Friday, October 16, 2009

Sakti Wahyu Trenggono,Presiden Direktur Indonesian Tower


Sakti Wahyu Trenggono,Presiden Direktur Indonesian Tower

Tergerak Membantu Orang Susah karena Pernah Merasa Sakitnya Menjadi Miskin

Kesuksesan mungkin kini telah diraihnya sebagai Presiden Direktur Indonesian Tower. Namun hal tersebut tak membuat dirinya lupa terhadap kaum papa. Terbukti dengan beberapa aktivitas sosial yang saat ini tengah digeluti Sakti Wahyu Trenggono. Meski diakuinya masih terbilang kecil, kepeduliannya justru patut diacungi jempol. Apa saja bentuk kepedulian seorang Sakti Wahyu Trenggono terhadap orang kecil?

Hari itu Jakarta dirundung mendung. Musim hujan telah menyambut penduduk Jakarta di awal tahun 2007 ini. Kendati demikian, langit yang suram bukanlah penggambaran yang tepat terhadap kegiatan seorang eksekutif di salah satu perusahaan swasta ini. Karirnya yang melonjak setelah membangun perusahaan sendiri, memang telah diraihnya. Kini, ia tengah menikmati hasil kerja kerasnya sejak kali pertama meniti karir. Jabatan Presiden Direktur pun dijabatnya di Indonesian Tower, perusahaan yang dibangunnya dari bawah.

Waktu menunjukkan pukul 14.45 WIB. Sosok pria berkumis itu pun keluar dari salah satu ruangan kantor yang terletak di bilangan Thamrin, Jakarta. Dialah Sakti Wahyu Trenggono, orang nomor satu di perusahaan Indonesian Tower. Dengan hanya memakai kemeja putih berlengan pendek, ia menyambut kedatangan Realita yang kala itu hendak berbincang-bincang mengenai kegiatan sosialnya. Trenggono-panggilan akrabnya, memang tampak sederhana dengan pakaian yang dikenakannya. Bahkan orang tak akan mengira bahwa dirinya adalah seorang Presiden Direktur di salah satu perusahaan yang kini tengah merangkak naik.

Kendati demikian, Trenggono justru sangat dihormati oleh rekan-rekan kerjanya karena penampilannya yang sangat sederhana. Dengan senyum tersungging di wajahnya, ia mempersilahkan Realita untuk memasuki ruang kerjanya. Sembari mengepit rokok di jari tangan kanannya, ia menyapa Realita dengan ramah. Di dalam ruangan kerjanya itulah, Trenggono menceritakan beberapa kegiatan sosial yang kini ditekuninya.

Dimulai dari Keluarga. Trenggono mengaku bahwa aktivitas sosial yang kini tengah dijalaninya merupakan lanjutan dari apa yang ia berikan terhadap keluarga besarnya. “Keluarga saya berasal dari kalangan kurang mampu,” aku Trenggono merendah. Itu sebabnya, ia selalu membantu sanak keluarganya yang masih membutuhkan. “Saya selalu mulai dari keluarga sendiri,” imbuhnya.

Diakui Trenggono, keluarga itu bukanlah anggota keluarganya saja, melainkan anggota keluarga besar lainnya yang masih memiliki keturunan darah yang sama. Baik saudara dekat maupun saudara jauh. Selain itu, teman-teman Trenggono ketika di masa kanak-kanaknya dan sekarang masih bernasib kurang beruntung, juga turut dibantu oleh Trenggono. “Kita rekrut beberapa teman yang kurang beruntung untuk diberdayakan di perusahaan ini,” aku pengidola Bill Gates ini.

Meski begitu, tidak semua teman masa kecilnya direkrut dan dijadikan karyawan Indonesian Tower. Hanya orang yang menurutnya capable-lah yang akan direkrut Trenggono. Sedangkan bagi orang yang belum diterima di lingkungan perusahaan, Trenggono akan membantunya dengan cara berbeda. “Saya akan membantu mereka dari kantong pribadi,” ujar Trenggono.

Namun, jika orang-orang tersebut memiliki bakat dalam berdagang, Trenggono akan membantu dengan cara memberikan modal awal. Sehingga, mereka masih akan tetap mendapatkan pekerjaan meski bukan di dalam lingkungan Indonesian Tower. Tak hanya itu, dari sisi keagamaan, Trenggono juga kerap menyumbangkan sebagian lembaran rupiahnya untuk membantu orang-orang kurang mampu. Beberapa momen yang biasa menjadi ladang amal Trenggono, di antaranya adalah khitanan massal, pembangunan masjid, dan beberapa kegiatan yang melibatkan anak yatim piatu.

Beternak Sekaligus Beramal. Belum cukup sampai di situ, Trenggono juga getol memberikan dana sebagai modal bagi pengusaha kecil di daerah yang masih terbelakang. Salah satu daerahnya adalah desa di mana ia dibesarkan. “Di dekat desa tempat saya dibesarkan, saya juga berusaha membantu meningkatkan kesejahteraan penduduknya,” aku Trenggono yang mengaku selalu menyisihkan minimal Rp 10 juta per bulan untuk menyumbang.

Caranya adalah dengan memberikan sejumlah uang untuk para penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai peternak sapi. Cara tersebut dinilai cocok dengan kondisi desa di mana penduduk sudah terbiasa beternak. Sapi yang pada awalnya berjumlah hanya dua ekor, kini telah mencapai ratusan ekor. Semunya berkat kerja keras penduduknya. Alhasil, taraf kehidupan masyarakat desa di daerah Kedung Ombo tersebut dapat meningkat secara bertahap seiring dengan bertambahnya jumlah sapi yang dipelihara.

Trenggono tidak serta merta hanya langsung memberikan sejumlah dana untuk modal dan lepas tangan begitu saja. Ia justru menganut sistem bagi hasil atau nggadoh dalam Bahasa Jawa untuk bagi hasil. Hal ini dilakukan agar peternakan sapi itu dapat berkembang dari waktu ke waktu. “Saya memberikan sapi, nanti hasilnya dibagi dua,” ungkap Trenggono.

Seiring dengan berjalannya waktu, anak-anak sapi pun terlahir. Sehingga jumlah sapi yang dipelihara semakin banyak. “Seharusnya anak sapi yang lahir itu milik saya dan si peternak. Tapi anak sapi itu saya hargai dengan harga sapi dewasa,” tutur ayah dari dua anak ini. Jadi, Trenggono membayar kepada peternak yang merawat sapi tersebut setengah dari harga sapi dewasa. “Saya memberikan Rp 3 juta untuk setiap anak sapi kepada para peternaknya,” tambahnya.

Selain itu, pada di tahun ketiga, sapi yang telah berumur tua diberikan kepada peternak. Dari tahun ke tahun, jumlah sapi tersebut bertambah jumlahnya. Bahkan Trenggono sempat memiliki 400 ekor sapi. Menurutnya, jika bisnis sapi tersebut dapat dikelola dengan baik, maka akan lebih banyak meraup untung, yang pada akhirnya akan membangkitkan ekonomi daerah Kedung Ombo.

