Wednesday, March 24, 2010

Tatyana Sutara, Ketua Women’s Forum for Excellence

Berjuang Agar Semua Perempuan Bisa Mandiri

Tak hanya mengejar materi dalam setiap bidang usaha yang dilakoninya, Tatyana Sutara juga mencari keseimbangan hidup melalui beberapa aktivitas sosial dengan berkecimpung di beberapa organisasi sekaligus. Baginya, dengan cara itulah ia bersyukur dengan apa yang telah didapatkannya sekarang, seperti apa yang telah diajarkan oleh ayahnya sedari kecil. Lalu bagaimana perjalanan hidup ibu satu anak ini?

Suasana di sebuah gedung perkantoran di bilangan Sudirman nampak lengang di hari Jumat pekan lalu. Ruangan kantornya yang berada di lantai 10 juga terlihat tak begitu besar. Kendati demikian, dari tempat itulah, wanita bernama lengkap Tatyana Sentani Sutara ini mengendalikan perusahaannya yang bergerak di bidang perkeretaapian. Sesaat setelah menunggu beberapa lama, sosok wanita cantik ke luar dari sebuah ruangan dan menyapa realita. Senyum mengembang di wajahnya.

Di sela-sela kesibukannya, Tatyana ternyata masih mampu meluangkan waktu untuk berbagi kisah tentang hidupnya yang banyak dihabiskan di berbagai aktivitas sosial. Sembari duduk santai di ruang kantornya, Tatyana bersemangat menceritakan apa yang telah ia lakukan untuk membantu sesama yang kurang beruntung. Tatyana merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sutara Martadisastra (70) dan Aida Sury (69), perpaduan antara ayah yang asli Garut dan ibu asli Palembang. Sejak kecil Tatyana dididik menjadi anak perempuan yang mandiri dan bertanggung jawab.

Tatyana lahir di sebuah daerah bernama Sukamandi, yang letaknya tak jauh dari kota Subang, Jawa Barat. Sang ayah berprofesi sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perikanan dan perkayuan. Alhasil, ayahnya kerap berpindah tempat kerja dari satu daerah ke daerah lain. Kendati begitu, Tatyana tetap menikmati kepindahan tempat tinggalnya tersebut. Padahal, akibat yang harus diterimanya adalah tak memiliki teman yang tetap dalam satu daerah.

Setelah lahir di Sukamandi, Jawa Barat, Tatyana berpindah ke Riau bersama keluarga. Saat itu, usianya baru menginjak tiga tahun. Tak hanya menetap di Riau, Tatyana juga kerap berpindah ke Dumai dan Selat Panjang. Barulah, ketika akan bersekolah SD, ia bersama keluarga pindah dan menetap di Jakarta. Tatyana kecil bersekolah sedari SD hingga SMA di St. Theresia, Jakarta. Selepas menamatkan SMA, ia melanjutkan kuliah di Universitas Trisakti. Masuk ke dunia kerja, Tatyana sempat bekerja di sebuah perusahaan swasta, hingga ia ditawari oleh salah satu temannya untuk ikut menjadi pemilik sebuah perusahaan bernama PT Primarail International, sebuah perusahaan di bidang perkeretaapian.

Ikuti Jejak Ayah. Kendati bidang perkeretaapian kurang diminati oleh sebagian besar investor, Tatyana justru menganggap bidang tersebut akan sangat menguntungkan di masa mendatang. Merasa tertantang untuk mengembangkan perusahaan swasta di bidang yang belum banyak diminati orang, Tatyana pun menjadi pemilik perusahaan tersebut hingga saat ini. “Bidang perkeretaapian akan sangat menjanjikan di masa mendatang, karena bayangkan macetnya lalu lintas kita di tahun-tahun ke depan,” ungkap Tatyana yang mengusulkan adanya jalur kereta Mahakam Line di pulau Kalimantan ini.

Awal Tatyana bergelut di dunia sosial bermula saat ia aktif di organisasi Lions Club Indonesia. “Ayah saya juga aktif di Lions Club sejak lama,” aku wanita kelahiran 17 Mei 1963 ini. Sehingga, baginya sudah tak asing lagi dengan aktivitas sosial seperti yang biasa dilakukan oleh sang ayah. “Mungkin ini karena pengaruh keluarga,” ujar Tatyana mengutarakan alasan terjun ke dunia sosial. Hal itu terlihat saat dua tahun lalu, sang ayah sempat menjabat sebagai ketua distrik di Lions Club Indonesia. Dari kegiatan sang ayah itulah, Tatyana mengaku mendapatkan contoh bahwa sebagai seorang manusia, sudah seharusnya untuk berbagi dengan masyarakat kurang beruntung.

