Friday, February 12, 2010

Yan Partawijaya, Division Head Corporate Communications and Public Relations Grup Sinarmas

Alokasikan Dana Pribadi Rp 10 Juta per Bulan untuk Amal

Mengawali karir sebagai penyiar TVRI di era tahun 1980-an dan kini menduduki salah satu jabatan penting di grup perusahaan besar, ternyata tak membuat pria berusia 50 tahun ini melupakan kewajibannya untuk menyisihkan sebagian pendapatannya bagi kalangan kurang mampu. Terbukti, Yan Partawijaya memiliki 3 panti asuhan beserta pesantren yang secara rutin selalu disumbangnya. Diakuinya, ia memang tengah fokus beramal sebagai persiapan menuju kehidupan akhirat.

Pada hari kedua di tahun 2007 itu, Bursa Efek Jakarta (BEJ) kembali menggeliat. Pembukaan pasar saham pun diresmikan oleh SBY. Adalah Yan Partawijaya, salah satu direktur Sinarmas yang turut menghadiri pembukaan tersebut. Sebagai salah seorang eksekutif di salah satu perusahaan yang terdaftar di bursa, sudah sepantasnyalah Yan Partawijaya menghadiri acara pembukaan transaksi di BEJ itu. Pria setengah baya itu memang tampak berada di antara para direktur yang berada di ruang utama BEJ. Hal tersebut memang menjadi salah satu bagian pekerjaan Yan

Partawijaya. Sejak tahun 2000, Yan memang bergabung dengan Sinarmas sebagai Division Head Corporate Communications & Public Relations Sinarmas. Sejak itu pula, Yan bertanggungjawab dalam segala hal mengenai kegiatan humas Sinarmas.

Setelah menghadiri pembukaan pasar saham di BEJ, suami dari Heruma Wiyarti ini kemudian kembali ke kentornya yang berada di daerah Thamrin. Selasa (2/1) siang itu, Yan terlihat ramah menyambut kedatangan Realita yang memang sengaja datang untuk sekadar mengetahui kegiatan filantropis yang telah ia kerjakan. Dengan akrabnya, mantan penyiar radio ini mempersilahkan Realita ke dalam ruangannya yang berada di ujung lorong kantor Sinarmas tersebut. Di ruangan kerjanya yang cukup luas itulah Yan menceritakan mengenai berbagai kegiatan sosial yang sedang dan telah ia lakukan. “Kegiatan sosial saya sebenarnya biasa saja,” ujarnya sembari merendah. Meski sudah menginjak usia 54 tahun, Yan tampak terlihat awet muda. Pria yang sempat wara-wiri di layar kaca beberapa tahun lalu ini terlihat sehat dan masih lantang menceritakan mengenai berbagai kegiatan dirinya setelah tidak lagi menjadi pembawa acara Dunia Dalam Berita di TVRI.

Karir Yan Partawijaya memang terbilang cukup sukses. Pria yang sempat terkenal dengan suara dan kumisnya yang khas ini mengawali karir sebagai seorang penyiar di radio swasta Suara Kejayaan (SK) Jakarta dan merangkap menjadi Kepala Siaran di radio yang dimiliki oleh sang ayah tersebut. Sejak itulah, Yan sudah tidak asing lagi dengan dunia penyiaran. Suaranya sudah akrab dengan para pendengar radio SK. Hampir setiap hari, suara khas Yan menyapa para pendengar radio SK. Kala itu, Yan masih berumur sangat muda. Meskipun begitu, Yan tetap bersemangat untuk menggeluti dunia siaran yang bagi dirinya merupakan dunia yang sangat menarik. “Waktu itu, saya sempat berpikir kalau siaran di radio kan mukanya nggak kelihatan. Makanya saya memutuskan untuk mencoba siaran di TVRI,” kenang pria beranak dua ini. Keputusannya pun terbilang tepat. Sosok Yan Partawijaya kemudian menjadi familiar di masyarakat setelah ia menekuni pekerjaan sebagai pembawa berita di TVRI. Wajahnya selalu menghiasi layar kaca hampir setiap malam. Suaranya yang khas terdengar lantang membawakan setiap berita pada stasiun televisi pertama di Indonesia tersebut.

Aktif di Eka Tjipta Foundation. Perjalanan karir Yan semakin merangkak naik seiring tawaran yang berdatangan kepada dirinya. Ia sempat menjabat beberapa jabatan penting di Bank Duta (kini merger menjadi Bank Danamon-Red), di antaranya adalah Kepala Urusan Promosi dan Hubungan Masyarakat Bank Duta, serta Pemimpin Bank Duta cabang Hotel Indonesia. “Setelah saya cukup lama berkarir di perbankan, barulah saya ditawari untuk masuk ke Sinarmas,” ungkap Yan. Di perusahaan milik Eka Tjipta inilah, Yan Partawijaya berkarir dan mendapatkan pengalaman yang cukup berharga. Karena melalui Sinarmas, Yan dapat menyalurkan aktivitas sosialnya. Berkat kehadiran Eka Tjipta Foundation, Yan dapat menyalurkan jiwa sosialnya dan dapat membantu masyarakat yang kurang mampu ataupun terkena bencana. Meski yayasan tersebut bukanlah milik Yan seorang, ia tetap saja mampu membantu masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan pertolongan. “Saya hanya sebagai anggota pengurus di Eka Tjipta Foundation,” aku Yan. Melalui yayasan itu pula, ia dapat menyumbangkan pemikiran-pemikiran bagi kegiatan yayasan.

Kerja nyata Yan Partawijaya di Eka Tjipta Foundation terlihat dari keterlibatannya pada setiap kegiatan sosial yayasan. “Beberapa waktu lalu, saya juga ikut serta pada saat Eka Tjipta Foundation memberikan bantuan kepada korban gempa Yogyakarta,” aku Yan. Di kota yang sempat terkena gempa tersebut Yan bersama pihak yayasan memberikan bantuan bagi pembangunan sekolah yang hancur akibat gempa. Selain karena memang mengemban tugas sebagai salah satu eksekutif di Sinarmas, Yan sendiri memang memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi.

Miliki 3 Pesantren Sekaligus. Selain ikut berkecimpung di dalam organisasi Eka Tjipta Foundation, Yan Partawijaya juga seringkali melakukan kegiatan sosial yang berasal dari kocek pribadinya. “Saya kini memiliki 2 pesantren yang berada di Sukabumi,” ujar Yan. Dua pesantren tersebut adalah Pesantren Unwanul Falah dan Pesantren Nurul Ikhlas. “Kalau Nurul Ikhlas itu baru berdiri dan pengurusnya meminta bantuan untuk didirikan sebuah bangunan panti asuhan,” lanjutnya. Keduanya secara rutin menjadi sasaran sumbangan dari kocek pribadi Yan. Bahkan, ia sendiri mengaku bahwa ada sejumlah dana khusus yang sengaja dialokasikan untuk berbagai kegiatan sosial yang sering ia lakukan. “Saya mengalokasikan dana sebesar Rp 10 juta per bulan untuk beramal,” aku Yan. Sejumlah alokasi dana tersebut termasuk jumlah biaya yang disumbangkan kepada 3 pesantren yang secara rutin ia berikan sumbangan. Selain Unwanul Falah dan Nurul Ikhlas, Yan memang memiliki satu pesantren sekaligus panti asuhan di daerah Kuningan, Jawa Barat. Panti asuhan yang diberi nama Nurul Iman tersebut juga tak luput menjadi sasaran sumbangan Yan sebagai salah satu bekal menuju kehidupan akherat yang labih baik.

