Thursday, February 11, 2010

Sudirman Tebba, Penulis Buku

Leher Sakit Seperti Tercekik Saat Jauh dari Allah

Sempat jauh dari Sang Pencipta, akhirnya Sudirman merasa adanya teguran dalam hidupnya. Teguran tersebut tak tanggung-tanggung berupa penyakit yang tak mampu didiagnosis oleh dokter sekalipun. Tujuh tahun ia jalani hidup bersama penyakit yang kerap menyiksanya ketika malam tiba. Alhasil, Sudirman pun kembali mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu tasawuf yang ia dalami. Lalu seperti apa perjalanan hidupnya dalam melawan rasa sakit seperti tercekik di leher tersebut?

Awan mendung menggantung di langit ibukota. Rintik hujan mulai menyirami Jakarta. Tak hanya di Jakarta saja hujan turun. Namun, di daerah pinggiran selatan ibukota tepatnya di daerah Ciputat, air hujan juga menyapa warga yang kala itu tengah menikmati hari liburnya. Di salah satu perumahan di daerah Ciputat, seorang pria yang walaupun di hari libur, ia tetap bekerja di depan komputer. Pasalnya, ia berprofesi sebagai seorang penulis buku. Ketika Realita menyambangi kediaman pria yang bernama lengkap Sudirman Tebba ini pada hari Minggu (10/2), ia memang tengah asyik berada di depan komputernya.

Sudirman seakan-akan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan ia terlihat seperti tengah asyik dengan dunia cerita yang ditulisnya sendiri. Sesekali ia berhenti sejenak dan menatap ke segala arah tanpa tujuan. Barulah ia kembali memainkan jari-jemarinya di atas tombol-tombol keyboard komputernya. Setelah Dirman (panggilan akrabnya, red) menyadari kehadiran Realita di rumahnya yang tidak begitu besar, barulah ia berhenti dari rutinitasnya tersebut. Ia lantas duduk di sebuah sofa dan mulai berbagi kisah tentang perjalanan hidupnya yang sempat dihampiri penyakit yang tak bisa dikenali oleh ilmu kedokteran.

Didikan Agama. Dirman lahir di daerah Bone, Sulawesi Selatan pada 31 Januari 1959. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan (Alm.) Daeng Pawero dan Lallo (75). Ayahnya merupakan seorang petani di daerah tersebut. Meski hanya seorang petani, Dirman ternyata berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ketika Dirman menginjak usia 6 tahun, ia kemudian pindah ke kota Jambi mengikuti kepindahan kedua orang tuanya. Sang ayah memang mengadu nasib dengan memulai bisnis di kota tersebut. Tak pelak, Dirman pun mengenyam pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Jambi. Selepas menamatkan pendidikan SD, ia kemudian berpindah ke Sukabumi untuk melanjutkan sekolahnya ke Tsanawiyah. “Saya ingin memperdalam agama Islam, makanya saya masuk ke sekolah Islam,” aku Dirman. Sedangkan kedua orang tuanya tinggal di Jakarta. Dirman sendiri tinggal di asrama yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Setelah menamatkan pendidikannya di Tsanawiyah, ia kembali memperdalam ilmu agamanya dengan melanjutkan pendidikannya di Aliyah di kota gudeg, Yogyakarta. “Saya pilih di Yogyakarta karena itu kan kota pelajar,” ujarnya sembari tersenyum.

Diakui Dirman, pendidikan agama memang kebanyakan didapatnya dari bangku sekolah. Meski demikian, di dalam lingkungan keluarga pun, ia kerap mendapatkan ilmu agama dari kedua orang tuanya. Bahkan setelah lulus dari Aliyah, Dirman pun masih ingin memperdalam ilmu agamanya dengan memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Ia mengambil program studi hukum syariah di kampus tersebut. Selama masa kuliahnya itu, Dirman mengembangkan hobi menulisnya. “Saya hobi menulis sebenarnya sejak SMA,” ungkapnya. Hobi itulah yang membawanya memasuki dunia jurnalisme dengan berprofesi sebagai seorang wartawan.