Tiap kali sang ayah mengadakan kegiatan sosial ke berbagai daerah, Tatyana kerap diajak serta. Dari keikutsertaannya itu pula, lama–kelamaan jiwa sosial mulai tumbuh dalam diri Tatyana. Salah satu pengalaman saat ikut serta dengan sang ayah, yang mungkin tak terlupakan oleh Tatyana adalah ketika mengunjungi daerah kampung nelayan di Jakarta Utara. Hati Tatyana sangat miris tatkala mendapatkan jawaban bahwa para pembersih kerang di daerah tersebut hanya mendapatkan uang Rp 4.000 sebagai upah membersihkan kerang. “Bayangkan dengan uang Rp 4.000 bisa dapat apa untuk sehari-hari,” lirih penyuka musik jazz ini.

Berbekal pengalaman melihat kondisi warga kurang mampu, tahun 2002, Tatyana bersama rekan-rekannya kemudian memutuskan untuk mendirikan Lions Club Jakarta Cosmopolitan. “Saya memang senang berkegiatan sosial,” ungkap wanita yang masih terlihat awet muda ini. Diceritakannya, Lions Club Cosmopolitan yang beranggotakan 47 perempuan memiliki kepedulian sosial terhadap sesama. “Pada dasarnya mereka memiliki niat untuk membantu sesama yang kurang beruntung,” tutur Tatyana.

Pengobatan Gratis. “Kita punya program khusus untuk kalangan yang tidak mampu,” ujar Tatyana menceritakan tentang kegiatan Lions Cub Cosmopolitan. Salah satunya adalah operasi katarak gratis bagi warga kurang mampu. Setahun sekali, acara tersebut rutin digelar. Selain itu, acara pengobatan gratis pun diadakan untuk mengakomodasi warga kurang mampu yang tidak terlayani kesehatannya. Sebagai anggota WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau), ia bersama rekan-rekannya juga mengadakan penyuluhan kepada anak-anak tentang bahaya merokok. “Dengan penghasilan uang pas-pasan, lebih baik digunakan untuk membeli makanan atau susu yang bergizi daripada membeli rokok,” tutur Tatyana. Wanita yang memiliki hobi traveling ini sangat mengkhawatirkan kondisi dimana anak-anak di bawah umur yang sudah merokok. Tak heran, ia dengan sangat giatnya memberikan penyuluhan mengenai bahaya merokok kepada masyarakat terutama anak-anak.

Selain aktif di kegiatan sosial, Tatyana juga ikut berkegiatan di organisasi KADIN (Kamar Dagang dan Industri) di bidang hubungan kerjasama internasional. Ia bertanggung jawab dalam membina hubungan dengan pihak luar negeri terkait dengan industri dan bisnis. Tak hanya itu saja, Tatyana juga aktif dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DKI Jakarta. “Awalnya saya diajak ibu Dewi Motik untuk masuk IWAPI,” kenang pemilik High Scope Pre School ini. Keinginan Dewi Motik untuk mengajak para pengusaha wanita muda yang kemudian mendorongnya bersedia bergabung dengan organisasi IWAPI, seperti halnya beberapa pengusaha wanita muda lainnya seperti Tatyana.

Perempuan Mandiri. Tak puas dengan aktif di berbagai organisasi sosial yang sudah dilakukannya, Tatyana lantas merintis terbentuknya Women’s Forum for Excellence beberapa waktu lalu. Organisasi ini didirikan Tatyana bersama rekan-rekannya, setelah melihat berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kaum perempuan Indonesia. Salah satu permasalahan perempuan Indonesia yang menjadi perhatian Tatyana adalah sulitnya kaum perempuan dalam mendaftarkan ijin usahanya. “Di Indonesia ini kan masih memegang sistem patriarkal, jadi apa-apa itu suami,” ungkap Tatyana.

