Monday, January 4, 2010

Ratna Sarumpaet, Aktivis Perempuan

Menjadi Aktivis Karena Marsinah
Tak jera meski sempat merasakan dinginnya tinggal di dalam bui, Ratna Sarumpaet justru semakin termotivasi untuk selalu membela kebenaran. Kasus perdagangan perempuan dan kekerasan terhadap wanita, telah menjadi sasaran utamanya untuk dibela demi menjunjung segala hal yang dianggapnya sebagai sebuah kebenaran. Alasan itu pulalah, yang kemudian mendorongnya mencabut dukungan terhadap Daisy Fajarina, ibunda Manohara. Lalu bagaimana kisah hidup ibu empat anak ini?

Rumah yang terletak di kawasan Kampung Melayu Kecil, Tebet, Jakarta Selatan itu nampak asri dan sejuk. Pepohonan besar dan berbagai tanaman hias menghiasi setiap sudut rumah bernomor 24 tersebut. Sang empunya rumah memang memiliki hobi memelihara tanaman. Tepat di belakang rumah, terdapat sebidang lahan yang kerap dijadikan tempat untuk berlatih teater. Selain dihiasi dengan tanaman, beberapa topeng kayu menempel di dinding rumahnya. Panas terik yang menyengat Jakarta seperti tak terasa setelah berada di rumah yang juga dijadikan kantor Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC) tersebut.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya wanita bernama lengkap Ratna Sarumpaet, keluar dari sebuah ruangan dan langsung menyapa realita dengan ramah. Senyumnya mengembang, mencairkan suasana pada Rabu (3/6) siang itu. Menjelang usia 60 tahun pada Juli mendatang, Ratna-panggilan akrabnya-nampak segar bugar.
Kerutan di wajah, ditambah lagi dengan semakin banyaknya helai demi helai rambut putih di kepalanya, sama sekali tak membuat langkah Ratna di dunia seni dan sosial, terhenti. Bahkan, ia sempat membuat film layar lebar berjudul Jamila dan Sang Presiden yang diangkat dari naskah yang dibuatnya pada tahun 2006 lalu. Selain itu, Ratna juga kerap mendampingi beberapa kasus yang menjadikan wanita sebagai korban. Di sela-sela kesibukannya itulah, wanita asli Tarutung, Sumatera Utara ini masih menyempatkan berbagi cerita dengan realita. Sembari duduk di halaman belakang rumahnya yang asri, Ratna pun memulai perbincangan dengan begitu bersemangat.
Didikan Keras. Lahir dari sebuah keluarga Batak, membuat Ratna hidup dalam lingkungan yang selalu mengedepankan kedisiplinan. Didikan yang keras dari kedua orangtuanya, Saladin Sarumpaet dan Yulia Hutabarat. Sang ayah merupakan seorang pejuang kemerdekaan dan pernah menjabat sebagai Menteri Pertanian pada masa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta (PRRI/Permesta). Saladin juga sangat aktif di dunia politik, dengan mendirikan sebuah partai bernama Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Tak berbeda jauh dengan sang ayah, ibunya juga dikenal sebagai tokoh penting pergerakan perempuan Tapanuli yang kerap memperjuangkan kedudukan perempuan dalam tubuh Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang cenderung didominasi oleh kaum laki-laki. Ibunya yang juga sahabat karib proklamator, Mohammad Hatta, pernah menjabat ketua Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Sumatera Timur.
“Didikan dari orangtua memang keras khas orang Batak,” kenang Ratna. Hal itu nampak dari kebiasaan Ratna kecil bersama delapan saudara kandung lainnya yang diharuskan sudah mandi dan rapi sebelum pukul 6 pagi, waktu yang ditentukan untuk sarapan pagi. Dua kamar mandi dalam rumahnya terpaksa harus menjadi rebutan bagi keluarga besar Ratna setiap paginya. “Yang bangun pagi duluan, pasti akan dapat kamar mandi terlebih dahulu,” ujar anak kelima dari sembilan bersaudara ini.
Ratna lahir dan dibesarkan di daerah Tarutung, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Ia berasal dari keluarga besar dan sederhana. Selain didikan keras, Ratna juga dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama. Sang ayah selain aktif di dunia politik, juga merupakan salah satu pejabat penting Dewan Gereja Indonesia. Ratna kecil mengenyam pendidikan di SD Negeri di daerah Tarutung. Selepas SD, ia bersama keluarga pindah ke kota Yogyakarta dan melanjutkan sekolahnya di SMP BOPKRI, Yogyakarta. Setelah tiga tahun tinggal di kota pelajar, Ratna kemudian pindah ke Jakarta dan bersekolah di SMA PSKD I.