Sakit Seperti Leher Tercekik. Sejak tahun 1983, ketika Dirman masih mengenyam pendidikannya di UIN, ia telah menjadi seorang reporter di surat kabar Kompas. Dirman sendiri lulus dari UIN, dua tahun setelah ia diterima sebagai reporter di surat kabar tersebut. Selama kurun waktu 7 tahun lamanya Dirman menjadi reporter di Kompas. Selepas meniti karirnya di Kompas, pada tahun 1990 ia pindah ke surat kabar Pelita. Namun, Dirman hanya bertahan selama dua tahun saja. Setelah itu, ia kemudian berkarir di dunia pertelevisian dengan bekerja di sebuah stasiun televisi Antv, yang kala itu pemiliknya sama dengan Koran Pelita yaitu keluarga Bakrie.

Meski karir Dirman terbilang lancar, lain halnya dengan kondisi kesehatan tubuhnya. Pada tahun 1993, ia sempat merasakan ada yang aneh di tubuhnya. “Saya merasakan sakit di leher saya,” aku Dirman. Rasa sakitnya tersebut diakui Dirman seperti rasa sakit ketika sedang dicekik. Tak hanya leher saja, tak jarang pula dadanya terasa sakit seperti sesak napas. “Seperti dicekik saja,” ujar Dirman. Rasa sakit yang sangat luar biasa itu membuatnya tak bisa melakukan kegiatan seperti biasa. Ia hanya mampu tergeletak di atas tempat tidur menahan rasa sakitnya. Bahkan untuk dapat berangkat ke kantor pun, ia tak kuat melakukannya. “Di kantor pun, kadang saya hanya mampu terduduk lesu,” kenang Dirman. Hal itu lantas membuatnya tersiksa dan menangis bila rasa sakit kembali menderanya. Pasalnya, hampir setiap malam ia kerap merasakan rasa sakit yang luar biasa di lehernya. Tanpa berpikir panjang, Dirman langsung memeriksakan kesehatannya ke dokter THT. Tak dinyana, sang dokter pun tidak mampu mengidentifikasi jenis penyakit yang diderita Dirman. Padahal ia jelas-jelas merasakan sakit di leher dan di sekitar dadanya. “Dokter nggak tahu jenis penyakit yang saya derita,” tutur Dirman. Lama kelamaan, tak hanya bagian leher dan dadanya saja yang terasa sakit. “Daerah kemaluan saya juga merasakan sakit yang luar biasa,” aku pria yang gemar membaca buku ini. Bahkan rasa sakit tersebut membuat alat vitalnya mengeluarkan darah.

Kendati tidak mendapatkan solusi dari segi medis, Dirman tak patah arang. Ia lantas mencari pengobatan alternatif lain yang mampu mengobati rasa sakit yang dideritanya di berbagai daerah. “Berbagai pengobatan sudah saya datangi di Bogor, Banten, sampai Tangerang,” ujar Dirman. Meski begitu, sebagian besar dari pengobatan tersebut tak mampu menyembuhkan rasa sakit di lehernya. Akan tetapi, dari berbagai hasil pemeriksaan dengan pengobatan alternatif, Dirman mendapatkan sebuah kesimpulan yang cukup mencengangkan. “Katanya sih saya diguna-guna,” ujar Dirman. “Ada pihak yang kecewa dengan saya dan mengirim guna-guna,” imbuhnya tanpa menjelaskan lebih lanjut. Kendati demikian, ia hanya menganggap rasa sakit yang menghantuinya selama bertahun-tahun tersebut sebagai salah satu teguran dari sang Khalik. “Ini merupakan kehendak dan teguran Tuhan,” imbuhnya singkat. Selama kurun waktu dari tahun 1993 hingga tahun 2000, sudah banyak berbagai macam pengobatan yang telah ia datangi. Hingga suatu ketika pada pertengahan tahun 2000, Dirman bertemu dengan seorang pria keturunan tionghoa yang merupakan seorang mualaf. Pria tersebut kerap dipanggil dengan nama Bi Bin. “Saya mendapatkan banyak pelajaran dari dia,” ujar Dirman singkat. Salah satunya adalah ilmu tasawuf dalam menyembuhkan berbagai penyakit.