Trenggono sendiri menghabiskan uang sekitar Rp 250 juta sebagai modal awal untuk membeli sapi bagi para peternak. Kendati begitu, sapi-sapi yang dipelihara tidak langsung diberikan dengan jumlah yang banyak, melainkan secara bertahap kepada sejumlah peternak yang memang serius mengajukan diri dan berkeinginan untuk mengembangkan ekonominya masing-masing.

Tantangan untuk Memberi. Pembangunan Masjid di beberapa kampung di daerah Kedung Ombo, Jawa Tengah juga menjadi ladang amal bagi dirinya. Pembangunan Masjid di daerah Bekasi pun tak luput dari sasaran aliran dana dari kocek pribadi Trenggono. Aliran dana yang mengalir ke setiap ladang amal Trenggono memang diakui Trenggono masih terbilang cukup kecil. “Ya, kalau dihitung-hitung dan dijumlahkan, bisa mencapai miliaran rupiah,” ujar salah seorang peraih penghargaan Entrepreuner of The Year 2005 versi Ernst & Young ini.

Bagi Trenggono, membantu kaum yang kurang mampu merupakan suatu tantangan untuk dapat meringankan beban mereka. “Bagi saya, tantangannya adalah bagaimana saya bisa membantu seseorang yang sangat sulit dari sisi ekonomi,” ungkap pria yang memiliki hobi bermain golf ini. Kendati demikian, orang yang akan dibantunya haruslah yang memiliki keinginan untuk maju dan mengembangkan dirinya sendiri.

Trenggono sendiri akan membantu orang yang kurang mampu untuk dapat mengembangkan dirinya sendiri dan meningkatkan taraf hidupnya asalkan orang yang dibantu tersebut juga memiliki keinginan yang tinggi. Jika orang tersebut dapat keluar dari kemiskinan, maka tantangan yang dihadapi oleh Trenggono dapat tercapai dengan baik. Oleh karena itu, Trenggono berharap kepada para pengusaha muda, agar mereka tak hanya melulu mengejar materi. “Hidup itu sangat sebentar sekali,” ujarnya berfilosofi.

Didikan Sang Nenek. Jiwa sosial yang kini dimiliki oleh Trenggono tak dinyana berasal dari didikan sang Nenek. “Waktu kecil saya diasuh oleh nenek,” kenang putra pensiunan kopral TNI AD ini. Sejak kecil, Trenggono memang diasuh oleh sang nenek hingga ia menyelesaikan sekolah dasarnya. Pada saat itulah, sang nenek mengajarkan bagaimana menghadapi hidup. Dari sang nenek pulalah, Trenggono mendapatkan pelajaran berharga untuk lebih banyak berbagi terhadap sesama.

Semangat yang tinggi juga didapatkan dari sang nenek, sehingga ia dapat menyelesaikan studinya. Lulus dari Program Manajemen Informatika Universitas Bina Nusantara, ia kemudian melanjutkan sutdinya ke Institut Teknologi Bandung. Di masa-masa studinya itulah, Trenggono merasakan cobaan yang cukup besar, karena dengan latar belakang keluarga yang pas-pasan, ia ternyata mampu menyelesaikan studinya.

Selepas studinya, Trenggono kemudian meniti karir di dunia kerja yang sesungguhnya. Ia sempat berkarir di Perusahaan Astra Federal Motor, dan mencapai jabatan Manager Corporate Strategy. Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari Astra, dan memilih bergabung dengan Inkud, sebagai Direktur Perencanaan dan Pengembangan Inkud. Selang beberapa tahun kemudian, Trenggono memulai karirnya sebagai eksekutif sekaligus seorang enterpreneur dengan mendirikan Indonesian Tower pada tahun 2000.

Di industri baru itulah, Trenggono mencapai titik kesuksesan sebagai seorang enterpreneur dengan membawa perusahaan yang mendirikan menara tersebut ke arah perusahaan mapan. Itulah yang juga menjadi suatu tantangan di dalam karirnya, tantangan yang akan berlipat ganda ketika Trenggono memutuskan untuk memberi dan berbagi terhadap sesama. Karena, memberi dan berbagi terhadap sesama adalah sebuah tantangan. Fajar

Side Bar 1

Pernah Belikan Becak untuk Tukang Becak


Jiwa sosial yang ada di dalam diri Trenggono ternyata tak hanya tergambar jelas dari setiap kegiatan yang dilakukan terhadap sanak keluarga, teman main atau pun para peternak sapi di Kedung Ombo, Jawa Tengah. Kepedulian sosialnya sempat terlihat dari perilaku insidentil yang ia lakukan. Salah satu contohnya adalah kejadian yang pernah ia alami di daerah Bekasi. “Saya pernah tanpa sengaja membeli rokok di warung kecil di daerah Bekasi dan bertemu dengan tukang becak,” tutur Trenggono dengan antusiasnya.

Pertemuan Trenggono dengan sang tukang becak itu ternyata bukan merupakan pertemuan tanpa makna. Tukang becak tersebut kemudian menceritakan bagaimana ia harus bekerja setiap harinya dan wajib memberikan setoran kepada si empunya becak. Sedangkan ia juga harus memberikan biaya hidup bagi istri dan beberapa anaknya yang tinggal di daerah Babelan, Bekasi Utara. Sang tukang becak harus menyetor uang hasil mengayuh becaknya sebulan sekali. “Dia paling besar bawa uangnya Rp 30 ribu setiap bulan,” aku Trenggono yang lupa mengingat nama si tukang becak tersebut.

Karena ketidakmampuan sang tukang becak untuk membeli becak, ia pun harus membawa uang pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Melihat kondisi tukang becak yang harus bekerja keras mengayuh pedal becaknya demi mendapatkan penghasilan yang tidak seberapa, Trenggono pun tersentuh hatinya. Tanpa berpikir panjang, Trenggono kemudian membelikan satu unit becak seharga Rp 400 ribu untuk tukang becak tersebut.

Alangkah senangnya tukang becak ketika menerima becak pembelian Trenggono. Karena dengan begitu, ia tidak harus menyetorkan sejumlah uang untuk biaya penyewaan becak. “Sekarang dia bisa menggunakan semua uang hasil tarikannya untuk istri dan anak-anaknya,” ungkap pria yang lahir 44 tahun silam ini.

Meski diakui Trenggono, kejadian tersebut masih terbilang cukup kecil, ia justru merasakan kepuasan tersendiri di saat membantu orang-orang yang membutuhkan. Fajar


Side Bar 3

“Saya sedih melihat orang miskin”

Selain memiliki jiwa sosial dalam dirinya, ternyata Trenggono memiliki latar belakang tersendiri untuk melakukan aktivitas sosial. Latar belakang keluarganya yang berasal dari keluarga pas-pasan membuatnya sempat merasakan bagaimana menjadi orang kurang mampu. “Miskin itu nggak enak,” ujarnya sembari tertawa.

Karena pernah merasakan kondisi serba kekurangan itulah, kini Trenggono berusaha membantu sesama. Dengan sukses yang diraihnya saat ini, Trenggono berusaha untuk mensyukurinya dengan cara menyisihkan sebagian hartanya untuk kaum papa. “Saya sedih melihat orang miskin, karena saya terlahir dari orang miskin,” tutur pria yang pernah berkarir di Inkud (Induk Koperasi Unit Desa) ini.