Selepas SMA, Ratna sempat melanjutkan ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan arsitektur, Universitas Kristen Indonesia (UKI). Namun, setelah hampir enam semester bergelut dengan pendidikan arsitektur, tiba-tiba ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Kala itu, sang ayah marah besar karena keputusan Ratna tersebut. Kebimbangan Ratna bermula setelah berusaha untuk jujur pada dirinya sendiri. Perasaan itu pulalah yang kemudian mendorongnya untuk cuti dari kuliah. Pada saat cuti, Ratna sempat mengunjungi Taman Ismail Marzuki (TIM). Kebetulan, kala itu TIM baru resmi dibuka dan mengadakan pertunjukkan WS Rendra. “Ini hidup saya,” ujar Ratna sesaat setelah menikmati pertunjukan seniman yang berjuluk Si Burung Merak tersebut.
Berhenti Kuliah. Sekembalinya ke rumah, tanpa berpikir panjang, wanita kelahiran 16 Juli 1949 ini langsung mengungkapkan keinginannya untuk berhenti kuliah. Ia memutuskan untuk belajar dunia seni dan teater. Lagi-lagi, sang ayah marah besar dan tak menerima keputusan anaknya itu. Kendati begitu, Ratna tetap bersikukuh mengambil keputusan yang mutlak. “Apa yang kamu lakukan untuk masyarakat dengan bergelut di dunia teater?” begitu pertanyaan sang ayah sesaat setelah Ratna mengungkapkan keinginannya. Pertanyaan tersebut terlontar beberapa kali dari mulut sang ayah. Alhasil, Ratna merasa berhutang kepada ayahnya itu karena ia harus melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas melalui dunia teater yang ia geluti. “Dari situ, saya langsung memantapkan cita-cita saya menjadi seorang sutradara,” ujar wanita yang sempat mengikrarkan menjadi calon presiden ini.
Ratna kemudian belajar dunia teater dan seni secara otodidak. Guru pertamanya adalah WS Rendra. “Saya belajar ilmu dasar drama banyak dari Rendra,” kenang saudara kandung sutradara handal, Sam Sarumpaet ini. “Tapi saya belajar soal pemikiran, itu dari Asrul Sani,” lanjutnya singkat. Hasil pembelajarannya itu kemudian diterapkan pada debut pementasannya berjudul Rubayyat Omar Kayyam. Sejak saat itu, banyak film dan pementasan teater hasil karyanya melalui kelompok drama Satu Merah Panggung, yang didirikannya sejak tahun 1974.
Berbagai naskah dan karya yang dibuatnya sedari dulu memang terinspirasi dari bermacam-macam persoalan yang terjadi di negeri ini. Salah satunya yang kemudian telah mengubah pola pikir Ratna terhadap kehidupan adalah peristiwa terbunuhnya buruh wanita bernama Marsinah beberapa tahun lalu. “Kejadian Marsinah seakan-akan telah menghantui saya di setiap kegiatan yang saya lakukan,” aku Ratna. “Saya berjanji kepada diri saya sendiri untuk menolong Marsinah,” lanjutnya singkat. Namun, kala itu ia masih kebingungan dengan apa yang akan dilakukan untuk membantu proses pengungkapan kasus Marsinah. “I have to do something,” tekad Ratna kala itu.
Marsinah Menggugat. Akhirnya, Ratna menemukan caranya sendiri yaitu dengan menulis kasus Marsinah dalam bentuk naskah setebal 12 halaman. Kejadian Marsinah ternyata mendorongnya untuk membantu membuka mata semua orang tentang kasus serupa dengan Marsinah. “Saya menulis karena saya benar-benar marah terhadap sebuah persoalan,” ujar nenek dari lima cucu laki-laki ini. “Karena kemarahan saya terhadap kejadian Marsinah itulah yang mendorong saya menjadi seorang aktivis,” lanjutnya menjelaskan. Kekecewaan dan kemarahan Ratna ternyata masih terpendam hingga saat ini, karena belum terungkapnya pelaku pembunuhan Marsinah.
Dengan segala pembelajaran dari penulis sekelas Gunawan Mohammad dan Asrul Sani, lahirlah sebuah karya bertajuk Marsinah, Nyanyian dari Bawah Tanah pada tahun 1994. Karya tentang Marsinah kembali berlanjut pada era reformasi dengan menelurkan naskah berjudul Marsinah Menggugat, yang dibuatnya hanya dalam waktu 4 hari. Karya tersebut kemudian melambungkan nama Ratna Sarumpaet sebagai seorang penulis yang cukup handal. “Sebelum menulis, saya harus melakukan survei,” ungkap Ratna. Langkah Ratna sebagai sutradara dan penulis sejak era tahun 1980-an langsung mendapat sorotan dan pengakuan dari para seniman senior di masanya. “Dulu, penulis sekaligus sutradara wanita itu kurang mendapat tempat,” kenang Ratna yang sudah menjadi mualaf sejak lima tahun setelah menikah beda agama dengan seorang pengusaha keturunan Arab.