Mendalami Ilmu Tasawuf. Dirman pun langsung tertarik dengan konsep pengobatan yang ditawarkan oleh Bi Bin. “Kita diminta untuk lebih ikhlas dalam menerima kenyataan,” ungkap Dirman. Selain itu, ia juga menganggap penyakit yang dideritanya sebagai teguran dari Allah karena beberapa kesalahan yang pernah ia perbuat di masa lampau. Ketika Dirman mengalami masa-masa sukses dalam karirnya, ia mengaku lupa dengan ibadah kepada Tuhan. Salah satunya adalah menunaikan ibadah shalat wajib. “Waktu dulu, karena kesibukan pekerjaan, saya sering menjamakkan shalat,” ungkapnya. Jika biasanya shalat dikerjakan dalam lima waktu, maka karena kesibukannya bekerja dan seringnya mengikuti rapat di kantor, Dirman biasa menjamakkan menjadi tiga waktu saja. Hal tersebut tentunya tidak dianjurkan dalam agama.

Tak hanya itu saja, diakui Dirman, ia juga kerap melakukan kesalahan dalam berzakat. “Mungkin zakatnya nggak bersih waktu dulu,” ujarnya singkat. Kala itu, ia memang mengaku sangat berat saat akan mengeluarkan sebagian hartanya untuk berzakat. “Masa kita sudah kerja keras, hasilnya harus diambil buat orang lain,” begitu pikirannya saat itu soal zakat. Ketika sudah melakukan zakat pun, ia juga mengaku bahwa kadarnya masih di bawah jumlah yang seharusnya dikeluarkan. Selain itu, ia juga menyadari bahwa sifatnya yang temperamen atau mudah marah ini sebagai salah satu kekhilafannya di masa lampau. Namun, setelah menekuni ilmu tasawuf, Dirman kini mengaku dapat lebih mengontrol emosinya dan mampu bersikap lebih sabar. “Saya juga harus lebih ikhlas dalam menghadapi berbagai masalah,” ujar Dirman.

Kini meski rasa sakitnya belum hilang total, tapi diakuinya jauh lebih berkurang ketimbang sebelumnya. Karena menurutnya kebanyakan penyakit dihasilkan dari pikiran yang justru tidak sehat. Kini, dengan berangsur-angsur membaiknya rasa sakit yang diderita, Dirman mengalami perubahan dalam hidup dan kepribadiannya. Bila sebelumnya ia lebih banyak mengejar materi dan kepuasan duniawi, maka saat ini Dirman lebih banyak memperbaiki kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Caranya adalah dengan mengubah cara pandang terhadap segala macam hal. “Kita harus selalu berikhtiar dan bertawakal,” ujar Dirman yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1991 ini.

Saat ini, Dirman juga selalu berdzikir memuji kebesaran Allah di setiap waktu senggang. Dengan begitu, ia merasakan lebih tenang dan rasa sakitnya jauh lebih berkurang dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Saya selalu mengusahakan untuk bersedekah setiap hari untuk membersihkan harta saya,” tutur Dirman. Shalat pun kembali dikerjakannya sesuai dengan perintah agama, yakni lima waktu. Salah satu doa dzikir yang selalu ia lafadzkan setiap hari adalah Hasbunalloh. “Artinya itu cukuplah Allah untuk kita,” ujar Dirman. Doa tersebut diakuinya selalu dilafadzkan sebanyak 4500 kali dalam sehari. Menurutnya, berkat mengucapkan dzikir tersebut sebanyak 4500 kali banyak kemudahan yang didapatkannya dalam menjalani hidup. Dengan mengucapkan itu pula, ia selalu mengingat kebesaran Allah dan menjadi lebih ikhlas dan tawakal dalam menghadapi berbagai masalah yang menghadang. Tak ada waktu tertentu bagi Dirman dalam melafadzkan kalimat dzikir tersebut. “Di waktu senggang saja, sembari konsentrasi untuk mendekatkan diri kepada Allah,” tutur pria berkacamata ini.