Bahkan, Trenggono mengaku bahwa ia seringkali memakan nasi jagung sebagai makanan sehari-hari. “Saat masih di bangku SD, saya sering makan nasi jagung sebagai makanan sehari-hari,” ungkap Trenggono. Fajar


Side Bar 2

Berencana Membangun Yayasan Sosial


Saat ini, Indonesian Tower memang belum memiliki yayasan sosial sebagai salah satu bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) dari perusahaan. Trenggono mengaku bahwa itu merupakan suatu kekurangan yang ada pada perusahaannya. Sehingga ia berencana untuk membangun sebuah yayasan yang berada di bawah bendera Indonesian Tower. Yayasan tersebut akan dipergunakan untuk mengakomodir kegiatan social, baik dari perusahaan maupun dari setiap karyawan Indonesian Tower.

Selain itu, yayasan tersebut rencananya juga akan membantu setiap kesulitan yang dialami oleh karyawannya, sehingga aktivitas sosial dari masing-masing karyawannya dapat ditampung dalam satu wadah, yakni yayasan. “Rencananya pada saat perusahaan berada di angka tertentu, kita akan menyisihkan sejumlah pendapatan untuk digunakan membiayai kegiatan sosial,” tutur Trenggono.

Bagi Trenggono, apa pun yang dilakukan dalam bisnisnya, terdapat suatu tanggungjawab kepada sesama supaya kaum yang kurang beruntung bisa mendapatkan peningkatan taraf hidupnya. Meski rencana untuk membangun yayasan belum terealisir saat ini, Indonesian Tower sebagai perusahaan yang berbisnis mendirikan menara pemancar, juga melakukan tanggungjawab sosial dari setiap pembangunan menara pemancar tersebut.

“Kita juga membangun membangun Masjid di daerah sekitar menara yang kita dirikan,” ungkap Trenggono. Setiap sisi tempat berdirinya tower, pihak perusahaan mengeluarkan Rp 500 ribu per bulan untuk disalurkan dalam bentuk kegiatan sosial di lingkungan sekitar site.

Indonesian Tower sendiri memiliki standar kualitas dalam mendirikan tower di daerah. Tak heran, ketika gempa melanda Yogya dan sekitarnya, tower-tower milik Trenggono masih tetap kokoh berdiri. Fajar

Tri Djoko Santoso, Wakil Presiden Direktur Panin Life

Dirikan Yayasan untuk Melindungi Industri Jasa Keuangan Indonesia

Bergelut di dunia keuangan selama puluhan tahun ternyata mampu mempengaruhi jiwa sosial seseorang. Tri Djoko Santoso adalah salah satunya. Bukan berupa materi yang disumbangkan oleh Tri. Ia justru menyumbangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam yayasan yang diberi nama Financial Planning Standards Board (FPSB). Apa saja kegiatannya?

Mungkin untuk sebagian orang, hari Sabtu merupakan hari libur. Tapi tidak untuk ekskutif yang satu ini. Hari Sabtu adalah hari bagi Tri Djoko Santoso untuk mencurahkan semua pemikiran dan jiwa sosial ke dalam yayasan non profit. Terbukti ketika hari Sabtu (17/2) yang lalu, Tri-panggilan akrabnya-tengah sibuk dengan pekerjaannya di yayasan. Di dalam ruangan kantor yang tidak begitu besar itulah Tri beserta dua orang karyawannya mengelola Financial Planning Standards Board. Di dalam ruang kerjanya, Tri terlihat ramah menyambut kedatangan Realita. Sembari tersenyum, ia mempersilahkan Realita untuk masuk ke dalam ruang kerjanya tersebut. Di dalam ruangan yang hanya berukuran 2 x 3 meter itulah, ia dengan bersemangat menceritakan tentang yayasan yang diketuainya saat ini.

Fasilitator Pendidikan Luar Negeri. Dunia keuangan khususnya asuransi memang tak pernah lepas dari pria berkumis ini. Karirnya sendiri memang berawal di dunia asuransi. Puluhan tahun telah ia jalani di dunia tersebut. Alhasil, Tri telah akrab dengan dunia keuangan. Jiwa sosial yang dimilikinya pun dituangkan ke dalam dunia yang membesarkan namanya. Bermula dari rasa ketakutan terhadap datangnya para pemain-pemain asing di dunia jasa keuangan Indonesia, Tri kemudian berusaha untuk meningkatkan daya saing dari para pelaku keuangan lokal agar mereka tidak mudah disingkirkan oleh para pemain asing. Salah satu usahanya adalah dengan membangun yayasan sosial di Indonesia yang mampu memfasilitasi para pemain di dunia keuangan dalam negeri agar dapat bersaing dengan pemain-pemain asing. Menurut Tri, tak ada cara lain selain meningkatkan kompetensi dari setiap pemain jasa keuangan lokal. Atas dasar itulah, Tri bekerjasama dengan pihak luar negeri untuk mendirikan Financial Planning Standards Board (FPSB) di Indonesia.

FPSB sendiri merupakan yayasan non profit yang didirikan untuk memfasilitasi para pelaku di dunia jasa keuangan agar dapat memperoleh sertifikasi internasional serta mendapatkan gelar yang berlaku secara internasional pula. “Para pelaku jasa keuangan, seperti agen asuransi, penjual reksadana, karyawan bank, penasehat pajak, akan semakin lama terancam pekerjaannya dengan kedatangan orang asing,” tutur Tri. Melihat kondisi tersebut, Tri tergoyah hatinya untuk melindungi para pelaku jasa keuangan lokal. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kompetensi dari para pelaku jasa keuangan lokal agar sesuai dengan standar internasional. Dengan begitu, banyaknya para pelaku jasa keuangan asing yang berdatangan ke Indonesia dapat dibendung dengan kehadiran pelaku jasa keuangan lokal yang kompeten. “Di yayasan ini, kita berusaha bagaimana mengupayakan teman-teman di jasa keuangan dapat ditingkatkan kompetensinya,” ujar Tri. Seiring dengan kompetensi yang ada pada setiap pelaku jasa keuangan lokal, maka Tri beserta pengurus yayasan berharap para pelaku jasa keuangan tersebut dapat memberikan pelayanan yang bertanggungjawab kepada nasabah-nasabahnya. Sehingga pada akhirnya industri jasa keuangan Indonesia akan maju karena didorong oleh para pelaku jasa keuangan yang berkualitas dan berkompeten.

Inisiator Berdirinya Yayasan. Pelaku jasa keuangan yang berkualitas dan kompeten, seperti yang diakui Tri, merupakan pelaku jasa keuangan yang memiliki sertifikasi di dunia global. Sehingga mereka tidak hanya diakui di dalam negeri saja, tetapi juga di luar negeri. “Saya menginginkan para pelaku kita dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan para pelaku jasa keuangan asing,” harap Tri. Sejak tahun 2000, Tri memimpin yayasan FPSB ini. Mendirikan yayasan ini pun bukanlah hal yang mudah bagi Tri. Awalnya, keterbatasan modal menjadi faktor penghambat utama yang dihadapi oleh Tri. Beruntung bagi dirinya, ia mampu menggerakkan rekan-rekan bisnisnya untuk membantu mewujudkan yayasan tersebut. “Saya waktu itu sebagai inisiator,” ungkap Tri. Dengan keinginan dan kegigihan Tri beserta rekan-rekannya, mereka akhirnya mampu memperoleh ijin untuk mendirikan FPSB di Indonesia sejak tahun 2000.