Salah satu contohnya adalah ketika perempuan memiliki usaha yang kemudian maju dan berkembang, tentunya si perempuan ini akan mendaftarkan usahanya. Namun, biasanya yang terjadi sang istri akan mendaftarkan ijin usahanya tersebut atas nama suami. Hal itu tergambar jelas dari kasus ayam goreng Ny. Suharti. “Dia (Suharti, red) mendaftarkan atas nama suaminya, padahal resep dan yang masak dia sendiri,” ungkap Tatyana. ketika ada masalah yang terjadi di antara keduanya, di hadapan pengadilan justru sang suami yang menang karena secara legal, nama suaminyalah yang terdaftar. “Jadi kita mendorong agar perempuan bisa mandiri dan bertanggung jawab,” ujar Tatyana.

Tak hanya itu saja, melalui organisasi Women’s Forum For Excellence, Tatyana berusaha menggiatkan keterlibatan kaum perempuan dalam kancah politik tanah air, meski hanya sebagai pemilih. Keinginan Tatyana tersebut direalisasikan melalui acara bertajuk Pesta Demokrasi Perempuan Indonesia pada pertengahan Juni lalu. Dengan menghadirkan para capres dan cawapres yang bertanding pada pilpres lalu, Tatyana berusaha mendorong keikutsertaan 57 persen kaum perempuan dalam memilih calon presiden sesuai hati nurani masing-masing. “Wanita itu adalah guru pertama untuk anak-anaknya,” ujar Tatyana dengan tegas.

Jadi, wanita itu sudah seharusnya memperluas wawasannya walaupun tidak bekerja,” ungkap Tatyana. “Dengan meningkatkan kualitas wanita, maka kita akan meningkatkan kualitas generasi mendatang,” lanjutnya menjelaskan. Ia mengingatkan kesetaraan gender benar-benar harus dijalankan dengan baik, dan tidak disepelekan begitu saja. Tak hanya melulu soal perempuan, Tatyana juga memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan anak-anak khususnya anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu melalui Yayasan Sampai, pimpinan Ani Yudhoyono. Di yayasan ini, Tatyana menjadi salah satu pengurusnya yang kerap mengadakan kegiatan dalam membantu biaya pendidikan anak-anak kurang mampu melalui bantuan beasiswa dan bantuan lainnya.

Bersyukur dan Mawas Diri. Meski disibukkan dengan berbagai aktivitas sosial yang sangat menyita waktunya, Tatyana tetap berusaha meluangkan waktu bersama anak semata wayangnya, Mahendra Raditya Hutama (20), seorang mahasiswa sekolah bisnis tingkat 2. Untuk anaknya tersebut, Tatyana hanya memiliki cita-cita yang cukup sederhana. “Saya hanya ingin anak saya memiliki pendidikan yang lebih baik agar bisa mandiri dan berguna,” ungkap Tatyana yang mengaku menerapkan time management untuk mengatur waktu antara karir dan keluarga. “Kita sebagai orangtua hanya mengarahkan anak saja, semuanya tergantung kepada anak itu sendiri,” harap Tatyana. Sang anak juga kerap diajak serta bila ada kegiatan sosial yang dijalani Tatyana. “Karena saya waktu kecil juga suka diajak ayah saya, itu namanya active learning,” ujar Tatyana sembari tersenyum simpul.

Dengan aktif di berbagai aktivitas sosial, Tatyana mengaku dapat bersikap mawas diri. Ia juga merasa bersyukur dengan apa yang telah didapatnya kini setelah melihat betapa tidak beruntungnya sebagian warga yang kurang mampu. “Jadi setiap kali saya terjun melihat warga kurang mampu, seperti diingatkan kembali,” ujar Tatyana. “Kita sudah seharusnya bersyukur dan diingatkan untuk selalu berbagi kepada mereka yang kurang beruntung,” lanjut Tatyana menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 1…

Memberi Makna Bagi Penderita Katarak

Menurut Tatyana, pasien penyakit katarak memiliki kejiwaan yang cukup rapuh. Pasalnya, ketika seseorang mampu melihat dunia dengan sempurna dan tiba-tiba langsung hidup dalam kegelapan karena penyakit katarak yang dideritanya. Tak mudah bagi sebagian orang untuk menerima kenyataan tersebut. Tak heran, pasien katarak kurang mampu sangat mengharapkan bantuan untuk menjalani operasi agar dapat melihat kembali. Hal itulah yang kemudian menjadi penyemangat Tatyana dalam menyelenggarakan operasi katarak gratis bersama teman-temannya di Lions Club Cosmopolitan.