Selepas pensiun dari karirnya di stasiun televisi swasta sejak tahun 2007, Dirman lantas kembali menekuni karirnya yang lain sebagai seorang penulis buku. Menulis buku sebenarnya sudah ia jalani sejak ia masih bekerja sebagai wartawan di Kompas. Namun, kala itu hanya sebagai hobi dan pekerjaan sampingan belaka. Tak hanya itu saja, ia juga mendirikan perusahaan penerbitan sendiri bernama Pustaka Irvan di rumahnya pada tahun 2006. Selain sibuk meniti karir sebagai seorang penulis sekaligus penerbitan buku, ia juga membagi waktunya dengan keluarga. Pernikahannya dengan Masita (46) telah menghadirkan dua anak gadis, yakni Pridia (20) dan Adhyea Rizkia (16). Anak pertama kini tengah mengenyam bangku kuliah di Universitas Indonesia jurusan Farmasi. Sedangkan anak bungsunya masih duduk di bangku SMA. Tak ada rencana khusus yang dicanangkan Dirman untuk masa mendatang. Saat ini, ia hanya menjalankan segala hal yang telah direncanakan Allah, tanpa melupakan hubungan ibadah dengan Sang Khalik. Fajar

Side Bar 1…

Menerbitkan Buku-Buku Islami Sebagai Hikmah dari Penyakitnya

Ada salah satu hikmah yang ternyata dapat diambil Dirman setelah penyakit tak dikenal menghampirinya. “Saya mengambil hikmah dengan menulis buku-buku,” ujar Dirman. Dari pengalamannya menghadapi rasa sakit yang luar biasa, ia mampu menghadirkan sisi-sisi religi dari segala macam masalah dari setiap buku yang ia tulis. Terutama dalam ilmu tasawuf yang sempat ia dalami saat sakit. Beberapa judul buku seperti Kiat Sukses Menjemput Maut, Menggapai Kesuksesan Hidup, Nikmatnya Cinta, dan Menuju Ekstase Spiritual, didasarkan dari Al-Qur’an dan hadits.

Total buku yang telah dihasilkannya sebanyak 32 judul buku. Sebagian dari buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Pustaka Irvan, yang merupakan penerbitan miliknya sendiri. Namun, sebagian lainnya diterbitkan oleh penerbit swasta lain. Menurut Dirman, pengalamannya diharapkan dapat berguna bagi masyarakat melalui buku-buku yang dihasilkannya. Saat ini, Dirman tengah menggali pepatah-pepatah bijak yang berasal dari tanah Jawa. “Banyak kan pepatah Jawa yang mengandung arti penting,” tutur Dirman. Menurutnya, pepatah-pepatah tersebut mengandung banyak nasihat yang dapat berguna bagi masyarakat. “Sebagai introspeksi diri,” imbuhnya singkat.

“Tasawuf selain mengubah hidup saya juga sebagai sumber penghidupan saya,” ujar Dirman sembari tersenyum. Dikatakannya sebagai sumber penghidupan karena berkat tasawuf pula, ia mampu menulis buku tentang tema yang sama dan menghasilkan pendapatan bagi dirinya dan keluarga. “Tasawuf itu intinya ikhlas, sabar, berserah diri,” imbuh Dirman. Menurutnya dengan memegang prinsip tasawuf itu, manusia dapat menahan nafsu yang berada dalam dirinya. “Manusia itu kan nggak ada puasnya,” ungkap Dirman. Diakuinya, melalui ilmu tasawuf, manusia juga dilarang untuk merusak alam. Banyak hal-hal positif yang ditimbulkan setelah mempelajari dan memahami isi dari ilmu tasawuf. Fajar