Sejak 7 tahun yang lalu itulah, Tri mencanangkan beberapa program yang akan diterapkan di dalam yayasan. Program-program tersebut berupa program pendidikan yang diadakan oleh yayasan beserta 8 universitas di Indonesia. Program pendidikannya sendiri diadakan selama 2 tahun yang kemudian dilanjutkan dengan ujian bagi para anggotanya. “Yang pasti, para pelaku jasa keuangan yang ingin mendapatkan sertifikat CFP (Ceritified Financial Planner-Red) ini harus mengikuti ujian standar internasional,” ujar Tri. Sertifikat yang mereka dapatkan, seperti yang diakui Tri, berlaku secara internasional dan diakui di banyak Negara.

FPSB sendiri dalam proses pendidikan tersebut berperan sebagai fasilitator bagi para anggotanya. “Kami hanya bertugas sebagai jembatan bagi para pelaku jasa keuangan yang ingin mendapatkan sertifikasi berstandar internasional,” tutur Tri. FPSB merupakan suatu bentuk yayasan non profit yang berasal dari Denver, Amerika Serikat yang berhasil digandeng oleh Tri Djoko. Kurikulum pendidikan di Indonesia telah disesuaikan dengan kurikulum di Negara asalnya, AS. Bila sebelum FPSB didirikan di Indonesia, para pelaku jasa keuangan yang ingin mendapatkan gelar CFP harus pergi ke luar negeri, maka dengan kehadiran FPSB Indonesia, mereka tak perlu lagi untuk pergi ke luar negeri dan menghabiskan ratusan juta untuk mendapatkan gelar CFP. Mereka cukup mendaftar pada salah satu universitas dari 8 universitas di seluruh Indonesia, untuk mengikuti program pendidikan perencanaan keuangan. Diakui Tri, para pelaku jasa keuangan tersebut memang harus membayar biaya pendidikan yang diadakan oleh pihak universitas. “Total biaya yang hanya mereka keluarkan berkisar Rp 15-17 juta selama 2 tahun pendidikan,” ungkap ayah dua anak ini. Diakuinya pula, uang tersebut hanya digunakan untuk membiayai pendidikan di universitas dan bukan untuk pihak yayasan. Setelah mengikuti pendidikan selama 2 tahun, para calon pemilik gelar CFP ini diharuskan mengikuti ujian berstandar internasional. Barulah, setelah mereka mampu lulus dari ujian yang diselenggarakan oleh pihak yayasan, mereka berhak mendapatkan glar CFP di belakang nama mereka sendiri.

Dengan adanya FPSB, para pelaku jasa keuangan di Indonesia menjadi dipermudah untuk meningkatkan kompetensi di dunia global. Tri berharap sekitar 300 hingga 350 anggota dapat mengikuti program pendidikan perencanaan keuangan pada tahun ini. Pihak yayasan pun tidak serta merta menerima semua calon anggota yang akan mendaftar. Ada kriteria yang harus dipenuhi oleh para calon anggota tersebut. “Mereka harus lulus sarjana S1, dan mereka telah berkarir di bidang jasa keuangan minimal 3 tahun,” ungkap Tri. Segala macam bentuk program pendidikan dan ujian telah disesuaikan dengan standar internasional. Dengan begitu, lulusan yang telah memiliki gelar CFP tidak akan kalah bersaing dengan lulusan dari luar negeri.

Antara Pekerjaan, Yayasan, dan Keluarga. Tri memang sangat bersemangat ketika menceritakan tentang kegiatannya di FPSB. Bagi dirinya, pemikiran-pemikiran yang dituangkan di dalam yayasan merupakan suatu bentuk jiwa sosial untuk membantu para pelaku jasa keuangan meningkatkan kinerja mereka. Tri sendiri memang kini masih menjabat sebagai wakil presiden direktur Panin Life. “Kalau Senin sampai Jumat, saya mencurahkan waktu untuk Panin,” ujar Tri. “Hari Sabtu, saya ada di kantor ini (kantor FPSB-Red),” lanjutnya. Meski banyak waktu yang ia habiskan untuk pekerjaan dan jiwa sosialnya, tak dinyana Tri juga masih punya banyak waktu untuk keluarga. Diakui Tri, hari Minggu adalah hari yang biasanya dipakai untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Tak heran, ketika Realita mengunjungi kantor yayasan yang diketuainya tersebut, istri dan anak keduanya juga turut membantu aktivitas yayasan. “Sekalian waktu untuk yayasan dan keluarga,” ujar Tri sembari tersenyum lebar.

Karir Tri memang berawal dari dunia asuransi. “Saya dulu memulai karir sebagai agen asuransi door to door,” kenang Tri. Setelah merasakan menjadi pegawai rendahan di jasa asuransi, Tri Djoko juga sempat menjabat salah satu pimpinan di Prudential. Karirnya semakin menanjak hingga kini ia menjadi orang nomor dua di Panin Life. Salah satu cara dirinya untuk mensyukuri apa yang telah didapat adalah dengan menyumbangkan pemikiran-pemikiran di dunia jasa keuangan. Terbukti dengan cukup banyaknya buku yang ia tulis sebagai panduan bagi agen-agen asuransi. Jiwa sosialnya berupa sumbangan pemikiran-pemikiran juga ia ajarkan kepada kedua anaknya, Nada (21) dan Insan (17). Kedua anaknya tersebut kini lebih banyak tinggal di Australia untuk mengenyam pendidikan sarjananya. Nada mengambil studi multimedia di salah satu institut di negeri Kangguru tersebut. Sedangkan Insan mengambil studi Computer Engineering di Melbourne University, salah satu universitas terkemuka di Australia. “Anak lelaki saya, Insan, termasuk anak yang pintar, umurnya 17 tahun sudah masuk kuliah,” ujar Tri dengan bangganya. Ditinggal kedua anaknya untuk mengenyam bangku kuliah, membuat Tri hanya tinggal bersama dengan sang istri. “Seperti bulan madu saja,” ungkap Tri sembari tertawa. Fajar

Side Bar 1

“Saya tidak menerima gaji di sini”

ketulusan hati Tri Djoko Santoso memang terlihat dari banyaknya waktu dan pikiran yang ia curahkan bagi kepentingan yayasan FPSB. Meski Tri mengaku bahwa waktu yang ia berikan kepada yayasan hanyalah waktu di luar jam kerja di perusahaan tempatnya bekerja, Tri mampu mencurahkan cukup banyak waktu dan pikiran bagi yayasan. Bagi Tri, sumbangan waktu dan pikiran lebih bermakna ketimbang materi yang disumbangkan. Menurutnya juga, sumbangan materi dapat habis begitu saja terpakai. Lain halnya dengan pemikiran-pemikiran dan waktu yang dicurahkan untuk menyalurkan jiwa sosialnya di bidang jasa keuangan.