Bangunan panti asuhan Nurul Ikhlas sendiri dibangun berkat adanya dana yang berasal dari Yan bersama dengan rekan-rekannya. “Waktu itu kita kumpulin dana sumbangan untuk membangun panti asuhan Nurul Ikhlas, akhirnya terkumpul uang Rp 55 juta,” tutur Yan. Setelah bangunan pesantren beserta panti asuhannya berhasil dibangun, Yan pun memutuskan untuk menjadi penyumbang yang rutin memberikan sumbangan dana bagi dua panti asuhan tersebut. “Tapi saya juga bilang kepada pengurusnya, agar tidak terlalu tergantung kepada saya,” ujar Yan. Meski begitu, ia tetap rutin memberikan sumbangan bagi 3 pesantren di Sukabumi dan Kuningan, Jawa Barat.

Untuk masing-masing pesantren dan panti asuhan tersebut, Yan mengaku sumbangan yang diberikannya memang tidaklah besar. “Saya hanya memberikan dana sumbangan sebesar Rp 1 juta per bulan per pesantren,” aku Yan. Sehingga total dana yang dikeluarkan untuk membantu ketiga pesantren itu adalah sebesar Rp 3 juta. Sedangkan sisa dari alokasi dana kegiatan sosial dari kocek pribadinya, biasanya digunakan untuk kegiatan sumbangan yang bersifat insidental. “Seperti Idul Adha kemarin, saya juga menyumbangkan dana untuk kurban ke beberapa tempat,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini. Sumbangan yang diberikan oleh Yan bagi 3 pesantren, dimulainya sejak pertengahan tahun 2002. kala itu, ada salah seorang pengurus pesantren di daerah Sukabumi yang meminta bantuan kepadanya. “Waktu itu mereka minta bantuan dana untuk membantu siswa-siswanya,” ungkap Yan. Hati Yan pun tersentuh dan secara sukarela ia memutuskan untuk memberikan bantuan dana bagi 3 pesantren tersebut secara rutin. Hingga saat ini, bantuan tersebut telah berjalan sekitar 4 tahun. Yan mengaku bahwa dari segi jumlah dana yang diberikannnya kepada 3 pesantren tersebut memang terbilang cukup kecil. Meskipun begitu, jumlah dana yang secara rutin ia kirimkan untuk keperluan pesantren cukup membantu kegiatan operasional pesantren.

Hasil Didikan Orang Tua. Jiwa sosial yang dimiliki Yan Partawijaya memang tak lain adalah berasal dari didikan orangtuanya. “Ayah dan Ibu saya memang mengajarkan jiwa sosial kepada anak-anaknya,” kenang Yan. Tak heran, Yan memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi untuk membantu antar sesama. Didikan sosial yang ditanamkan oleh kedua orangtua Yan terlihat ketika ia masih kanak-kanak. “Waktu itu Lebaran, kita dikasih uang Rp 1000-an lumayan banyak, dan kita disuruh membagi-bagikan uangnya kepada anak-anak kurang mampu,” kenang pria berkacamata ini. Kebiasaan tersebut selalu dilakukan rutin setiap hari Lebaran. Bahkan Yan mengaku, setiap kali Idul Adha, keluarganya selalu memotong hewan kurban sebagai salah satu kewajiban umat Islam. “Waktu masih sekolah, saya selalu membawa cokelat ke sekolah lalu dibagi-bagikan,” kenang Yan. Didikan sang ayah yang merupakan seorang tentara memang mengajarkan Yan mengenai didikan keras yang disiplin. Tak pelak, Yan terbiasa dengan kehidupan disiplin yang ditanamkan oleh sang ayah yang kala itu berpangkat Kolonel. Selain itu, di masa kecilnya Yan juga kerap membantu ibunda tercinta untuk berjualan kain batik. “Waktu saya kecil, ibu saya kan berjualan kain batik,” ungkap Yan.

Dengan bekal didikan kedua orangtuanya, Yan pun mendidik kedua anaknya dengan didikan yang hampir sama. Ia selalu menanamkan jiwa sosial kepada kedua anaknya. Pernikahan Yan Partawijaya dengan sang isteri, RA Heruma Wiyarti (49) dianugerahi dua putera, yakni RM Arya Wirayodha (22) dan RM Arya Narendra Wijaya (17). Anak pertamanya kini sedang mengenyam bangku kuliah di Asia University, Tokyo, Jepang. Wirayodha mengambil Ilmu Budaya Jepang sebagai jurusan studinya. Sedangkan anak keduanya, yang memiliki keterbatasan fisik (tunarungu dan lumpuh), masih diberikan pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan fisiknya. Meskipun begitu, keduanya menjadi faktor motivasi yang sangat kuat bagi Yan Partawijaya untuk berkarir dan melakukan kegiatan sosial di masyarakat. Persiapan untuk menuju kehidupan akhirat juga tergambarkan dari kegiatan sosial yang ia lakukan. Fajar

Side Bar 1:

Dirikan Musholla Bagi Korban Gempa Yogyakarta

Berkunjung ke daerah bencana memang sempat ia lakukan untuk membantu para korban bencana. Salah satunya adalah berkunjung ke daerah gempa di Yogyakarta. Di kota pelajar itulah, Yan sempat merasakan kesedihan yang cukup mendalam pada saat ia melihat kondisi para korban gempa. “Hati saya sedih melihat kondisi para korban gempa di Yogya,” kenang Yan. Kala itu, kondisi para korban gempa yang cukup memperihatinkan telah membuat hatinya miris. Tak pelak, Yan pun langsung memberikan bantuan kepada para korban.

Pada saat itu, Yan bersama para pengurus Eka Tjipta Foundation memang ditugaskan untuk memberikan bantuan serta membantu mendirikan bangunan sekolah yang sempat hancur akibat gempa. “Waktu itu, Eka Tjipta Foundation memang membantu memperbaiki bangunan sekolah yang hancur,” tutur Yan. “Tapi yayasan hanya membantu bangunan sekolahnya saja, sedangkan saya melihat ada bangunan musholla yang juga hancur akibat gempa,” lanjutnya. Tanpa berpikir panjang, Yan pun langsung memberikan bantuan kepada warga sekitar untuk segera memperbaiki bangunan musholla tersebut. “Saya juga mengajak rekan-rekan saya untuk menyumbangkan dana untuk membangun musholla,” aku Yan. Dana sebesar Rp 21 juta yang dibutuhkan untuk membangun musholla kembali, memang langsung diberikan kepada masyarakat sekitar. Dana tersebut berasal dari gabungan dana kocek pribadi Yan bersama rekan-rekan lainnya.