Side Bar 2…

Sekilas Mengenai Tasawuf


Tasawuf mungkin sudah tak asing lagi terdengar. Terkadang sebagian orang justru tidak mengerti apa arti tasawuf sebenarnya. Bagi Dirman, tasawuf mempunyai arti penting dalam hidupnya. Karena dengan menerapkan ilmu-ilmu tasawuf, ia dapat terbebas dari rasa sakit yang mencengkeram lehernya. Tasawuf sendiri memiliki arti ‘membersihkan hati dan anggota-anggota lahir dari dosa, kesalahan, dan kekhilafan’. Sehingga orang yang melakukan tasawuf, diharapkan dapat membersihkan sisi dalam dan luar dari dirinya. Segala macam bentuk dosa dan kesalahan di masa lampau juga akan terhapus asalkan ikhlas menerapkan ilmu tasawuf.

Tasawuf banyak dikatakan sebagai intipati atau isi ajaran Islam. Selain itu ilmu tasawuf juga merupakan salah satu ilmu dasar Islam selain aqidah dan syariat. Ada beberapa peran tasawuf bagi umat Islam, diantaranya adalah membersihkan dosa, menghidupkan rasa kehambaan, menanamkan rasa keikhlasan, dan menghidupkan rasa ber-Tuhan.

Dari definisi-definisi yang beredar, dapat dipahami bahwa ilmu tasawuf pada intinya merupakan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran Islam dengan lebih menekankan aspek batin, spiritualitas, dan kalbu dibandingkan dengan aspek-aspek rasionalitas dan formalitas. Secara garis besar, lingkup ajaran tasawuf ada dua macam, yakni ajaran tentang tujuan dan ajaran tentang jalan untuk mencapai tujuan. Fajar

Abdullah Suharis da Costa Guteres (Karyawan PPD)

“Kuakrabi bau busuk sampah demi menyambung hidup”

Keranjang sampah itu kini jadi teman hidupnya. Tangannya yang renta sudah beberapa bulan ini tidak lagi menyentuh alat bengkel di kantor PPD. Karena kantor yang selama ini menjadi tempat Abdullah Suharis da Costa Guteres menggantungkan hidupnya, sejak delapan bulan lalu tidak lagi bersahabat dengan nasibnya. Ia harus kehilangan gajinya yang tidak seberapa setelah pihak perusahaan tidak sanggup lagi membayar gajinya. Kini, tangannya yang semakin kurus karena dimakan usia itu harus segera akrab dengan kotoran dan bau busuk sampah. Ia berharap, dari bau busuk sampah inilah ia bisa mendapatkan sesuatu yang berharga, sekadar untuk menyambung hidup.

Matahari belum tinggi, ketika Realita menemui ayah empat anak ini di salah satu menara Depo PPD, Cawang, Jakarta Timur. Tidak seperti biasanya, kehadiran Abdullah di menara ini bukanlah untuk memeriksa kondisi menara. Ia memang tinggal di tempat tersebut sejak lima bulan lalu. Ruangan yang hanya berukuran 2x3 meter itu kini menjadi tempat tinggalnya, setelah ia diusir dari rumah kontrakkannya karena sudah tak sanggup lagi membayar sewa rumah. Ini terjadi setelah pihak perusahaan milik negara itu tak sanggup lagi membayar gaji karyawannya sejak delapan bulan lalu. Padahal, gaji Abdullah tidak seberapa.