Selain waktu dan pemikiran-pemikiran yang cemerlang dari otaknya, Tri Djoko pun dengan relanya tidak diberi gaji oleh pihak yayasan sebagai tanda bukti keseriusan dari diri Tri Djoko. “Saya tidak menerima gaji di sini,” ungkap Tri. Terbukti bahwa Tri Djoko tidak mengharapkan imbalan dari pihak FPSB sebagai kompensasi bagi dirinya. Karena bagi Tri, kepuasan batin yang ia rasakan pada saat mencurahkan waktu dan pikiran pada FPSB lebih penting ketimbang materi. Wajar jika Tri memang tidak mendapatkan gaji sebagai imbalannya menjabat sebagai ketua FPSB. Karena Tri send

iri bekerja sukarela atas dasar rasa kekhawatiran dari dalam dirinya terhadap berdatangannya pemain-pemain jasa keuangan asing ke Indonesia. Sehingga posisi pemain-pemain lokal cukup terancam. Atas dasar itulah Tri menggandeng pihak luar negeri untuk dapat menyelenggarakan program pendidikan berstandar internasional guna mendapatkan gelar CFP di akhir pendidikan selama 2 tahun. Sebagai seorang eksekutif di Panin Life, Tri Djoko memang layak disebut sebagai filantropis, walaupun kegiatan yang dilakukannya bukanlah membantu masyarakat kurang mampu ataupun anak-anak yatim piatu seperti kebanyakan eksekutif lainnya. Ia hanya menyumbangkan pikiran demi berdirinya FPSB di Indonesia. Dengan begitu Tri Djoko berhasil menjadi inisiator program pendidikan perencanaan keuangan berstandar internasional di Indonesia. Yang pada akhirnya akan membantu para pemain jasa keuangan lokal serta nasabah dunia jasa keuangan Indonesia. “Saya tidak bisa membayangkan jika tidak ada yayasan seperti ini,” papar Tri Djoko. Fajar

Side Bar 2:

Indra Orchidia, Istri Tri Djoko Santoso

Mengikuti Jejak Suami dengan Mendirikan Lestari Nasanda

Ternyata jejak jiwa sosial yang dilakukan oleh sang suami, dapat juga menular kepada istrinya. Terbukti istri dari Tri Djoko sendiri yang mengalami hal tersebut. Belajar dari sang suami yang bergelut dengan yayasan non profit di FPSB, sang istri mengikuti jejaknya dengan mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Lestari Nasanda. Yayasan yang diakuinya sebagai yayasan dalam skala kecil merupakan yayasan yang membantu masyarakat kurang beruntung dan anak-anak yatim piatu.

Sang istri tidak hanya bekerja sendirian. Ia bersama teman-temannya secara rutin menggalang dana guna membantu kesulitan yang dialami oleh kaum papa. Salah satu kegiatan yang kerap diadakan oleh Lestari Nasanda adalah khitanan massal. Khitanan ini diperuntukkan bagi anak-anak yatim piatu yang secara ekonomis tidak dapat membayar biaya khitan. Sehingga dengan adanya kegiatan khitanan massal ini, maka mereka akan sangat terbantu. Khitanan massal tanpa memungut biaya ini seringkali diadakan di daerah-daerah kumuh di sekitar Jakarta.

Dana yang digalang oleh Indra beserta rekan-rekannya berasal dari hasil patungan beberapa pengurus yayasan. Bahkan ia tak segan-segan untuk merogoh kantongnya sendiri hanya untuk membiayai kegiatan operasional yayasan. Kegiatan yang dijalani oleh sang istri ternyata didukung pula oleh Tri Djoko. Sebagai suami, Tri sangat mendukung apa yang dikerjakan oleh sang istri. Sifat pekerja keras yang ditunjukkan oleh Tri Djoko ternyata menjadi teladan bagi sang istri untuk mengikuti jejak sang suami untuk lebih banyak memberi. Yayasan Lestari Nasanda sendiri didirikan sejak tahun 2001 lalu. Yayasan ini merupakan hasil patungan dari Indra beserta rekan-rekannya di yayasan. “Kita sih membantu secara kecil-kecilan,” ujar mantan dosen ini sembari merendah. “Sifat pekerja keras dari Bapak membuat saya kagum kepada dirinya,” lanjutnya. Indra Berharap ke depannya, yayasan Lestari Nasanda dapat berkembang dan semakin maju sehingga jumlah kaum papa yang dibantu akan semakin bertambah jumlahnya. Fajar


Side Bar 3

Tanamkan Jiwa Entrepreuner Kepada Kedua Anaknya


Tak hanya jiwa sosial yang ia ajarkan kepada kedua anaknya saja. Akan tetapi jiwa wirausaha juga Tri tanamkan kepada kedua anaknya, Nada dan Insan. Ada alasan tersendiri mengapa Tri mengajarkan jiwa wirausaha kepada anak-anaknya tersebut. “Lapangan kerja akan semakin berkurang,” ujarnya tegas. Sehingga diakui Tri, di tahun-tahun mendatang jumlah pencari kerja juga akan semakin bertambah. Pada akhirnya, persaingan antara pencari kerja juga semakin ketat. Salah satu solusi untuk mencegahnya adalah dengan menanamkan jiwa wirausaha kepada Nada dan insan.

Dengan begitu, mereka dapat mengembangkan kemampuannya masing-masing dengan mendirikan usaha sendiri. Alhasil, mereka diharapkan dapat menghasilkan uang yang tidak sedikit di kemudian hari. Tak heran, kini Tri Djoko mengirim kedua anaknya untuk mengambil kuliah di luar negeri tepatnya di Australia. Diakui Tri Djoko, pendidikan di Australia diajarkan mengenai kewirausahaan pada semester awal pendidikannya. Sehingga para mahasiswanya diajarkan untuk dapat memulai usahanya sendiri. “Mereka dididik dari awal untuk tidak menjadi seorang karyawan,” tutur Tri Djoko.