Mengunjungi korban gempa Yogya hanyalah salah satu kegiatan sosial yang dilakukan Yan. Ada beberapa kegiatan sosial yang bersifat insidentil lainnya yang kerap ia lakukan. Bahkan Yan memiliki rencana untuk membangun sebuah yayasan pribadi yang juga merupakan salah satu pesan dari orangtua dan keluarga besarnya. Dengan begitu, ia berharap jiwa sosial yang ia miliki dapat tersalurkan dengan baik. Fajar

Side Bar 2:

Bersama Alumni FE UI, Yan Membantu Mahasiswa Kurang Mampu

Tak hanya tergerak pada saat melihat anak-anak yatim piatu dan korban bencana, ternyata Yan juga kerap membantu di dalam dunia pendidikan. Ia bersama rekan-rekannya sesama alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mencanangkan suatu program beasiswa yang membantu para mahasiswa kurang mampu. “Saya bersama Arwin Rasyid (Dirut Telkom-red) bersama-sama menggalang dana untuk membantu mahasiswa FE UI,” aku Yan.

Dengan menjabat wakil ketua alumni FE UI, Yan bersama Arwin Rasyid pun mampu mengumpulkan dana yang cukup besar. “Kami sudah mengumpulkan dana sebesar Rp 3 milyar,” aku Yan. “Bunga dari Rp 3 milyar itulah yang dipakai untuk membantu para mahasiswa kurang mampu,” imbuhnya. Selain itu, ia juga kerap menggalang dana dan mengkoordinir para alumni FE UI yang tersebar di berbagai daerah dan berbagai perusahaan. “Kita sih mengajak para alumni yang sudah sukses untuk membantu adik-adik mahasiswanya,” harap Yan. Selama ini, puluhan mahasiswa telah dibantu oleh ikatan alumni tersebut.

Sebagai salah satu lulusan FE UI, Yan Partawijaya memang bertanggungjawab dalam membantu adik-adik mahasiswanya di kampus. Tak heran, ia dengan sukarela ikut terjun ke organisasi Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (Iluni-FE). Keikutsertaan Yan memang tidak lain adalah berlatarbelakang jiwa sosial yang ada di dalam dirinya. Fajar

Side Bar 3

Mendapatkan Cobaan Saat Mengetahui Anak Keduanya Memiliki Keterbatasan Fisik

Kehidupan karirnya memang sukses. Akan tetapi, di dalam hidupnya, Yan tetap saja pernah mengalami cobaan yang terbilang cukup berat. Putra keduanya yang lahir 17 tahun silam memiliki keter

batasan fisik. “Anak kedua saya memiliki cacat fisik. Dia tidak bisa bicara dan mendengar,” ungkap Yan. Meskipun begitu, Yan cukup berlapang dada dengan menerima kehadiran buah hatinya tersebut.

Arya Narendra Wijaya, sang anak memang terlahir dengan memiliki keterbatasan fisik. Selain ia tuna rungu, ia juga tidak dapat berjalan sebagaimana anak

normal lainnya. Sehingga, Yan selalu menyediakan kursi roda untuk keperluan sang anak. “Walaupun anak kedua saya memiliki keterbatasan fisik, saya tidak pernah membeda-bedakan antara anak pertama dan kedua saya,” tutur mantan pembawa acara Dunia Dalam Berita ini. Ia bahkan mendidik kedua anaknya dengan didikan sosial yang tinggi. Dengan begitu, Yan berharap dapat menularkan jiwa sosialnya kepada kedua buah hati hasil perkawinannya dengan RA Heruma Wiyarti ini.

Walaupun Arya Narendra memiliki keterbatasan fisik, Yan mengaku bahwa ia tidak malu dengan kondisi sang anak tersebut. “Saya selalu mengajak dia kemana-mana,” ujar Yan. Seperti yang diakuinya pula, ia memang merasa pada awalnya mengalami kesulitan dalam hal berkomunikasi dengan sang anak. Oleh karena itu, ia bersama sang istri berusaha untuk belajar bahasa isyarat agar dapat berkomunikasi dengan anak keduanya tersebut. Tak hanya itu, ia juga memasukkan anaknya ke sekolah khusus penyandang cacat agar mendapatkan pendidikan yang sesuai dan baik. Fajar

Muhammad Dahlan (Pengusaha SPBU)

Ingin Masuk Surga dengan Membantu Orang Kecil

Usia senja tak selamanya menghambat seseorang untuk berkarya. Terbukti, dengan hadirnya sosok Muhammad Dahlan yang mampu membuka mata masyarakat Kecamatan Sukamakmur, Jonggol, untuk lebih banyak belajar tentang Islam. Di desa itulah, Dahlan mengumpulkan warga untuk mengikuti majelis Ta’lim yang telah ia bentuk. Tak hanya itu, ia juga membangun Masjid di kampung tersebut. Selain di Jonggol, daerah Bekasi Utara juga menjadi salah satu daerah sasaran dakwahnya. Untuk melakukan semua itu, tentu tidak sedikit biaya yang dikeluarkan, padahal Dahlan bukanlah seorang konglomerat atau pengusaha besar, ia hanya seorang penguaha biasa. Lalu apa motivasi Dahlan untuk selalu membantu orang kecil, dan mau turun sendiri meski kini usianya sudah pada angka 78 tahun?

Jalanan penuh bebatuan itu harus dilalui Dahlan agar dapat sampai ke salah satu desa terpencil di daerah Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Di sisi kanan dan kiri jalan, terlihat hijau pepohonan dan kebun milik warga. Pemandangannya memang cukup indah. Namun, pemandangan itu tak seindah nasib penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh tani dan memiliki pendapatan di bawah garis kemiskinan. Tak hanya itu, pengetahuan tentang agama Islam juga masih terbilang kurang. “Di sini pengetahuan mereka tentang agamanya masih kurang,” ujarnya.

Atas dasar itulah, Dahlan berusaha untuk membantu warga Kecamatan Sukamakmur, Jonggol, dengan mengadakan pengajian majelis Ta’lim setiap hari Senin dan Jumat. Pada dua hari itulah, secara rutin, Dahlan mengunjungi Jonggol untuk sekadar mengajar tentang Agama Islam kepada para warga.

Setiap hari Senin dan Jumat, Dahlan harus menempuh perjalanan dari rumahnya di Jln. Veteran, Bekasi, menuju daerah Jonggol yang menghabiskan waktu sekitar satu jam. Dari Jalan Raya Jonggol, Dahlan masih harus melalui jalan berbatu dan terjal untuk mencapai bangunan surau yang telah dibangunnya setahun yang lalu. Di bangunan yang cukup sederhana itulah, Dahlan bersama satu ustadz yang dibawanya dari Bekasi, mengajar tentang Agama Islam kepada para penduduk. Jalanan yang harus dilalui menuju surau memang terbilang cukup sulit. Tak jarang, mobil keluarga yang sering dipakai Dahlan harus berjalan perlahan-lahan karena banyaknya bebatuan besar yang harus dilewati. “Bebatuan ini memang disengaja supaya jalanannya tidak licin,” ungkap Dahlan.

Perjalanan menggunakan mobil keluarga pada Senin (11/9) siang itu juga sempat terhambat karena adanya sekawanan sapi yang melintas. Akhirnya, selang 15 menit kemudian, Dahlan sampai juga di surau miliknya. Angin yang berhembus cukup kencang pada siang itu mampu mendinginkan suasana. Padahal siang itu matahari begitu terik.

Setahun sudah, Dahlan melakukan kegiatan sosial di daerah Jonggol. Di desa Sukamakmur itu, Dahlan memiliki tanah seluas 10 hektar yang ditanami berbagai tanaman. Mulai dari singkong, kelapa, duren, hingga jagung. Tepat di tengah-tengah lahannya tersebut, Dahlan membangun sebuah surau sebagai tempat pengajian atau majelis Ta’lim bagi warga Sukamakmur. Sekitar pukul 14.00 WIB, setelah Dahlan tiba di surau, warga Sukamakmur mulai berdatangan ke surau milik Dahlan. Seorang ustadz yang dibawanya dari Bekasi langsung memberikan ceramah kepada warga yang sebagian besar adalah kaum ibu.

Bangun Tujuh Madrasah. Majelis ta’lim di Jonggol tersebut secara rutin diadakan tiap hari Senin dan Jumat. Sedangkan hari Rabu dan Sabtu, Dahlan mengajar pengajian di daerah Bekasi Utara. Di daerah itu, Dahlan juga membangun tujuh madrasah di enam kecamatan yang berbeda. Di antaranya adalah kecamatan Telar, Kampung Sasak, Keramat Baru, Sungai Keramat, Poncol, dan Sungai Kelina. Khusus untuk yang terakhir, Dahlan membangun dua madrasah sekaligus. Total siswa madrasah yang kini ditampungnya sekitar 490 siswa. Sebagian besar dari siswanya berasal dari keluarga kurang mampu.


Pada awalnya, Dahlan berniat membasmi rentenir yang kala itu masih berkeliaran di daerah Bekasi Utara. “Dulu di sini banyak berkeliaran para rentenir. Kalau orang pinjem Rp 100 ribu, maka dikasihnya Rp 90 ribu, dan besoknya sudah nyicil Rp 4000 per hari selama satu bulan,” tutur Dahlan menceritakan bagaimana cara kerja rentenir di daerah Bekasi Utara. “Makanya saya ingin membasmi rentenir di sini,” ungkap Dahlan.

Sejak itulah, Dahlan mulai membantu masyarakat di enam kecamatan tersebut dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memberikan 18 perahu kepada masyarakat yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Dahlan berharap dengan diberikannya perahu kepada masyarakat tersebut. Dengan bantuan itu, mereka mampu menabung dan meningkatkan taraf hidupnya.

Selain itu, mereka juga diharapkan mampu menabung untuk membeli tambahan perahu sehingga dapat mengembangkan pekerjaannya sebagai nelayan. Akan tetapi, rencana itu tinggal rencana. “Rencana itu nggak berjalan,” aku Dahlan. Ia menduga rencana tersebut tidak bisa berjalan maksimal karena pengetahuan masyarakat yang kurang. Selain itu, pola pikir yang masih tradisional juga menjadi salah satu penyebabnya.

Dirikan Koperasi. Tak hanya itu. Dahlan memulai pendekatan lainnya dengan cara mendirikan koperasi simpan pinjam (KSP) bagi masyarakat di enam kecamatan yang berbeda. Usahanya pun berhasil. Koperasi simpan pinjam tersebut sampai sekarang sedang berjalan dan membantu warga sekitar untuk mengembangkan profesi mereka sebagai nelayan. Selain itu, Dahlan juga secara rutin mengadakan majelis Ta’lim di daerah Bekasi Utara setiap hari Rabu dan Sabtu. Tidak jarang pula, ia mengajak beberapa rekan atau kenalannya untuk mengunjungi tempat-tempat yang memang masih berada di bawah garis kemiskinan di daerah Bekasi Utara dan Jonggol.

Dengan begitu, Dahlan mengajak teman-temannya untuk memberikan sumbangan kepada warga yang kurang mampu. “Seperti yang terjadi minggu lalu, saya bawa beberapa pejabat dari Mandiri Sekuritas. Dan kemudian, mereka memberikan sumbangan kepada warga kurang mampu,” aku Dahlan.

Guru. Kegiatan Dahlan memang telah berlangsung sejak lama. Dari dulu, ia telah memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. Kakek yang pernah mengenyam pendidikan di SGTA (Sekolah Guru Tingkat Atas) ini pernah menjadi guru selama hampir delapan tahun. Dengan bekal itu, kini Dahlan mencoba untuk memberikan dakwah kepada warga yang memiliki pengetahuan tentang agama Islam yang masih sangat jauh.

Kakek yang aslinya berasal dari Pulogebang, Jakarta Timur ini telah lama bergelut dalam usaha SPBU yaitu tepatnya sejak tahun 1971. Meski lama bergelut di bisnis SPBU, namun hingga sekarang ia hanya memiliki satu-satunya pom bensin di daerah Cakung. Itu pun sekarang sudah dikelola oleh Luli, salah seorang anaknya. Tak hanya hebat dalam kegiatan sosial, Dahlan juga ternyata jempolan dalam mengurus berkeluarga. Ia mampu menyekolahkan beberapa anaknya hingga ke luar negeri, dengan penghasilannya sebagai pengusaha pom bensin. Anak pertamanya, Taty Susman, mampu melanjutkan kuliahnya di Kobe University, Jepang, setelah menyelesaikan S1 Sastra Jepang di UI. Ia bisa belajar di sana karena mendapatkan beasiswa dari kampusnya. Sedangkan anak kelimanya, Mochtar Dahlan, mendapatkan tambahan pendidikan di Perancis selama hampir dua tahun setelah menyelesaikan sarjananya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Kini, Mochtar sudah memiliki usaha sendiri di bidang arsitektur.

Selain itu, Ade Fauzi, putera keenamnya juga mampu melanjutkan kuliahnya di Melbourne, Australia setelah menyelesaikan sarjananya di Universitas Brawijaya, Malang. Kini, Ade bekerja di Kalimantan. “Biaya yang paling berat adalah saat Ade belajar di Australia,” aku Dahlan. Tak ketinggalan, puteri bungsunya Luly (34), juga sempat merasakan pendidikan di Perancis. Semua kesuksesan anak-anaknya tersebut memang tidak lepas dari peran Dahlan sebagai orang tua. Berkat dorongan yang besar dari ayah mereka, sebagian anak Dahlan ini sudah bekerja di luar Jakarta. Ada yang bekerja di Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa. Saat ini, hanya dua anaknya yang tinggal di Jakarta, yaitu Mochtar dan Luly.

Meskipun dana yang dikeluarkan sangat besar untuk membiayai kuliah anak-anaknya, Dahlan tidak melupakan nasib warga kurang mampu yang terkadang tidak sanggup untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Itu sebabnya, madrasah yang telah ia dirikan sangat membantu warga Bekasi Utara dalam menyekolahkan anaknya.

Mendidik Anak Secara Islam. Untuk anak-anaknya, Dahlan memang mendidik dengan cara Islami. “Semua anak dari istri saya semuanya dimasukkan ke pesantren,” aku Dahlan. Itu sebabnya, tidak mengherankan kalau sebagian dari anak-anaknya mampu berdakwah karena pernah berguru di pesantren. Sedangkan anak-anak dari istri keduanya, hanya Nala Waroah, anak keempat dari istri kedua yang dikirim ke Sudan, Afrika untuk belajar di sana. Dahlan sendiri memiliki 16 anak. Delapan anak dari istri pertama dan delapan anak lainnya dari istri keduanya. Ia mengaku sudah pisah dari istri pertamanya. Kini Sadiah, istri pertamanya tinggal bersama Mochtar di Pulo Gadung. “Saya sudah punya banyak cucu,” ujarnya sambil tersenyum tanpa mau menyebutkan jumlah cucunya.