Penghargaan dan apresiasi dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri lantas diperolehnya. Ratna pun dikenal sebagai seorang pejuang hak asasi manusia yang seringkali berada di barisan terdepan dalam memperjuangkan kebenaran. Kendati demikian, keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran ternyata harus berujung hukuman penjara. Pada tahun 1998 di penghujung era orde baru, Ratna harus merasakan dinginnya tinggal di dalam bui, akibat mengadakan pertemuan bertajuk ‘People Summit’ di Ancol, Jakarta Utara. Ia lantas dijebloskan ke LP Pondok Bambu selama 70 hari. Sehari setelah Soeharto lengser, barulah Ratna mampu menghirup udara bebas. “Jadi karena tekanan para aktivis dan seniman luar negeri, akhirnya saya dibebaskan,” kenang Ratna.
Pengalaman tinggal di dalam penjara ternyata tak menyurutkan semangat Ratna menyuarakan kebenaran. Tuduhan berbuat makar pada era reformasi, tak dihiraukannya. Sebaliknya dengan beberapa karya naskahnya, ia mampu membanggakan bangsa Indonesia dengan memperoleh penghargaan The Female Special Award for Human Rights dari organisasi The Foundation of Human Rights in Asia pada tahun 1998. Penghargaan tersebut hanya diberikan kepada dua tokoh wanita Asia, yakni Aung San Suu Kyi (pejuang HAM Myanmar) dan Ratna sendiri. Tak hanya itu saja, keberaniannya untuk memperjuangkan kebenaran juga membuat ia kerap diundang sebagai pembicara di berbagai acara, baik dalam maupun luar negeri.
Kini, Ratna memang disibukkan dengan membantu banyak kasus yang dilaporkan ke Ratna Sarumpaet Crisis Center. “Saya juga sudah lupa kegiatan ini sejak kapan,” ujar Ratna singkat. Namun, yang pasti kegiatan ini berjalan secara alamiah karena banyaknya yang mengadu kepada Ratna. “Ini adalah kegiatan sukarela, saya nggak pernah memungut tarif tertentu,” ungkap adik ipar Asrul Sani ini. Dengan mengandalkan 12 orang pengacara yang bernaung di organisasi pimpinannya, Ratna berusaha membantu banyak pihak yang menuntut adanya kebenaran.
Dananya sendiri didapat dari kegiatan pendampingan bagi beberapa kasus yang diakui Ratna, kerap mendapatkan pembayaran. “Itu khusus untuk yang berduit, jadi saya terapkan subsidi silang bagi sebagian kasus yang tujuannya sukarela,” tutur Ratna. “Saya melihat apa yang saya lakukan ini adalah sebagai tugas dan ibadah,” lanjutnya menjelaskan.
Selain sebagai aktivis perempuan, Ratna juga disibukkan dengan kegiatan kesenian yang sedari awal telah membesarkan namanya. Khusus untuk dunia seni, Ratna mengaku kebanyakan karya seni yang dibuatnya tidaklah selalu ditujukan secara komersil. Selalu ada tujuan tertentu yang ingin dicapai, yang intinya tentu masyarakat luas terutama kaum perempuan. “Saya akan berkarya bila saya benar-benar terganggu karena adanya satu persoalan serius,” ungkap Ratna.
Bercerai Karena Poligami. Keinginannya untuk membantu masyarakat luas melalui dunia seni teater yang digelutinya mungkin sudah tercapai saat ini sesuai dengan keinginan sang ayah. Namun, kegagalan dalam berkeluarga yang dibinanya sejak tahun 1970 bersama pengusaha keturunan Arab, Achmad Fahmy Alhady harus berujung dengan perceraian setelah membina usia pernikahan 15 tahun. “Saya tidak mau dipoligami, dan saya lebih memikirkan nasib anak-anak,” kilah Ratna ketika ditanya alasan perceraiannya. Pernikahannya tersebut telah menghadirkan empat anak, yakni Mohammad Iqbal Alhady, Fathom Saulina, Ibrahim Alhady, dan Atiqah Hasiholan. Ia juga telah dianugerahi lima cucu laki-laki yang kini mewarnai kehidupannya di waktu senggang. “Apa yang saya lakukan, selalu saya diskusikan dengan keluarga dan anak-anak terlebih dahulu,” tutur Ratna. “Saya lebih baik mati karena memperjuangkan sesuatu daripada harus mati berdiam diri,” tegasnya. Fajar