Tak hanya itu, ada sesuatu yang berbeda dengan cara Tri Djoko mendidik kedua anaknya. Sedari Sekolah Dasar hingga bangku Sekolah menengah Pertama, kedua anaknya tersebut dimasukkan ke dalam sekolah Islam. “Mereka dimasukkan ke sekolah Islam yang radikal dari SD sampai SMP,” aku Tri. Sedangkan sejak SMU hingga bangku kuliah, Tri Djoko memasukkan kedua anaknya ke dalam sekolah umum. Dengan begitu, kedua anaknya mendapatkan pendidikan Islam yang paling mendasar ketika mereka beranjak dewasa. Setelah itu, mereka juga diajarkan pengetahuan umum di sekolah-sekolah biasa. “Saya kirim mereka ke luar negeri supaya mereka dapat mengenal dunia luar, sehingga mereka menjadi sosok muslim yang moderat,” tutur Tri Djoko. Keputusan tersebut diambil berdasarkan pengalaman pribadi dari Tri Djoko sendiri yang memang berasal dari pasangan orang tua yang beda agama. Bahkan Tri Djoko sendiri sempat merasakan pendidikan di Sekolah katholik, padahal ia sendiri beragama islam. Oleh karena itu, ia menginginkan agar kedua anaknya menjadi muslim dan muslimah moderat yang memiliki banyak pengetahuan umum dari luar. Fajar



Palgunadi T. Setiawan, Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol

Merasa Bahagia Saat Memberi

Di usianya yang sudah menginjak 67 tahun, ternyata tidak membuat Palgunadi Setiawan berhenti berkarya. Sebaliknya, ia masih saja melakukan aktivitas yang diakuinya bermanfaat bagi orang banyak. Bersama dengan mantan rekan-rekannya di Astra, yakni TP Rahmat dan Benny Subianto, ia turut berperan mendirikan Yayasan Parasahabat, yayasan yang memberikan modal kerja tanpa agunan bagi ratusan ribu pengusaha kecil.

Hari Minggu (7/1) pagi itu, langit Jakarta terlihat lebih cerah dibandingkan hari biasanya. Sepanjang jalan di Jakarta pun terlihat lengang. Wajar memang, mengingat hari itu adalah hari libur bagi sebagian besar karyawan di Jakarta. Jalan Jakarta sepi. Meski begitu, bagi Palgunadi Setiawan, hari minggu merupakan hari yang penuh dengan aktivitas. Bahkan, sepanjang hari Minggu itu, ia memiliki jadwal cukup padat. Akan tetapi, pria yang biasa dipanggil Atit ini justru menyempatkan diri untuk berbincang dengan Realita.
Bertempat di apartemennya di daerah Kebayoran, Palgunadi terlihat ramah ketika ditemui. Dengan senyum tersungging di bibirnya, ia mempersilahkan Realita masuk ke apartemennya yang berada di lantai 7 tersebut. Aroma kekeluargaan begitu terasa ketika masuk ke dalam ruangan apertemen Palgunadi Setiawan. Di salah satu sudut ruangannya terlihat beberapa kursi dan meja kecil yang berwarna-warni milik cucunya. Selain itu, beberapa foto Palgunadi beserta cucu-cucunya juga terpajang di salah satu meja di dalam ruangan. Waktu memang masih menunjukkan pukul 07.35 pagi. Meskipun begitu, Palgunadi justru telah siap dengan pakaian kemeja putihnya dengan dihiasi dasi di lehernya. Walaupun telah menginjak usia 67 tahun, Palgunadi tampak masih sehat dan segar di masa tuanya tersebut. Bahkan sebagian besar helai rambutnya yang telah memutih tidak menjadi halangan bagi dirinya untuk menceritakan tentang kegiatan sosial yang kini tengah dijalaninya.
Sembari melahap menu sarapan paginya, Palgunadi juga terlihat bersemangat untuk menceritakan deretan kegiatan sosial yang sedang dijalaninya saat ini. Berbagai bentuk pil dan tablet pun terlihat berada di atas meja makan di antara menu sarapan pada hari Minggu itu. Palgunadi pun nampak menelan salah satu pil berwarna oranye tersebut. Entah kegunaannya untuk mengobati apa, tapi Palgunadi memang disiplin untuk meminum berbagai macam obat-obatan demi kesehatannya di masa tua saat ini.
“Filantrop itu sebenarnya merupakan hal yang sangat wajar,” ujarnya memulai pembicaraan. “Semua yang saya lakukan ini hanyalah bagian dari menemukan diri saja,” lanjut Palgunadi. Bagi Palgunadi, sebagai seorang manusia sudah merupakan suatu kewajiban untuk melakukan kegiatan amal demi kepentingan orang banyak. Sehingga seperti yang diakuinya pula, tidak ada yang istimewa jika seseorang berkecimpung di dalam kegiatan sosial karena di dalam ajaran agama pun telah diajarkan untuk selalu menyisihkan sebagian harta sebesar 2,5 % untuk disumbangkan bagi kaum yang kurang beruntung.
Oleh karena itu, Palgunadi berusaha untuk mengorganisir jiwa sosialnya beserta TP Rahmat dan Benny Subianto di dalam suatu organisasi yang diberi nama Yayasan Parasahabat. “Kami hanya berusaha untuk mengorganisir setiap jiwa sosial yang ada untuk membantu kepentingan orang banyak,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai dosen ini.
Meniru Metode Grameen M.Yunus. Yayasan Parasahabat didirikan oleh Palgunadi Setiawan beserta kedua rekannya sesama pensiunan Astra, yakni TP Rahmat dan Benny Subianto pada 21 April 1999. dengan modal awal sebesar US$ 30 ribu, ketiga eksekutif ini pun membentuk Yayasan Parasahabat. Ketiganya memiliki visi dan misi yang sama dalam mendirikan sebuah yayasan untuk membantu kalangan yang kurang beruntung. Meski begitu, mereka juga tidak menginginkan sumbangan tersebut diberikan tanpa adanya usaha dari si penerima sumbangan. Oleh karena itu, Palgunadi pun meniru sistem dari Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006 yang berasal dari Bangladesh. Yunus yang merupakan pendiri Grameen Bank memiliki sistem kredit lunak yang diberikan kepada warga miskin, khususnya wanita tanpa agunan, sehingga mereka dapat memulai bisnis mereka sendiri.
Bahkan Palgunadi menyempatkan diri untuk belajar di Bangladesh selama 6 bulan hanya untuk mempelajari tentang metode Grameen. “Saya mengadopsi metode Grameen yang diterapkan oleh Muhammad Yunus,” aku Palgunadi. Dengan mengacu pada kesuksesan Muhammad Yunus dalam memberikan modal kerja bagi warga miskin tanpa agunan, Palgunadi juga berkeinginan untuk menerapkan langkah yang sama agar dapat membantu warga kurang beruntung memulai bisnisnya sendiri. Sehingga pada akhirnya akan mampu mengembangkan ekonomi mereka sendiri.
Hingga kini, telah banyak penerima modal kerja yang diberikan oleh Yayasan Parasahabat. “Total customer yang pernah menjadi penerima modal Yayasan Parasahabat sekitar 200 ribu orang,” aku Palgunadi. “Tapi, kalau sekarang ini jumlah customer-nya sebesar 100 ribu orang penerima,” imbuhnya. Diakuinya pula, uang yang sampai saat ini telah disalurkan oleh pihak yayasan sekitar Rp 200 milyar. Masing-masing penerima modal kerja mendapatkan sejumlah uang yang berbeda-beda, tergantung dari bisnis yang akan mereka jalani dengan modal tersebut. Ada beberapa program yang dicanangkan oleh Palgunadi beserta rekan-rekannya di Parasahabat, diantaranya adalah Pelayanan Kredit Mingguan (PKM) dan Pelayanan Modal Bulanan (PKB). Keduanya merupakan replika dari metode Grameen yang diciptakan oleh Muhammad Yunus, sang penerima nobel perdamaian.
Selain kedua program tersebut, masih ada beberapa program lainnya yang diakui Palgunadi sebagai metode Grameen modifikasi, yakni Kreator (Kredit Agunan Motor), dan Kreasi (Kredit Agunan Sertifikat Tanah atau Rumah). Kedua metode Grameen modifikasi tersebut merupakan program yang berada di bawah Sahabat Finance, yaitu program multifinance yang ada di bawah Yayasan Parasahabat. “Kami berfokus kepada kemudahan pelayanan pemberian kredit,” ujar Palgunadi. Untuk seluruh program yang dijalani oleh pihak yayasan, diakui Palgunadi, diterapkan subsidi silang. Dengan begitu, kalangan ibu-ibu yang berasal dari kalangan kurang mampu akan terbantu melalui nisbah yang dihasilkan dari program multifinance. “Kalau untuk Sahabat Finance itu untuk siapa saja,” aku Palgunadi.
Pembagian Nisbah 70:30. Selain Multifinance, Parasahabat juga memiliki 5 BPR (Bank Perkreditan Rakyat) yang berada di bawah yayasan. Ke depannya, Palgunadi berencana untuk menambah jumlah BPR hingga mencapai 20 cabang, karena menurutnya jumlah tersebut sudah sesuai untuk memfasilitasi rakyat miskin dalam memperoleh modal kerja. Berbeda dengan yayasan yang tentunya tidak berorientasi laba, kelima BPR ini justru sebaliknya. Kelima BPR tersebut dituntut untuk menghasilkan laba yang pada akhirnya akan membantu berjalannya proses dari operasional Yayasan.
Untuk pemberian modal kepada ibu-ibu kurang mampu, Palgunadi selaku ketua yayasan mewajibkan kepada mereka untuk selalu dapat mengembalikan pinjaman modal yang telah diberikan. Meskipun begitu, pengembalian pinjaman tersebut diambil dari keuntungan yang mereka dapatkan. “Jadi dari setiap keuntungan yang mereka dapatkan, mereka mendapatkan 70% sedangkan sisanya harus diberikan untuk pihak yayasan sebagai salah satu cara dalam pengembalian modal yang telah diberikan,” tutur Palgunadi.
Pengembalian sebesar 30% dari para penerima modal kerja tersebut, seperti diakui oleh Palgunadi, juga akan digunakan untuk membiayai proses operasional yayasan yang memiliki 900 pegawai. Meskipun begitu, pelayanan pemberian kredit dari Parasahabat ini merupakan pemberian modal kerja tanpa agunan sehingga sangat ringan bagi kalangan kurang mampu untuk memulai usahanya sendiri.
Pada awal pendirian yayasan, Palgunadi mengakui memang dibutuhkan modal yang cukup besar. Akan tetapi, Palgunadi menganggap bahwa selain sejumlah uang yang memang dibutuhkan untuk mendirikan yayasan, ada modal lain yang tidak kalah pentingnya. “Ada modal lain yang cukup penting, yakni kepercayaan,” ujar Palgunadi. Dengan adanya kepercayaan tersebut, tak heran ketiga mantan eksekutif PT Astra International Tbk. ini mampu mendirikan yayasan Parasahabat. Selain itu, keberadaan Parasahabat sendiri ternyata dilirik oleh lembaga asing. “Kita juga bekerjasama dengan IFC (International Finance Corporation-red) di dalam yayasan,” aku Palgunadi. Dengan adanya kerjasama itulah, terbukti bahwa modal kepercayaan sangatlah berarti bagi Parasahabat.
Meski disibukkan dengan karirnya di beberapa perusahaan dan kegiatan sosial di yayasan, ternyata Palgunadi merupakan seorang sosok family man. Ia berusaha untuk selalu meluangkan waktunya agar bisa bercengkerama dengan anak dan kelima cucunya. Palgunadi sendiri memiliki dua anak dari hasil perkawinannya dengan Hetty Semiati Soemantri (66), yakni Nanda Arazi (34) dan Eva Savitri (30). Dari anak pertama, Palgunadi mendapatkan 3 cucu, sedangkan dari anak keduanya, Eva, ia dianugerahi 2 cucu. “Sepertinya sih mau tambah satu cucu lagi,” ujar Palgunadi sembari tersenyum.
Saat ini, anak pertamanya, Nanda tinggal di Jakarta bersama istri dan ketiga anaknya. Nanda sendiri kini tengah menyelesaikan kuliah S1-yang sempat tertunda akibat karir yang ditekuninya-di salah satu universitas swasta di Jakarta. Sedangkan Eva, anak kedua Palgunadi tinggal di Bandung bersama suami dan kedua anaknya. Eva sendiri pindah ke Bandung karena mengikuti sang suami yang merupakan salah satu santri Daarut Tauhid-pesantren pimpinan Aa Gym. Di sela-sela kesibukannya, Palgunadi bahkan menyempatkan diri untuk bertemu anak dan menantunya serta cucu-cucunya di salah satu mal di daerah Jakarta Selatan. Realita pun menyaksikan sendiri bagaimana ia berkumpul bersama dengan keluarga besarnya tersebut. Kebahagiaan memang sangat terasa ketika keluarga besar ini berkumpul. Akan tetapi, kebahagiaan Palgunadi bertambah ketika ia melakukan sesuatu untuk orang banyak. “Kebahagiaan itu terasa ketika kita sedang memberi,” ujar Palgunadi. Fajar