Sementara Dahlan tinggal bersama isteri keduanya, Khusnul Khotimah, beserta anak-anaknya. Dengan setianya, Khusnul selalu menemani sang suami mengajar di majelis ta’lim di Jonggol dan Bekasi Utara. Ketika Realita ikut bersama Dahlan ke Jonggol, Khusnul tak lupa membawa makanan sebagai bekal di Surau. Realita pun merasakan suasana kekeluargaan saat berkumpul bersama warga desa yang hendak mengaji. Dengan ramah, Dahlan menyapa setiap warga yang datang ke Suraunya. Suasana menjadi hening ketika ustadz yang dibawa Dahlan menyampaikan materi dakwah, yang kala itu membahas mengenai Bulan Ramadhan yang tak lama lagi akan disambut oleh umat Islam. Warga pun terlihat sangat menikmati materi yang diajarkan oleh ustadz. Dahlan membantu memberikan materi kepada warga.

Kakek yang lahir di Jakarta, 10 Februari 1928 ini ternyata memiliki cita-cita yang sangat mulia bagi anak-anak kurang mampu. “Saya punya cita-cita ingin menyekolahkan anak-anak miskin,” ujar Dahlan. Berbekal cita-cita tersebut dan keinginan yang kuat, akhirnya Dahlan mampu membantu warga pada enam kecamatan di Bekasi Utara sejak 12 tahun lalu, serta warga di kecamatan Sukamakmur, Jonggol sejak setahun silam. Biaya yang harus dikeluarkan pun terbilang cukup besar. Untuk membayar guru ngaji saja, Dahlan harus mengeluarkan uang sekitar Rp. 400 ribu per guru ngaji setiap bulan. Sedangkan untuk di daerah Bekasi Utara, Dahlan harus merogoh koceknya sekitar Rp 5 juta per bulan untuk membiayai kegiatan operasional madrasah dan pengajian di daerah tersebut. Lain halnya di Jonggol, Dahlan harus mengeluarkan uang minimal Rp 2 juta untuk sekali perjalanan ke daerah Jonggol. Maka jika selama seminggu ia pergi ke Jonggol sebanyak dua kali, Dahlan harus mengeluarkan dana sekitar Rp 16 juta tiap bulan. Semua biaya tersebut secara rutin dikeluarkan Dahlan setiap bulan. Dari jumlah kebutuhan sebesar itu, hampir seluruh biaya berasal dari kocek pribadinya. Memang, ada temannya yang menyumbang, tetapi tidak terlalu besar.

Tindakan Dahlan yang banyak membantu warga kurang mampu, dilatarbelakangi oleh keinginannya untuk mengharapkan ridha Allah. “Cuma satu target saya, yaitu mengharapkan ridha Allah untuk masuk surga,” aku Dahlan. Ia juga menilai bahwa untuk bisa masuk surga di kemudian hari tidak gampang dan murah. “Saya melihat surga itu barang mahal, jadi harus kerja keras,” lanjutnya. Dengan tujuan tersebut, Dahlan berusaha untuk menggapainya dengan cara menghabiskan sisa waktu di usianya yang sudah senja dengan memberikan dakwah kepada warga yang masih jauh dari agama Islam. Diakuinya pula, tidak sedikit pun muncul niat dari dalam dirinya untuk mencari popularitas dengan perbuatannya tersebut. “Saya tidak mengharapkan popularitas,” ujarnya. Fajar

Side Bar 1

Berencana Bangun Sekolah di Jonggol

Jiwa sosial seorang Dahlan ternyata tak hanya berhenti sampai di situ. Ia mempunyai rencana lainnya untuk membantu warga yang kurang mampu. Salah satunya adalah rencananya untuk membangun sekolah di daerah Jonggol. Di kecamatan Sukamakmur itulah, Dahlan akan membangun sekolah umum bagi anak-anak sekitar. Tanah kosong sudah disiapkan Dahlan. Ia memang memiliki tanah seluas 10 hektar di kecamatan tersebut. Sebagian dari tanahnya itu akan digunakan untuk bangunan sekolah. Keinginan untuk membangun sekolah sama halnya dengan ketika ia membangun madrasah di daerah Bekasi Utara. Oleh karena itu, ia juga berkeinginan untuk membangun sekolah di daerah Jonggol untuk masyarakat kurang mampu.

Walaupun belum ada rencana yang matang dalam pembangunan sekolah tersebut, Dahlan memastikan akan mendirikan bangunan sekolah bagi warga kurang mampu. Lahan kosong tersebut terletak tepat berada di seberang Masjid yang kini sedang dibangunnya. Untuk Masjidnya sendiri, bangunannya hampir selesai. Bangunan Masjid yang berukuran 10x13 meter itu terlihat megah di tengah-tengah pemukiman warga. Sebelumnya, tidak ada Masjid berukuran besar yang berdiri di daerah tersebut. Hanya ada musholla kecil yang ada. Itu pun kondisinya sangat memprihatinkan. Hingga kini, Dahlan telah menghabiskan dana sekitar Rp 60 juta untuk membangun Masjid tersebut. Dana itu tak hanya berasal dari kantongnya, melainkan juga berasal dari donatur lainnya yang menitipkan sumbangan pada Dahlan.

Saat ini, Masjid itu belum diberi nama karena belum rampung. Bangunannya baru mencapai sekitar 80 persen. Dahlan menargetkan sebelum Ramadhan ini, Masjid tersebut telah selesai dibangun dan dapat dipergunakan oleh warga sekitar untuk shalat tarawih dan shalat Ied. Fajar

Side Bar 2…..

Mochtar Dahlan (Anak Muhammad Dahlan)

“Saya sempat memprotes sikap Ayah”

Sang ayah di mata anaknya memang telah memiliki jiwa sosial sejak lama. Meski begitu, Mochtar (anak kelima dari isteri pertama Dahlan) pernah tidak menerima sikap Dahlan. Pasalnya, waktu Mochtar masih anak-anak, ada suatu kejadian yang membuatnya sempat tidak menerima sikap sang ayah. Ketika masih kanak-kanak, Mochtar memiliki dua buah mainan. Sang ayah, kemudian menyuruhnya untuk memberikan salah satu mainannya kepada anak angkat Dahlan. Karena Mochtar masih anak-anak, ia sempat marah dengan sikap ayahnya tersebut. Ia menganggap sikap ayahnya itu tidak adil. Meski begitu, setelah beranjak dewasa, Mochtar menyadari bahwa itu adalah sikap sosial yang ditunjukkan ayahnya kepada anak kurang mampu. “Sejak dulu, Bapak memang berjiwa sosial,” ujar Mochtar.

Mochtar juga dapat memahami bahwa sang ayah memiliki kegiatan sosial yang cukup banyak. Kesibukan Dahlan dalam melakukan aktifitas sosial yang dilakukan oleh Dahlan tidak membuatnya melupakan keluarga besarnya. Terbukti dengan sebagian besar anak-anaknya yang mampu sekolah hingga ke luar negeri dan sukses dalam berkarir. Selain berkarir di bidang arsitektur, Mochtar juga terkadang membantu sang ayah dalam kegiatan-kegiatan di Jonggol dan Bekasi Utara. Tak heran, Senin (11/9) itu Mochtar ikut serta dengan sang ayah untuk mengajar di Jonggol. Pria yang pernah sekolah di Prancis ini mengaku bahwa ayahnya memiliki sikap tegas terhadap seluruh anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya sukses menata kehidupan pribadinya. Tak hanya itu, jiwa sosial juga ditularkan kepada 16 anaknya.

Mochtar mengaku bahwa ia memang jarang bertemu dengan sang ayah. Tak mengherankan, karena sebagian besar anak-anaknya telah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri. Hal tersebut juga diakui oleh Dahlan. “Kita memang jarang bertemu,” aku Dahlan. Meski begitu, hubungan antara ayah dan anak masih tetap terjalin dengan baik. Begitu juga dengan anak-anak Dahlan lainnya. Mereka masih tetap berhubungan baik meski melalui telepon. Sebagai seorang anak, Mochtar merasa bangga terhadap sosok ayahnya. Rasa bangganya itu timbul setelah melihat banyaknya warga kurang mampu yang terbantu oleh aksi yang dilakukan sang ayah. Fajar


Dewi Yull (Aktris dan Penyanyi)

Diberi Berkah Lewat Dua Anaknya yang Tunarungu dan Ditinggal Suami Menikah Lagi

  • “Maka dari keduanya, keluarlah Mutiara dan Murzan”

Tidak ada yang meragukan keindahan suara Dewi Yull. Lagu Layu Sebelum Berkembang pun terdengar lebih hidup ketika dilantunkan oleh Dewi Yull bersama almarhum Broery Marantika. Ironisnya, suara merdunya tidak mampu didengar oleh anaknya sendiri, Giscka, karena keterbatasan pendengaran yang dimilikinya. Tidak hanya Giscka, salah satu putranya yaitu Panji, juga mengalami hal serupa. Ditambah lagi, suaminya yang seharusnya mendampingi menghadapi cobaan tersebut justru meninggalkannya. Namun semua itu tidak lantas membuat ibu empat anak ini menyesali dengan apa yang telah terjadi. Sebaliknya, ia justru menganggap anak-anaknya sebagai anugerah dalam hidup. Bagaimana Dewi Yull berjuang merawat keempat anaknya seorang diri? Apa yang membuatnya bisa setabah itu? Adakah hikmah yang bisa ia petik?

Pada usianya yang masih tergolong sangat muda, Dewi Yull memutuskan untuk menikah dengan Ray Sahetapy, lawan mainnya di film ‘gadis’. Keputusannya tersebut memang cukup mengagetkan banyak pihak. Di saat karirnya sedang menanjak di dunia film maupun dunia tarik suara, Dewi Yull justru memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dan menikah dengan Ray Sahetapy. Karena perbedaan agama, orangtua Dewi Yull, tidak merestui pernikahan anaknya tersebut. Meskipun begitu, penyanyi yang sering berduet dengan almarhum Broery Marantika ini tetap melangsungkan pernikahan dengan aktor yang laris di era tahun 80-an itu. Dari pernikahannya tersebut, lahirlah Giscka Putri Agustina Sahetapy (24 tahun), Rama Putra Sahetapy (15), Panji Surya Putra Sahetapy (13), dan Muhammad Raya Sahetapy (5).

Penyanyi yang memiliki nama asli RA Dewi Pujiati ini memang terbukti mampu menjalani kehidupan keluarga dengan harmonis. Paling tidak selama 23 tahun ia mampu bertahan membina keluarga dengan Ray Sahetapy sebelum mengakhirinya dengan perceraian. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya dalam berkarya. Puluhan album telah ia hasilkan selama berkarir di bidang tarik suara. Berbagai judul film pun telah dilakoninya. Sebut saja film ‘Gadis’, Opera Jakarta’, ‘Kembang Kertas’, Pacar Pertama’, ‘Ayu dan Ayu’, ‘Secangkir Kopi Pahit’, ‘Suami’, serta film terakhir yang sempat dilakoninya, yaitu ‘Kiamat Sudah Dekat’. Berbagai prestasi di bidang kesenian tersebut semakin melambungkan namanya. Tepatnya di era tahun 80 hingga 90-an, nama Dewi Yull menjadi salah satu nama artis serba bisa. Di balik prestasinya yang semakin menjulang, ternyata kehidupan keluarganya juga menyimpan sisi yang memilukan untuk orang sesukses Dewi .

Tidak Malu dengan Kondisi Anak. Selang beberapa waktu setelah ia menikah dengan Ray Sahetapy, wanita kelahiran Cirebon ini langsung dikaruniai anak perempuan cantik yang diberi nama Giscka Putri Agustina Sahetapy yang lahir 24 tahun silam. Kelahirannya pun disambut gembira oleh pasangan Ray dan Dewi. Akan tetapi, kegembiraan mereka sempat terganjal dengan diketahuinya kondisi kesehatan Giscka yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran alias tuna rungu. “Saya baru mengetahui kalau Giscka itu tuna rungu saat usianya 2 tahun,” kenang Dewi. Meskipun begitu, puteri pasangan HRM Soendaryo Priatman Tirto Adhi Suryo dan Masayu Devi Hetimawati ini tidak menyesali kondisi tersebut. “Buat saya, anak-anak itu anugerah yang sangat luar biasa,” ujar Dewi. Dari keempat anaknya pula, Dewi Yull mendapatkan motivasi yang sangat besar dalam membangun kehidupan yang sempat mendapatkan goncangan.

Ketika merawat Giscka, Dewi tidak pernah merasa malu dengan keadaan yang diderita oleh Giscka. Dengan ketunarunguannya, Dewi justru sering membawa puteri sulungnya tersebut ke tempat syuting. “Saya bawa kemana saja, karena saya tidak mau anak ini menjadi beban,” ujar wanita yang berparas keibuan ini. Dengan keterbukaannya terhadap lingkungan sekitar, Dewi Yull memperkenalkan Giscka ke dunia luar. Dengan begitu, Dewi berharap si anak tidak merasa minder dengan kondisi fisik tubuhnya. Sikap Dewi tersebut terbukti dengan perkembangan psikologis Giscka yang makin hari makin menunjukkan kepercayaan diri yang semakin meningkat. “Giscka mampu mandiri menjadi anak yang luar biasa dan lebih hebat dari saya,” aku Dewi. Giscka pun tumbuh menjadi sosok gadis yang memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan anak normal lainnya. Tak hanya itu, kemandiriannya pun patut diacungi jempol. Dengan ketunarunguannya, Giscka mampu menjadi gadis dengan tingkat kepercayaan diri yang mantap. Ia mampu mengikuti sikap ibunya yang tegas dalam berbagai hal. Sebagai seorang ibu, Dewi Yull bangga terhadap sang anak. Hingga menjelang pernikahannya, Dewi Yull selalu mendampingi Giscka dan memberikan dorongan moril sebagai seorang ibu. Kini, Giscka telah mampu memberikan cucu pertama bagi Dewi Yull. Kebahagiaan seorang nenek akhirnya didapatkan oleh penyanyi yang mampu mendendangkan berbagai aliran lagu ini.