Side Bar 1…
Telenovela Manohara

Nama Ratna Sarumpaet sempat muncul dan terlibat langsung dalam kasus model Manohara Odelia Pinot yang dikabarkan mendapat kekerasan dari suaminya, Tengku Muhammad Fakhri. Hal itu bermula setelah Ratna pernah dimintai tolong oleh ibunda Manohara, Daisy Fajarina, pada akhir April lalu. Saat itu, Daisy mengadukan adanya kawin paksa dengan motif penipuan dan penculikan, pemerkosaan yang terjadi kepada Manohara di sebuah kapal pesiar, beserta penganiayaan yang dilakukan Tengku Mohammad Fakhri.
“Saya nggak mau membela Manohara dan ibu Daisy sebelum ada bukti-buktinya,” aku Ratna. Namun, niat baiknya tersebut tidak dibarengi oleh keseriusan Daisy. Hal itu terlihat dari ketidakdatangan Daisy beserta bukti-bukti yang dijanjikan sebelumnya ke Mabes Polri. Termasuk baju yang dikenakan Manohara, saat diakui diperkosa oleh Tengku Mohammad Fakhri. Padahal, pihak kepolisian sudah memanggil Daisy sebanyak 3 kali selama masih ditangani oleh Ratna. “Alasannya itu macam-macam, sakit tenggorokan atau apalah, tapi ternyata dia malah ikut-ikutan demo di jalanan,” ujar Ratna. Alhasil, Ratna pun mencabut dukungannya terhadap Daisy Fajarina dan Manohara. “Dia (Daisy, red) lebih senang di depan kamera, daripada mengurusi di jalur hukum,” ujarnya.
Kedatangan Manohara kembali ke Indonesia, awalnya diharapkan Ratna dapat mempercepat proses pengaduan. Namun, ternyata proses hukumnya pun tertunda akibat kegiatan Manohara dan Daisy yang kerap berkunjung dari stasiun televisi ke stasiun televisi lainnya. “Saya kira anaknya beda, tapi sama saja dengan ibunya,” ungkap Ratna kesal. “Kasus Manohara ini membuat saya marah, karena saya sudah sukarela membantu dan telah menyediakan 9 pengacara, tapi tak ada keseriusan dari ibu Daisy,” lanjutnya menjelaskan.
“Saya akan meyakini segala sesuatu itu benar bila saya sudah melakukan survei dan bertanya kepada banyak pihak,” kilah Ratna. Hal itu pula yang kemudian memantapkan niat Ratna menjadi seorang mualaf, meski ditentang keras oleh kedua orangtuanya. “Saya memang aktivis perempuan, tapi saya juga pembela kebenaran yang harus ditegakan,” tegas Ratna. “Kasus Manohara seperti telenovela, dan opera,” lanjutnya singkat. Fajar

Biodata
Nama Lengkap : Ratna Sarumpaet
Tempat/Tanggal Lahir : Tarutung, Sumatera Utara/ 16 Juli 1949
Nama Orangtua : Saladdin Sarumpaet dan Yulia Hutabarat
Nama Anak :
Mohammad Iqbal Alhady
Fathom Saulina
Ibrahim Alhady
Atiqah Hasiholan
Pendidikan
SDN Tarutung
SMP BOPKRI, Yogyakarta
SMA PSKD I, Jakarta
Arsitektur, UKI, Jakarta (tidak tamat)
Karya Naskah Drama
Dara Muning (tahun 1993)
Marsinah, Nyanyian dari Bawah Tanah (1994)
Terpasung (1995)
Pesta Terakhir (1996)
Marsinah Menggugat (1997)
Alia, Luka Serambi Mekkah (2000)
Anak-anak Kegelapan (2003)
Jamila dan Sang Presiden (2006)
Penghargaan dan Kegiatan
Pembicara di International Woman Playwright II, Adelaide, Australia, tahun 1994
Pembicara di 4th International Woman Playwright Center, Galway, Irlandia, 1997
Peraih The Female Special Award for Human Rights dari organisasi The Foundation of Human Rights in Asia, 1998
Memberikan pidato pada peringatan 50 tahun Hak Asasi Sedunia di Gedung Palais de Chaillot, Perancis, 1998
Pembicara di Sidney Writer Festival, Australia, 1998
Pembicara di Writer in Prison-PEN International, Khatmandu, Nepal, 2000
Pembicara pada pementasan naskah Marsinah Menggugat dipentaskan di puluhan Negara

1 comment:

Anonymous said...

saya setuju.

lakukanlah jika menurut mbak benar
jgn takut.