Selama ini, Dullah, begitu ia kerap disapa, masih bisa menggunakan gajinya yang hanya Rp 700 ribu untuk mengontrak sebuah rumah petak di samping Depo B PPD, Cawang, Jakarta Timur dekat kantornya. Ia juga masih tinggal bersama Sutina (36) istrinya dan salah satu puterinya, Selvi (11). Sedangkan puteri sulungnya, Milalorosae (18) tinggal di Tegal, daerah asal sang isteri. Dengan gaji sekecil itu, Dullah harus memenuhi kebutuhan keluarganya dan membayar sekolah kedua anaknya tersebut. Selama ini Dullah bekerja sebagai teknisi di PPD.

Namun, keadaan berubah menjadi sulit sejak Desember 2005. Gajinya tidak dibayarkan oleh perusahaan. Ia tidak bisa lagi membayar iuran sekolah dan membayar rumah kontrakan yang ia tempati. Alhasil, Dullah mengambil keputusan untuk memulangkan istri ke rumah orang tua istrinya di Tegal, Jawa Tengah. Sedangkan Selvi, puteri bungsunya dititipkan ke sanak saudaranya yang tinggal di daerah Kalibata, Jakarta. Nasib Selvi masih beruntung dibandingkan sang kakak, Milalorosae. Selvi masih dapat bersekolah karena dibiayai oleh saudaranya. Sebenarnya, saudara yang tinggal di daerah Kalibata itu bukanlah saudara kandung. Dulu, Dullah diajak oleh salah seorang prajurit TNI yang ketika itu bertugas di daerah Timor Timur, untuk pergi ke Jakarta. “Daripada di sana saya ketembak peluru, makanya saya ikut pergi ke Jakarta,” kenang Dullah. Milalorosae berhenti bersekolah pada saat ia sudah duduk di bangku kelas 3 SMA di Tegal. “Waktu itu sudah mau ujian, tapi saya suruh keluar karena saya nggak bisa membayar iuran sekolah,” ujar Dullah. Milalorosae pun harus mengubur cita-citanya untuk membantu kehidupan keluarga, karena ia tak mampu lagi untuk melanjutkan sekolahnya.

Semenjak itulah, Pak Dullah tidak bisa lagi mengontrak rumah petak. Ia harus mencari tempat tinggal untuk dirinya sendiri setelah istri dan anak dipulangkan ke rumah mertuanya. Dan, di bekas menara Depo B PPD Cawang, Jakarta Timur yang tidak terpakai lagi menjadi pilihannya. Ruangannya cuma berukuran 2x3 meter. Jangan berharap dapat menemukan barang-barang berharga di tempat tersebut. Untuk tidur saja, Dullah harus rela tidur di atas lantai menara yang dilapisi oleh karpet plastik. “Boro-boro buat beli kasur, buat makan saja susah,” tutur Dullah.

Satu-satunya barang berharga di mata Dullah adalah satu bantal lusuh yang menjadi penyangga kepalanya saat tidur. Di pojok ruangan, terlihat sebuah kompor minyak kecil untuk memasak. Sedangkan di pojok sebelahnya, sebuah kantong plastik berwarna hitam yang diketahui berisikan sejenis kacang-kacangan sebagai salah satu bahan makanan sehari-hari bagi Dullah. Tepat di sebelahnya, kantong plastik bening berukuran lebih besar disandarkan di dinding kamar. Botol bekas minuman dalam kemasan terlihat berjejalan di dalam plastik tersebut. Itulah hasil memulungnya pada hari Kamis (3/8) saat Realita berkunjung ke tempat tinggalnya. Ia harus menjadi pemulung botol-botol bekas minuman untuk mendapatkan tiga atau empat lembar uang ribuan. Uang sebanyak itu pun masih kurang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tak ayal, Dullah harus mencari alternatif kerja demi bertahan hidup di Jakarta.

