oleh Sekolah Darurat kartini, Rian bersama Rossy sengaja tidak membentuk yayasan. Alasannya, jika sekolahnya itu memiliki yayasan, kemungkinan akan terjadi pergeseran visi dan misi. Sehingga kepentingan anak-anak kurang mampu terlupakan. Karena itu, Rian berharap jika ia dan Rossy sudah tiada, ada pihak yang meneruskan Sekolah Darurat Kartini. “Semoga ada yang bisa meneruskannya,” harap wanita yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan ini.
Rian juga pernah mengajar di daerah pedalaman. Ia mengajarkan membaca dan menulis bagi warga di daerah Lombok. Kala itu, Rian mengikuti suami yang berdinas di Lombok. Kepeduliannya tumbuh ketika ia melihat banyak penduduk miskin yang minim pendidikan. Fajar

Side Bar 3
Aan (Mueid Sekolah Darurat Kartini)
“Ibu kembar orangnya baik sekali ”

Aan, salah seorang siswa Sekolah Darurat Kartini tak bisa menyembunyikan kebahagianya karena bisa sekolah. Aan tampak menikmati suasana belajar di Sekolah Darurat Kartini. Meskipun luasnya hanya sekitar 40 meter persegi, anak-anak yang sekolah di kolong jembatan tersebut terlihat tidak merasa terganggu jika harus berdesak-desakkan di dalam ruangan. Tak terkecuali Aan. Bahkan ia menikmati pelajaran yang sedang diajarkan oleh Rian.
Sabtu pagi itu memang waktunya Rian mengajar di kelas Aan. Di ruangan yang hanya berukuran 5 x 3 meter itu, Aan harus berbagi tempat bersama belasan siswa lainnya. Buku yang tengah dibacanya merupakan pemberian dari Ibu Kembar. Semua siswa juga mendapatkannya. Ketika jam istirahat tiba, Aan bersama teman-temannya keluar kelas dan bermain di luar ruangan kelas. Sebenarnya ruangan yang berada di luar kelas Aan merupakan ruang kelas bagi anak TK dan SD. Ruangan menjadi kosong karena anak SD dan TK sudah pulang. Mereka memang pulang lebih awal ketimbang siswa SMP dan SMU.
Sedari kecil, Aan sudah bersekolah di Sekolah Darurat Kartini. “Aaya senang bisa sekolah,” ujar Aan dengan polosnya. Ibunda Aan yang hanya berprofesi sebagai cleaning services di salah satu Ruko di daerah Ancol, memperoleh pendapatan sebesar Rp 250 ribu setiap bulan. Dengan gaji sebesar itu, tentu ibunda Aan tidak bisa membiayai sekolah Aan. Jangan tanya di mana ayah Aan. Karena ayahnya telah berpisah dengan ibunya. Kondisi ini memberatkan ibunya yang harus berjuang sendiri untuk menafkahi Aan. Mendengar ada sekolah gratis, ibunda Aan langsung memutuskan untuk memasukkan puteri tunggalnya tersebut ke Sekolah Darurat Kartini.
Alhasil, Aan dapat merasakan bangku sekolah sebagaimana anak-anak umumnya. “Ibu Kembar memang orangnya baik. Selain dermawan, mereka juga sangat baik dalam mengajar anak-anak didiknya,” aku Aan. Aan berharap dengan melanjutkan sekolahnya di Sekolah Darurat Kartini, ia dapat menggapai cita-citanya sebagai guru. Fajar

2 comments:

Anonymous said...

bu, saya kagum dengan apa yang telah ibu rossy dan ibu sri irianingsih lakukan terhadap masa depan pendidikan anak2 indonesia. sebelumnya sudah lama sekali timbul dari dalam hati saya untuk membantu sesama dan salah satunya melalui pendidikan krn untuk hal lain mungkin saat ini saya beklum memilikinya. langsung kepada tujuan saya, bila ibu mengijinkan, saya ingin sekali belajar bersama ibu untuk mengajar adik2 saya yang kurang mampu namun tidak putus asa. walaupun saat ini saya masih seorang mahasiswa di salah satu bidang kesehatan. dan saat ini bila ibu mengijinkan saya mau membantu ibu mengajar tanpa harus dibayar, saya sangat mengharapkan balasan dari ibu.
Terimakasih.
Hormat saya, Eunike Riwu

Anonymous said...

Halo ibu, saya mempunyai buku2 dongeng dan novel2 bekas pakai, apakah di sekolah Kartini mau menerima jika saya akan berikan? Kalau ya kemana bisa saya kirimkan?