Side Bar 1: Hetty Semiati Soemantri (Istri Palgunadi) “Bapak sering modali pedagang minuman pinggir jalan”

Palgunadi memang getol berkecimpung dalam berbagai kegiatan sosial. Selain memang ikut serta dalam Yayasan Parasahabat, ia juga kerap mengeluarkan kocek pribadinya untuk membantu kalangan yang kurang beruntung. Hal ini diakui oleh sang istri, Hetty Semiati Soemantri. “Walaupun Bapak sudah tidak di Astra lagi, tapi Bapak justru sibuk menggeluti kegiatan sosial,” ungkap wanita berkerudung ini. Sebagai seorang istri pun, Hetty turut mendukung dengan apa yang dilakukan oleh suami tercintanya tersebut. Bahkan setiap kali kegiatan sosial yang harus diikuti oleh Palgunadi, Hetty hampir selalu ikut serta dengan sang suami.
Meski sibuk dengan jiwa sosialnya, Palgunadi masih menyempatkan waktunya untuk berkumpul dengan keluarga, terutama cucu-cucunya yang berjumlah 5 orang. Terbukti, ketika Realita ikut serta dalam kegiatan Palgunadi pada Minggu (7/1) yang lalu, ia bersama sang istri di sela-sela kesibukannya dapat menyempatkan untuk bertemu dengan ketiga cucunya yang tinggal di Jakarta. Bahkan Palgunadi dapat meluangkan waktu yang cukup lama di sebuah mal di daerah Jakarta Selatan hanya untuk berkumpul bersama anak, menantu dan ketiga cucunya. Mereka berkumpul di salah satu kafe yang ada di mal tersebut, sembari menyantap makanan dan minuman yang disediakan di kafe itu. Kedekatan hubungan antara Palgunadi dengan keluarga juga tergambar jelas di hari libur itu. Satu persatu cucu dari anak pertama Palgunadi, dipeluknya dengan erat. Rasa kasih sayang pun tergambarkan dari setiap perilaku Palgunadi terhadap cucu-cucunya tersebut.
Sosok Palgunadi di mata sang istri ternyata memiliki kepribadian yang cukup menarik. “Bapak itu orangnya sabar dan jarang sekali marah,” aku Hetty. Seperti yang diakuinya pula, Palgunadi memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Bahkan pernah suatu saat, Palgunadi memberikan modal kerja kepada pedagang minuman yang biasa berjualan di pinggir jalan. “Bapak sering kasih modal ke pedagang-pedagang minuman yang ada di pinggir jalan,” kenang Hetty. Bahkan Hetty mengaku bahwa Palgunadi kerapkali mendapatkan tawaran untuk memberikan sumbangan kepada beberapa organisasi, seperti pesantren ataupun panti asuhan. Meskipun begitu, Hetty tidak serta merta langsung memberikan dukungan terhadap sang suami dalam memberikan sumbangan kepada pemohon sumbangan. “Kita sih meneliti dulu kebenaran sumbangan yang akan diberikan, apakah benar-benar digunakan untuk kegiatan sosial atau tidak,” tutur wanita asli Cirebon ini. Dengan begitu, sumbangan yang diberikan merupakan hasil pertimbangan yang cukup matang sehingga sumbangan tersebut tidak salah sasaran. Fajar