Terulang pada Anak Ketiga. Selain Giscka, putera ketiganya, Panji Surya juga memiliki keterbatasan fisik. Ia juga tidak bisa mendengar sebagaimana halnya sang kakak, Giscka. Kelahiran Panji yang memiliki kekurangan fisik tersebut sempat menimbulkan berbagai pertanyaan di diri Dewi. “Kenapa tidak cukup satu?” tanya Dewi ketika Panji hadir di dunia. Akan tetapi, Dewi justru lebih mendekatkan diri pada Tuhan untuk menemukan jawabannya. Ada suatu kejadian yang mampu memberikan jawaban bagi Dewi. Untuk mengetahui jawabannya, Dewi kerap melakukan sholat malam untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dukungan ibunda juga tidak kalah pentingnya dalam memotivasi Dewi Yull dalam menghadapi kenyataaan. Sang Ibu menyarankan kepada Dewi Yull untuk lebih banyak membaca Al-Quran dan melakukan sholat malam. Alhasil, ketika di malam hari setelah sholat malam dan ia membaca Al-Quran, Dewi Yull membaca salah satu ayat di dalam Al-Quran yang isinya adalah ; “Maka dari keduanya, keluarlah mutiara dan Murzan.” “Setelah itu, saya ambruk dan menangis,” kenang Dewi Yull. Dari kejadian itu, Dewi Yull yakin bahwa anak-anaknya merupakan mutiara yang sangat berharga dalam hidupnya. Tak terkecuali dua anaknya yang mengalami kekurangan dalam hal fisik.

Semenjak kejadian di malam hari tersebut, Dewi yull lebih banyak berikhtiar dalam menjalani kehidupan. Dua anaknya yang secara fisik kurang sempurna, justru menjadi suatu bentuk kesempurnaan di mata Dewi Yull. “Sempurna itu kan ada karena adanya ketidaksempurnaan,” ujar Dewi Yull. Tanpa diliputi rasa malu, pemeran Sartika dalam sinetron ‘dokter Sartika’ ini selalu mengajak anak-anaknya ke lingkungan luar. Bahkan Giscka ketika masih berumur di bawah sembilan tahun selalu diajaknya ke lokasi syuting. “Saya selalu mengajak Giscka ke lokasi syuting Losmen, Sartika,” kenang Dewi Yull. Dengan begitu, Dewi berharap anaknya tersebut tidak merasa menjadi beban dengan adanya kekurangan fisik yang dimilikinya. Sebaliknya, Giscka justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, bahkan lebih tinggi ketimbang anak-anak normal lainnya. Kemampuannya di bidang seni juga sangat mencengangkan berbagai pihak, termasuk ibunya sendiri, Dewi Yull. Sedangkan untuk Panji, putera ketiganya yang juga memiliki kekurangan fisik yang hampir sama dengan Giscka, memiliki kepribadian yang tidak kalah dari sang kakak. Panji mampu menorehkan prestasi yang cukup membanggakan bagi Dewi Yull. Panji yang memiliki hobi sepakbola mampu menjadi pemain futsal yang cukup bagus dengan menyandang gelar top scorer kompetisi futsal antar sekolah sejabotabek. Prestasi lainnya yang lebih membanggakan adalah diraihnya penghargaan pada hari anak internasional beberapa waktu yang lalu. Dewi pun terharu dengan berbagai prestasi yang mampu diraih oleh anak-anaknya, terutama dua anaknya yang memiliki kekurangan fisik.

Dengan diraihnya berbagai prestasi bagi anak-anaknya, Dewi Yull mampu menikmati hidup kesendiriannya setelah bercerai dengan Ray Sahetapy. Berbagai cobaan memang silih berganti menghampiri kehidupan Dewi Yull. Kehadiran dua anaknya yang memiliki kekurangan fisik memang bisa dibilang sebagai cobaan bagi Dewi. Kondisi keluarganya yang semula adem ayem, tiba-tiba harus dihiasi dengan perceraian. Tetap saja bagi Dewi, perceraian tersebut sudah menjadi ketentuan Allah. “Tidak ada yang bisa dimiliki di dunia ini, termasuk anak-anak, semua itu hanyalah titipan,” ujar penyanyi yang mengawali karier di jalur tarik suara saat memenangi lomba Pop Singer se-Jawa Barat pada tahun 1970 ini.

Bangun Kembali Perusahaannya. Setelah menjadi single parent, Dewi Yull pun kini lebih banyak mengurusi perusahaan production house-nya. Perusahaan yang diberi nama PT Giz Cipta Pratama Audiovisual ini telah berdiri sejak 15 tahun silam. Perusahaan yang berkantor di Jalan Camar I No. 1, Bintaro ini menjadi salah satu sumber pendapatan Dewi Yull untuk menghidupi keluarganya. Perusahaan tersebut juga tak luput dari kerikil-kerikil tajam yang menghantam perjalanan hidup Dewi Yull. Dua tahun pertama setelah berdiri, PH yang didirikan oleh Dewi Yull tersebut tidak mendapatkan proyek yang harus dikerjakan. Barulah setelah berjalan dua tahun lebih, perusahaan tersebut banyak mendapatkan order untuk membuat video klip, film dokumenter dan produksi sinetron. Salah satu band terkemuka di Indonesia, KLA Project pun pernah mempercayakan pembuatan salah satu video klipnya kepada perusahaan yang dimiliki oleh Dewi Yull.

Seiring dengan berjalannya waktu, PT Giz mengalami hambatan-hambatan yang mengakibatkan macetnya perkembangan perusahaan. “Selama hampir tiga tahun, perusahaan mengalami kesulitan,” kenang Dewi Yull. Tapi kesulitan tersebut lambat laun mampu diatasi oleh Dewi Yull beserta karyawan-karyawan yang ada untuk mendukungnya. Saat ini, PT Giz Cipta Pratama Audiovisual tengah menangani beberapa film dokumenter. Salah satunya adalah film dokumenter yang dibuat dari hasil kerjasama dengan Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi. Film tersebut dibuat untuk mensosialisasikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Selain mengurusi production house miliknya, wanita kelahiran 10 Mei 1961 ini juga aktif dalam kegiatan sosial. Ia kini menjadi duta bagi organisasi Eka Tjipta Foundation. Di dalam organisasi di bawah bendera Sinar Mas Group tersebut, ia mensosialisasikan biji jarak sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat. “Biji jarak itu kan bisa menjadi pengganti minyak tanah,” ungkapnya menjelaskan kepada Realita. Dewi mengaku, dengan aktif di dalam organisasi tersebut, ia dapat menimba ilmu lebih banyak. “Biji jarak itu hasil pengembangan dari IPB (Institut Pertanian Bogor-red), jadi saya sering bertemu dengan para profesor dari IPB,” aku Dewi. Seringnya Dewi Yull bertemu dengan orang-orang akademis yang terbilang cerdas, cukup membuat Dewi Yull bahagia. Pasalnya, ia bisa mendapatkan banyak pengetahuan yang sebelumnya belum pernah diketahuinya.