Menjadi pemulung adalah pilihan yang terpaksa. Maklum, selama ini Dullah termasuk karyawan PPD yang hanya mengandalkan gaji untuk membiayai kehidupannya. Sehingga ketika kantornya, PPD tidak mampu membayarkan gaji karyawannya selama delapan bulan, Dullah terkena dampak paling parah. Sehari-hari, ia harus mengumpulkan botol bekas minuman dan dijual kembali untuk mendapatkan uang. Selain itu, ia juga menjalani kerja serabutan hanya untuk memperoleh pendapatan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari menjadi tukang pijat dadakan hingga menjadi tukang cuci mobil. Hampir segala pekerjaan, ia lakukan hanya untuk membeli makanan sehari-hari. “Kalau saya mijit-mijit, dibayar Rp 3000-4000, lumayan buat makan,” aku Dullah sambil menyeka keringat yang menggantung di dahinya yang makin keriput.

Sejak delapan bulan yang lalu, Pak Dullah beserta ribuan karyawan PPD lainnya memang tidak mendapatkan gaji sebagaimana mestinya. Kondisi perusahaan PPD yang sulit merupakan penyebabnya. Saking sulitnya, perusahaan tidak mampu lagi untuk membiayai biaya operasional bus-bus milikinya. Akibatnya, dari sekitar 350 bus yang beroperasi, 50 persennya harus pulang lebih awal karena bermasalah. Hal serupa juga terjadi pada nasib karyawannya. Sekitar 4.500 karyawan PPD harus gigit jari karena sejak Desember 2005 lalu, mereka tidak menerima gaji yang seharusnya menjadi hak mereka.

Ingin Kumpul Lagi. Sungguh miris memang, seorang karyawan PPD harus tinggal di bekas menara. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh Dullah. Setitik harapan muncul bagi seluruh karyawan Perusahaan Pengangkutan Djakarta (PPD) setelah pemerintah berjanji membayar gaji delapan bulan yang tertunda. Bagi Dullah, janji pemerintah itu juga akan menjadi penyelamat kehidupannya.

Sebelum tinggal di menara depo PPD Cawang, Dullah juga sempat tinggal di bangkai bus-bus PPD. ”Tapi saya nggak kuat digigit nyamuk,” ujar Dullah. Akhirnya, pimpinan PPD memberikan salah satu menara yang tidak terpakai kepada Dullah untuk dijadikan tempat tinggal. Dullah tinggal di menara yang terletak tepat di depan gerbang depo PPD Cawang sudah hampir tiga bulan. Janji pemerintah yang akan memberikan gaji karyawan PPD selama delapan bulan ke belakang memang sedikit membuat hati Pak Dullah bahagia. Rona wajahnya pun menampakkan senyum ketika Dullah membicarakan hal tersebut. “Tapi saya bingung, bagaimana mendapatkan uang sampai tanggal 16 Agustus,” tanya Dullah kebingungan.

Dullah akan selalu berpikir keras untuk mendapatkan uang selama beberapa hari ke depan. Kegigihan Dullah tampak dari raut wajah yang terlihat lebih tua ketimbang umurnya yang baru menginjak 45 tahun. Semula, Realita menduga umurnya sudah menginjak kepala lima atau enam. Akan tetapi dugaan tersebut salah, ketika Dullah mengungkapkan umurnya kepada Realita. Menjelang tanggal 16 Agustus, hari di mana pemerintah akan membayar delapan bulan gaji karyawan PPD termasuk Dullah, ia berencana untuk pulang ke kampung halaman isterinya di Tegal. “Saya ingin berkumpul lagi dengan keluarga dan kembali mengontrak rumah di Jakarta,” janji Dullah menutup pembicaraannya dengan Realita . Fajar Aryanto