Side Bar 2:
Belajar dari Mangkuk Milik Biksu

Tak dinyana, jiwa sosial yang dimiliki oleh Palgunadi Setiawan merupakan hasil pembelajaran dari aktivitas biksu yang selalu memegang mangkuk di tempat peribadatan mereka. Tak hanya itu, para biksu ini juga selalu berkeliling di antara warga agar mangkuk mereka dapat terisi dengan sumbangan yang diberikan oleh warga. “Mereka bukanlah peminta-minta,” kilah Palgunadi. “Mereka justru hendak mengisi mangkuk yang mereka pegang dengan berbagai materi, dan kemudian diberikan lagi kepada orang-orang yang kurang mampu,” tutur pria yang pernah menunaikan ibadah haji pada tahun 1991 ini.
Atas dasar filosofi mangkuk si biksu itulah, Palgunadi belajar untuk selalu memberikan sebagian materi dari ‘mangkuk’ pendapatannya untuk kalangan kurang mampu. “Mangkuk saya selalu terisi, hingga pada saatnya akan dikeluarkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan,” ujar Palgunadi. “Sehingga materi yang mengisi akan sebanding dengan materi yang keluar untuk disisihkan bagi kegiatan sosial,” lanjutnya. Diakuinya pula, ia dapat menghidupi keluarganya dari isi yang ada di dalam mangkuk tersebut. Sehingga peran mangkuk itu sangatlah bermakna.
Palgunadi sendiri mendapatkan pelajaran tentang mangkuk milik biksu setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia melihat salah satu temannya yang telah menjadi biksu dan selalu membawa mangkuk di tangannya untuk mendapatkan sumbangan dari warga sekitar. Temannya tersebut sempat menderita penyakit kanker sebelum akhirnya sembuh kembali setelah disembuhkan oleh biksu. “Sebagai tanda terimakasihnya, dia minta cuti dari kantor saya untuk kembali ke biara itu dan mengabdikan diri menjadi biksu selama 3 bulan,” tutur Palgunadi.
Setelah sembuh itulah, kini ia menjadi biksu. Temannya tersebut bertugas untuk berkeliling menyampaikan berkah kepada orang-orang sekitar dengan membawa sebuah mangkuk. “Dia hanya boleh makan dari isi mangkuk tersebut,” kenang Palgunadi. Seperti yang diakuinya pula, temannya itu juga boleh memberikan isi dari mangkuk tersebut kepada orang lain yang kurang mampu. Pengalaman salah satu teman Palgunadi itulah yang kini mengajarkan pada diri Palgunadi untuk selalu membagi kebahagiaan melalui ‘mangkuk’ miliknya. Ternyata, isi mangkuk tersebut tidak hanya untuk menghidupi si biksu tersebut, melainkan untuk diberikan kepada warga yang kurang mampu. “Saya hanya berusaha untuk berbagi dari isi mangkuk saya,” ujar Palgunadi sembari menutup pembicaraan. Fajar

Side Bar 3: Lukito (Anak Asuh Palgunadi) Dibiayai Sekolah dan Diberi Kesempatan Bekerja

Sekitar 15 tahun yang lalu di Semarang, Lukito bertemu dengan Palgunadi. Kala itu, Lukito masih menjadi anak putus sekolah yang juga bekerja sebagai penjual Koran. “Waktu dulu saya bandel sekali,” kenang Lukito. Tiba-tiba, harapan dan kesempatan datang bersama sosok Palgunadi. Lukito secara tidak sengaja bertemu dengan Palgunadi di restoran Soto Bangkong, Semarang. Perubahan pun terjadi ketika Palgunadi mengajaknya untuk mengenyam pendidikan kembali. Sejak itulah, Lukito, menjadi salah satu bukti jiwa sosial Palgunadi.
Semenjak Lukito masih duduk di bangku kelas 6 SD, Palgunadi secara rutin membiayai segala macam keperluannya, baik keperluan sekolah maupun keperluan sehari-hari. “Sejak kelas 6 SD sampai sekarang saya dibiayai Pak Pal (Palgunadi-Red),” aku Lukito. Ia memang merupakan anak asuh yang telah dibiayai oleh Palgunadi. Sejak kecil, hubungan antara Lukito dan Palgunadi pun mulai dekat. Terlebih lagi, pada saat ia tinggal bersama dengan Palgunadi. “Saya sudah menganggap Pak Pal sebagai ayah saya sendiri,” ujar Lukito.
Kini, Lukito sendiri tengah mengenyam bangku kuliah S1 di salah satu universitas swasta di daerah Jakarta. Sebelumnya, ia telah menyelesaikan studi diplomanya di kampus yang sama. Motivasi dari Palgunadi pun menjadi salah satu dorongan tersendiri bagi Lukito untuk melanjutkan kuliahnya. “Waktu pertama kali masuk kuliah, biayanya juga di tanggung oleh bapak,” ujar pria asli Semarang ini. “Bapak selalu memberikan kesempatan,” lanjutnya. Selain diberikan kesempatan untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S1, Lukito juga diberikan kesempatan untuk berkarir di salah satu perusahaan Palgunadi. Perusahaan yang bernama Gati Mandiri tersebut berpusat di kota Bandung dan merupakan salah satu perusahaan pribadi Palgunadi. “Saya diminta Bapak untuk bantu-bantu perusahaannya itu,” ujar Lukito. Berkat jiwa sosial yang dimiliki oleh Palgunadi, pria berusia 28 tahun ini mampu berubah dari anak yang berjualan Koran di jalanan menjadi pria yang kini dapat mengenyam bangku kuliah. Tak heran bila kini Lukito sangat berterimakasih dengan apa yang telah dilakukan oleh Palgunadi. Fajar