Tak hanya itu, Dewi Yull juga kerap mengadakan acara konsultasi dengan para orangtua yang memiliki anak dengan keterbatasan tunarungu. “Saya sering ke Cirebon untuk memberikan konsultasi bagi orangtua yang memiliki anak tunarungu,” aku Dewi. Kegiatan tersebut dilakukannya karena ia melihat banyak orangtua yang merasa malu terhadap kondisi anaknya yang memiliki kelainan daripada anak normal lainnya. Menurut Dewi, sebagai orangtua sebaiknya tidak usah malu dengan keadaan sang anak yang tunarungu. Sang anak akan merasa terbantu dengan sikap orangtua yang terbuka kepada lingkungan sekitar. Dengan begitu, pembentukan karakter si anak akan terjadi dengan sendirinya. Perkembangan mental sang anak pun akan berjalan dengan baik.

Tidak Pasang Target. Untuk hidupnya sendiri, Dewi Yull tidak pernah memiliki target tertentu untuk masa depan dirinya dan keluarga. “Saya hanya berusaha untuk bersyukur setiap hari,” ujar Dewi. Tak heran jika ia memiliki prinsip, berterimakasih pada hari kemarin dan hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin. Bahkan ketika ditanya mengenai rencana ke depan, Dewi hanya menjawab, “Saya sih tidak punya rencana, yang penting kita harus berikhtiar setiap hari,” begitu ujarnya. Untuk rencana menikah kembali pun ia menyerahkannya kepada Allah. Jika memang nantinya diberikan jodoh, ia pasti akan menikah kembali. Akan tetapi, baginya yang terpenting adalah membimbing seluruh anaknya menjadi anak yang mandiri dan minimal berguna bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, selama ini, ia membebaskan keinginan dari seluruh anak-anaknya. “Saya bebaskan semua anak-anak saya, asalkan sekolahnya bener,” tutur penyanyi yang akan mengeluarkan album Shalawat menjelang Ramadhan tahun ini. Selain itu, ia juga menghormati keinginan dari sang anak karena Dewi Yull sendiri menyadari bahwa anak hanyalah titipan yang dapat diambil sewaktu-waktu oleh empunya. Oleh karena itu, ia sangat memegang arti kepercayaan bagi anak-anaknya. Dewi Yull percaya dengan adanya kepercayaan, anak-anaknya tidak akan mudah terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang tidak diinginkan. “Makanya saya pernah bilang kepada anak-anak saya, jika kalian ingin cepat mamah meninggal, kamu pakai saja narkoba dan apa saja yang buruk,” tutur Dewi. Tak ayal, hingga kini anak-anaknya tidak pernah terlibat dalam hal-hal yang buruk. Sebaliknya, anak-anaknya justru dapat membuktikan kepada ibu yang sangat dicintainya tersebut bahwa mereka dapat berprestasi di dunianya masing-masing. Fajar


Side Bar 1:

Panji Mampu Menyetir Mobil di Usia 6 Tahun


Ternyata tuna rungu tidak menjadi hambatan bagi Panji, putera ketiga Dewi Yull. Hal tersebut terbukti dengan diraihnya penghargaan pada hari anak internasional beberapa waktu yang lalu. Tak hanya itu, ada suatu kejadian menarik yang pernah dialami oleh keluarga Dewi Yull. Saat itu, Panji meminta untuk diajarkan menyetir mobil. Dewi Yull sempat kaget karena waktu itu Panji baru menginjak umur 6 tahun. Tidak mungkin anak sekecil itu mampu mengendarai kendaraan beroda empat tersebut. Akan tetapi, karena Dewi Yull selalu membebaskan keinginan dari anak-anaknya, maka ia mengijinkan Panji untuk belajar menyetir mobil. Hebatnya, Panji langsung lancar menyetir mobil tanpa harus menunggu petunjuk dari sang ibu. “Waktu itu, saya sudah siap-siap memegang rem tangan, tapi akhirnya dia memang sudah lancar nyetir mobil dengan sendirinya,” tutur Dewi sembari tertawa lebar.

Cerita menarik tak hanya sampai di situ saja, pernah suatu hari Panji mengajak saudara-saudaranya yang juga masih kecil untuk naik ke atas mobil. Hyundai Atoz automatic itu disetir Panji mengelilingi komplek bersama saudara-saudaranya. Dewi Yull pun sempat merasa khawatir dengan kejadian tersebut. Tapi kekhawatiran itu tidak terbukti karena mereka selamat dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Jadi waktu itu sudah nggak heran lagi kalau tetangga ngeliat mobil tapi nggak kelihatan supirnya, berarti itu anak saya yang nyetir,” ujar Dewi. Pengalaman unik lainnya pun pernah dialami bersama dengan Giscka. Dewi mengaku, ia pernah dilempar kaleng minuman ringan oleh Giscka karena tidak dituruti keinginanya untuk meminum minuman ringan tersebut. “Kepala saya sempat robek karena dilempar kaleng minuman,” kenang Dewi. Kejadian tersebut memang menjadi risikonya karena Dewi memang sedang mengajari Giscka untuk belajar mengucapkan kata-kata dengan benar. “Supaya dia bisa belajar mengucapkan kata-kata dengan jelas,” ujarnya. Kejadian-kejadian menarik itu tak hanya menjadi bumbu-bumbu yang terjadi ketika merawat anak dengan keterbatasan tunarungu. Akan tetapi, kejadian itu juga justru menambah rasa kasih sayang Dewi terhadap keempat anaknya. Fajar


Side Bar 2:

Mimpi Bertemu dengan Almarhumah Ibunda Sebelum Memakai Jilbab


Perubahan drastis memang terjadi pada tahun 1999 dalam hidup Dewi Yull. Saat itu, ia memutuskan untuk memakai jilbab. Keputusan tersebut memang cukup mengagetkan banyak pihak. Bahkan ada beberapa pihak yang memberikan peringatan agar tidak memakai jilbab karena nantinya tawaran pekerjaan akan berkurang. Meskipun begitu, ia tetap mengukuhkan hatinya untuk memakai jilbab, sebagaimana diwajibkan oleh Allah.

Sebelum memutuskan untuk memakai jilbab, ada kejadian menarik yang dialami oleh Dewi Yull. Pada suatu malam, Dewi Yull bermimpi bertemu dengan almarhumah ibunda, Masayu Devi Hetimawati. “Dia menegur saya untuk lebih dekat dengan Allah,” aku dewi. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk lebih mendekatkan diri dengan sang pencipta. Salah satu keputusan yang diambilnya adalah dengan memakai jilbab. Hingga kini, ia pun tetap menutup rambutnya dengan kain jilbab. “Jangan jilbab itu diidentikkan dengan orang suci,” ujar Dewi. Dewi yang mengaku masih berhubungan baik dengan Ray Sahetapy ini memang telah memantapkan diri untuk tetap memakai jilbab sebagai salah satu kewajibannya sebagai wanita muslimah. “Jilbab itu kan masalah hak asasi manusia, jadi kenapa harus dipertanyakan,” tutur Dewi sambil menutup pembicaraan. Fajar