Side Bar

Kacang dan Ubi jadi Makanan Pokok

Dalam keterpaksaan, orang sering tampil lebih kreratif. Hal itu juga yang dirasakan Dullah. Ketika ia semkain sulit mendapatkan uang untuk membeli makana, Dullah makin kreatif mengolah bahan makanan yang ada untuk makanan sehari-hari. Ada satu menu masakan yang sering dimasak oleh Dullah. Kacang-kacangan yang biasa dipetik dari lahan di belakang Depo PPD Cawang. Kacang-kacangan ini dimasaknya menjadi makanan sehari-hari. “Ya, lumayanlah buat mengisi perut,” ujar Dullah. Sebelum dimasak, kacang yang telah dipetik, dikeringkan terlebih dahulu hingga berubah warna menjadi kecokelatan. Setelah itu barulah kacang tersebut diambil dari cangkangnya yang telah mengering. Kacang yang bentuknya hampir mirip dengan kacang tanah ini kemudian direbus dengan hanya sedikit bumbu untuk menambah rasa. Dullah menyebutnya sebagai sup kacang. Hampir setiap hari, Dullah memakan sup kacang tersebut sebagai makanan pokok.

Dullah juga kerap memakan ubi rebus sebagai makanan alternatif. Ketidakmampuan Dullah untuk memperoleh uang setelah gajinya tidak terbayarkan selama delapan bulan, mengharuskannya untuk memakan makanan selain nasi. “Kalau saya mijit orang, nyuciin mobil orang, baru bisa kebeli nasi,” aku Dullah sambil menerawang jauh. Hanya bermodalkan kompor minyak kecil, Dullah memasak kedua makanannya tersebut. “Kalau istri dan anak saya sih nggak doyan kacang ini. Ini adalah makanan asli Timor-Timur,” kenang Dullah. Makanan yang mirip sup kacang tersebut memang diakuinya sebagai makanan asli Timor Timur, daerah asal Dullah. Fajar

Ustadz Wijayanto

“Bayarlah upah sebelum keringat mengering”

Kerja keras memang sangat dianjurkan di dalam Agama Islam. Oleh karena itu, kerja keras dari seorang karyawan patut mendapatkan bayaran yang setimpal. Sehingga wajib hukumnya bagi sebuah perusahaan atau pun pengusaha untuk membayar gaji karyawannya. Tak terkecuali bagi karyawan PPD (Perusahaan Pengangkutan Djakarta). Di dalam Islam, kewajiban membayar gaji karyawan merupakan suatu amanah. Bahkan salah satu hadits Rasulullah mengatakan, “Jangan mengatakan orang beragama, kalau amanah tidak dilakukan.” Mengacu pada hadits tersebut, PPD wajib membayar gaji sebagai bayaran atas tenaga yang telah dikeluarkan oleh karyawan PPD. Bahkan hadits lainnya menyebutkan, “Bayarlah tenaga itu sebelum keringat mengering.” Sehingga, tak ada alasan bagi perusahaan untuk menunda-nunda pembayaran gaji.

Jika memang suatu perusahaan mampu untuk membayar gaji para karyawannya, tetapi tidak memberikannya kepada karyawan, maka tindakan perusahaan tersebut dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk kezhaliman. Tindakan perusahaan yang tidak membayarkan gaji para karyawannya termasuk zhalim dalam uang. Bahkan, perusahaan yang sengaja menunda pembayaran gaji karyawan juga termasuk dalam perbuatan zhalim. Karena sesungguhnya gaji merupakan hak karyawan. Di dalam Agama Islam, juga dikenal dengan adanya pemberdayaan dalam ekonomi. Suatu perusahaan yang memperkerjakan banyak karyawan merupakan salah satu pemberdayaan untuk meningkatkan ekonomi secara keseluruhan.

Pada kasus karyawan PPD yang belum mendapatkan gaji mereka selama 8 bulan, belum ada kepastian apakah kesalahan itu terletak pada manajemen PPD atau di mana letak kesalahannya. Meski begitu, karyawan PPD yang mendapatkan cobaan tersebut, seharusnya mengambil langkah-langkah yang bijak. Langkah paling utama adalah mencari pihak ketiga sebagai mediator dalam usaha mencari penyelesaian masalah gaji. Selain itu, perusahaan juga seharusnya menyadari adanya pertanggungjawaban sosial, sehingga mereka akan merasa bertanggungjawab untuk memberikan sesuatu yang menjadi hak karyawannya. Fajar