Dengan dana yang dikumpulkan dari para donatur, Tatyana dan rekan-rekannya di Lions Club dapat menyelenggarakan operasi katarak minimal untuk 100 mata. “Tahun kemarin saja bersama dengan klub-klub lain di berbagai distrik, bisa mengoperasi sampai 1.000 mata,” aku Tatyana yang selalu memegang prinsip ‘Think Positive’ ini.

Mereka tuh sampai menangis, cium tangan, saking senangnya,” ungkap Tatyana yang merasa bahagia bila telah melihat kesembuhan pasien katarak kurang mampu. Dengan adanya operasi itu, menurut Tatyana, mereka dapat mandiri dan bekerja sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. “Kita memberi makna kepada para pasien ini, jadi nggak sia-sia apa yang kita lakukan mencari dana dan usaha lain,” tutur Tatyana. Ia mengaku dengan membantu orang lain, kebahagiaan sangat terasa dalam dirinya. Fajar

Side Bar 2…

Investasi Sejak Dini

Sedari kecil, Tatyana sudah mendapatkan didikan dari kedua orangtuanya mengenai pengaturan keuangan. Semasa kecil, Tatyana diberikan uang bekal setiap bulan yang harus mencukupi segala macam kebutuhannya selama sebulan penuh. “Saya diajarkan untuk bisa mengatur keuangan dengan baik,” kenang Tatyana. Didikan seperti itu, ternyata dirasakan manfaatnya saat ia beranjak dewasa hingga saat ini. “Orangtua mengajarkan saya untuk berhati-hati dalam menggunakan uang,” ujar Tatyana dengan bangga.

Awal mula Tatyana bekerja di perusahaan bernama American Express dan mendapatkan gaji pertama, ia justru tak menghamburkan uangnya tersebut untuk berbelanja. “Kalau teman-teman saya langsung berbelanja, saya justru membeli emas,” aku Tatyana. Ia membeli sebuah cincin yang kecil dengan penghasilan pertamanya yang tak seberapa. Bulan berikutnya, dengan gajinya pula, Tatyana lantas menjual cincin emas tersebut dan kembali membeli perhiasan emas yang lebih mahal. “Jadi saya lebih mementingkan investasi,” ungkap Tatyana. Menurutnya, jika ia membeli pakaian atau barang-barang lain, pastilah tidak akan berkembang seperti halnya perhiasan emas yang ia beli. Setiap bulan, ia selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk berinvestasi. Dengan begitu, Tatyana dapat merencanakan keuangannya dengan baik tanpa harus bergantung kepada orangtua atau suaminya.

Keputusannya dalam berinvestasi pun hingga saat ini menjadi lebih baik karena sudah diajarkan untuk belajar berinvestasi sejak dini. Bahkan sedari remaja pun, Tatyana sudah dididik untuk mengatur keuangannya sendiri dengan baik. “Saya memang banyak belajar tentang pelajaran hidup dari ayah saya,” aku Tatyana. Fajar

Biodata

Nama lengkap : Tatyana Sentani Sutara

Tempat, tanggal lahir : Sukamandi, 17 Mei 1963

Nama orangtua : Sutara Martadisastra, Aida Sury Sutara

Nama anak : Gavin Mahendra Raditya Hutama

Pendidikan :

  1. SD St. Theresia, Jakarta

  2. SMP St. Theresia, Jakarta

  3. SMA St. Theresia, Jakarta

  4. Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti, Jakarta

  5. P3E (Pendidikan Perantara Pedagang Efek)

Karir :

  • Presiden Direktur PT. Primarail International

  • Komisaris PT. Shi Bina Belia (High/Scope Pre-School)

  • Komisaris PT. Golden Anugerah Kencana

Organisasi :

  • Founder dan Chairperson Women’s Forum for Excellence

  • Vice Chair International Committee on Economic Cooperation for Asia Pacific KADIN

  • Ketua Kemitraan WITT (Wanita Indonesia Tanpa Tembakau)

  • Charter President Lions Club Jakarta Cosmopolitan

  • Ketua Daerah 2B Lions Club Indonesia District 307A

  • Ketua Hubungan Luar Negeri IWAPI DKI

  • Anggota Yayasan Sampai


No comments: